You Will Meet a Tall Dark Stranger: Seloroh Pernikahan Kandas Dan Masa Depan yang Bias

 

you-will-meet-a-tall-dark-stranger_highlight

Saya punya teman, warga negara asing, ia pernah bercerita bahwa satu hal yang ia sayangkan dari orang-orang Indonesia adalah ketertutupan mereka. Menurutnya, orang-orang disini tak cukup terbuka terhadap hal yang seharusnya mereka buka, sebaliknya, bahkan tak jarang membuka apa yang seharusnya tak mereka buka. Saya sempat berpikir panjang pasca obrolan itu, lalu sampai pada semacam inferensi bahwa orang-orang sini tidaklah tertutup. Mereka hanya tidak cukup punya pengalaman retoris untuk diobrolkan.

Konsep “pengalaman retoris” saya dapatkan ketika menyaksikan banyak sekali obrolan orang-orang Barat. Hal yang mereka obrolkan umumnya bukanlah konsumsi pribadi, sebab mereka tak begitu gemar berjingkat kedalam urusan pribadi orang.  Bahan yang mereka obrolkan justru berputar di masalah non-pribadi: bisnis, seni, rencana-rencana, yang diramu kedalam kemasan retorika berbicara. Orang Indonesia tidaklah tertutup, konsep keterbukaan yang berakar dalam  kehidupan orang Indonesia, hanya simply berbeda dengan konsep keterbukaan orang Barat. Kunci perbedaannya ada pada “pengalaman retoris” tersebut.

Apa hubungan semua itu dengan You Will Meet a Tall Dark Stranger, film terbaru Woody Allen? Yap, pengalaman retoris telah menjadi senjata pamungkas Woody Allen dalam menulis cerita-ceritanya di hampir sepanjang kariernya. Karakter dalam film-film Woody Allen umumnya adalah orang yang lihai bicara, pembicaraan itu datang dari referensi mereka sebagai kelas menengah pada stereotip paling umumnya. Di balik kelihaian itu, Woody Allen mempertarungkan karakternya dengan komedi cinta, biasanya para karakter itu kalah dengan menggelikan. You Will Meet a Tall Dark Stranger bukan pengecualian. Ia berangkat dari keluarga kelas menengah gaek yang anaknya sudah menikah. Suaminya selingkuh, istrinya selingkuh, anaknya pun selingkuh. Mereka selingkuh dengan orang-orang yang sudah menikah dan mengalami hal yang sama dengan pasangan mereka.

Apa yang membuat mereka bisa begitu kompak berselingkuh? Saya menilai bahwa jawabannya ada pada pengalaman retoris mereka yang berada pada level yang cenderung sama namun berbeda fokus. Contoh, karakter Roy Channing berselingkuh dengan karakter Dia karena punya pengalaman retoris sama tinggi dengan fokus yang berbeda dan sekilas tampak bisa menyelamatkan mereka dari kebosanan wacana rumah tangga. Roy seorang penulis, Dia seorang mahasiswi musik. Ketertarikan akan fokus satu sama lain menjadi kausa pangkal penentu untuk menjalin hubungan baru.

Tidak melewati lorong multiplot yang (nantinya) dipertemukan oleh takdir, You Will Meet a Tall Dark Stranger memilih untuk membuat hipotesa lucu-lucuan bahwa selingkuh itu, selain karena faktor pengalaman retoris, juga bisa didapatkan dari gen keturunan. Istri Roy, kedua mertua Roy, semuanya berselingkuh dengan bantuan fasilitas dan kutukan yang cenderung sama.

Bila dibandingkan dengan film Woody Allen sebelumnya, Whatever Works (2009), Allen menurunkan beberapa derajat kenarsisannya dalam You Will Meet a Tall Dark Stranger dengan membagi fokus cerita sehingga tidak berpusar pada satu lektur saja, melainkan pada beberapa plot yang bersenggolan satu sama lain. Kenarsisan Woody Allen hanya terdapat dalam salah satu sub-plot, yakni karakter Alfie yang diperankan Anthony Hopkins. Bandingkan dengan karakter Boris yang diperankan Larry David dalam Whatever Works, yang merupakan analogi seratus persen dari kepribadian Woody Allen sendiri. Memang lucu, sebab selisih umur karakter pria dan wanita selalu bisa menjadi begitu jenaka, tapi fakta historis menunjukkan bahwa prestasi terbaik Woody Allen (terutama sepanjang dekade terakhir) justru terjadi ketika ia menghilangkan analog dirinya dari karakterisasi dalam karyanya, bisa disaksikan dalam Vicky Cristina Barcelona (2008).

Dibalik penurunan derajat kanarsisan itu, Allen tetap menyisipkan pandangan hidupnya sebagai lelaki yang sudah lanjut usia. Lewat karakter Alfie, ia menguarkan semacam hipotesa pria uzur kelewat percaya diri bahwa “Lelaki tua tetap bisa mendapatkan wanita muda sementara wanita tua, bila menjalin hubungan, hampir selalu akan dapat pria tua. Rasakan! “.

Sebenarnya, You Will Meet a Tall Dark Stranger berpeluang menjadi film yang sangat menawan karena memberi ancang-ancang untuk maju sebagai semacam film anti-melodrama, dimana rumah tangga yang biasanya menjadi representasi stabilitas dibalik menjadi ruang yang penuh tikai dan perkelahian. Selingkuh justru menjadi dunia yang hangat karena asmara kembali dimulai dari pesonanya yang paling dasar.  Cara yang pernah saya lihat dilakukan oleh Lee Chang-Dong terhadap konsep keberadaan Tuhan dalam filmnya, Secret Sunshine (2004).

Allen juga menutup pintu bagi rasa cemburu untuk menyaru lalu menghantuipara  karakter. Sekali waktu karakter Helena cemburu, Allen berhasil membuat rasa cemburu itu menjadi tidak laku dan ketinggalan jaman. Cemburu menjadi culun dalam film ini. Selanjutnya, You Will Meet a Tall Dark Stranger mengkonstruksi perselingkuhan sebagai ilusi tak berkesudahan, penyakit kelas menengah yang mereka dapatkan sebagai kutukan atas pengalaman retoris yang mereka punyai. Namun terkadang, ilusi bisa jauh lebih mujarab dibanding obat apapun.

You Will Meet a Tall Dark Stranger | 2010 | Sutradara: Woody Allen | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Anthony Hopkins, Naomi Watts, Josh Brolin, Freida Pinto, Gemma Jones.