Hortus: Jukstaposisi Kecabulan dan Reka Apologia

hortus-edwin_highlight

I

Entah jika sejarah manusia memang bermula dari Adam dan Hawa. Selain mengamati tetumbuhan dan mengenali hewan-hewan, kitab tak merinci kegiatan harian keduanya hingga peristiwa itu terjadi. Daging khuldi merekah menyelami kerongkongan, pengetahuan mengisi manusia kemudian, dan ketelanjangan masing-masing terungkapkan. Hawa menghantarkan Adam pada jalan untuk berkebajikan: mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.

Entah jika ternyata si khuldi yang terlarang itu sebenarnya hanya sebuah legitimasi bahwa manusia yang hidup harus bisa mempertimbangkan rasa bersalah atas perilakunya yang buruk. Siapa tahu, tanpa si khuldi, Adam dan Hawa terlalu bebal hingga tak dapat mengerti apa buruknya melanggar perintah hingga mereka patut dihukum. Karenanya, sebelum menelan khuldi, bagaimana keduanya berkemampuan membuat keputusan moral bahwa melanggar perintah adalah sesuatu yang buruk, sebuah dosa, dan semestinya dihindari? Atau barangkali, pada dasarnya, keduanya justru telah memiliki kemampuan untuk menimbang bahwa melanggar satu perintah absolut mempunyai nilai positifnya tersendiri sehingga konsep dosa bersifat nisbi.

Sampai di sini kita tak perlu terlalu memusingkan penjelasan religius dari peristiwa Taman Eden itu. Kita juga tak perlu memusingkan asal-asal manusia yang lebih rasional untuk diyakini. Bisa jadi manusia memang benar-benar berasal dari kera, bukan Adam dan Hawa. Tapi bukan itu persoalannya. Perkaranya: kita bisa mulai menduga bahwa jangan-jangan yang diimani sebagai manusia pertama sebenarnya telah memiliki Pengetahuan dari sananya. Taman Eden kemudian secara tak sadar terkonstruksi sebagai latar pertimbangan etis yang paling mula. Di antara rindangnya, Eden telah sejak awal menempatkan Pengetahuan —termasuk pergolakan yang muncul mengikutinya sebagai proses mengambil keputusan— di antara sepasang manusia sebagai bentuk kejahatan yang hakiki. Plus, dosa asali itu mengutuk manusia untuk mengafirmasi baik atau buruk perilakunya.

II

Sementara itu, di taman yang lain, dengan latar waktu dan letak geografis yang berantah, Pengetahuan hadir dalam replika mitosnya sebagai ‘kedosaan’ di antara dua manusia. Si tokoh laki-laki mengulangi ketidaktahuan yang dimiliki Adam pada awal mula: ia muncul sebagai seorang ilmuwan yang mempelajari tumbuh-tumbuhan tak dikenal, sampai seorang perempuan muncul di antara rindangnya. Kebaya yang membaluti tubuh si perempuan menyibakkan farjinya. Pertemuan pada daging yang merekah itulah si laki-laki disuguhkan alternatif Pengetahuan, hingga ketelanjangan keduanya terungkapkan: sebuah kenikmatan. Persanggamaan.

Bersamaan dengan itu, ketelanjangan dengan kegamblangan serupa terproyeksi tepat di sebelahnya. Sebentuk kenikmatan dan jalur alternatif menuju Pengetahuan lain hadir lewat rekam figur-figur berpenis menggantung tanpa penutup dan payudara yang menggelayut tanpa sehelai kain pun membalut. Ketelanjangan yang terekam bukan dalam rangka persetubuhan. Mereka telanjang, begitu dari sananya. Tercitrakan sebagai yang jauh dari peradaban. Mereka bukan berlatar antah berantah: Belanda yang telah mengarsipkan kenikmatan kolonialnya di daratan Hindia pada tahun 1920-1930an.

Meredam perasaan ganjil yang merespon audio-visual sarat seksual sekiranya menjadi semacam rutinitas dalam menonton film-film Edwin. Baik ketika ia hadir secara sublim maupun tampil dengan pengadeganan yang harafiah, seksualitas dalam film-film Edwin selalu rapih dan hampir tak pernah bicara secara verbal. Seks jauh dari kecenderungan populis sebagai hiburan kacangan. Edwin menghadirkan seksualitas dengan kehalusan yang jeli dalam plot narasi hingga ketabuannya terjarakkan dan menjelmakannya menjadi sebuah kebutuhan. Namun Hortus (2013), yang berarti ‘taman’ dalam bahasa Latin, menyodorkan seksualitas yang menghadirkan perasaan ganjil di luar persiapan. Unsur seksual dalam Hortus muncul dengan penuh kelancangan.

Hortus disebut sebagai film porno pertama Edwin. Namun, meski hingga penetrasi penuh variasi posisi ditampilkan Edwin dengan sebegitu gamblangnya, menyebut Hortus sebagai film porno, dalam pemahaman sederhananya sebagai film bernuansa erotis dan bertujuan membangkitkan birahi, tentu sebuah kekeliruan. Melampau konvensi sinema berlayar tunggal, Hortus ditembakkan dengan dua proyektor 16mm. Edwin menjukstaposisikan dua bingkai yang sama-sama menampilkan figur-figur manusia. Sepasang aktor dan aktris porno bersanggama di tengah rindang taman mengisi layar sisi kiri, sementara layar di kanannya terus memutarkan footage sejarah milik Belanda yang merekam orang-orang Indonesia pada masa penjajahan. Keduanya bersandingan dalam kecabulan yang dibangun oleh logika eksploitasi yang paralel.

Bagaimana pun kualitasnya dalam standar penilaian film porno pada umumnya, layar di sebelah kiri mula-mula mencuri perhatian. Konon film-film porno dibuat untuk kepentingan kepuasan laki-laki. Saja. Sensualitas tubuh perempuan (yang tak jarang telah sintetik di sana sini), semekanis apapun gerakannya, dapat memenuhi fantasi penuh birahi dan mengkerdilkan perempuan sebagai obyek. Juga ditambah kecenderungan beberapa genre film porno yang menawarkan kepasrahan, tangisan, atau ketakberdayaan perempuan sebagai pelengkap fetis. Erotika hubungan seksual menjadi tak lebih dari proses membingkai padu-padan sex appeal dan pengejawantahan fantasi birahi yang hampir tak mungkin dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Terlepas dari kenyataan bahwa beberapa aktris porno malah memiliki kefasihan lebih akan hak dan otoritas perempuan, totem pro parte, industri film-film porno melegitimasi relasi kuasa yang timpang. Seks mengalpakan keintiman relasi personalnya. Penonton yang menikmatinya berarti mengamini dikotomi relasi: Yang Berkuasa dan Yang Dikuasai. Dan (apesnya), perempuan yang menikmati kepuasan dari gambar bergerak nan erotis tersebut kemudian dianggap permisif terhadap komodifikasi ‘kaumnya’ dan menikmati kondisi keterjajahannya.

Persepsi relasi antara Tuan dan Yang Dipertuan demikianlah yang berjukstaposisi dengan sekumpulan footage wajah-wajah orang jajahan. Ia dibuat sebagai sebuah dalih moral dari proses penaklukkan dan penundukkan, perampasan serta pemiskinan; menumbuhkan kenikmatan tersendiri buat Belanda. Ia dibuat sebagai legitimasi superioritas di tanah Hindia, merekam wajah-wajah dan tingkah laku yang jauh dari modernitas. Ia hadir sebagai sebuah pembenaran atas penaklukkan: Tuan yang Beradab datang untuk menyelamatkan orang-orang di Hindia yang tertinggal dan perlu dijinakkan agar dapat menemukan peradaban sehingga justru semestinya kita bersyukur atas pendudukannya di Nusantara.

Dengan reka keintiman antara lelaki dan perempuan di taman yang disejajarkan dengannya, Edwin menegaskan kenyataan: Pengetahuan dan Kemajuan menjungkal kemanusiaan. Sekiranya bukan kebetulan jika Edwin mengarahkan si tokoh Perempuan sebagai pihak yang menginisiasi dan memegang kemudi jalannya persetubuhan. Hawa telah lebih dulu menyandang stigma si Tersangka Penggoda dengan jalan Pengetahuan yang ditawarkannya melalui buah khuldi. Lewat footage yang menjadi legitimasi Kolonial, Edwin meluangkan celah untuk menyematkan titel senada pada si penjajah.

III

Menarik untuk mencoba memposisikan kembali Hortus dalam latar belakangnya sebagai Tugas Akhir studi S2 Edwin di Belanda. Dibuat dan diputar untuk pertama kalinya di negeri dengan identitas kebangsaan penontonnya yang telah didakwa film sebagai ‘Si Tersangka yang Bersalah’, Hortus menemukan tempatnya sebagai sebuah medium eksperimental yang cerdik dalam mengobrak-abrik pertimbangan-pertimbangan etis atas hasrat primitif yang dimiliki manusia. Gejolak hormonal yang muncul harus teredam dan terbentur dalam kegamangan bersama perasaan bersalah dan rasa malu selagi menyadari identitas darah  sebagai Si Penjajah. Bayangkanlah denyut kelamin yang terlalu sulit untuk dibendung harus berpacu secara kontinu bersama tuntutan moral berupa rasa bersalah atas dosa nenek moyang yang melakukan kejahatan kemanusiaan. Hortus dalam keutuhannya bekerja dengan membenturkan gejolak birahi dan reaksi emosional; membangun kegamangan refleksi etis atas keduanya.

Konon, seorang penonton di Belanda menyampaikan permintaan maaf atas nama nenek moyangnya kepada Edwin selepas menyaksikan Hortus. Entah jika rekonsiliasi individual menjadi salah satu pertanda bahwa misi yang dibawa dalam film terlaksana. Sebab, jadi pertimbangan yang lain ketika Hortus ditayangkan di negeri asal Edwin dengan penonton yang membawa identitas nenek moyang Nusantara. Dalam sudut pandang masa kini, footage  membingkai orang-orang Hindia sebagai korban. Kesadaran penonton atas identitasnya sebagai keturunan si Terjajah akan mendorong persepsi dan kecenderungan reaksi yang berbeda. Karenanya, Hortus sebagai medium bermain Edwin bisa jadi luput dalam mengacak-acak kecenderungan reaksi etis ketika identitas penonton tak lagi terposisikan sebagai Yang Bersalah. Footage kolonial dapat tergelincir menjadi medium untuk merepetisi penekanan: bahwa kita adalah korban yang telah dinistakan, rasa bersalah yang kekal dan permintaan maaf yang rutin adalah jalan keluar. Kehadirannya untuk menegaskan ketimpangan relasi kuasa menjadi berlebihan, termasuk kemunculan kebaya yang dikenakan si Perempuan. Hortus secara subtil menjadi pledoi atas kenikmatan dalam mempertahankan identitas sebagai Yang Tertindas.

Entah jika adegan persetubuhan disandingkan dengan arsip sejarah yang berbeda, di mana Tersangka-nya membagi identitas yang sama dengan penonton. Kenikmatan berjukstaposisi dengan rasa malu dan bersalah dalam ketaksenonohan yang lebih relevan. Namun, mengingat orang-orang Indonesia sendiri hanya memiliki sejarah sebagai Tersangka Penjajah atas saudara sedarah dan sebangsa, sepertinya apologia dan rekonsiliasi tak akan muncul seperti yang terjadi di Belanda. Kejahatan segelintir pihak, militer misalnya, tak dapat merangkum identitas kebangsaan Indonesia yang luas bahkan sampai anak-cucunya. Bisa jadi kita cukup meminta maaf, meski hanya pada diri sendiri, atas gejolak birahi yang muncul sepanjang film diputar. Sedang Pengetahuan dan Pertimbangan Moral Berakal-budi tetap mewujudkan mitos akan hakikatnya yang sumir.

Hortus | 2013| Sutradara: Edwin | Negara: Indonesia, Belanda | Footage: EYE