Lemantun: Lemari Warisan dan Malin Kundang

lemantun-film-pendek_hlgh

Menonton Lemantun merupakan sebuah peristiwa emosional yang tak kalah dahsyatnya dengan muhasabah jelang Ujian Nasional. Wregas Bhanuteja menampilkan citraan relasi ibu-anak yang begitu liris, bersamaan dengan scoring sendu dari Gardika Gigih yang nikmat di telinga.

Lemantun bermula pada keinginan seorang ibu mewariskan lima lemari ke lima anaknya. Konon, lemari-lemari tersebut merupakan penanda lahirnya anak-anak si ibu—setiap satu anak lahir, beli satu lemari. Menariknya setelah dibagi-bagi, setiap anak harus membawa pulang lemarinya pada hari itu juga. Alasannya adalah agar sang ibu merasa plong. Sebagai anak, titah tersebut harus dituruti—dosa hukumnya bila membantah perintah orangtua. Tapi bagaimana dengan anak yang tidak memiliki rumah?

Anak itu adalah Tri, si anak ketiga. Berbeda dari saudaranya yang sukses dan sarjana, Tri tak bergelar dan hanya bekerja sebagai tukang bensin eceran. Ia tidak memiliki tempat tinggal dan belum beristri. Tubuhnya yang kurus dan pakaian lusuhnya masih harus bernaung di rumah sang ibu. Dalam suatu adegan nampak bahwa saudara-saudaranya turut prihatin, namun ya begitulah, namanya juga Tri. Sang kakak tertua pun hanya bisa berpesan, “Jangan merepotkan ibu.” Pesan ini nantinya menjadi krusial, seiring dengan berubahnya persepsi kita terhadap signifikansi masing-masing anak dalam keluarga tersebut.

Lemari dan Tri

Lemantun sebenarnya cukup gamblang dalam menunjukkan siapa yang lebih berdaya di antara kelima saudara itu. Petunjuk pertama adalah lewat ragam perlakuan dan pemaknaan masing-masing anak terhadap lemari warisan. Dalam sejumlah kesempatan tanya-jawab, Wregas sempat berkata bahwa lemari dalam filmnya adalah simbol dari rahim. Omongannya itu memang terwujud dalam film. Secara visual, tautan simbolik tersebut kita temukan saat Tri meringkuk dalam lemari. Secara keseluruhan, kita bisa memaknai momen ini sebagai ketergantungan seorang anak terhadap ibunya.

Rahim, sebagaimana yang kita semua tahu, adalah organ peranakan tempat janin berada. Anak dalam rahim adalah anak yang sepenuhnya bergantung pada sang ibu. Baru setelah ia keluar ia mulai bisa bergantung pada hal selainnya. Menariknya, rahim tidak hanya merujuk pada organ; melainkan juga ‘rahim’ sebagai kata serapan (Arab) yang artinya ‘kasih sayang’. Sehingga, bisa dipahami juga bahwa kebergantungan seorang anak tidak berakhir di rahim sebagai organ, tapi terus berlanjut hingga ‘rahim’ sebagai kasih sayang.

Kembali ke film, dari kelima anak, jelas hanya Tri yang masih membutuhkan lemari dari sang ibu. Empat saudaranya sudah tidak butuh. Mereka sudah bisa hidup tanpanya. Lemari dari sang ibu bahkan sudah terlalu usang bagi mereka. Ada anak yang merasa lemarinya tidak cukup steril untuk alat medisnya, ada yang malu dengan stiker-stiker band di lemarinya, ada pula yang termakan ancaman berbau mistis. Singkat kata, yang membutuhkan lemari, atau rahim, atau ‘kasih’ sang ibu tinggallah Tri semata.

Petunjuk lainnya, petunjuk yang jauh lebih gamblang, adalah gerak-gerik kelima anak dalam film. Di awal kita bisa melihat posisi duduk para pemain. Tri duduk di lantai, lainnya duduk di kursi. Lalu ada juga bahasan mengenai gelar, dan urutan mengambil undian yang mengacu pada usia. Tingkah dan gaya bicara pun disesuaikan dengan kadar keberdayaan. Tri lebih melayani, dan berbicara dengan sungkan; sedangkan yang lain bisa bicara dengan lantang, walaupun tidak lancang. Alhasil, tanpa perlu waktu yang lama, penonton dapat mengklaim bahwa Tri lebih inferior dibanding saudara-saudaranya.

Menariknya, superioritas dan inferioritas tidak pernah seperti dua mata koin yang berlawanan. Kita hampir selalu bisa melihat keduanya bersamaan—saat salah satu tampil, yang lainnya mengintip dari belakang. Kita bisa melihat kekuatan dari orang yang terlemah, kita bisa pula melihat kelemahan dari orang yang terkuat. Saat seseorang tampil mendikte, kita bisa saja memakluminya karena ada kerapuhan yang mengintip dari belakang. Begitupun saat seseorang tampil merunduk, kita bisa pula berhati-hati dengan adanya perlawanan yang mungkin terpendam.

Perkara superioritas-inferioritas sendiri selalu kontekstual, tidak selalu berlangsung pada standar yang tunggal. Dalam konteks individual, kesuksesan materiil saudara-saudara Tri boleh jadi menempatkan mereka sebagai pihak yang lebih dominan. Dalam konteks keluarga, yang relasi manusianya tidak melulu mementingkan hal-hal duniawi, kesuksean materiil mungkin malah tidak terlalu berarti.

Dalam Lemantun, pembuat film terhitung cermat dalam memainkan persepsi kita terhadap Tri. Di awal, penonton diajak untuk berpihak pada Tri. Ia diperkenalkan sebagai si inferior, sehingga penonton terfokus kepadanya. Posisi itu terus dijaga; Tri tetap menjadi sosok yang melayani hingga akhir. Dari sana superioritas pun datang tanpa perubahan berarti pada diri Tri—ia, misalnya, tidak mendadak dapat uang milyaran rupiah sehingga jadi lebih ‘hebat’ dibanding kerabatnya. Ia tetap menjadi dirinya sendiri, tapi justru itu ia jadi tampak lebih berbakti dibanding keempat saudaranya. Si anak inferior menjadi yang paling superior—yang kemudian ditekankan oleh scoring yang menggenjot emosi.

Lalu setelah itu saudara-saudaranya pulang, Tri tinggal berdua dengan ibunya. Tri berinteraksi sejenak, lalu termenung sendirian dalam lemari. Di sini penonton hanya berhadapan dengan Tri seorang; penonton tak lagi membandingkan Tri dengan saudara-saudaranya. Penonton diajak untuk memahami Tri, memahami kegundahannya karena tak berumah dan tak beristri.

Saat hanyut dalam upaya memahami Tri, lalu titik klimaks tiba, sang ibu terjatuh. Sebuah sentakkan yang dilanjut dengan layar hitam. Tak lama kemudian, muncul adegan Tri memapah sang ibu keluar rumah. Scoring terus berjalan dengan syahdu. Kamera mengambil gambar lemari yang Tri pakai sebagai tempat jualan bensin. Di sini emosi penonton terserang lagi. Tergambar di hadapan penonton betapa berbaktinya (superiornya) Tri, dan luar biasa idealnya relasi Tri dengan sang ibu. Ah, indahnya.

Antitesis Malin Kundang

Seperti halnya muhasabah, Lemantun memang piawai menjajah emosi penontonnya. Penonton mungkin akan pulang dengan bekal kerinduan dan rasa sayang yang berlipat ganda terhadap ibunya. Penonton puas, dan film berhasil dengan baik. Tapi bila kita nalar lebih jauh film ini, lebih jauh dari sekadar pemuasan emosi, sebenarnya ada rasa janggal yang cukup menggelitik. Relasi Tri dan ibunya terasa begitu bertalian dengan inferioritas Tri sebagai individu, sehingga kita bisa bertanya: apakah Tri merawat ibunya karena dia tidak sukses, atau ia tidak sukses karena ia ingin merawat ibunya?

Ini menarik, karena mau tak mau, salah satu yang menohok kita adalah potret relasi mereka. Dalam film, bisa kita lihat Tri membantu sang ibu masak, menjamu saudara-saudaranya, dan melakukan berbagai hal yang meringankan kerjaan sang ibu. Ia selalu ada untuk ibunya, menemani setiap hari dengan fokus yang tak terbagi, tidak juga bahkan untuk kebaikan dirinya sendiri. Tapi inikah bentuk ideal seorang anak? Apakah ketika seorang anak berdedikasi terhadap orangtua berarti juga ia mengutuk diri dalam hidup serba bersahaja? Tak ada yang salah dengan pengabdian pada orang tua, tak ada juga yang salah dengan pilihan hidup bersahaja, tapi ketika keduanya ditempatkan sebagai perkara sebab-akibat, sebagaimana yang terjadi dalam Lemantun, banyak pertanyaan yang muncul tentang kontras tersebut.

Relasi ideal anak dengan ibu mungkin belum terpola dengan cukup baik di kepala kita. Setidaknya, belum sefasih pakem penggambaran ‘anak durhaka’. Tentu kita semua pernah membaca atau mendengar kisah Malin Kundang. Sebagai sebuah dongeng, Malin Kundang lumrah terasosisasikan dengan konsep ‘anak durhaka’, tak hanya di kepala kita, dalam media pun demikian adanya. Contoh FTV religi; seringkali pola anak durhaka tercipta amat Malin-Kundang-esque, yakni sesosok anak kaya doyan hura-hura yang kemudian pura-pura tak kenal, atau bahkan, memperbabu ibunya. Tak hanya sampai situ, polanya pun berlanjut hingga konsekuensi kedurhakaan yang kurang lebih sama: azab yang pedih, meski tak melulu jadi batu.

Pada dasarnya kedurhakaan ekstrem ala Malin Kundang tidaklah tepat untuk jadi bahan pembelajaran. Apalagi di ujung cerita sang ibu justru main kutuk anak semata wayangnya, sungguh tak elok untuk dihayati. Secara proses mental pun yang akhirnya terpelajari hanyalah ‘perilaku buruk terhadap ibu’ dan ‘konsekuensinya’ saja—itupun konsekuensinya bersifat astral. Dengan kata lain, penonton tidak mendapat ilham sama sekali tentang ‘bagaimana seharusnya memperlakukan ibu’, dan apa konsekuensi dari perilaku-yang-seharusnya itu.

Lemantun menjadi menyentuh karena ia mampu menunjukkan kita bagaimana memperlakukan ibu. Bahkan film Wregas sebelumnya, Senyawa (2012), juga menggambarkan pola ibu-anak yang tak kalah idealnya. Di Senyawa, seorang anak yang jadi tokoh utama malah bela-belaan menghadiahkan sesuatu untuk ibunya yang sudah tiada. Kalau Malin Kundang melupakan ibunya yang masih hidup, ini seorang ibu yang sudah tidak ada justru terus diingat dan diperjuangkan. Luar biasa.

Gambaran ideal memang selalu menarik untuk disuguhkan, terutama gambaran ideal yang sarat akan muatan emosional seperti hubungan ibu dan anak (di Senyawa plus keharmonisan perbedaan agama). Namun sayangnya, sukses mengobrak-abrik emosi penonton bukanlah satu-satunya tugas dari film. Selalu ada tuntutan-tuntutan (kepuasan) lain yang menanti untuk dipenuhi, seperti tuntutan intelektual, estetika, kebaruan, dan macam-macam lainnya. Tentunya sulit memenuhi semuanya dalam satu film, namun Wregas punya modal untuk menjelajahi keragaman sinema. Salah satu buktinya bisa kita lihat dalam film Lembusura (2014) yang terkesan mengabaikan pakem film, dan jauh berbeda dari Lemantun ataupun Senyawa.

Singkat kata, Lemantun jelas mampu mencuri hati penonton, dan itu suatu keberhasilan yang patut diapresiasi. Kematangan narasi dan perpaduan berbagai elemen film di dalamnya, khususnya scoring, merupakan sebuah pencapaian yang meninggalkan kesan berharga bagi para penontonnya. Akan tetapi, Lemantun mungkin masih terlalu berhasrat untuk mengejar emosi penonton. Celotehan-celotehan kritisnya terhadap konvensi sosio-kultural–pamer gelar, harta sebagai strata, logika mistika, dan sebagainya–masih terasa sambil lalu, dan sesungguhnya hanya bagian dari pengejaran emosi di akhir saja. Sayang rasanya bila medium film hanya difungsikan untuk membuat haru, sementara di kesempatan lain, muhasabah juga bisa melakukan hal itu dengan andai-andai dan mikrofon mati-nyala-mati-nyala.

Lemantun | 2014 | Durasi: 21 menit | Sutradara: Wregas Bhanuteja | Produksi: FFTV IKJ | Negara: Indonesia | Pemeran: Freddy Rotterdam, Tatik Wardiono, Den Baguse Ngarsa, Agoes Kencrot, Titik Renggani, Triyanto Hapsoro

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (15)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (1)
Share

Send this to a friend