tradisi sinema dunia

Sineas dan Layar Alternatif

Layar-layar alternatif membuka kesempatan untuk masyarakat agar bisa menikmati beragam film yang tidak melulu hanya standar bioskop. Tulisan ini mencoba menggali peluang dan tantangan apa saja yang diberikan dan dihadapi layar-layar alternatif dari kacamata sineas film alternatif. Sembilan sineas dengan latar belakang berbeda-beda—profesional, sekolah film, komunitas—berbagi soal apa-apa saja yang mereka lihat dari keberadaan layar-layar alternatif.... Baca

Agenda Politik Selera dalam Festival Film Dunia

Dewasa ini, naif bila kita menganggap festival film adalah pernyataan kolektif yang anti-Hollywood dan anti arus utama. Betapa tidak, festival film telah menjelma menjadi bursa penting bagi perputaran uang dalam industri film global. Literatur yang dibagikan rubrik Wacana kali ini bicara mengenai kompleksitas posisi festival film, baik dari aspek selera estetika, komitmen politis, merk dagang, dan interaksinya dengan dunia di luar festival film maupun di luar industri film itu sendiri.... Baca

FUI: Tak Hanya Membubarkan Pemutaran Film

Seringkali kita terlanjur sibuk menilai orang dari luarnya saja, tanpa sadar bahwa kadang mereka memiliki kehidupan privat yang jauh berbeda. Pertanyaan-pertanyaan mahapenting itulah yang membawa kami untuk bertemu dengan Muhammad Fuad—yang kemudian kami panggil Mas Fuad—kordinator FUI Yogyakarta yang sehari-harinya nongkrong di Terminal Ngabean—untuk menanyakan film-film favorit di Forum Umat Islam. ... Baca

Hubungan Sinema dan Filsafat, Menurut Gilles Deleuze

Bagi sebagian orang, Cinema 1 dan Cinema 2 karya Gilles Deleuze adalah buku yang luar biasa rumit karena Deleuze terkesan begitu tendensius untuk menyusun klasifikasi imaji yang sudah dibangun selama hampir seratus tahun sejarah sinema. Ia tidak bicara shot, tidak bicara peletakan dan pergerakan kamera, tidak bicara teknis. Ia bicara tentang sinema sebagai realita, bukan penanda realitas sebagaimana yang ramai dibahas oleh para begawan semiotika.... Baca

Paradoks Pembangunan Manusia dalam Film Pendek Indonesia

Ketika istilah “pembangunan” menjadi semacam mantra magis yang memesona rakyat di rezim orde baru, sebetulnya pernahkah kita benar-benar tahu apa yang tengah “negara” (baca: penguasa) bangun? Lantas di mana posisi kita sebagai rakyat pada “perihal membangun” tersebut? Saat modernitas diasosiasikan dengan pembangunan, apakah dengan menjadi (seolah-olah) modern berarti manusia Indonesia telah sukses terbangun?... Baca

CLC Purbalingga: Edukasi Film, Edukasi Politik

Cinema Lovers Community (CLC) menerapkan metode pendidikan produksi film yang sulit ditemukan dalam komunitas-komunitas film lainnya: turun ke lapangan untuk riset dan bergaul dengan warga. Tak jarang, metode ini membuat mereka terlibat secara langsung dalam advokasi sosial di kota Purbalingga dan sekitarnya. Cara yang ditempuh CLC untuk mempopulerkan film sebagai medium kritik sosial pun terbilang unik.... Baca

Film dan Geopolitik

Edisi ini mengangkat konsep “film sebagai teks dan momen spesifik dalam sejarah” dan “kekhasan ruang budaya” dalam rangka merespon film-film Indonesia mutakhir yang akan kita kerangkai isu seputar politik dan ruang. Film Indonesia mutakhir yang kami maksud adalah film-film Indonesia yang memotret Eropa sebagai titik fokus ceritanya, sebutlah film macam Laura Marsha (2013) dan 99 Cahaya di Langit Eropa (2014), tanpa mengurangi respek pada karya semacam Edensor (2013).... Baca

Send this to a friend