Cyrus: Terlalu Telanjang Bikin Menganga

cyrus_highlight

Banyak orang bilang, film-film yang sukses di festival film Sundance hampir selalu diwarnai dengan setting Amerika Serikat musim panas, sedikat goncangan pada keluarga ditengarai iringan akustik pada musiknya. Terlepas dari benar atau tidaknya anggapan itu, tapi Cyrus mempunyai keduanya. Film ini sesuai dengan kriteria-kriteria filmis itu, dan film ini sukses besar di Festival Film Sundance 2010. Cyrus mengetengahkan konflik keluarga yang aneh, dipertemukan dengan sebentuk kesendirian yang janggal, sehingga membentuk konflik yang ganjil.

Cyrus membuat kaget penontonnya dengan treatment yang begitu terbuka terhadap keterbukaan itu sendiri. Ia melampaui praduga penontonnya dengan membuka tirai, baik tirai hubungan antara film dan penonton maupun tirai hubungan antara sesama karakter, disemua ruang bahkan sebelum penonton sadar kalau ada tirai di ruang tersebut , sehingga penonton terpaksa menganga dan menunggu, bergidik lalu kemudian tergelitik. Keterbukaan yang diperagakan oleh Cyrus bukanlah keterbukaan yang mengeliminasi kadar misteri, keterbukaan dalam kasus Cyrus justru bertujuan untuk membuat penonton merasa tidak aman. Belum lagi fakta bahwa Cyrus mengupas keterbukaannya dalam tempo yang sangat cepat. Mulut kita belum lagi tertutup habis menganga, dipaksa untuk menganga lagi, lebih lebar.

Lantas apa yang bisa menjadi konflik drama yang tampaknya hanya cari ribut dengan penontonnya ini? Konfliknya juga simpel bukan buatan, dari awal sampai hampir habis, konflik terbangun hanya karena karakternya sibuk menutupi diri agar tidak terlalu terbuka. Masalah mulai muncul menimbang fakta bahwa keterbukaan adalah hal yang supersensitif. Manusia memang berusaha untuk jadi seterbuka mungkin. Tapi dibalik setiap keterbukaan itu ada konsekuensi, ada saat dimana ketika kamu membuka sesuatu pada orang lain lalu sontak orang lain menjadi tidak suka sama kamu. Ada hal yang yang memang lebih baik ditutupi, tapi ada hal yang fatal apabila tidak dibuka kepada orang lain. Malangnya, orang cuma punya satu kesempatan coba. Apabila ia membuka sesuatu dan gagal, maka ia selamanya akan gagal. Rahasia yang sekali saja dibuka tak akan bisa ditutup, mulut mungkin bisa bilang “Kita lupakan saja, anggap tak pernah terjadi”, tapi apakah pikiran bisa berhenti bicara?

Tiga karakter dalam Cyrus yakni John, Molly, dan Cyrus menggadaikan harga diri besar sekali di meja judi mempertaruhkan keterbukaan dengan segala resikonya. Kisahnya, John adalah duda depresi yang bertemu Molly di sebuah pesta, dan Cyrus adalah anak Molly yang punya hubungan yang begitu aneh dengan ibunya. Plot disulam dengan masuknya John menjadi bagian dari keluarga yang aneh ini. John dan Cyrus adalah musuh yang selalu bisa diajak bekerja sama, dan Molly tentu saja adalah meja sekaligus objek pertaruhan yang mereka lakoni.

Hal paling asyik dalam menonton Cyrus adalah menyaksikan reaksi ketika para karakter mulai sibuk membuka diri. Reaksi yang muncul selalu tidak terduga, ketika biasanya orang naik darah mendengar bahwa ibunya berhubungan seks dengan lelaki lain, Cyrus malah mendukung habis-habisan. Ketika John patutnya dituding sebagai pihak yang menyatroni keluarga orang, ia malah diterima secara keterlaluan. Nah, ketika John mulai merasa aman dan membuka perasaan aman itu, ia malah digoncang dari belakang. Konflik berlanjut pada lapisan berikutnya dengan efek sakit hati tak kalah hebatnya, kawasan eksistensial John berantakan akibat berbagai hubungan yang pada permukaan terlihat baik-baik saja. Pada bagian ini konflik Cyrus mengakar seperti pendarahan parah dibawah kuku kaki yang tampak baik-baik saja.

Sutradara Duplass Bersaudara belum bersedia meninggalkan akar mereka yakni gerakan Mumblecore, sebuah gerakan sinema yang diinisiasi oleh kamera super-8 dengan penampakan prinsip “Asal bikin film yang tidak terlalu asal”. Zoom in-zoom out secara membabi buta masih terlihat dalam Cyrus, dialognya masih keluar dalam bentuk ocehan-ocehan yang mumbling (sekaligus heart-warming khusus dalam kasus Cyrus), serta karakter fokus yang berumur dua puluhan dengan pelbagai kronikel hubungan personalnya yang memang menjadi ciri estetik gerakan Mumblecore sehingga film ini masih ramai dikategorikan sebagai bagian dari gerakan Mumblecore meskipun budget-nya sudah jauh melampaui film-film produksi Mumblecore pada umumnya, juga  penggunaan pemain bintang yang selama ini tidak begitu sering dipakai dalam gerakan ini. Kita anggaplah Cyrus sebagai kompromi, bukan sebagai pengkhianatan seni.

Cyrus | 2010 | Sutradara: Mark Duplass & Jay Duplass | Negara: Amerika Serika | Pemain: John C. Reilly, Marisa Tomei, Jonah Hill, Catherine Keener, Matt Walsh

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share
Send this to a friend