Beastly: Sebuah Dongeng untuk Masa Kini

Beastly

Kehadiran film Twilight pada tahun 2008 dapat dikatakan menjadi oase layar lebar tersendiri bagi remaja dunia. Selain karena diangkat berdasarkan novel best-seller milik Stephenie Meyer, film tersebut melibatkan karakter-karakter non-manusia dalam ceritanya. Kisah cinta maupun konflik yang terjadi bukan sekadar persoalan yang terjadi pada manusia biasa, tetapi juga pada makhluk lain seperti vampire dan werewolf. Film seperti Twilight mengajak penonton untuk berimajinasi dengan logika-logika tertentu, tanpa merasa ‘didongengi’ bahwa sebuah peristiwa magis itu terjadi di angan-angan, atau di sebuah tempat yang far far away. Setelah Twilight dan sekuel-sekuelnya dirilis, dan selalu berhasil menyedot atensi remaja, ada semacam kecenderungan muncul film-film yang kisahnya merupakan kombinasi dunia sehari-hari dengan dunia fantasi. Salah satunya adalah Beastly (2011).

Beastly berkisah tentang Kyle Kingson, seorang remaja SMA perkotaan, yang terlalu tahu bahwa dirinya super keren, super kaya, super popular, dan super segalanya. Dengan kondisi hampir sempurna itu, ia cenderung meremehkan dan semena-mena pada orang-orang di sekitarnya. Sampai suatu hari, ada seorang gadis eksentrik bernama Kendra. Ia tertarik pada Kyle, tapi malah diolok-olok Kyle di hadapan publik dalam suatu pesta. Sialnya, Kyle tidak tahu bahwa Kendra bukanlah seorang gadis biasa. Ia memiliki kekuatan lebih, semacam supranatural. Kendra pun ‘mengutuk’ Kyle. Wajah tampan yang Kyle banggakan berubah jadi wajah yang penuh luka dan penuh tato. Drama kutukan pun dimulai. Jika dalam jangka waktu setahun, ada seorang wanita yang menyatakan cintanya dengan kata I love you, maka Kyle bisa mendapatkan ketampanannya kembali. Jika tidak, ia akan tetap seperti itu.

Ayah Kyle, Rob Kingston, adalah seorang presenter berita terkemuka. Ia membeli sebuah rumah di wilayah lain agar Kyle punya tempat tinggal tanpa diketahui kutukannya oleh orang lain. Kyle juga berhenti dari sekolahnya. Di rumahnya ini, ia tinggal dengan seorang pembantu berkulit hitam, yang bisa kita tahu bahwa ia imigran, sehingga jauh dari keluarga dan anak-anaknya. Seorang guru yang buta tetapi bijaksana juga didatangkan ayahnya, untuk mengejarnya dari ketertinggalan pelajaran. Namun, ternyata ayahnya sendiri yang tak pernah sempat  menemaninya.

Tanpa membuka identitasnya, Kyle kemudian mengetahui bagaimana dirinya di mata orang lain. Seperti saat mencoba menemui pacar dan sahabatnya, Kyle mengetahui bahwa ternyata kedua orang tersebut hanya menyayanginya karena harta dan popularitasnya. Ia juga tak sengaja berbincang dengan Lindy  yang kemudian menuturkan pendapatnya tentang ‘Kyle’ yang sebenarnya baik hati dan menarik. Mendengar itu, Kyle justru penasaran dengan gadis ini, yang di kemudian hari sering ia ikuti dan amati dari jauh. Pada suatu hari, saat sedang mengamati Lindy, Kyle menyaksikan ayah Lindy bermasalah dengan beberapa preman, dan tak sengaja membunuh salah satunya. Keselamatan Lindy pun terancam, karena sang preman berniat membalas dendam. Kyle pun menawarkan agar Lindy diizinkan tinggal bersamanya agar ia tetap aman.

Ketika tinggal di dalam satu rumah, Kyle menyamarkan dirinya dengan panggilan Hunter. Meski pada awalnya kesulitan berinteraksi, hubungan mereka pada akhirnya berbuah jadi suatu pertaruhan: apakah Lindy yang mampu menyelamatkan Kyle dari kutukan?

Populer

Diadaptasi dari sebuah novel berjudul sama karangan Alex Flinn, Beastly bisa dibilang menempatkan dongeng Beauty and the Beast, Si Cantik dan Si Buruk Rupa, pada konteks generasi kini. Upaya mengubah sifat dongeng yang terasa kuno dan mengawang-awang tersebut ditunjukkan melalui simbol-simbol yang populer. Seperti misalnya keakraban para tokoh remaja film ini dengan teknologi digital. Entah itu dilihat dari cara Kyle melacak, mengenali, dan menebak perasaan Lindy yang pada awalnya susah didekati, yakni dengan mencarinya secara online dan mengikuti update status-statusnya. Atau ketika Kyle merasa Lindy tidak nyaman berada di rumahnya, karena melihat chatting box dari temannya yang menanyakan kapan Lindy akan kabur.

Hal-hal populer lainnya juga ditujukan dengan sogokan Kyle kepada Lindy: baju, kalung, dan tas bermerk Prada, Hermes, dan merk-merk besar lainnya. Barang-barang tersebut Kyle berikan, agar Lindy keluar dari kamarnya. Bahkan, ke-monster-an wajah Kyle pun bukan berupa luka menyeramkan, tetapi beberapa tato yang sebenarnya di satu sisi justru membuat wajahnya lebih menarik. Tato pada wajahnya merupakan produk suatu budaya populer, dan menghasilkan keburukan yang sebenarnya justru artistik, bukan jelek. Satu lagi hal populer yang mencoba mempertegas konteks kekinian film tersebut adalah puisi yang dibacakan Kyle pada Lindy. Puisi yang dipilih bukan puisi-puisi roman Shakespeare atau Neruda, melainkan sebuah puisi Frank O’Hara berjudul Having a Coke with You.

Kutukan yang Dipertanyakan

Untuk menjadikan Beastly lebih pop lagi, pembuat filmnya seperti merasa tidak cukup dengan simbol-simbol populer tadi. Kutukan terhadap tokoh utama, yang menjadi sumber konflik dan alur kisah film ini, pun merupakan suatu upaya untuk menjadikan film ini lebih populer lagi. Jika memang tujuan utama film ini ingin mengajak orang untuk ‘lihatlah dalam (hati)nya, bukan tampilan luarnya’, maka apa iya ‘keburukan’ seseorang yang terlihat harus digambarkan dengan wajah yang buruk? Itupun keburukan wajah yang dibungkus sebagai sebuah kutukan dan drama perjuangan mencari cinta sejati sebagai penangkalnya, bukan kerusakan wajah yang misalnya diakibatkan kecelakaan, di mana peristiwa tersebut lebih mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, jika bicara tentang orang-orang yang menerima diri Kyle apa adanya, bukankah sang pembantu dan sang guru sudah bisa menerima dirinya? Bahkan Lindy pun sudah menerima dirinya dari awal, hanya saja ia tidak menyatakan secara verbal I love you.

Persoalan kutukan ini kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah kutukan ini menjadi pemicu konflik utama atau justru ini sekedar bumbu romansa saja? Hal ini terjawab dengan pernyataan sang sutradara, Daniel Barnz, bahwa fokus utama film ini adalah romansanya, bukan kepada hal-hal ajaib tadi termasuk kutukannya. Namun, dengan begitu, muncul pertanyaan lagi, apakah kisah cinta remaja yang terkait hubungan antar dua manusia (biasa) sudah tidak menarik lagi sehingga harus dipancing melalui pendekatan ‘magis’ tadi? Apakah hal tersebut merupakan jalan yang memudahkan menyampaikan nilai-nilai tentang menjadi diri sendiri dan jangan melihat orang dari luarnya saja?

Padahal, dalam film ini juga ditujukan betapa rapuhnya dan tidak idealnya sebuah keluarga yang terjalin, seperti kemarahan Lindy terhadap ayahnya yang begitu mengkhawatirkan dirinya.  Sebelum pindah ke rumah Kyle, ayahnya tidak pernah menjaga Lindy dengan baik. Justru Lindy yang harus menjaga dirinya. Begitu pula dengan Kyle yang mengharapkan sosok ayah untuk menemaninya di rumah persembunyian, yang ternyata tidak pernah bisa datang. Padahal, dengan profesi sang Ayah sebagai presenter, hal itu menjadi simbol tersendiri bagaimana pencitraan justru penting baginya: apa yang tampak di luar mendefinisikan apa yang ada dalam diri. Satu kutipan dari dialog Kyle yang menggambarkan hal tersebut: “My Dad always said how much people like you is directionally proportional to what you look like.” Rasanya, persoalan keluarga ini lebih real untuk diangkat sebagai persoalan dibanding kutukan.

Pada akhirnya, film ini tidak lebih dari upaya  menceritakan dongeng dengan konteks ruang, waktu, dan budaya, sedekat mungkin dengan para remaja generasi kini. Pembuat film tahu bahwa kisah-kisah dongeng akan terkesan terlalu klise untuk diceritakan di era sekarang. Namun, mereka juga terlalu tahu bahwa penonton tetap tidak bisa lepas dari keinginan menyaksikan adegan-adegan romantis maupun akhir yang membuai, yang justru sebenarnya cuma bisa terjadi di dongeng saja. Maka dari itu, tampak lah adegan-adegan seperti ketika Kyle menangkap dengan sigap saat Lindy hampir terjatuh. Peristiwanya terjadi di dekat danau, saat matahari mulai terbenam, setelah obrolan yang intim. Adegan klasik yang membuat penonton ingin menggantikan tokoh-tokoh tersebut di dalam layar. Selain itu,  akhir yang happy ending juga dipilih karena kesempatan penonton untuk menikmati indahnya dunia dongeng. Hal ini tampak pada adegan terakhir. Kyle mengejar Lindy untuk menyatakan cintanya, lalu cintanya berbalas, dan Lindy pun mengucapkan I love you. Lantas, Kyle pun mendapatkan  ketampanannya kembali,dan bersama Lindy, they live happily ever after.

Beastly | 2011 | Sutradara: Daniel Barnz | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Vanessa Hudgens, Alex Pettyfer, Mary-Kate Olsen, Peter Krause, Lisa Gay Hamilton, Neil Patrick Harris

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend