Supernova – Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh: Meledak-ledak Tanpa Isi

supernova-2014-indonesia_hlgh

Adaptasi karya sastra ke sinema dilakukan untuk menerjemahkan apa yang tertulis dalam medium baca ke medium pandang-dengar atau audiovisual. Isi novel tidak serta-merta seratus persen diterjemahkan ke film, namun terjadi penyesuaian, karena setiap medium punya kemungkinan cara tuturnya sendiri-sendiri. Alih wahana inilah yang dilalui Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (seterusnya disingkat KPBJ), film pada penghujung 2014 yang diangkat dari novel fiksi ilmiah sukses dari Dewi Lestari, atau lebih dikenal dengan Dee.

Dalam versi bukunya, yang terbit pada 2001, KPBJ bertutur perihal kehidupan manusia-manusia urban yang dibingkai dalam imajinasi fiksi ilmiah sepasang intelektual muda, Dimas dan Reuben, yang berambisi membuat karya yang akan menghubungkan berbagai disiplin keilmuan. Cerita rekaan mereka bertumpu pada Diva, seorang model top merangkap pelacur kelas atas sekaligus cyber avatar, yang berkhotbah dengan username Supernova. Cerita ini kemudian dikembangkan melalui subplot drama perselingkuhan Ferre, eksekutif muda mapan, dengan Rana, jurnalis majalah perempuan yang berstatus istri orang. Setiap tingkah atau gerak-gerik Diva, Ferre, dan Rana, akan dijelaskan dengan berbagai teori oleh Dimas dan Reuben.

Dinarasikan dari sudut pandang orang ketiga maha tahu, kisah KPBJ terbagi pada fokus masing-masing karakter. Terselip kalimat-kalimat bercetak miring, merujuk pada pikiran personal karakter atau ilustrasi puitik yang mewakili perasaannya. Novel KPBJ sarat berbagai istilah yang secara definitif diuraikan dalam catatan-catatan kaki. Istilah-istilah ini scientific, asing bagi awam, dan pembahasannya di catatan kaki cukup berat (bahkan terkadang terlalu detail) untuk diadukkan ke dalam drama perselingkuhan. Akan tetapi, karena drama perselingkuhan hadir sebagai salah satu plot, maka novel menggiring pembaca untuk lebih memahami bagian-bagian sainsnya.

KPBJ versi film, disutradarai oleh Rizal Mantovani, hadir dengan pemusatan cerita yang agak berbeda. Jika novelnya lebih mengangkat sosok sang cyber avatar berikut khotbah-khotbahnya yang filosofis, KPBJ versi film dititikberatkan pada drama perselingkuhan Ferre dan Rana. Fokus ini berimbas pada keberadaan bagian sains dalam film. Istilah-istilah sains, berupa percakapan antartokoh atau paparan tulisan pop-up di layar laptop, muncul sebagai kesatuan kalimat saja, tanpa pembahasan lebih lanjut seperti halnya catatan kaki pada novel. Tak ada narasi tunggal sepanjang film; voice over berbagai karakter silih berganti menuntun penonton. Sisi-sisi personal karakter diterjemahkan melalui voice over ini, memberikan mereka kesempatan untuk menyuarakan hati tanpa kentara karakter lainnya. Rizal Mantovani memilih untuk membangun dunia Supernova melalui melodrama, mengesampingkan hal-hal ilmiah, filsafat, dan pemikiran-pemikiran scientific yang terdapat dalam novel.

Dengan unsur sains ditekan dan dikesampingkan, bagian ini terasa numpang lewat saja. Dialog-dialog tentang sains terdengar hampa, seperti hanya dibacakan tanpa dipahami benar-benar oleh karakter yang berdialog. Adaptasi dari novel ke film terasa benar-benar mentah. Percakapan kebanyakan langsung di-copy-paste dari novelnya, tanpa mempertimbangkan kecocokan diksi dan situasi untuk medium audiovisual. Konsekuensinya, film berlalu saja dengan canggung. Misal, antusiasme pasangan gay Dimas dan Reuben terhadap teori sains, seperti kucing Schrödinger, kelihatan berapi-api. Namun, paparan dan korelasi mengenai kucing eksperimen itu dengan plot cerita dibiarkan sepintas lalu, hadir serta-merta begitu saja dalam film. Porsi sains ini bisa saja dikemas lebih detail meskipun singkat, sehingga penonton tidak sekadar dicekoki hamburan istilah saja.

Di sisi lain, porsi drama perselingkuhan dibuat lebih banyak. Merujuk formula melodrama, reaksi cenderung tidak proporsional terhadap aksi yang memantiknya. Dalam Supernova, begitulah adanya. Adegan-adegan dibuat tampak dramatis dengan scoring fantastis, akan tetapi tidak dihadirkan tanpa isi yang taktis. Contoh, ketika Ferre dan Rana menari berdua dekat piano berbiaskan cahaya. Berbekal narasi puitik dan gerakan lambat, mereka terlihat seperti pasangan kekasih di video klip pop. Sayangnya, adegan ini muncul berulang sebagai bumbu hubungan antartokoh saja (dalam hal ini Rana-Ferre). Pembumbuan hubungan ini juga terjadi pada tokoh Arwin yang berburu entah di mana; semacam gurun yang sesekali dilewati mobil-mobil off road. Adegan ini semata-mata metafora untuk memperkuat keinginan Arwin ‘memburu’ dan menembaki Ferre, yang sosoknya diwakilkan melalui shot sampul majalah yang ada di dekat Arwin. Dengan penggambaran seperti ini, penonton ditunjukkan betapa dendamnya Arwin terhadap selingkuhan istrinya itu. Namun, adegan-adegan ini tidak memiliki tujuan jelas yang mendukung isi cerita, hanya pengulangan hasrat yang tidak perlu dan bikin jemu.

Karakterisasi dalam film tampak timpang. Diva, yang seharusnya sentral, mendalangi plot, dan ‘berkuasa’ di balik jejaring virtual Supernova, justru jadi bayang-bayang kisah romansa Ferre dan Rana semata—macam orang ketiga tapi gemar umbar wacana dan tidak cawe-cawe. Latar belakang Diva dibiarkan misterius, seolah-olah ia dikonsepkan seperti makhluk asing super cerdas yang meluncur ke bumi demi memberi pencerahan dan pemecahan terhadap masalah-masalah manusia. Jika dibandingkan dengan novelnya, pembaca KPBJ tidak akan menemukan tokoh Gio dalam film. Gio, yang memiliki hubungan erat dengan Diva dan berperan menunjukkan betapa membuminya Diva seperti manusia lainnya, tidak dimunculkan. Ini membuat karakter Diva semakin tidak jelas, dan logika film pun ikut-ikutan tidak jelas. Sangat disayangkan, padahal kehadiran Gio krusial apabila seri-seri Supernova selanjutnya difilmkan.

Dari segi audiovisual, KPBJ kentara sekali diproduksi dengan dana berlebih. Tak ada yang tak mewah dalam film ini. Rana dan Ferre berbincang dan membaca komik di atas kapal pribadi, lalu ada resepsi pernikahan Rana (yang beberapa detik saja) disajikan komplit dengan tamu-tamu berdandan apik. Latar hotel, vila, kantor, dan apartemen, serta properti lain seperti kostum aktor dan mobil Ferrari; semuanya serba eye candy. Kadar eye candy ini dirajut dalam sinematografi yang memukau, seperti aerial shot yang cantik-cantik (persis iklan rokok di tivi). Selingan animasi cerita dongeng Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, yang merupakan nostalgia Ferre terhadap masa kecilnya, disajikan dengan manis dan menyentuh. Adegan demi adegan film dibungkus dalam musik latar epik. Akan tetapi, suguhan-suguhan ini terus menerus digencarkan, sehingga lama kelamaan terasa repetitif tanpa memberi nilai tambahan apa-apa.

Pembaca KPBJ tentu punya imajinasi sendiri-sendiri; mustahil semua itu dipenuhi oleh film adaptasinya. Akan tetapi, bukan berarti kebutuhan adaptasinya ditiadakan dan lantas diabaikan demi ‘kepentingan pasar’ semata. Sebagai produk film, KPBJ mampu membangun latar yang meyakinkan via bombardir efek nan wah, meski tanpa logika cerita yang jelas. Namun, sebagai adaptasi literatur, KPBJ terlalu tersesat dari esensi materi aslinya. Novel yang termasuk penting dalam sastra Indonesia ini terkesan difilmkan untuk mengurung penonton pada aspek drama para karakternya, ketimbang melibatkan mereka dalam pemikiran-pemikiran sains nan filosofis yang sesungguhnya memegang peran sama pentingnya dalam Supernova. Judul film bisa saja dikerucutkan menjadi Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, sebab kata Supernova terlampau kurang representatif untuk sebuah melodrama yang secara audiovisual meledak-ledak tapi minim isi.

Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh | 2014 | Durasi: 136 menit | Negara: Indonesia | Produksi: Soraya Intercine Films | Sutradara: Rizal Mantovani | Negara: Indonesia | Pemeran: Herjunot Ali, Raline Shah, Paula Verhoeven, Arifin Putra, Hamish Daud, Fedi Nuril

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (2)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend