Sang Pencerah: Sejarah Untuk Kepentingan Massa

sang-pencerah_highlight

Entah apa hubungan antara pembuatan film Sang Pencerah dengan Muktamar 1 Abad Muhammadiyah, yang jelas mereka digelar pada tahun yang sama, modus produksi semacam ini saja sudah cukup untuk membuat saya tertarik menonton filmnya. Ternyata benar, kesadaran pembuat film akan massa Muhammadiyah yang besar di Indonesia tertularkan kedalam film itu bahkan  sampai pada dimensi naratif-nya. Sang Pencerah jelas ditujukan bagi mereka yang Muhammadiyah, atau minimal beragama Islam. Dialognya ramai ditaburi istilah-istilah islam yang spesifik. Seorang teman yang bukan-islam kebetulan ikut menonton bersama saya bergumam curiga, “Lu mau ngislamin gue, ya?”

Formulanya standar. Film mula-mula memperkenalkan peta keberlawanan, siapa yang baik, siapa yang “berseberangan dengan yang baik”. Si baik tentu saja Kyai Ahmad Dahlan sebagai Sang Pencerah, sementara kompetitornya adalah Kyai Kamaludiningrat, Hoofd Penghulu yang secara sah dan legal menjadi pemandu bidang agama di Yogyakarta akhir abad ke-19. Kyai Dahlan yang baru usai belajar agama, menemukan kejanggalan pada lingkungan islam ditempat asalnya: Islam ia nilai dipersulit oleh “Takhayul, Bid’ah, dan Khurafat”, tiga hal yang sangat pantang bagi Muhammadiyah hingga hari ini. Kyai Dahlan yang telah banyak dipengaruhi pemikiran para pembaharu mencoba mengarahkan kiblat sesuai kompas, ia juga tidak mewajibkan sesajen dan mengurangi kesakralan para kyai: ia berjuang menantang kaum ortodoks.

Sang Pencerah dibuat berdasarkan kepentingan massa, itu terlihat jelas pada bagaimana dialog ditulis serta sejarah hidup Ahmad Dahlan yang didramatisir, sehingga Sang Pencerah bukanlah sejarah Ahmad Dahlan semata, melainkan sejarahnya yang diinterpretasi orang pada lapis kesekian demi terwujudnya drama yang akrab dengan penonton (baca: target audiens, warga Muhammadiyah). Setelah itu, treatment Sang Pencerah kemudian ditarik melintasi garis waktu hingga ke seratus tahun kemudian untuk membantu menceramahi penonton mengenai kebalauan Indonesia masa kini. Lihatlah bagaimana perseteruan internal islam antara Kyai Kamaludiningrat dan Kyai Dahlan yang katanya terjadi pada abad ke-19, tapi berlangsung dengan kultur etis kekinian (salah satu ormas Islam gariskeras di Indonesia masa kini sangat hobi menggunakan kekerasan seperti yang digunakan murid Kyai Kamaludiningrat untuk menghancurkan langgar, lalu menuding semua orang kafir; kecuali dirinya tentu saja).

Kenapa Kyai Kamaludiningrat sangat keras mengantisipasi Kyai Dahlan? Ini pertanyaan yang tidak selesai karena film Sang Pencerah tidak menjawabnya dengan tegas, awalnya Kyai Kamaludiningrat takut pemikiran Kyai Dahlan akan mencemari “kesucian” islam yang telah berlangsung lama di Yogyakarta, ia tak mau syariat islam nan suci dibelokkan oleh pemikiran-pemikiran baru sehingga mereka semua menjadi kafir. Problem konservatisme ini lalu ditinggalkan terbengkalai ketika ujung-ujungnya Kyai Kamaludiningrat ternyata hanya mengkhawatirkan jabatan politisnya sebagai hoofd penghulu akan direnggut oleh Kyai Dahlan.  Rantai konflik yang tak tegas silang-sengkalutnya ini meninggalkan kasak-kusuk yang ramai di kursi penonton ketika film usai.

Yogyakarta akhir abad ke-19 sebagai latar kultural lahirnya Muhammadiyah dikonstruksi dan direkam dengan memadai, hanya beberapa hal kecil membuat kememadaian itu sedikit terganggu. Tanah dalam film seperti menggunakan pasir, padahal tanah di Yogyakarta tidak seperti itu warnanya kecuali bila Tugu Jogja berjarak sangat dekat dengan pantai. Kenyataannya tidak. Tidak mungkin pasir pantai bisa merangkak puluhan kilometer sampai ke Tugu Jogja.  Kedua, dikisahkan bahwa para Kyai sudah pernah belajar hingga ke Mekkah, seharusnya mereka sudah fasih dalam membaca Al-Qur’an lengkap dengan tajwidnya, itu tidak saya temukan dalam film Sang Pencerah, para Kyai yang sudah bertahun belajar di Mekkah tetap saja terdengar sangat jawa dalam bertajwid, bagaimana mungkin seorang yang katanya begitu terpengaruh oleh ajaran Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh, tapi pelafalan Tajwid dan bahasa arab-nya saja belum fasih? Ketiga, sebagian aktor memang berbahasa jawa, tapi bukan dialek Jogja.  Otentisitas kecil seperti ini seringkali tidak diperhatikan sehingga film tampaknya berjalan setengah-setengah.

Tapi siapa sih yang peduli pada tetek bengek sepele itu?  bagi para pengagum yang memang berniat menonton visualisasi kehidupan Ahmad Dahlan, dijamin puas. Sebab setelah menonton, dipastikan mereka akan tambah bangga pada sosok yang visioner ini. Bagi warga Muhammadiyah, niscaya akan bertambahlah ke-Muhammadiyahah-an dalam kalbu mereka. Bagi yang bukan, setidaknya mereka bisa memahami I’tikad dan sepak terjang Muhammadiyah. Ketika beranjak pulang, teman saya yang bukan Islam menghembus lega “Puji Tuhan, gue nggak pindah agama.

Sang Pencerah | 2010 | Sutradara: Hanung Bramantyo | Negara: Indonesia | Pemeran : Lukman Sardi, Zaskia Adya Mecca, Slamet Rahardjo, Giring, Dennis Adhiswara.

Sang Pencerah | 2010 | Sutradara: Hanung Bramantyo

Negara: Indonesia

Pemeran : Lukman Sardi, Zaskia Adya Mecca, Slamet Rahardjo, Giring, Dennis Adhiswara.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (2)
  • Boleh juga (2)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend