The Kids Are All Right: Diam itu Emas, Diam itu Kritik

kids-are-alright_highlight

Dulu, The Kids Are Alright adalah dokumenter band The Who. Sekarang, saya tak tahu lagi berapa banyak orang yang masih ingat film itu. The Kids Are All Right yang rilis tahun 2010, kemungkinan besar akan menjadi film yang menutupi ketenaran The Kids Are Alright yang terdahulu (judulnya sangat mirip, bahkan terdengar sama). Bukannya mencari mana yang lebih baik, tapi The Kids Are All Right tahun 2010 (bukan remake dari yang terdahulu) memang muncul sebagai film yang begitu orisinil.

Film ini diam-diam menyihir penontonnya, menyulap konflik keluar dari keheningan yang dalam. Ia mengamuk ditengah hangatnya obrolan meja makan, menyeruduk dari lembutnya resital tembang lawas Joni Mitchell, kerap pula berkobar dari akrabnya warna cerah di ruang keluarga. Umumnya, konflik film keluarga bermula dari apa yang disebut precipating factor (faktor pemicu), faktor yang datang mempengaruhi kondisi keluarga yang stabil. Entah itu keluarga  harmonis atau disfungsional, yang penting ia stabil. Keluarga yang stabil ini bisa kita rapal sebagai underlying factor, faktor mendasar yang menyebabkan precipating factor (faktor pemicu) datang melanda. Logikanya, kalau tak ada keluarga, tak mungkin ada konflik keluarga kan? Lisa Cholodenko dan Stuart Blumberg, duet penulis naskah The Kids Are All Right membuka tirai kemungkinan baru. Bagaimana seandainya, keberadaan dasar keluarga itu sendiri sudah merupakan masalah? Bagaimana seandainya keluarga itu tak pernah benar-benar melegakan, meskipun stabil?

Keluarga Joni dan Laser adalah keluarga semacam itu, mereka dibesarkan oleh pasangan lesbian paruh baya, Nic dan Jules. Inilah yang saya sebut sebagai “Underlying factor-nya saja sudah akan dinilai banyak orang sebagai masalah.” Konflik sudah mewujud bahkan sebelum film dimulai. Keluarga Nic dan Jules akan eksis sebagai konflik bila dibaca lewat tanda-tanda stereotipikal. Bila anda menganggap bahwa lesbian itu masalah, maka keluarga mereka tentu konfliktual. Bila anda mendukung lesbianisme, keluarga mereka bukanlah keluarga bermasalah. meskipun tetap tak ada alasan untuk mengatakan keluarga mereka tidak stabil. Cholodenko dan Blumberg menantang kita berdebat di ambang batas stereotip. Sebab faktanya, penonton kebanyakan adalah penonton dengan orientasi konvensional yang akan menganggap homoseksualitas sebagai sesuatu yang mengganjal.

Sedikit sinopsis, Joni dan Laser dilahirkan oleh Jules lewat hasil interaksinya dengan bibit dari bank sperma. Suat hari ketika Joni tamat SMA, ia dan Laser pergi mencari tahu sperma siapa sebenarnya yang membuahi ibunya sehingga mereka terlahir, donatur sperma itu tentunya adalah ayah biologis mereka. Ternyata namanya Paul, seorang pemilik restoran. Segi lima Joni, Laser, Jules, Nic dan Paul, menjadi precipating factor yang memicu konflik dengan membalik lalu mengacak semua tatanan (stereotip) keluarga konvensional.

Di dalam segilima itu, terdapat segitiga kecil Nic-Jules-Paul. The Kids Are All Right membolak-balik poros keluarga menjadi bukan “Ayah dan ibu kedatangan orang ketiga”, melainkan “Ibu dan ibu kedatangan orang ketiga”. Fenomena ini, pada kondisi semula saja sudah mengundang orang mengernyitkan dahi. Di sini letak briliannya, The Kids Are All Right sama sekali tidak bersikap judgemental. Ia berjalan seperti layaknya Nic adalah sesosok ayah tanpa penis. Ia akan terganggu melihat keluarga dan previlese komandonya tidak berfungsi seperti biasa.

Tak ada konflik yang terjadi karena Nic dan Jules menjadi pasangan lesbian, posisi mereka bisa ditukar dengan pasangan berjenis kelamin apapun: Pria-Wanita, Pria-Pria, Wanita-Wanita dan hasilnya akan sama saja. Keluarga konfliktual ini secara ajaib menjelma menjadi model yang netral untuk siapa saja. Bagi Cholodenko dan Blumberg, konflik hanya semata untuk kepentingan film. The Kids Are All Right menjadi film yang sangat bijak.

Di belahan lain, The Kids Are All Right membuktikan bahwa selama masih ada keluarga, utopia feminisme tantang keseimbangan peran pria dan wanita tak akan bisa dicapai sejauh apapun keluarga itu berevolusi. Setelah membongkar struktur ayah-pria dan ibu-wanita menjadi ayah-wanita dan ibu-wanita, The Kids Are All Right membuktikan bahwa dominasi maskulin tetap ada dan sifat domestik feminin tetap mewujud. Nic tetap gusar ketika seseorang datang mengambil peran ayah darinya, apalagi ketika yang datang itu seorang pria. Nic ditampar dua kali sebab perannya sebagai ayah terampas, dan yang merampasnya adalah seorang lelaki yang secara sosial memang ditempatkan untuk memerankan figur ayah. Menjalin hubungan homoseksual dan lesbian mungkin saja berpeluang mendekati idealita versi feminisme, tapi keberadaan keluarga jelas tak bisa berkontribusi atas hal itu. Setidaknya begitu versi The Kids Are All Right.

Lantas kenapa judulnya The Kids Are All Right? Pertanyaan ini juga terjelaskan dengan sangat baik.  Selain bicara perihal utak-atik gender dalam keluarga, film ini juga mengamati relasi umur secara subtil terutama antara orang tua dan anak-anak mereka. Pertama, Joni dan Laser selalu dipaksa meloncati fase umur mereka beberapa langkah ke depan. Ketika masih pada fase mencari-cari, dua ibu mereka sudah memperlakukan anak-anak ini seperti orang yang sudah menemukan sesuatu, merasa janggal, memiliki kesimpulan lain, akan tetapi menemui rintangan dan menjadi takut untuk terbuka. Nah, giliran mereka sudah merasa menemukan sesuatu, kedua ibu mereka malah memperlakukan mereka seperti anak kecil yang belum bisa memilah mana hitam mana putih. Joni dan Laser jelas tak melakukan kesalahan apapun, mereka hanya bertumbuh sesuai nasihat alam.

Kedua, Joni dan Laser tak pernah menjadi penyebab masalah. Masalah justru datang dari dua ibu mereka dan Paul, tiga orang dewasa ini selalu saja menjadi inti masalah yang kemudian merambat pada anak-anak mereka. Saya sering terharu melihat gigihnya anak-anak ini untuk tetap kebal dan bertingkah seperti biasa sementara orang tua mereka banting-banting barang sebab masalah entah apa. Apa sebenar

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend