RED: Tembak-Tembakan Tanpa Beban

Para senior turun gunung memainkan peran senior. Diadaptasi dari komik-tiga-jilid berjudul sama, Red mengandalkan pengalaman para aktornya untuk sebuah film komedi tembak-tembakan. Menembaki puluhan orang sambil mengunyah permen karet, memnghabiskan selongsong peluru sembari mengobrol nostalgia masa muda. Merekalah Agen Rahasia yang telah pensiun, yang suatu malam dibangunkan oleh rentetan serangan mendadak yang menyadarkan. Bahwa selesainya masa bakti tugas tidak berarti menghapus semua jejak perbuatan masa silam. Para pensiunan ini diincar untuk dibunuh dalam rangkah menghilangkan jejak secara keseluruhan. Siapa yang mengincarnya? Agen rahasia dua generasi dibawahnya. Para orang tua ini harus berlarian kesana kemari menghalau gempuran peluru dan strategi dari juniornya yang sedang dipuncak semangat kerja.

Tapi alih-alih menggambarkan senior sebagai yang lemah, Red memilih sisi pengalaman mereka untuk ditonjolkan. Otot boleh lemas, tapi ajaran pengalaman tetaplah bernas. Tak perlu banyak koordinasi, para pensiunan yang sudah lama terpisah ini sudah mulai mencari satu sama lain. Maka Red tampil sebagai semacam road movie tanpa adegan jalan raya, perpindahan kota selalu dimulai dari kartu pos yang disambut tingkahan kamera yang cerewet.

Mereka yang mengisi peran tersebut diantaranya adalah Bruce Willis, Helen Mirren, Morgan Freeman, dan John Malkovich. Sekelompok opa-oma  yang tak bisa lagi kita andalkan kecepatan geraknya. Maka sutradara Robert Schwentke memanfaatkan raut wajah berpengalaman mereka untuk membentuk tekstur komedia. Tembak-tembakan ringan tanpa beban. Salah satu karakter dalam film menyebutnya sebagai “masalah kecil, hanya seperti insiden bom atom di Moldova”.

Bagi orang-orang tua ini, kontak senjata bukan lagi beban. Mereka telah melakukannya puluhan tahun hingga telah menjadi pekerjaan mekanis. Puluhan tahun lalu mereka melayani negara dengan membunuh orang-orang yang diperintahkan dan mereka menikmati. Hingga beberapa orang sedih karena setelah pensiun, mereka tak lagi diberi hak itu. karakter yang diperankan Helen Mirren bahkan kerap mengisi waktu luangnya dengan membunuh orang. Life without killing people is kinda sad. Premis itu yang mengajak penonton untuk menikmati adegan bunuh-bunuhan tanpa harus menjadi tegang.

Adakah hal yang menarik? Saya kira berikutnya ia menjadi biasa. Red bermula dengan intrik politik besar yang melibatkan pemuka-pemuka politik dari seantero negeri, tetapi kemudian bergeser menjadi persoalan pribadi yang menjauhi persoalan struktural yang ia angkat di awal.  Sudah menjadi kontur tipikal Hollywood yakni menceritakan hal-hal besar, menantang logika dan sejumput pengetahuan politis-historis penonton sebelum membuat kita mengantuk karena ternyata sang pahlawan melakukan semua itu hanya karena dendam pribadi, pacarnya disandera, atau keluarganya diancam. Kompleksitas politik dicampakkan begitu saja, bahkan tak berlebihan, bila saya tuding bahwa unsur-unsur tersebut kerap dikorbankan demi keberlanjutan cerita filmnya. Toh, kebanyakan penonton ingin datang ke bioskop lebih kepada orientasi “merasa” ketimbang pada orientasi “berfikir”.

Suatu ketika saya menonton film Wall Street: Money Never Sleeps, awalnya penonton sibuk bicara sendiri karena film dibuka dengan pemetaan pasar saham yang begitu runyam dan tidak berpengaruh secara sosio-kultural pada penonton (setidaknya penonton berfikir begitu). Tetapi ketika konflik memasuki intrik rumah tangga, penonton bersandar tenang memperhatikan, menyelami cerita dan membayangkan masalah itu terjadi  pada dirinya. Proses identifikasi diri secara personal lebih sering dilakukan penonton ketimbang merenungi posisi politis mereka sebagai penonton atas medium yang tengah mereka saksikan. Red datang sebagai film yang menjanjikan rasa senang bagi penontonnya. Tanpa harus memikirkan kejadian apa sebenarnya yang ada di layar. Pokoknya kejadian semacam itu pernah ada.

Tak usah terlalu banyak memikirkan logika narasi seperti bagaimana seuntai kalung bisa dipakai mengganjal pintu, bagaimana orang masih bisa tertawa padahal pusarnya sudah bocor dibolongi peluru, atau kenapa seorang pahlawan selalu bisa datang tepat waktu, tak lebih cepat dan tak pula telat. Berfikir dengan pola seperti itu ketika menonton Red, hanya akan membuat Anda marah-marah.

RED | 2010 | Sutradara: Robert Schwentke | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Bruce Willis, John Malkovich, Helen Mirren, Morgan Freeman, Mary-Louise Parker

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend