With Love from the Age of Reason: Menelusuri Masa Lalu, Pentingkah?

With Love from the Age of Reason adalah sebuah narasi tentang eksplorasi jati diri. Sekeuns adegan pembuka film langsung memperkenalkan penonton pada sang protagonis: Margaret, seorang eksekutif di suatu korporat. Dia mapan, nyaman, menjalani kehidupan jetset dan memiliki seorang pacar yang siap menikah. Segalanya sempurna. Pada ulang tahunnya yang ke-40, Margaret menerima suatu paket, yang isinya adalah surat-surat yang dulu dia tulis waktu berumur tujuh tahun. Dalam surat tersebut, Margaret memprediksi dirinya bahwa waktu berusia 40 tahun nanti dia tidak akan menjadi apa yang sebenarnya dia inginkan. Keyakinan Margaret akan hidupnya mulai terusik.

Melalui sejumlah adegan kilas balik, With Love from the Age of Reason menunjukkan bagaimana Maragaret waktu kecil dulu begitu bebas dan imajinatif. Bersama Philibert, teman mainnya waktu kecil, Margaret memainkan sejumlah lakon bocah, seperti pura-pura menikah, mengubur harta karun di sebuah tempat rahasia, dan menggali sumur yang dalam, lalu melemparkan banyak roti ke dalamnya. Harapannya: roti-roti tersebut muncul di ujung dunia lainnya. Sepanjang film, penonton dihadapkan pada dua ideal. Satu adalah Margaret sekarang, yakni seorang budak korporat, yang hidupnya didikte oleh janji pertemuan via Blackberry. Satunya lagi adalah Margaret dulu, yakni seorang anak kecil penuh mimpi, yang sehari-harinya dipenuhi oleh permainan yang menuntut imajinasi. Berdasarkan dua ideal tersebut, With Love from the Age of Reason menuntun penonton pada satu tujuan: menemukan kembali mata rantai yang putus antara Margaret yang sekarang dengan yang dulu.

Berdasarkan penjabaran di atas, tersirat bahwa cerita With Love from the Age of Reason bersandar pada sebuah konsep tentang diri yang nisbi. Dalam sejarah hidup seorang manusia, apa yang ia anggap ideal bagi dirinya sekarang belum tentu akan tetap ideal di masa depan. Segalanya relatif, tergantung pada usia dan tanggung jawab yang sepaket dengan usia seseorang. Margaret waktu kecil menganggap segala lakon bocah yang ia jalani bersama Philibert sebagai puncak kebahagiaannya. Sentimen yang berbeda dipegang oleh Margaret saat dewasa, yang hanya memikirkan kerja, kerja dan kerja. Maklum, sebagai seorang eksekutif di suatu korporat, Maragaret dituntut untuk terus berpikir produktif. Paket yang berisikan surat-suratnya waktu kecil menjadi anomali dalam rutinitas Margaret sehari-hari. Pada titik tersebut, Margaret dihadapkan tidak saja pada realita yang menuntutnya untuk berpikir produktif, tapi juga pada sebuah kesempatan untuk untuk berpikir introspektif, untuk melihat ke dalam dan mencari anak kecil yang telah hilang dalam diri.

Margaret memilih untuk introspeksi. Dalam film, introspeksi Margaret terwujud dalam bentuk kembali ke kampung halamannya. Dari sana, ia mencoba menyusun kembali kepingan-kepingan masa lalunya, dan menghubungkannya ke dirinya sekarang. Pertanyaannya kemudian: apa untungnya menelusuri masa lalu, sementara di realita sekarang ada tanggung jawab tersendiri yang perlu dipenuhi? Menilik yang terjadi dalam With Love from the Age of Reason, jawabannya ada dua, dan dua-duanya sentimentil. Pertama, ketemu lagi dengan buah hatinya waktu kecil, Philibert. Kedua, menemukan kembali hal-hal sederhana yang dulu membuat Margaret senang, seperti membuat pesawat dari kertas, atau lari menaiki eskalator yang seharusnya dipakai untuk turun.

Selain itu? Tidak ada. Margaret malah kelimpungan menjaga ritme pekerjaannya. Dia harus membagi waktunya untuk dua hal sekaligus: kerja sekaligus menelusuri masa lalunya. Tidak heran kalau kemudian dia mulai tidak awas dengan pekerjaannya, tidak lagi melakukan risetnya dengan seksama, dan kerap terlambat untuk rapat serta pertemuan. Pekerjaan menjadi hal yang harus dipertaruhkan Margaret dalam petualangannya mengeksplorasi jati diri. Pada titik ini, cerita With Love from the Age of Reason terlihat lubangnya. Masalah yang Margaret hadapi kurang bermasalah, alias tidak cukup bermasalah untuk menopang hampir seluruh durasi film. Kelimpungan Margaret dalam pekerjaannya bukanlah masalah besar, karena sejak awal film dia berada di posisi yang mapan. Bukankah informasi pertama yang disampaikan film adalah Margaret sebagai seorang yang menjalani kehidupan jetset?

Seperti kata Robert McKee, seorang pakar penulisan naskah, nilai suatu karakter protagonis berbanding lurus dengan konflik yang ia hadapi. Konflik adalah penghalang antara protagonis dan keinginannya. Semakin besar konfliknya, semakin besar juga usaha yang harus dikerahkan protagonis. Ketika konflik memuncak, protagonis tidak punya pilihan lain kecuali mengerahkan segenap usahanya, atau gagal sama sekali. Dalam kasus Margaret, konflik pencarian jati diri yang ia hadapi tidak mengharuskannya untuk banyak berusaha. Ia hanya perlu memilih: terus menjalani hidup seperti sedia kala, atau menelusuri masa lalu untuk mencari kemana anak kecil yang dulu ada dalam dirinya. Apapun yang Margaret putuskan, ia akan tetap dilindungi oleh suatu jaring pengaman: kemapanan finansialnya.

Sebagai orang yang mapan, Margaret tak lagi risau dengan urusan isi perut dan bertahan hidup. Dia sudah mencapai kebebasan finansial, yang memungkinkan dirinya untuk meninggalkan pekerjaannya dan hidup mandiri. Dari sini terlihat kalau Margaret bukanlah protagonis yang tepat untuk premis yang diusung dalam With Love from the Age of Reason. Tidak banyak yang bisa dipertaruhkan dari dalam diri Margaret. Di hadapan seseorang seperti Margaret, konflik batin dan isu pencarian jati diri bukanlah masalah yang mendesak. Margaret bisa saja tidak perlu pusing-pusing menelusuri masa lalu, dan tetap menikmati hidup nyaman yang selama ini ia jalani. Kalaupun sampai kehilangan pekerjaannya karena terlalu banyak menghabiskan waktu di luar kantor, Margaret tidak akan rugi banyak. Dia punya cukup sumber daya untuk mulai lagi dari nol dan tetap sama suksesnya.

Pada akhirnya, bentukan karakter Margaret membuat With Love from the Age of Reason kehilangan momentumnya. Film tersebut jadi tidak mampu menjelaskan apa yang membuat premisnya penting. Mungkin, sebelum protagonisnya pergi mencari anak kecil yang hilang dalam dirinya, With Love from the Age of Reason perlu mencari protagonis yang tepat untuk ceritanya.

L’Age de raison (With Love From the Age of Reason) | 2010 | Sutradara: Yann Samuell | Negara: Prancis | Pemain: Sophie Marceau, Marton Csokas, Michel Duchaussoy, Jonathan Zaccai, Thierry Hancisse

Tulisan ini adalah resensi salah satu film yang akan diputar selama Festival Film Perancis 2011. Jadwal selengkapnya bisa diakses di sini.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (2)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend