Incendies: Siasat Berburu Momen Utama

incendies_hlgh

Beberapa waktu lalu, dari berbagai sumber, saya sempat menyesap selintas aroma kecewa karena Incendies tak berhasil meraup penghargaan sebagai film berbahasa asing terbaik pada perhelatan Academy Awards. Motivasi saya menonton Incendies, tak lain dan tak bukan hanya untuk berbagai perasaan, entah nantinya ikut kecewa atau justru merasa senang atas kegagalan film ini di Academy Awards, tentu saja hal tersebut sangat bergantung pada kualitas filmnya dalam pandangan saya. Incendies adalah film Kanada arahan Denis Villeneuve, diangkat dari drama panggung karya Wajdi Mouawad.  Incendies mengononkan kisah sepasang kembaran yang melakukan perjalanan untuk memenuhi wasiat ibu mereka sebelum mangkat. Kata incendies sendiri berakar dari bahasa Prancis yang bermakna ‘api’.

Pada awal sekali, Incendies mempersiapkan penonton untuk memahaminya sebagai sebuah kisah dimana kematian justru membunuh mereka yang tertinggal.  Jeanne dan Simone rentan bertengkar, sebab Simon tak mau melaksanakan wasiat tersebut sementara Jeanne begitu keras ingin berangkat. Agar kelahi tak semakin menjadi, Jeanne rela berangkat sendiri. Wasiat ibunya tak begitu terang dijelaskan, yang jelas Jeanne harus mendatangi sebuah negara (yang tak disebutkan namanya)  di Timur Tengah. Suasana film yang berbahasa Perancis secara tak langsung memberi stigma bahwa negara yang disambangi Jeanne kemungkinan besar adalah Afrika Utara bekas jajahan Perancis, sebab di negara-negara tersebut, bahasa Perancis masih lazim digunakan di samping bahasa Arab, bisa saja Aljazair dan Maroko.

Beberapa saat setelah ketibaan Jeanne, kita langsung mengetahui bahwa dulunya Nawal Marwan, ibu Jeanne, adalah seorang aktivis perang. Narasi sontak berpindah pada kehidupan Nawal di masa-masa peperangan tersebut. Bermain dengan teknik kilas balik, Incendies memaksa penonton menegakkan sandaran karena kilas balik yang digunakan bukanlah model yang biasa. Dengan keanggunan yang sarat muslihat, Incendies dengan licin memulai filmnya dari awal dan akhir cerita sekaligus. Ternyata penonton sudah tahu awal dan akhir ceritanya sejak film baru saja dimulai. Justru, penonton ditantang untuk menemukan momen-momen pivot yang membuat plot akhirnya bertemu di tengah-tengah. Bila digambarkan dalam semacam garis lurus dengan empat titik A,B, C dan D sesuai kronologi waktu. Maka Jeanne bergerak dari titik C ke D sementara Nawal beringsut dari titik A ke B. Ada kesenjangan masa yang tak tersentuh kedua belah pihak yakni rentang antara titik B dan C.

Struktur gesekan karakter dalam plot Incendies

Lain lagi bila film dianalisa menurut plot dengan mengabaikan waktu. Dengan cara ini, maka Jeanne akan bergerak dari belakang menuju ke tengah plot sementara Nawal bergerak dari awal juga menuju ke tengah. Sama-sama menuju ke tengah tidak berarti mereka bertemu, akan ada irisan dimana para karakter saling mengumpulkan informasi satu sama lain tanpa pernah bertemu rupa. Lewat pemerian yang berbeda terhadap waktu, Incendies berhasil mencapai ruang cerita yang persis sama. Bagaimana mungkin mereka tak bertemu sementara Nawal adalah ibu Jeanne, dan Jeanne ada disampingnya sewaktu Nawal meninggal? Begitulah Incendies duduk menghadap meja pertaruhan, berjudi dengan para penontonnya.

Incendies menyimpan rahasianya dalam kantung-kantung visual yang dalam. Rahasia inilah yang harus ditemukan oleh penonton dengan cara membongkar bahasa visualnya. Rahasia tersebut tidak saja untuk kepentingan plot dan style, melainkan juga sebagai penyampai pesan, bahwa film ini (kurang lebih seperti White Material karya Claire Denis) meneriakkan kekesalan pada perang bagaimanapun bentuknya dan dimanapun lokasinya. Lokasi peperangan sengaja tak diberi nama sebab semua orang pasti mafhum, konflik sudah sejatinya memang sama dimana-mana.

Ini kelebihan lain dari Incendies, momen-momen penting dibuat untuk kombinasi tiga keperluan secara bervariasi; kepentingan plot, gaya (style), dan penegasan ideologis sang pembuat film sendiri. Ada baiknya kita lihat beberapa contoh (dari sekian banyak tikungan penting dalam film ini):

(Kiri kanan atas bawah) Nawal melihat bis datang, ia mencopot kalung salibnya, Nawal mengenakan pasmina, sehingga bisa bergabung bersama para warga muslim.

Nawal melihat bis datang dan segera sadar bahwa bis itu dikendarai oleh orang-orang muslim. Ia bersembunyi dan menanggalkan kalung salibnya lalu mengenakan pasmina. Akhirnya ia diperbolehkan menumpang.  Pada rangkaian gambar yang melibatkan sekurang-kurangnya tiga shot tersebut, Incendies memenuhi dua kepentingan sekaligus. Pertama, kepentingan pesan ideologis, bahwa agama ternyata bukanlah hal yang sama sekali tidak bisa dinegosiasikan, sebagaimana yang selama ini didentumkan oleh para ilmuwan Resolusi Konflik (oleh Roger Fisher misalnya). Bagi karakter Nawal, ketika itu menyangkut masalah keselamatan personal, agama menjadi cair dan kecairan itu telah ia persiapkan sejak dari rumah. Kedua, kepentingan plot, bahwa tindakan krusial Nawal tersebut memungkinkan penonton untuk menarik inferensi. Tanpa adegan itu, penonton takkan bisa mengintip kemungkinan bagaimana Nawal bisa meninggal di Kanada puluhan tahun kemudian.

Contoh berikutnya, yakni penggabungan antara kepentingan plot dan gaya (style) dengan menggunakan satu perlakuan sekaligus:

(Kiri kanan atas bawah) Jeanne dan Simon bertemu Nyonya Maika, Nyonya Maika mengaku kenal dengan Nawal, Cut-to Simon dalam kolam renang, Jeanne dan Simon berpelukan.

Jeanne dan Simon ditemani pengacara mereka datang menemui Nyonya Maika yang sedang terbaring sakit. Nyonya Maika adalah salah satu orang yang ditengarai memiki petunjuk tentang wasiat Nawal. Gambar berikutnya, Nyonya Maika terkejut lalu menceritakan betapa dekat dan rindunya ia pada Nawal. Gambar dengan cepat berpindah ke bawah air dengan pose Simon yang menyerupai janin bayi. Dari segi gaya, pose janin tersebut mewakili impresi spontan yang serta-merta melontarkan Simon pada kenangan tentang sang ibu didalam perut hamilnya sebagai makhluk yang paling dekat. Dari segi plot, penjelasan Nyonya Maika membuat Jeanne dan Simon yang awalnya sudah hampir putus asa, kembali berdamai dan siap untuk terus mencari petunjuk. Hal tersebut terlihat pada shot ke empat, dimana Jeanne dan Simon berpelukan.

Bukan bermaksud menebar spoiler, maklum rahasia visual ini jumlahnya sangat banyak dan berserakan di sekujur tubuh film. Dua contoh di atas saya maksudkan hanya sebagai semacam panduan dalam menonton Incendies. Bahwa alih-alih menunggu penyingkapan akhir cerita, Incendies justru menggertak penontonnya untuk menggeledah tikungan dan memaknainya; memburu petunjuk dan menganalisanya. Akhir cerita yang sudah kita ketahui tetaplah misterius sebab struktur plot yang berkelindan aneh: ada waktu yang berarak seiring dengan plot, sementara ada pula waktu yang arahnya melawan pergerakan plot.

Pada gambar pertama di atas, saya menandai sebuah irisan dengan warna hitam. Saya mencatat hal penting dari irisan tersebut, bahwa ternyata cerita tidak bertemu dalam ruang dan waktu. Jeanne dan Simon berhenti di titik C sementara jejak perjalanan Nawal raib di titik B. Namun bila kita mengabaikan ruang serta waktu dan hanya memperdulikan cerita, ajaib, ternyata Nawal dan kedua anak kembarnya telah saling berpapasan satu sama lain tanpa disadari oleh penonton. Daerah yang saya maknai sebagai irisan adalah daerah dimana narasi omnipotent yang sedari awal ikut (bersama kamera dan juga mata penonton) menghilang seiring kemudian Jeanne serta Simon menemui petunjuknya sendiri. faktor intrinsik cerita mendorong Jeanne dan Simon untuk mendekat pada ibunya tanpa harus saling bertemu secara fisik, secara ruang, dan secara waktu. Bagaimana pula kiranya bentuk pertemuan ini?

Terakhir, bila kita hendak memaknai Incendies sebagai cerminan dunia nyata, ada satu hal yang menjadi prasyarat mutlak perjalanan serupa bisa dilakukan, yakni kebajikan hukum. Jeanne dan Simon dimungkinkan untuk menelusuri masa lalu karena hukum yang memperlakukan mereka dengan begitu bijak dan bajik. Demikian pula dengan Nawal, luputnya ia dari bidasan perang terjadi karena dirinya dimuliakan oleh hukum di sekitar. Bila hukum carut-marut, maka mustahil sebuah perjalanan yang menjernihkan seperti Incendies bisa dilakukan. Saya tidak bisa menyebut ini sebagai kekurangan, sebab secara sosial, Kanada memang adalah salah satu negara dengan realisasi hukum yang paling baik di dunia dan Incendies hanya bermaksud menggambarkan fakta itu.  Incendies adalah cermin yang jujur bagi penduduk negara ‘daun maple’ ini. Bagi orang Indonesia, jangan karena buruk rupa lantas cermin dibelah.

Ternyata, Incendies adalah kisah tentang sosok bernyawa yang seperti mati, lalu kemudian dihidupkan oleh sosok lain yang sudah mati. Akhirul kalam, saya duduk bersama mereka yang harapannya terpelanting karena film ini tak menang dalam ajang  Academy Awards.

Incendies | 2010 | Sutradara: Denis Villeneuve | Negara: Kanada | Pemain: Lubna Azabal, Mélissa Désormeaux-Poulin, Maxim Gaudette, Rémy Girard, Abdelghafour Elaaziz

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (4)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend