Midnight in Paris: Mencari Obat untuk Masa Kini yang Jahat

midnight-in-paris-woody-allen_highlight

Paris basah kuyup sore itu. Puluhan mobil bertubuh pendek merayapi jalanan, kursi-kursi kafe diselamatkan, payung-payung dibentangkan, jutaan jarum menghunjam Seine, keramaian mendadak pindah ke dalam bar-bar dan botol bir. Lamat-lamat dari celah kekicau burung, Menara Eiffel menyembul malu-malu, pandang kamera bergeser pelan melintasi Louvre yang kedinginan. Dari balik hujan, sang visual tercenung sampai lupa waktu, menekuri Patung Rodin yang termangu.

Konon, Midnight in Paris adalah film kedua dari semacam trilogi yang dibuat sineas veteran Woody Allen. Film pertama adalah Vicky Cristina Barcelona (2008), film ketiga baru akan dibuat dengan latar kota Berlin. Trilogi ini ditandai dengan tiga kota cinta nan intelek di Eropa, melenceng dari kebiasaan Allen membuat film di lingkungan Manhattan, kota muasalnya. Dalam Vicky Cristina Barcelona, Allen mengupas sentimentalitas kota Barcelona dan mengaduknya dengan aroma romantik-panik lewat empat karakter utama. Objek yang dikupas adalah seni rupa. Pola empat karakter memang sangat sering dipakai Allen (Terakhir dalam film You Will Meet a Tall Dark Stranger), dimana kepanikan hati para karakter menggelembung menjadi konflik jenaka: yang teman bisa menjadi pacar, dan sebaliknya.

Dalam Midnight in Paris, Allen kembali mencoba pola satu karakter yang terakhir ia pakai dalam film Whatever Works (2009). Owen Wilson memerankan Gil Pander, penulis skenario film yang sedang mati-matian banting setir menjadi penulis novel. Bersama Inez tunangannya, Gil bertamasya ke Paris bersamaan dengan ayah-ibu Inez yang bepergian untuk urusan bisnis. Gil mungkin seorang berzodiak Leo. Pasalnya, ia tak mau mendengar kata orang, tak mau menunjukkan novelnya pada siapapun sebab tak rela dikritik. Hal itu dibongkar Inez pada dua kenalan mereka, Paul dan Carol, sehingga Gil senewen sebab merasa harkatnya sebagai seorang lelaki telah dikebiri.

Bagi Gil, orang yang tak sependapat dengannya adalah intelektual yang semu. Gil memang tak begitu pintar, tapi ia nyaman pada anggapan bahwa tak seorangpun pantas menceramahinya. Manusia-manusia di tahun 2011 adalah penghuni masa kini yang pahit. Itulah yang ditumpahkan Gil dalam novel karyanya, tentang seorang lelaki yang bekerja di toko barang klasik sebab tergila-gila pada masa lalu; persis dirinya. Pertemuan Gil dengan Paul benar-benar menjatuhkan martabatnya, terutama di hadapan Inez. Paul hafal riwayat Rodin di luar kepala, Paul akan mengisi kuliah umum di Sorbonne, Paul punya teori kritis tentang deviasi hari kini dan masa lalu. Gil merasa seperti karakter pembantu, mood-nya  terjun bebas.

“Seandainya aku hidup di Paris tahun 1920,” desah Gil sambil meninggalkan teman-temannya menuju ke sebuah sudut. Ia masuk ke sebuah kafe dan berkenalan dengan seorang lelaki. “Aku Scott Fitzgerald, kau sedang berada di pesta Jean Cocteau, ayo bertemu Hemingway, ia akan mengenalkanmu pada Gertrude Stein.” Gil limbung gemetaran. Woody Allen telah menyulap paris ke era awal abad 20. Dimana gerakan intelektual dan anti-intelektual, seni dan anti-seni tengah panas berkobar. Pada masa ini hidup idola-idola Gil.

Dalam dunia rekaan, Allen mengupas obsesi orang (termasuk dirinya) terhadap masa lalu Paris dan mempertemukannya dengan topik favoritnya tepat di titik tengah: kesemuan intelektualitas dan kerapuhan sejarah. Betapa orang berdebat, siapa sebenarnya inspirasi Picasso dalam lukisan Madeleine? Apakah benar seorang wanita bernama Madeleine, atau justru seorang gadis Bordeaux pinggiran bernama Adriana? Apakah hidup di antara dua waktu hanya menjadi khayalan para surealis atau benar-benar terjadi? Woody Allen adalah penggemar topik-topik berat, namun piawai mengemasnya dalam keringkasan, belum lagi terompet jazz-nya yang meneduhkan.

Lewat dua dunia yang dialami Gil, Allen menukik masuk lalu membayar lunas dengan premis Six Moral Tales a la Eric Rohmer: perjuangan memperbaharui kesetiaan setelah menemukan celah pada kesetiaan yang sakarang. Dalam pertaruhan itu, orang tak selalu menang. Setelah bertunangan dengan Inez, Gil lalu menemukan Adriana, mantan murid Coco Chanel yang mengajaknya berkelana di pinggiran sejarah Paris 1920-an, Adriana mengajaknya berjalan ke tengah malam bak Leslie Caron menggamit Gene Kelly dalam film klasik An American in Paris. Lewat Adriana, takdir membawa Gil menjabat tangan Salvador Dali, menarik lengan Zelda Fitzgerald, memberi masukan pada Luis Bunuel. Seiring bulu kuduk merinding, kita senyum tak henti-henti.

Dalam dunia fantasi Gil, Allen menawarkan hipotesa, bahwa obsesi pada masa lalu bukanlah hal baru. Klaustrofobia pada masa kini bukanlah tren masa kini. Ia sudah ada bahkan sejak waktu belum bisa diingat. Betapa orang-orang di era Man Ray begitu tergila-gila pada era Henri Lautrec, betapa teman-teman Gauguin begitu gandrung pada Michelangelo, dan mungkin Michelangelo-pun tak sabar ingin berjumpa Kubilai Khan. Allen menawarkan realitas pahit, bahwa masa lalu adalah satu-satunya jalan keluar dari masa kini yang menyakitkan. Lewat seni dan tradisi intelektual, orang bisa menjadi pandai. Lewat seni dan tradisi intelektual, orang juga bisa jadi impoten dan pengecut. Allen menyasar tawa pahit penontonnya.

Terlepas dari usaha buruk Owen Wilson untuk berdialek semirip mungkin dengan Allen, Midnight in Paris adalah film yang sangat kuat. Film ini adalah karya Allen yang paling tegas dalam menyampaikan ide konstannya tentang tubrukan muslihat intelektualitas dan kepolosan cinta, atau kelicikan cinta dan kesederhanaan intelektualitas. Bahwa yang menghalangi cinta bukanlah kebencian, melainkan kecintaan pada hal lain. Cinta pada kekasih terhalang oleh cinta pada kekasih yang (dianggap) lebih baik. Cinta pada kenyataan terhalang oleh kecintaan pada imajinasi.

Allen menumpah ide membabi-buta namun sempurna tentang romantika dan intelektualitas dan akhirnya menyatakan keberpihakannya, bahwa pacar bisa banyak, tapi Modigliani, Bergman, dan Fellini hanya satu dan sudah selayaknya dihargai lebih tinggi.  Sekarang tugas kita menilai, apakah keberpihakan Allen ini kelicikan atau kepolosan? Satu-satunya cara menjawab adalah dengan menonton film Midnight in Paris ini.

Midnight in Paris | 2011 | Sutradara: Woody Allen | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Owen Wilson, Rachel McAdams, Marion Cotillard, Michael Sheen, Nina Arianda, Carla Bruni.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend