Suster Keramas 2: Parade Arwah yang Bikin Gemas

suster-keramas-2_highlight

Suster Keramas kembali lagi! Ada minimal tiga hal yang harus kita persiapkan dalam rangka menyambut film esek-esek tapi laku ini. Pertama, horor berbujet murah. Kedua, perempuan-perempuan mulus setengah telanjang. Dan ketiga, bintang porno asing sebagai pusaran pandang para pemirsa. Soalan pertama, memang Suster Keramas 2 datang dengan model film horor murah. Kedua, memang usaha mendekati penonton via perempuan mulus setengah telanjang tetap digunakan. Ketiga, bintang porno asing itu adalah Sora Aoi dari Jepang, yang ketenarannya lebih beberapa senti dibanding Rin Sakuragi, talenta film dewasa yang digandeng pada seri pertama.

Pada ending film Suster Keramas, ada pernyataan yang menggelitik sekaligus menggemaskan, perempuan yang (tugasnya adalah) setengah telanjang akhirnya menjelma menjadi setan dan tertawa mengikik seraya mendesis “Sekarang, aku suster keramasnya!”. Pernyataan tersebut menjadi bekal saya datang ke Bioskop meyambut Suster Keramas 2. Namun aneh, perempuan tersebut tak ada di film kedua ini. Yang lebih aneh lagi, dalam Suster Keramas 2, sama sekali tak ada suster yang sedang keramas! Tak sekalipun ada kata-kata “Suster Keramas” yang diucapkan di sepanjang film ini! Bukankah itu sama dengan menonton film berjudul Superman tanpa ada Superman didalamnya?

Awal plotnya dimulai dengan percabangan. Cakil, pemandu wisata, sedang menunggu kliennya dari Jepang yang bernama Sachiko. Sachiko yang cantik dan mungilpun datang. Karena keasyikan melirik ke dada Sachiko, tangan Cakil terjepit pintu taksi. Tak kapok rupanya, mata Cakil terus saja tertambat di dada Sachiko, dan azab dijepit pintu taksi kedua dan ketiga segera menimpanya. Tiga kali kena jepit, tak pelak Cakil harus di antar ke rumah sakit, Unit Gawat Darurat tepatnya.  Di Dunia Suster Keramas, terjepit pintu adalah musibah yang parah sehingga padanan yang tepat adalah pelayanan gawat darurat. Mulia sekali. Di tempat lain, tiga sekawan Jack, Tando dan Shelly tengah beradu kencang sepeda motor. Shelly terjatuh, dan kedua karibnya tersebut segera membawanya ke rumah sakit, rumah sakit yang sama dengan yang didatangi Cakil dan Sachiko. Rumah sakit tersebut, adalah setting satu-satunya dalam film Suster Keramas 2.

Dalam Suster Keramas 2, rumusnya gampang saja. Bila suasana sepi, itu berarti horor. Bila suasana ramai, itu artinya komedi. Setiap aksi horor akan ditimpali oleh reaksi bergaya komedi, dan setiap aksi komedi akan disambut oleh gaung horor. Bagaimana cara agar penonton tetap sudi mengikuti cerita yang terlalu mudah itu? Jawab: gunakan perempuan setengah telanjang sebagai perekat serba guna; untuk merekatkan cerita yang tidak berhubungan, dan untuk merekatkan mata penonton agar terus tertambat di layar. Rumus terakhir, semua karakter utama laki-laki adalah cabul, semua karakter utama perempuan adalah seksi. Lengkap sudah.

Komedi dan horor adalah pendekatan yang digunakan dalam Suster Keramas 2. Sesuatu yang tidak digunakan pada seri yang pertama yang murni bergaya horor. Jangan muluk-muluk dalam menentukan ukuran,  sebab pada dasarnya, komedi yang baik adalah komedi yang bisa membuat penonton tertawa, paling tidak tersenyum. Humor adalah bahan dasar komedi. Sedangkan horor yang baik adalah horor yang bisa membikin penonton ketakutan, paling tidak kaget. Dunia hantu atau manusia abnormal adalah bahan dasar horor. Dengan ukuran tersebut, Suster Keramas 2 akan terdengar sangat ambisius. Tentu berat membuat penonton ketakutan dan tertawa sekaligus.

Tak adanya sosok Suster Keramas dalam Suster Keramas 2 ditambal pembuatnya dengan menghadirkan semua hantu yang memungkinkan. Ada hantu gaek laki dan perempuan, ada hantu berdandan menor dengan rok mini, ada tuyul berwarna hijau, ada suster bermuka cekung, dan semua macam hantu sehingga rumah sakit yang mereka datangi sejatinya adalah sarang hantu. Anehnya, hantu yang dituju yakni Suster Keramas sendiri justru tidak ada disana. Kemanakah ia gerangan? Apakah para tokoh sebenarnya salah alamat? Atau pembuat filmnya yang salah alamat?

Hantu perempuan versi Suster Keramas 2 adalah hantu yang kakinya menapak di tanah, kalau berjalan dia tidak bergeser seperti dalam film-film Suzanna atau horor jepang. Hantu versi Suster Keramas 2 adalah hantu tipe manual yang kalau mau bepergian, caranya adalah berjalan kaki. Parade hantu tipe manual inilah yang menjadi adonan dasar film ini dalam melempar teror horornya.

Dari segi komedi, didatangkan komedian televisi Daus untuk berperan sebagai operator kamar mayat. Dalam interaksinya dengan karakter lain, ia membikin komedi yang biasa ia buat di televisi: mengomel sambil berteriak kencang. Disini, saya bisa mendeteksi kemalasan pembuat film dalam berfikir. Alih-alih berfikir bagaimana membuat komedi-horor yang mengalir, pembuat film justru memilih jalan pintas yakni memanggil aktor televisi berciri-khas tertentu untuk bermain dengan ciri khas yang sama dengan yang sering ia peragakan di televisi. Humor dalam Suster Keramas 2 tidak datang dari cerita yang dibangun, melainkan dari kemampuan pribadi seorang Daus. Lantas apakah humor ini bisa membuat kita tertawa? Itu urusan lain.

Harapan saya sangatlah sederhana, setidaknya Suster Keramas 2 bisa menggunakan durasinya untuk memadukan tiga unsur yang sudah ia gembar-gemborkan, yakni horor, komedi, dan perempuan setengah telanjang. Tapi sampai film berakhir, ketiga unsur tersebut masih saja berdiri terserpih-serpih tanpa ada sedikitpun usaha untuk memadukan mereka menjadi cerita yang mengalir. Pada akhirnya, horor dalam Suster Keramas 2 tak pernah membuat kita kaget sedikitpun, humornya tak pernah membuat kita tersenyum sesunggingpun. Humor yang memukau justru datang dari pertunjukan kebodohan yang konstan serta kemalasan berfikir yang menyeluruh, dari sejak film dimulai sampai berakhirnya. Saga Suster Keramas sudah memasuki fase keduanya: dua-duanya buruk dari segi kualitas.

Suster Keramas 2 | 2011 | Sutradara: Findo Purwono HW | Negara: Indonesia | Pemain: Ricky Harun, Zidni Adam, Marcel Darwin, Sora Aoi, Eva Asmarani

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (10)
  • Boleh juga (3)
  • Biasa saja (3)
  • Lupakan (2)
Share

Send this to a friend