Skyline: Aliennya Latah, Mangsanya Apalagi

???????????????????

The Brother Strause, duet abang-adik Greg dan Colin Strause, selama ini memang malang melintang di kancah efek spesial. Bersama mereka memenangi BAFTA untuk kerja brilian di The Day After Tomorrow. Mereka juga berada dibalik tirai kesuksesan 300, Fantastic Four, dan Terminator 3: Rise of the Machine. Selain film, mereka juga mendesain efek spesial untuk video klip macam Californication (Red Hot Chili Peppers) dan Crawling (Linkin Park), serta game God of War yang diproduksi oleh Universal Studios. Prestasi mereka di departemen efek spesial ini seperti berbanding terbalik ketika merilis film arahan mereka sendiri, Alien vs Predator: Requiem pada tahun 2007 yang tampil tidak meyakinkan meskipun tetap berakhir dengan pendapatan finansial tinggi.  Maka pada tahun 2010, Strause bersaudara mencoba kembali lagi lewat Skyline, film aksi fiksi-sains berlatar Los Angeles tahun 2010. Dimana menurut tagline, proyek NASA mengirim bongkahan sinyal ke luar angkasa untuk mendeteksi adanya kehidupan lain (extraterrestrial life) secara magis bersambut. Tidak hanya itu, makhluk luar angkasa itu juga datang ke bumi. Tagline yang menipu, sebab NASA tak diceritakan sama sekali di sepanjang filmnya.

Alkisah, pasangan Jarrod dan Elaine datang ke Los Angeles untuk mengurus sebuah proyek dengan seorang kawan.  Di sebuah apartemen mewah mereka berpesta hingga larut. Jam setengah lima pagi, puluhan cahaya biru silau berjatuhan dari langit. Cahaya biru ini ternyata menghisap manusia untuk diambil otaknya dan dijadikan alien-boneka. Pembantaian manusia oleh para alien pun dimulai. Strause bersaudara, karena memilih aliran horror sebagai benang merah Skyline, pastilah memilih alien versi Ridley Scott (seperti dalam film Alien, 1979), di mana alien digambarkan tidak memiliki morfologi yang jelas. Pokoknya seram. Lain lagi dengan alien versi Steven Spielberg (seperti dalam E.T, 1982) di mana aliennya imut dan bersahabat dengan semua orang. Bentuknya menyerupai Doraemon berjidat lebar minus suara parau.

Terlalu konsentrasi pada efek spesial membuat Skyline keteteran dalam menangani adegan-adegan manusianya. Dialog dan penyusunan drama yang kurang memadai membuat dasar cerita menjadi tidak kuat sehingga penonton menjadi setengah ikhlas untuk mengikuti perjalanan mereka. Dari beberapa wawancara Strause bersaudara dengan media, sangat jelas kalau mereka memang lebih peduli pada efek spesial ketimbang pada memanusiawikan filmnya. Mereka lebih ribut pada bagaimana cara membuat lanskap langit yang jernih ketimbang meributkan apa motivasi karakternya untuk tetap berciuman, padahal mereka sudah terisap kedalam perut sang alien.

Awalnya, saya mendeteksi ada kejadian aneh. Meskipun kota sudah lintang pukang diserang alien, tapi listrik tetap menyala, sinyal televisi masih utuh, dan mereka masih bisa mengecek timeline di twitter. Saya mengantisipasi ini sebagai simbol penting yang hendak disampaikan film. Bisa jadi, Strause bermaksud melontarkan preposisi bahwa alien hanya akan fair bila diperhadapkan dengan manusia sebagai agen dan tidak menyentuh struktur sosial-teknologis manusia itu sendiri. Secara faktual, manusia memang tidak pernah berurusan dengan milieu para alien ini. Jadi harusnya mereka bersikap adil dengan memusuhi manusia saja, bukan dunia manusia. Berpuluh menit lamanya saya menunggu, dan kemudian menyadari bahwa perkara listrik itu bukan simbol, tapi goof. Saya kecewa.

Di sisi lain, Skyline menggunakan protagonis pasif yang sebenarnya tidak berbuat apa-apa baik dalam mengundang alien maupun dalam usaha mengusirnya. Mereka hanya warga kota biasa yang pergi bekerja, alien datang, lalu mereka sibuk meminta tolong. Tidak seperti film-film aksi fiksi ilmiah yang biasa kita lihat, ambil contoh Transformers yang mana protagonis utamanya adalah anak yang memungut si robot, atau The Matrix, dimana protagonisnya adalah orang yang menanggung beban paling berat. Sebenarnya protagonis pasif bisa menjadi sangat potensial  untuk menyampaikan maksud esensial tertentu. Tetapi dalam Skyline, ia menjadi begitu sia-sia. Alien tengah mengamuk di luar, para protagonis malah sibuk berselisih karena salah satu dari mereka ketahuan selingkuh.

Karena ekspektasi awal saya yang gagal, saya berusaha menangkap daya tarik lain yang menyembul ketika film lewat setengah durasi: kecenderungan akan tragedi. Pertarungan menjadi tidak seimbang karena para alien begitu digdaya sementara manusia sudah habis kena bantai dan tak ada pahlawan yang bisa diandalkan penonton. Protagonisnya hanya berdiam diri di apartemen sembari menonton kejadian, menganggap bahwa alien (mungkin) adalah bagian dari lanskap yang eksotis. Apakah kemudian Strause Bersaudara tegas dalam mengeksekusi tragedi mereka sama dengan ketegasan mereka dalam ber-efek spesial? Sebaiknya Anda menonton sendiri, agar kita bisa berbagi, mungkin, kekecewaan.

Skyline | 2010 | Sutradara: Greg Strause, Colin Strause | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Eric Balfour, Scottie Thompson, Brittany Daniel, Crystal Reed, Donald Faison

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend