The Happiest Girl in the World: Apa Yang Harus Ditimbang, Dari Kenyataan yang Berulang

Rumania dan realisme adalah dua terma yang begitu saling mengakrabi akhir-akhir ini. Gaya realis begitu santer terendus dari film-film yang ‘bicara’ dari negara ini. Salah satu yang paling banyak dilongok adalah Police, Adjective (2009), film membosankan yang hanya berisi adegan untit-menguntit antara seorang polisi muda dan penjahat buronannya, tepat di kota kecil yang senantiasa mengantuk sepanjang waktu. Meskipun membosankan, banyak yang mengakui (atau ikut-ikutan mengakui?) bahwa Police, Adjective adalah salah satu contoh yang paling berani dari fenomena realisme buncahan asli para sineas Rumania. Kunci cerita Police, Adjective adalah repetisi. Bayangkan, gambar yang dipotret begitu mentah dan begitu ‘sehari-hari’, lalu kemudian diulang terus menerus. Betapa resiko kebosanan akan senantasa membayangi.

Realitas-repetitif a la Police, Adjective disuarakan nyaris senada oleh The Happiest Girl in the World. Kedua film ini sama-sama dirilis pada bulan Mei 2009. Pengulangan adegan penguntitan dalam Police, Adjective diimbangi dengan pengulangan adegan shooting iklan dalam The Happiest Girl in the World. Ceritanya, Delia ditemani kedua orang tuanya pergi ke Bucharest untuk shooting iklan. Pasalnya, Delia baru saja memenangkan undian mobil  Logan Break dari sebuah perusahaan minuman. Delia akan ikut membintangi iklan minuman tersebut, memamerkan kemujurannya dan mengajak sebanyak orang untuk ikut serta mengirim. Kawan pasti mafhum-lah bagaimana ramainya televisi menganjurkan kita mengirim bungkus produk dengan iming-iming umroh.

Realisme yang ditawarkan begitu mentah. Pertama, terkadang kita sampai tak bisa membedakan mana sumber suara yang jauh dan sumer suara yang dekat. Sebab overlapping suara berlangsung dalam frekuensi yang sangat acak. Suara mobil di seberang jalan kerap kali sama besarnya dengan gerutuan Delia beberapa depa dari kamera. Kedua, para karakter selalu on-screen ketika tengah berdialog. Tak pernah ada dialog yang tidak seimbang dimana satu pegujar tertangkap kamera sementara pengujar satunya entah dimana. Kelebihannya, realitas lebih gampang direproduksi mengingat kemungkinan penggunaan cutting ditekan sampai sebisa mungkin tidak ada. Akan tetapi kelemahnnya mudah sekali ditebak, semudah membaca relasi oposisional realisme dan formalisme, bahwa ketiadaan cutting akan mengurangi efek persuasi dramatis dari adegan itu sendiri. Tentunya keuntungan dan resiko yang sudah begitu dimengerti oleh para pembuat filmnya, toh karena itu mereka disebut Romanian Realism.

Delia menjadi pusat perhatian, karena ia adalah anak remaja yang datang didampingi orang tuanya, serta anak yang akan membintangi iklan, serta anak yang memenangi hadiah mobil. Kelihatan sekali, di depan umum, Delia berusaha untuk tidak terikat dengan orang tuanya (sebagaimana lumrahnya dilakukan oleh anak-anak seusianya). Delia tak mau terlihat seperti anak-anak meskipun sebenarnya ia juga belum sanggup jadi dewasa. Pihak yang memanfaatkan hal ini tentu saja para kru iklan. Mereka jadi tak perlu repot berbasa-basi dengan orang tua Delia karena kelihatannya tak perlu, Delia sudah pegang kendali.

Delia, dengan konsep ‘kedewasaan’ dalam fikirannya, melangkah masuk ke ambang kamera sebelum fakta akhirnya membenturkan jidatnya pada kenyataan: kru iklan tetap memperlakukannya sebagai anak-anak. Delia merasa dibohongi. Sebenarnya, perlakuan kru iklan terhadapnya tidaklah sepenuh fakta. Dalam dunia shooting, ada semacam hierarki antara sutradara dan pemeran dimana sutradara berhak mengatur bagaimana si pemeran hendaknya berlaku. Diperlakukan demikian, Delia malah menyangka bahwa kru iklan sama saja dengan orang tuanya. Mereka sama-sama memperlakukan Delia sebagai anak-anak. Ia tak suka.

Delia punya konflik bercabang dengan orang-orang ini yang berangkat dari bingkai berfikirnya sendiri. Menurutnya, orang tuanya tak pernah memberinya kebebasan bertindak karena mereka selalu saja menganggapnya belum dewasa. Sebaliknya, orang tua Delia beranggapan bahwa harusnya Delia-lah yang berterima kasih karena tak ada anak yang diperlakukan lebih baik oleh orang tua mereka sebagaimana Delia dibesarkan oleh orang tuanya. Delia juga menganggap bahwa kru iklan menganggapnya sebagai anak-anak sebab tak pernah menghormati apa keinginannya, padahal situasi kerja shooting iklan memang memaksa siapapun, tidak hanya Delia, untuk bekerja menghibur siapa saja meskipun yang paling dikorbankan adalah diri sendiri. Resiko personal industri hiburan memang begitu bukan? Logika berbalas antara dua macam hubungan tersebut tak ada yang salah. Semuanya benar dengan standar keberlakuan masing-masing. Dalam hal ini, standar umur (Delia dan orang tuanya) dan hierarki kerja profesional (Delia dan kru iklan).

Dua konflik besar tersebut saling potong kompas dan menyeruak satu sama lain, tentu saja dalam modus tampilan realisme repetitif, pendekatan ajaib yang kemungkinan besar berujung pada dua hal yang ekstrim berlawanan: sensasi humor, atau justru kebosanan. Delia berulang kali mengumbar monolog shooting-nya, “My name is Delia Cristina Fratila, I am the happiest girl in the world.” Sebuah pernyataan yang menghangatkan hati, yang saking seringnya di-repetisi, di akhir film kita jadi tak percaya lagi.

The Happiest Girl in the World | 2009 | Sutradara: Radu Jude | Negara: Rumania | Pemain: Andreea Bosneag, Doru Catanescu, Alexandru Georgescu, Diana Gheorghian, Violeta Haret, Vasile Muraru.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend