Madame X: Format Aman Untuk Bicara Lantang

madame-x_highlight

Madame-X adalah film berbasis seru-seruan dengan warna mencolok dan dialog yang menohok. Madame X adalah karakter superhero yang diperankan oleh Aming, ia digembleng di Tanjung Awan untuk kemudian bangkit melawan musuh, Kanjeng Badai, yang kebetulan juga tengah mencalonkan diri menjadi Presiden. Madame X dipersenjatai oleh make-up yang bisa berubah fungsi menjadi amunisi yang mematikan.

Filmnya mengambil latar dunia yang antah berantah, dimana warna-warna sangatlah terang dan kelebaian bisa dimaklumi dengan penuh mafhum. Dunia antah berantah adalah pilihan cerdas sebab film Madame-X akan bercerita dalam tone yang tak biasa. Menahan Madame-X dalam dunia realita justru akan membuat filmnya jadi norak bukan main. Di dunia antah berantah ini, Adam, seorang banci salon, digembleng menjadi superhero untuk membela kaumnya yang ditindas para politisi.

Madame-X ini film yang cerewet bukan main, sebab kebanyakan karakternya adalah pemeluk LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) sehingga mereka menggunakan gaya bicara yang sungguh menggelitik. Bahasa-bahasa bikinan sendiri, lengkap dengan gesturnya. Kecerewetan ini yang membuat saya menduga bahwa Madame-X pastilah diarahkan oleh seorang yang akrab dengan dunia LGBT, atau bahkan pemeluk LGBT yang taat. Siapapun dia (di kredit titel: namanya Lucky Kuswandi; sebelumnya pernah membuat film “Pertaruhan”), kemungkinan besar bukan director-for-hire yang ditunjuk untuk mengarahkan film sesuai dengan kemauan produser-investor. Ia punya unek-unek pribadi  untuk ditunjukkan kehadapan semua orang, dan Madame-X adalah cara yang baik mengingat isu LGBT akan menjadi sangat menakutkan bagi khalayak bila diceritakan dengan cara yang serius. Komedi superhero berlatar belakang negeri khayalan menjadi pilihan yang tepat.

Madame-X adalah serangan ofensif bagi siapapun yang tidak gay, ia menghapus inferioritas (yang selama ini mendominasi pandangan masyarakat terhadap teman-teman yang gay) dan membaliknya dimana para penganut gay adalah orang-orang baik yang siap membela keadilan.  Madame-X juga membuka wacana bahwa homoseksualitas bukanlah hal yang elit, apalagi penyakit. Ia bisa menjangkiti kelas manapun dengan latar belakang apapun. Buktinya, Adam yang notabene berasal dari kelas rendahan saja bisa menjadi gay yang baikhati dan jenaka.

Kamera diarahkan untuk mengumbar eksotisme dalam terminologi kaum gay, satu-satunya ‘penampakan’ perempuan hanyalah adegan pementasan tari lenggok, dimana saya (yang bukan gay) sangat ingin tahu bagaimana pandangan film ini tentang perempuan. Dan itu terjawab ketika close-up tubuh penari perempuan tak pernah di panning secara vertikal sebagaimana cara yang lumrah dipakai para filmmaker untuk mengobral eksotisme tubuh. Madame-X mengambil bagian atas dan bawah tubuh perempuan lewat frame yang terpisah. Saya prediksi, penonton yang berhasrat melihat Saira Jihan menari lenggok secara penuh, tak akan terpuaskan. Sebab bukan orang semacam dia yang menjadi benang merah film ini. Tapi orang semacam Adam.

Dibalik formatnya yang fun, Madame-X mengusung semacam agenda-politis tersendiri dimana wacana menyangkut homoseksualitas yang selama ini ditabukan, bisa diangkat keruang publik secara selektif dan bersahabat. Disamping juga menyindir berbagai sudut negara dalam skala-skala renik. Ia menunjukkan betapa bermasalahnya Indonesia lewat warna, font, dan tone khas golongan penganut homoseksual yang ditransmisikan dalam bahasa gambar bergerak.

Bisa jadi, bagi teman-teman yang gay, keberadaan film Madame-X adalah sebuah perayaan sinematik. Bagi yang bukan gay, Madame-X bisa jadi adalah film kocak yang bikin ketawa lewat sensasi yang aneh. Saya merasa digelitik disekujur tubuh selama menonton film ini; oleh humor, dan oleh sensasi aneh. Semenit bergidik, lalu menit berikutnya ketawa. Semenit mengernyit, lalu menit berikutnya terpingkal.

Madame-X memanfaatkan rezim kebebasan bicara. Siapapun berhak mengatakan apapun dinegeri ini. Tentunya dengan cara yang baik. Dan Madame-X telah mengungkapkan pendapatnya, dengan cara yang menarik. Satu-satunya yang mungkin berpotensi merasa tersinggung dengan film ini, adalah mereka yang tak punya selera humor.

Madame-X | 2010 | Sutradara: Lucky Kuswandi | Negara: Indonesia | Pemain: Aming, Saira Jihan, Ria Irawan, Vincent Rompies, Joko Anwar.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend