Source Code: Realitas Paralel Dan Penonton Amnesia

source-code_highlight

Tentu masih banyak yang ingat dengan Moon (2009), film debut Duncan Jones yang bermanuver lewat dualisme psikologis seorang angkasawan, sehingga ia menjadi bingung siapa sebenarnya yang sedang berpikir dalam kepalanya? Karakter Sam Bell menjadi semakin kebingungan ketika yang terduplikasi bukan hanya pikirannya, melainkan juga fisiknya. Terbangun dari halusinasi, Sam Bell mendapati versi lain dari dirinya; memiliki privilese yang sama persis dengannya, bahkan mencoba menyingkirkannya. Moon menggabungkan tekstur mise-en-scène dalam 2001: A Space Odyssey (Stanley Kubrick, 1959) dengan konsep psikis dalam Solaris (Andrei Tarkovsky, 1972). Moon dipuji karena kesepadanan visi konseptual dan gaya sinematiknya.

Karena Moon begitu menjadi buah bibir, maka Source Code, karya kedua Duncan Jones, juga ikut-ikutan menjadi penting. Source Code akan menjadi objek pengukuran selanjutnya mengenai siapa sebenarnya Duncan Jones: sutradara dengan debut yang kebetulan menawan? Sineas bagus tapi terjebak komersialisasi Hollywood? Atau memang sineas yang memiliki ciri penyutradaraan yang spesifik? Pertanyaan itu sontak meyeruak ketika film baru saja dibuka. Bergema dari layar besar, dentuman fiksi-sains dengan poros kesadaran yang mengawang-awang, Duncan Jones jadi terasa sangat ambisius.

Colter Stevens terbangun dalam sebuah kapsul gelap nan kuyu. Di hadapannya terpampang monitor dengan wajah seorang perempuan memberi instruksi. Ia masih linglung, sebab beberapa menit yang lalu, ia baru saja salah dikenali orang dlaam sebuah kereta di Chicago. Dalam kereta itu, ia juga linglung, sebab ia hidup bukan sebagai dirinya yang adalah penerbang armada tempur di Afghanistan, melainkan seorang guru sejarah! Langsung tercium, masalah utak-atik kesadaran kembali menjadi aksis konsentrasi Jones di film keduanya ini.

Pada dasarnya, Jones menggunakan perspektif orang amnesia dalam membangun protagonisnya. Ingatan kamera disesuaikan dengan memori Colter Stevens sehingga daya raba penonton tak bisa melebihi daya ingat penerbang linglung ini.  Colter Stevens berpindah dari dunia kereta ke kapsul aneh tersebut berkali-kali, satu-satunya pemandu hanyalah Brigadir Goodwin, janda paruh baya yang memandunya dari monitor di kapsul tersebut.

Kalau Inception (Christopher Nolan, 2010) membawa kita ke berbagai lapisan mimpi, maka Source Code membawa kita ke sebuah dunia paralel dengan durasi tetap yakni selama delapan menit. Dalam dunia yang menyerupai simulasi ini (sebab bisa terus diulang-ulang), Colter Stevens diharuskan mencari bom dan pelakunya di dalam kereta yang ia tumpangi. Dalam delapan menit di kereta tersebut, berlaku kehendak bebas para karakter untuk melakukan apa saja yang mungkin dilakukan, namun setelah delapan menit, segala imbas dari semua sebab akan sirna dan Colter Stevens akan kembali terlontar ke dalam kapsul. Mungkin terdengar aman bak bermain video game, tetapi raut panik Goodwin tak mengisyaratkan demikian.

Dalam Source Code, terdapat tiga dunia dengan logika ruang-waktu yang berbeda. Dalam dunia kereta, kesempatan waktu untuk bergerak secara teleologis maksimal hanya delapan menit, akan tetapi ia memiliki potensi paralel sehingga bisa diulang berkali-kali. Dalam dunia kapsul, waktu berjalan secara linear tanpa batasan waktu tetapi terkurung secara ruang. Colter Stevens berkali-kali mencari tahu dimana gerangan ujung pangkal ruangan itu, namun nihil. Sementara dunia ketiga adalah dunia yang ditempati Brigadir Goodwin dan pimpinannya, Professor Rutledge. Dunia ini sama dengan yang ditempati oleh manusia kebanyakan, ia berjalan linear dengan ruang yang gigantis, akan tetapi tak memiliki potensi untuk berulang. Dunia kapsul dan dunia tempat Brigadir Goodwin hanya memiliki satu renggangan untuk berkomunikasi, yakni monitor. Sehingga bila terjadi kesalahan kecil saja dalam kapsul, maka keselamatan Colter Stevens akan terancam.

Melalui perspektif Colter Stevens, penonton berkali-kali memperoleh indikasi bahwa lelaki ini ditunjuk secara paksa untuk menjadi kelinci percobaan sebuah teknologi canggih dalam mencegah terorisme. Namun setiap ditanya detilnya, baik Professor Rutledge maupun Brigadir Goodwin hanya bisa angkat bahu. Mereka berdua terlihat cemas pada kondisi Colter, akan tetapi terus-terusan memaksanya untuk kembali dan kembali lagi ke dunia kereta yang paralel tak terhingga, untuk delapan menit ke depan.

Dengan sedikit kerelaan berinterpretasi, maka akan kita temui alegori usaha sadis yang dilancarkan oleh negara via kanon patriotisme. Colter Stevens, tak pernah tahu apa yang sedang diperbuat orang-orang atas dirinya, yang jelas ia disuruh keluar masuk dunia paralel hingga babak belur demi kejayaan negara. Demi menjadi seorang patriot. Namun ketika simulasi berhasil, cerita tak serta-merta berhenti sampai disitu. Sebab kini, hubungan negara dengan prajurit Colter Stevens sudah mencapai tahap yang masokistik. Colter menjadi ketagihan untuk merelakan tubuhnya terzalimi oleh penjelajahan antar ruang. Ia bersikeras untuk menunaikan tugas moral berukuran raksasa, sebab meskipun tugas negara di pundaknya sudah dianggap selesai, akan tetapi ada celah eksistensial dalam dunia paralel (atau celah eksistensial dalam diri Colter Stevens?) yang memaksanya untuk balik ke sana, dan memperbaiki semuanya melebihi yang diminta oleh siapapun.

Kalau pada Moon, kita dihadapkan pada duplikasi fisik-psikis yang tak terbatas (infinite) disertai drama yang minim, Source Code membawa kita pada rangkapan ruang yang tak terbatas dengan banyak rempah drama. Mungkin saja, pada film berikutnya, Duncan Jones akan bereksperimentasi dengan penggandaan-penggandaan saintifik lainnya. Melalui Source Code, Duncan Jones membuktikan bahwa obsesi personalnya pada fiksi-sains perlahan-lahan menjelma menjadi sesuatu yang khas dari putra rockstar David Bowie ini.

Source Code | 2011 | Sutradara: Duncan Jones | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Jake Gyllenhaal, Michelle Monaghan, Vera Farmiga, Jeffrey Wright, Michael Arden

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend