tradisi sinema dunia

Sinema Kita, Sinema Ketiga, Sinema Dunia

Bagaimana posisi sinema Indonesia ketika dikaitkan dengan peta sinema dunia? Maksudnya dengan sinema dunia bukanlah rantai pemutaran film, melainkan sinema dunia sebagai emblem yang senantiasa bersangkutpaut dengan globalisasi atawa kapitalisme global. Sekarang kita harus kembali pada takdir film sebagai produk absolut kapitalisme dan “the face of the contemporaries.”... Baca

Sepuluh Film Pilihan Tahun 2013

Daftar ini bukanlah daftar film terbaik tahun 2013, bukan pula sebuah pembacaan menyeluruh atas film-film yang dibuat pada tahun tersebut. Daftar ini lebih mencerminkan adanya standar tertentu yang dipakai seseorang dalam memilih film-film yang berpengaruh baginya. Bagi saya, daftar ini adalah semacam cermin tempat saya mengaca dan mendapatkan dua hal yang dipantulkan dari cermin tersebut.... Baca

Mari Memutar Film!

Ada dua faktor yang perlu diperhatikan dalam memutar film. Pertama adalah kualitas materi film yang diputar, kemudian kualitas tempat pemutaran. Baik-buruknya suatu tempat pemutaran sesungguhnya berlandas pada dua unsur: kualitas ruang pemutaran dan kualitas alat pemutaran.... Baca

Palu Arit di Film India

Sebanyak apa noktah-noktah merah ideologi terlarang di Indonesia tersebut “mencemari” industri yang di negeri ini produk-produknya sangat digandrungi itu? Dalam satu pembacaan yang singkat, dari bahan-bahan yang bisa dijangkau, bisa disimpulkan bahwa anasir-anasir komunisme bukan saja ada, tapi jadi warna tersendiri yang cukup mencolok dari industri film India.... Baca

Martin Scorsese: Membaca Bahasa Sinema

Fondasi sinema adalah cahaya. Kelahirannya ditandai oleh selarik cahaya. Oleh karena itu, sinema paling nikmat dialami dalam ruang gelap, di mana proyeksi film menjadi satu-satunya sumber penerangan. Cahaya memungkinkan kita melihat ragam rupa bentuk: menikmatinya, menamainya, dan menafsirkannya. Artinya, cahaya jugalah fondasi keberadaan manusia; kita jadi ‘tercerahkan’ karenanya.... Baca

Nasionalisme Layar Lebar Kita

Perbincangan lepas nan menarik seputar maraknya film-film bertema nasionalisme belakangan ini, yang dimulai dari Hasduk Berpola (2013), setelah beberapa tahun bioskop-bioskop Indonesia digempur oleh ‘film-film Islami’. Apa yang sebetulnya diproblematisir dalam dalam film-film ini? Bagaimana pergeseran tren tersebut merefleksikan apa yang terjadi dalam masyarakat?... Baca

Send this to a friend