The Science of Fictions: Kesaksian Sejarah yang Liyan

Pembabakan semesta The Science of Fictions disajikan lewat dua panorama yang kontras. Pertama, hitam-putih di atas rasio 3:4, dan kedua, kanvas berwarna berukuran 16:9. Secara berurutan, keduanya sama-sama memperkenalkan sosok Sukarno jadi-jadian (Ecky Lamoh) pada bagian awal penyandiwaraan. Tak perlu waktu lama bagi kedua panorama untuk menunjukkan bahwa bung besar dalam film telah sedikit banyak mencomot perangai bung besar lain yang sosoknya kita kenal melalui lembaran buku sejarah.

Kedua sosok Sukarno, lewat perawakan maupun ucapan, sama-sama tegas menolak keterlibatan penulisan sejarah buatan Barat. Dalam film garapan Yosep Anggi Noen, Sukarno jadi-jadian lantang berkata “I don’t want to be a part of this biggest lie” di tengah lokasi syuting rekayasa pendaratan di bulan. Sementara Sukarno dalam buku sejarah keras mengecam ‘nekolim’ sampai-sampai menarik diri dari Persatuan Bangsa-bangsa. Keduanya disatukan hanya oleh dimensi waktu: mereka sama-sama diceritakan pada periode yang sama, yaitu pertengahan 1960-an. Periode ini menjadi titik tolak bagi Anggi Noen untuk menelusuri hiruk-pikuk sebuah riwayat yang telah lama diperdebatkan kebenarannya—sebuah masa ketika tampuk kekuasaan Sukarno, presiden pertama Indonesia, diambil alih oleh Suharto.

Kita menyaksikan gegar zaman ini melalui mata Siman (Gunawan Maryanto). Ia saksi dari sejarah yang serba abu-abu sekaligus lakon sandiwara atas nasib yang penuh hukuman, persekusi, dan pendisiplinan. Tertangkap basah menggadaikan rasa penasarannya di atas lanskap bulan tiruan, Siman dipaksa menggigit lidahnya sendiri sampai putus. Trauma Siman baru dimulai saat Ndapuk (Yudi Ahmad Tajudin) memvonis takdir hidup Siman semalam setelahnya yang juga disaksikan oleh warga sekitar.

Vonis yang dijatuhkan kepada Siman membuat tubuhnya bergerak lambat. Benar-benar lambat. Seakan gravitasi adalah hal yang jauh dari bumi tempat Siman berdiri, dengan daya raih yang terlalu lemah untuk menarik isi kepalanya kembali. Siman dan orang-orang di sekitarnya seolah sepakat untuk sama-sama mengamini mantra Ndapuk bahwa: “ia, tidak akan waras lagi.”

Politik Tubuh Siman

Kelahiran Siman di panorama pertama film telah menegaskan posisinya sebagai korban. Sedari awal, tubuh Siman seolah dipekerjakan di bawah mekanisme pendisiplinan. Atau, jika mau otak-atik gathuk sampai gagasan Foucault, Siman melakoni hidupnya bak tahanan penjara.

Bagi Foucault, penghukuman kriminal baru dianggap serius apabila telah melibatkan penyiksaan tubuh dalam pelaksanaannya. Terampasnya kontrol tubuh Siman dijalankan lewat lidahnya yang terpotong dan diperkuat lewat vonis Ndapuk. Siman tak bisa berkata, tubuhnya pun dibuat melambat. Siman pada akhirnya dihidupkan di bawah disiplin serupa militer, yang teratur dalam gerak dan kemudian pikiran. Lain hal dengan Pengkhianatan G30S/PKI (1984) yang mendalangkan siksa tubuh demi meliyankan pelaku siksaan, Science of Fictions justru menggunakan siksa tubuh untuk meliyankan korban.

Melalui sistem kontrol ini, Anggi Noen nampak ingin bicara bahwa mereka yang disingkirkan pada peristiwa 1965 telah berbagi nasib dengan kematian daya Siman untuk menyampaikan sesuatu. Hal ini terangkum dalam satu adegan ketika Gun (Alex Suhendra), seorang tukang jahit culas yang diminta Siman membuatkan baju astronaut untuknya, sedang berkunjung ke kediaman Siman.

“Man, sebenarnya ini semua untuk apa sih?” tanya Gun basa-basi sambil menunjuk isi hunian yang Siman bangun dari potongan-potongan logam sehingga menyerupai kendaraan luar angkasa. Tak bisa bertutur suara, Siman menjawab pertanyaan Gun lewat gerak tubuh dan sesekali merenjeng lidahnya yang cuma setengah itu. Entah apa yang ingin dikatakan Siman kepada Gun (atau kepada penonton?) lewat gerakan tangan yang sesekali lepas landas sesekali mendarat, atau gemuruh deru mulutnya yang sebentar-sebentar muncul lalu hilang bersamaan dengan kepastian letak tempat yang ditunjuknya tadi. Sepanjang waktu, Gun (atau mungkin juga penonton?) tetap duduk memperhatikan Siman. Sesekali mengangguk tanda mafhum, meski tampangnya tersirat lebih ke apati tanda maklum.

Science of Fictions secara konsisten menghadirkan konsep pengawasan ini melalui tatapan rendah tokoh lain terhadap Siman. Pandangan kamera menempatkan Siman sebagai objek alih-alih subjek. Pada prosesnya, pandangan itu dilekatkan dengan berbagai kepentingan. Di sini, Siman disandingkan dengan keputusan politik Suharto tak lama setelah ia naik ke tampuk kekuasaan: neoliberalisme.

Identitas Siman ditandai oleh berbagai kepentingan transaksional di sekitarnya. Hubungan Siman dengan Gun, misalnya, jelas tak mungkin terbentuk jika ia tak membeli jasa Gun untuk menjahitkan baju astronaut untuknya. Tanpa Gun, Siman tidak akan bertemu dengan Tupon (Yudi Ahmad Tajudin) yang pada akhirnya mengajak Siman bergabung sebagai pemain bayaran dalam rombongan jathilan (seni tari Jawa, juga biasa disebut jaran kepang) miliknya. Pada lain waktu, Jumik (Lukman Sardi)—bos pabrik besi tempat Siman bekerja sebagai kuli angkut—mendengar reputasi Siman sebagai badut hiburan dan lantas menyewanya untuk pentas di sebuah resepsi pernikahan.

Selalu ada uang dalam pertemuan-pertemuan Siman dengan orang lain, sesingkat atau seremeh apapun bentuknya. Sebut saja ketika di awal sekali Siman menerima upah atas jasanya mengangkut sayuran di pasar. Atau di warung, di mana obrolan yang terjadi juga tak jauh dari ketertarikan sang ibu penjaga warung (Marissa Anita) pada banyaknya uang milik Siman. Saat kepalang syahwat, libido Siman baru ‘lunas’ setelah ia jajan. Bahkan di rumahnya sendiri, petugas fogging pernah menodongnya dengan kalimat “10 ribu mas, gak ada yang gratisan.”

Sepanjang itu semua, Siman dihadirkan hampir tanpa perlawanan berarti. Tubuhnya telanjang siap digerayangi pemodal. Kini ia juga direduksi menjadi objek tontonan, yang (lagi-lagi otak-atik gathuk Foucault) merupakan bentuk halus dari praktik penguasaan yang ditanamkan dalam tubuh seseorang.

Kepada Siapa Siman Berbicara?

Kehidupan Siman yang secara harfiah penuh ‘warna’ di panorama kedua tak luput memunculkan dusta-dusta dari lakonnya sebagai astronaut gadungan. Saat ia kelewat syahwat maupun berang, gerak tubuh Siman nampak baik-baik saja. Selain dua tadi, tubuh Siman tak pernah keluar dari situasi ketiadaan tekanan berat (zero gravity) sepanjang hidupnya. Panorama ini juga memicu momen yang mempertanyakan guratan nasib Siman di awal. Pada saat Siman njathil dan nyaris kesurupan, ia terbawa ke kilas balik pemotongan lidahnya secara paksa, yang berbeda dari vonis Ndapuk terdahulu yang mengatakan bahwa “setan memaksanya menggigit lidahnya sendiri.”

Kilas balik menandai titik tolak di mana ingatan Siman atas kehidupannya pada panorama pertama buyar, untuk kemudian diserahkan kepada penonton untuk bisa ditata-ulang lalu dibawa pulang. Pertanyaannya: adakah yang bisa dibawa pulang dari Science of Fictions?

Keputusan-keputusan sinematik Anggi Noen mendefinisikan keraguan Siman atas guratan nasib hidupnya. Sementara penonton, di layar yang lain, bisa leluasa melihat Siman sebagai lakon sandiwara di mana keinginan untuk memahami batas antara yang nyata dan fana sedang dimunculkan. Di sana, ia berfungsi sebagai nilai tawar kuat yang sayangnya justru paling dihindari para penyintas sejarah: rasa ketidakpastian. Bahkan, jika hal ini semata-mata dilakukan demi klaim klise semacam “Siman adalah kita”, Science of Fictions pun rasanya tak cukup lantang.

Seperti tari jathilan, Science of Fictions bercerita dengan thil-thilan (tak beraturan). Jika tujuannya pun ikut-ikut thilthilan, itu perkara lain. Hal yang lebih penting: apakah ironi dari rasa ketidakpastian ini perlu diulang lagi demi terbukanya kemungkinan baru dari pewacanaan sejarah? Atau ini sebatas seruan atas kebingungan historis yang sudah-sudah dengan bahasa yang lebih memutar?

Dari sekian kemungkinan, Anggi Noen memilih untuk mengartikan keluwesan penulisan sejarah dalam artiannya yang paling dasar: secara abstrak. Maka tak heran jika Science of Fictions tampak bicara banyak ketika kenyataannya ia tak lebih dari orasi pretensius yang berputar pada dirinya sendiri. Sebagai klaim atas sejarah, Science of Fictions terasa terputus dari subjeknya ketika ia abai mengembalikan lakon cerita penyintas sejarah kepada para pemilik aslinya. Film pun berakhir tak lebih dari pertunjukan manusia aneh atau diskusi berat yang tak menapak tanah.

Lagipula, bukankah obrolan ini juga sudah terlalu eksklusif bagi mereka yang percaya bahwa Suharto memotong lidah Sukarno secara paksa? Alih-alih Sukarno dipaksa menggigit lidahnya sendiri sampai putus?

The Science of Fictions | 2019 | Sutradara: Yosep Anggi Noen | Penulis: Yosep Anggi Noen | Produksi: Kawankawan Media, Angka Fortuna Sinema, Limaenam Films, Andolfi, Astro Shaw, Go Studio, Focused Equipment | Negara: Indonesia | Pemeran: Gunawan Maryanto, Ecky Lamoh, Yudi Ahmad Tajudin, Alex Suhendra, Lukman Sardi, Rusini, Asmara Abigail, Marissa Anita