Ali Topan Anak Jalanan: Memberontak dari Kegagalan Institusi Sosial

ali-topan-anak-jalanan-1977_highlight

“Anak gedongan lambang metropolitan, menuntut hidup alam kedamaian.
Anak gedongan korban kesibukan, hidup gelisah dalam keramaian.”
Chrisye, lagu Anak Jalanan.

Remaja laki-laki dengan sosok nakal, jahil, urakan, dan suka melanggar peraturan seringkali terlihat lebih mencolok daripada yang sekadar patuh dan tunduk. Salah satu ikon remaja tahun 70an yang jauh dari kesan tunduk adalah Ali Topan. Selain Lupus ciptaan Hilman, Ali Topan adalah salah satu tokoh fiktif yang dibesarkan lewat cerita pendek dan novel yang akhirnya mengalami proses ekranisasi (adaptasi buku ke film). Tokoh yang diciptakan oleh penulis Teguh Esha ini hadir pertama kali dalam cerita bersambung di majalah STOP tahun 1972. Menurut catatannya, Teguh tenggelam dalam nama-nama Ali yang mendunia saat itu, mulai dari Ali Sadikin hingga Muhammad Ali.[1] Dari sederet nama Ali yang sudah kaliber, Teguh merasa perlu memunculkan satu sosok lagi yang lebih membumi dan dekat dengan masyarakat.

Topan adalah siswa SMA yang hobi bolos bersama geng motornya. Tidak ada tempat bagi Topan untuk mengeksplorasi diri selain di jalanan. Tidak di rumah maupun di sekolah. Gara-gara hobi bolosnya, Topan tidak sengaja bertemu dengan Anna Karenina, seorang gadis cantik yang ternyata adalah anak baru di sekolah Topan. Kisah pun bergulir seputar romansa ala Romeo & Juliet. Orang tua Anna menentang hubungannya dengan Topan, yang dianggap bukan berasal dari kalangan bangsawan seperti Anna. Jadilah Topan yang serba urakan ini dihadang benturan-benturan dari keluarga Topan, keluarga Anna, dan juga sekolahnya.

Disfungsi Institusi Sosial

Topan digambarkan sebagai anak laki-laki yang hidup dalam keluarga disfungsional. Ayahnya lebih banyak berada di luar rumah dengan dalih bekerja, sama seperti ibunya yang beberapa kali dipergoki Topan asyik-masyuk dengan pria lain. Topan berdiri sendiri demi eksistensinya di tengah keluarga tersebut, tanpa merasa perlu dukungan keluarga maupun mendukung keluarganya sendiri agar tetap utuh. Topan memilih sahabat-sahabatnya sebagai keluarga dan jalanan sebagai rumahnya.

Sebaliknya Anna justru mengalami situasi keluarga dengan kontrol penuh. Keharmonisan kedua orangtuanya menghasilkan efek dominan dan protektif yang berlebihan. Bagi Anna, fungsi keluarga sudah alpa karena Anna tidak lagi punya hak bicara dan bertindak dalam keluarga tersebut. Kontrol penuh berada pada tangan kedua orangtuanya. Ada latar trauma di balik itu semua. Sang kakak, Ika terpaksa diusir karena hamil di luar nikah. Anna akhirnya menjadi korban dari tindakan kakaknya terdahulu.

Institusi sosial berjudul keluarga sudah gagal memayungi Topan sebagai salah satu anggotanya. Sekolah pun tidak memberikan dampak signifikan bagi Topan. Ketika ditanya sang ayah, bagaimana sekolahnya, Topan muncul dengan jawaban; “Biasa.” Untuk pertanyaan lain seputar kegiatan belajarnya, Topan menjawab, “Sekolah gitu-gitu aja, semua belajarnya otodidak.” Jelas ada penegasan Topan kalau sistim yang selama ini ia ikuti hasilnya hanya nol besar. Bagi Topan, tidak ada efek yang signifikan dari institusi-institusi sosial yang konon menjadi dasar gerak-geriknya di luar rumah. Simbol-simbol pemberontakan juga tampak dari atribut yang dipasang Topan, yakni sebuah poster di kamar Topan yang bertuliskan “A house is not a home”. Jalanan menjadi tempat bagi Topan bermain sekaligus belajar sesuatu tanpa embel-embel formalitas.

Crossboy yang Memberontak

Ali Topan hadir dengan mengusung semangat crossboy, generasi yang berada di persimpangan jalan. Teguh sendiri mengartikan istilah crossboy sebagai “kebebasan dengan keliaran”. Semangat generasi ini bisa dipahami melalui keseharian Topan dan kawan-kawan yang ‘besar’ di jalanan.  Dari awal film sudah terlihat bagaimana mereka, masing-masing dengan motor kebesarannya, menyisir jalanan ibukota dan menjadikan pinggir jalan sebagai daerah kekuasaan sekaligus tongkrongannya. Mereka ingin memberontak dari aturan dan norma yang ada di sekitarnya, tapi masih tidak tahu ke mana arah yang dituju. Tergambarkanlah sosok-sosok muda yang masih berapi-api dan cenderung labil. Konsep di persimpangan jalan juga menjadi gambaran karakter bagi kedua tokoh utama, Topan dan Anna. Keduanya menjadi korban dari lingkup sosial yang memaksa mereka memilihi berada di ujung batas pilihan mereka.

Refleksi pemberontakan begitu terlihat dari generasi crossboy ini. Mereka tidak ragu lagi menjadi minoritas dalam kelompoknya selama hal itu mereka anggap benar. Di sekolah, Topan menunjukkan sisi rebel saat tertangkap basah merokok di kantin oleh salah satu gurunya. Jawaban Topan, “Saya tidak biasa disuruh-suruh dengan cara seperti ini!” Hal itu juga menunjukkan kalau Topan tidak pernah dibatasi instruksi untuk melakukan ini-itu, bahkan dalam institusi kecil seperti keluarga. Bagi Topan, dalam lingkup luar rumah, peraturan adalah hak prerogatif dirinya. Pemberontakan ini merupakan konsekuensi dari gagalnya peran keluarga, sebagai kontrol dan panduan pengembangan bagi remaja seperti Topan.

Ada usaha dalam diri generasi crossboy untuk merefleksikan bagaimana mereka ingin melepaskan diri dari lembaga yang seharusnya memayungi namun gagal. Terbukti Topan bisa bertahan tanpa adanya dukungan keluarga. Di sekolah Topan tetap mempertahankan kecerdasannya, menjadi yang paling cepat selesai setiap ujian. Ketika ia nyaris dikeluarkan dari sekolah, ia mendapat dukungan teman-temannya, semacam support system bagi anak laki-laki yang akhirnya memilih keluar dari rumah. Jalanan tidak lagi bermakna sesuatu yang membuatnya liar, tetapi justru membuatnya bertahan dan mencari cara untuk bertahan.

Jakarta Tahun 70an

Ketika Ali Topan Anak Jalanan diluncurkan tahun 1977, Jakarta baru saja mengalami banyak pembangunan lokasi ikonik seperti Pekan Raya Jakarta, Monas, sampai tempat judi. Banyak wajah baru dimunculkan untuk memenuhi kota yang masih kosong tersebut. Tentunya pembangunan tersebut memunculkan semangat-semangat baru dan juga peluang untuk menampilkan wajah baru yang masih asing. Ditambah lagi dengan kian terbukanya Indonesia dengan budaya luar, yang terwakili oleh lagu-lagu Barat yang diperdengarkan sepanjang film.

Pembaruan dalam kelompok sosial inilah yang memicu pemberontakan di kalangan anak muda. Memberontak berarti keluar dari institusi-intitusi sosial yang selama ini dianggap masyarakat sebagai zona nyaman, dan mencoba hidup mandiri. Bisa juga Topan hadir sebagai perwakilan anak muda Jakarta yang mengalami culture shock, konsekuensi dari perubahan yang perlahan-lahan hadir. Entah mau melaju ke mana, hasil akhirnya mereka cukup berani untuk berdiri di antara persimpangan jalan, tanpa tahu apakah akan memenuhi pencapaian yang diharapkan.


Referensi

[1] Dikutip dari makalah Teguh Esha berjudul Ekranisasi, Dari Sastra Menjelma Jadi Film: Catatan dari Kasus Film Ali Topan Anak Jalanan dan Film Ali Topan Turun ke Jalan, yang diedarkan saat diskusi Ekranisasi Tak Pernah Mati di Kineforum , Jakarta, 23 Maret 2012.

Ali Topan Anak Jalanan | 1977 | Sutradara: Ishaq Iskandar | Negara: Indonesia | Pemain: Junaedi Salat, Yati Octavia, Titiek Sandhora, Mieke Wijaya, Ruth Pelupessy, Aedy Moward, Aminah Cendrakasih, Connie Sutedja

Artikel ini ditulis dalam rangka acara Bulan Film Nasional 2012 (15-31 Maret) yang diselenggarakan oleh Kineforum.

Kineforum

.

.

.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (2)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend