Rupa-rupa Pendanaan Dokumenter

Suasana forum pendanaan di IDFA

Suasana forum pendanaan di IDFA

Saya percaya film dokumenter di Indonesia punya potensi untuk berkembang, tidak hanya di Jawa tapi juga di luar Jawa. Dengan lebih dari tiga belas ribuan pulau, seribuan suku, dan tujuh ratusan bahasa daerah, Indonesia jelas kaya akan sumber cerita.

Tidak seperti film fiksi, produksi dokumenter secara teknis tidak terlalu kompleks. Untuk membuat film dokumenter dengan kualitas yang bisa diterima pasar internasional, cukup satu produser yang punya selera film dan kemampuan bisnis yang bagus, plus satu sutradara yang punya visi dan kemampuan bercerita yang baik, dan satu penata kamera yang memahami bahasa gambar, serta satu penata suara yang memahami dimensi suara dalam film. Kelak, yang dibutuhkan adalah penyunting gambar yang punya kemampuan mencari dan menyusun cerita dari puluhan jam footage. Kadang, dalam situasi tertentu, semua peran ini bisa dilakukan oleh satu orang, meskipun tidak ideal.

Keluhan yang lumrah dilontarkan para pembuat film dokumenter adalah keterbatasan sumber dana produksi, yang berujung pada ketakutan tidak bisa hidup layak sebagai pembuat film dokumenter. Faktanya, di Indonesia, perkembangan film dokumenter sangat dipengaruhi oleh televisi dan lembaga donor. Kebanyakan film dokumenter diproduksi atas pesanan mereka. Tema dan formatnya sulit berkembang, sebab pembuat film harus menyesuaikan dengan agenda lembaga donor atau format stasiun televisi yang menjadi rekanan.

Konsekuensinya, bentuk dokumenter di Indonesia tidak jauh-jauh dengan bentuk aktivisme dan jurnalistik. Kecuali dokumenter untuk televisi, penontonnya juga bisa menjadi sangat spesifik, bahkan kadang ditonton oleh kalangan terbatas saja, yaitu kalangan pemesan film tersebut.

Baru-baru ini saja kita mulai membicarakan dokumenter kreatif. Untuk pembuat film yang puas dengan format tersebut, tentu tidak ada persoalan. Tapi, untuk pembuat film yang ingin membuat dokumenter kreatif, yang ingin filmnya meraih penonton yang lebih luas, tentu keterbatasan bentuk, cara bercerita bisa jadi persoalan.

Keterbatasan sumber dana untuk memproduksi film dokumenter di Indonesia sebenarnya bisa diakali dengan merambah pasar internasional. Tersedia banyak kesempatan mendapat dana yang layak, yang artinya film bisa diproduksi dengan kualitas teknis mumpuni dan kru mendapat gaji layak. Lebih penting lagi, kemungkinan untuk membuat dokumenter yang menarik terbuka luas.

Tulisan ini saya buat bukan karena saya jagoan dan punya pengalaman hebat dalam hal produksi film dokumenter. Saya semata hanya ingin berbagi sedikit apa yang saya tahu. Setelah dokumenter panjang pertama saya, Negeri di Bawah Kabut beredar, saya sering mendapat pertanyaan tentang produksi film dokumenter—salah satu yang paling sering ditanyakan adalah bagaimana mencari dana produksi untuk film dokumenter. Harapannya, siapapun yang membaca tulisan ini—termasuk para pembuat film dokumenter—bisa memahami bahwa membuat film tidak semata bakat dan ide brilian, tapi juga perlu kemampuan manajerial dan bisnis yang baik. Juga saya harapkan bisa berbagi inspirasi bagi kawan-kawan pembuat film di luar Jawa, bahwa kesempatan mereka terbuka lebar, tidak melulu harus berharap berkah dari Jawa.

Tulisan ini jelas belum komplit. Saya justru berharap tulisan ini bisa dilengkapi oleh yang lebih berpengalaman, bahkan dikritisi apabila ada yang merasa atau menganggap apa yang saya tulis ini omong kosong belaka.

pendanaan-dokumenter_01

Produksi dokumenter di Cilacap (dokumentasi Sangkanparan)

Kebutuhan Dasar

Saya mencatat, ada tiga elemen penting yang dibutuhkan untuk bisa menembus pasar internasional: 1) produser, 2) cerita film yang tidak generik, dan 3) pengalaman dalam melakukan kerjasama internasional.

Produser yang fokus memproduksi film dokumenter adalah makhluk langka di Indonesia, lebih langka lagi yang punya pengalaman di pasar internasional. Sutradara yang punya kemampuan bercerita yang baik juga masih sulit ditemukan. Jangankan cara bercerita, memilih tema atau isu saja masih berputar pada persoalan yang sama, seolah-olah tema dokumenter dikutuk pada persoalan kemiskinan yang dilihat dengan cara eksotik. Narasumber dilihat sebagai korban yang pasif, tanpa berhasil menunjukkan konteks kemiskinan di Indonesia secara lebih luas. Atau tema budaya dibingkai dalam perspektif yang absurd, yang biasanya membenturkan sebuah tradisi yang akan hilang dengan modernitas sembari menyalahkan globalisasi.

Secara bentuk, film yang diproduksi juga punya kecenderungan didaktik, instruksional, dan dangkal. Dokumenter bisa saja nonfiksi, harusnya bisa lebih dari sekadar pengungkapan fakta, sebab dokumenter harusnya bisa mengangkat kehidupan sehari-hari menjadi seni, sebab dokumenter bukan hanya perkara informasi tapi juga emosi. Film dokumenter bisa menjadi puitis dengan memainkan unsur cahaya, warna, komposisi dan suara. Cerita tidak harus datang dari tragedi penuh air mata, bisa saja dari kehidupan sehari-hari. Tidak semua film harus seperti Burma VJ, sebuah film tentang aksi protes melawan pemerintah yang represif di Myanmar—filmnya bisa menjadi dramatis karena ada sebuah kejadian besar nan historis. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau film dokumenter bisa juga seperti Planet of Snail, sebuah cerita sederhana tentang kehidupan pasangan suami yang buta dengan istri yang badannya tidak sempurna di Korea Selatan.

Di sinilah kemampuan bercerita seorang pembuat film ditantang, dan inilah tantangan sebenarnya. Di luar sana saingan kita dalam berebut dana di pasar internasional adalah para pembuat film yang luar biasa kreatif. Senjata mereka bukan hanya cerita yang kuat, tapi juga pertimbangan dan perencanaan yang matang akan perkara teknis pengambilan gambar, tata suara, hingga estetika. Maka, supaya bisa bersaing dengan mereka, kita juga perlu berada pada level yang sama.

Secara umum ada tiga sumber dana untuk memproduksi film dokumenter: 1) stasiun televisi atau broadcaster, 2) lembaga donor, dan 3) lokakarya. Masing-masing menuntut komitmen dari pembuat film, masing-masing punya peluang dan tantangannya sendiri. Seorang pembuat film bisa cocok dengan satu model pendanaan, tapi tidak dengan model lainnya. Mari kita telaah satu per satu.

pendanaan-dokumenter_02

One-on-one meeting pembuat film dan broadcaster di Asian Side of the Doc

Stasiun Televisi

Stasiun televisi adalah salah satu sumber dana terbesar dalam memproduksi film dokumenter. Tapi, dalam konteks tulisan ini, segera lupakan stasiun televisi di Indonesia, sebab dana produksi untuk dokumenter di stasiun televisi di Indonesia luar biasa kecil. Penghasilan penjual sayur di pasar jauh lebih besar ketimbang anggaran produksi film dokumenter televisi di Indonesia. Nilai produksinya berkisar 8–25 juta untuk dokumenter berdurasi 20-30 menit, sampai 50 juta untuk dokumenter dengan durasi satu jam (meskipun jarang). Bandingkan dengan nilai produksi dokumenter berdurasi 30 menit untuk NHK, stasiun televisi Jepang, yang bisa mencapai $70.000. Dokumenter panjang (di atas 60 menit) bisa mendapat dana antara $50.000 sampai $300.000, bahkan bisa lebih untuk proyek film tertentu.

Mekanisme kerjasama dengan stasiun televisi bisa dengan cara co-production atau commissioning. Kalau co-production, stasiun televisi hanya memberikan sebagian dari total dana yang dibutuhkan, sementara dengan commissioning, pembuat film bisa mendapat dana 100%. Dua cara ini punya implikasi yang berbeda pada perjanjian kerjasama serta pada hak dan kewajiban, misalnya hak cipta dan atau hak distribusi. Kalau co-production bisa saja hak cipta dipegang oleh filmmaker, stasiun televisi hanya mempunyai hak siar pada jaringannya atau pada teritori tertentu. Tetapi kalau commissioning, bisa saja hak cipta film itu dimiliki 100% oleh stasiun televisi tersebut. Stasiun televisi mendapat uang dari menjual hak siar kepada stasiun televisi lain, dari situlah mereka mendapat uang produksi.

Sebuah stasiun televisi biasanya mempunyai orang yang bertugas mencari film dokumenter, untuk didanai dalam mekanisme co-production, atau dibeli apabila filmnya sudah selesai. Posisi ini lumrah disebut dengan istilah commissioning editor, atau kepala bagian dokumenter yang punya kuasa menentukan film mana yang mau didanai atau dibeli. Nick Frasser dari BBC, Mette Hoffmann Meyer dari DR, Catherine Alvaresse dari ARTE Prancis, Claire Aguilar dari ITVS, Iikka Vehkalahti dari YLE adalah beberapa nama yang melakoni tanggungjawab tersebut.

Sebelum mengirim proposal kepada mereka, wajib hukumnya untuk mengetahui program apa yang mereka pegang dan film seperti apa yang mereka cari. Jangan mengirim proposal secara sporadis kepada mereka. Misalnya jangan mengirim proposal film tentang hewan dan tumbuhan kepada Nick Frasser, sebab tema itu bukan bagiannya dan dia tidak tertarik sama sekali dengan tema tersebut. Dia tertarik dengan tema sejarah dan politik.

pendanaan-dokumenter_03

Suasana central pitch di IDFA

Forum Pendanaan

Perlu diketahui juga bahwa ada ratusan proposal yang mereka terima setiap tahun, maka perlu strategi untuk mendapatkan atensi mereka. Salah satunya adalah dengan mengikuti forum pendanaan atau picthing forum, seperti IDFA Forum di Amsterdam, Docedge Kolkata, Asian Side of the Doc, TokyoDocs, HotDocs Forum di Kanada, dan sebagainya. Di sinilah para pengambil keputusan ini berkumpul, biasanya menjadi panelis dalam picthing forum.

Picthing forum adalah acara di mana filmmaker berkesempatan mempresentasikan proyek filmnya kepada para pengambil keputusan dan perwakilan lembaga donor. Secara umum picthing forum dibagi menjadi central pitch dan roundtable pitch. Pada IDFA Forum, yang membedakan central pitch dengan rountable pitch adalah tahapan pendanaan proyek film kita. Central pitch mensyaratkan 25% dari total anggaran sudah terpenuhi, sementara pada roundtable pitch boleh saja proyek tersebut belum mempunyai pendanaan sama sekali. Jumlah panelis dan pengamat pada central pitch juga lebih besar ketimbang roundtable pitch yang lebih intim.

Memilih kategori pitching juga perlu strategi tersendiri. Kalau film kita punya tema yang kecenderungannya punya pasar yang kecil, maka roundtable pitch lebih cocok, sebab panelis yang akan mendaftar pada pitching tersebut adalah yang tertarik dengan tema film kita. Jadi, tidak ada gunanya bayar mahal untuk ikut central pitch.

Setelah pitching biasanya dilanjutkan dengan one-on-one meeting antara pembuat film dengan pengambil keputusan, untuk membicarakan lebih lanjut proyek film yang dipresentasikan di picthing forum. Pertemuan ini bisa berlangsung di arena yang sudah disediakan oleh panitia, bisa juga pada saat makan siang atau makan malam, tetapi pastinya selalu melalui perjanjian.

Forum pendanaan seperti ini biasanya memungut biayanya. Biaya central pitch IDFA Forum adalah €677,60, dan €496,10 untuk rountable pitch. Biaya untuk peserta dari Asia di Asian Side of the Doc adalah €255 dan €350 untuk peserta dari luar Asia.

Perlu diketahui bawah proyek film yang dipilih untuk dipresentasikan pada pitching forum ini tidak asal pilih, tidak juga siapa-cepat-dia-depat, tetapi melalui seleksi yang ketat. Biaya pitching baru dibayar ketika proyek film sudah terpilih. Perlu diketahui bahwa biaya ini hanya untuk biaya pitching, kita harus membayar sendiri biaya perjalanan seperti pesawat, hotel, dan makan. Bahkan untuk menjadi observer di pitching forum di IDFA harus membayar €339,30. Jadi, untuk mendapatkan dana produksi yang ideal dengan cara ini membutuhkan modal awal. Mental gratisan sebaiknya mulai disingkirkan. Memang ada juga pitching forum yang gratis, bahkan membiayai perjalanan kita untuk menghadiri acara itu di negara mereka, misalnya Docs Port Incheon di Korea Selatan, tetapi forum seperti ini jarang sekali.

Proyek film yang tidak lolos masuk central pitch dan roundtable pitch biasanya dicatat dalam buku katalog, yang akan disebar di arena pitching forum. Artinya, masih ada kesempatan proyek film kita dilirik oleh para pengambil keputusan. Bila tertarik pada satu proyek film yang ada di katalog, mereka biasanya akan menghubungi. Kita bisa juga aktif melakukan pendekatan kepada mereka. Profil para panelis pitching forum juga dimuat dalam katalog, yang akan kita dapatkan kalau menjadi peserta pitching atau observer.

Fasilitas yang disediakan oleh setiap forum pendanaan juga berbeda-beda. Di IDFA Forum, misalnya, dengan biaya sebesar itu kita mendapat makanan dan minuman gratis di arena sepanjang acara itu berlangsung. TokyoDocs sebaliknya—dengan biaya sebesar $300, bahkan tidak ada air putih setetes pun di arena.

Tentunya yang dicari di pitching forum bukanlah makan semata, tetapi kesempatan untuk bertemu dengan para pengambil keputusan. Kesempatan ini langka sekali. Jangan bayangkan kita bisa dengan seenaknya meminta waktu mereka di luar forum untuk membahas proyek film kita. Kalaupun kita kebetulan tinggal satu hotel dan sering sarapan bersebelahan meja, jangan berharap mereka mau diajak membicarakan proyek film kita tanpa janji. Bahkan ketika proyek film kita sudah ada di pitching forum atau di dalam buku katalog, para pengambil keputusan ini bisa saja menolak ketika kita mengajukan diri untuk one-on-one meeting.

Saya pernah merasakan pengalaman pahit ini di TokyoDocs. Saya juga pernah menyaksikan kawan saya, seorang produser dari Thailand, dicuekin seorang commissioning editor dari sebuah stasiun televisi Prancis ketika mereka bertemu di IDFA. Padahal commissioning editor tersebut pernah menyatakan ketertarikan terhadap proyek yang kawan saya presentasikan di TokyoDocs beberapa minggu sebelumnya.

Sekarang sudah bisa dibayangkan betapa vitalnya peran pitching forum dalam memasarkan proyek film kita. Sekalinya film kita terpilih, maka atensi kepada proyek film kita makin besar dan kesempatan untuk bekerja dengan para pemegang ini juga makin besar. Jalanan karya Daniel Ziv adalah salah satu proyek dari Indonesia yang pernah picthing di IDFA Forum. Heni Matalalang pernah pitching di Docedge, sementara Amelia Hapsari pernah pitching di Asian Side of the Docs.

Mempresentasikan proyek film di forum pendanaan adalah kemampuan yang perlu dilatih. Picthing forum biasanya menyediakan program latihan, ada yang gratis, ada yang berbayar, seperti di IDFA Forum harus membayar €226,20. TokyoDocs memberikan pelatihan pitching gratis bagi para pesertanya, tapi tidak seintensif yang diberikan IDFA.

Picthing forum biasanya menyediakan hadiah dalam berbagai kategori, tergantung penyelenggaranya. HotDocs memberikan hadiah 10.000 USD untuk kategori pitching terbaik. Jumlah yang sama diberikan oleh TokyoDocs. Ada juga hadiah yang lain tetapi tidak dalam bentuk uang tetapi kesempatan untuk pitching di forum lain. Misalnya, proyek film yang menang di Docedge Kolkata berkesempatan picthing di DMZ Korea—biaya ditanggung oleh penyelenggara pitching. Tetapi peserta yang ikut pitching forum biasanya tidak menjadikan hadiah itu sebagai tujuan utama, sebab persentase hadiah itu bila dibandingkan dengan anggaran produksi terhitung relatif kecil.

Tidak semua proyek film bisa dapat dana yang dibutuhkan untuk produksi hanya dengan sekali ikut pitching forum. Para penyandang dana di pitching forum yang datang dari stasiun televisi atau lembaga donor jarang memberikan 100% dana yang dibutuhkan kepada sebuah film. Pembuat film seringkalipitching dari satu forum ke forum yang lain untuk mencukupi jumlah dana yang dibutuhkan. Strateginya adalah dengan mendapatkan dana dari beberapa stasiun televisi dari negara yang berbeda, dengan mekanisme co-production.

Misalnya, kalau anggaran produksi film kita sebesar $100.000, kita bisa mencoba mendapatkan $25.000 dari NHK, $25.000 dari BBC, dan seterusnya. Biasanya ketika satu stasiun televisi sudah setuju co-production dengan kita, pekerjaan untuk mencari stasiun televisi lain biasanya lebih mudah, sebab para pengambil keputusan ini juga berteman dan saling mendukung. Misalnya, kalau kita sudah memegang Nick Frasser dari BBC, maka kemungkinan besar Mette Hoffman Meyer dari DR akan terlibat karena mereka berteman baik. Dalam konstelasi yang lebih besar, para pemegang keputusan ini punya grupnya masing-masing dan ada kecenderungan untuk bekerja dengan grup yang sama.

Patut dicatat, bahwa hanya karena kita mendapat dana dari stasiun televisi, jangan langsung bayangkan kita akan membuat produk macam Si Bolang. Apabila konsep film yang kita ingin garap adalah dokumenter kreatif, janganlah ragu ikut pitching forum atau co-production dengan stasiun televisi, sebab ada berbagai gaya dokumenter yang ditawarkan di pitching forum. Dari gaya Discovery Channel sampai dokumenter eksperimental, dari dokumenter tentang makanan sampai penghilangan identitas sebuah suku asli di Burma, semua ada.

Pitching forum juga punya karakteristiknya sendiri. TokyoDocs, misalnya, cenderung dekat dengan dokumenter untuk televisi, sementara IDFA Forum cenderung memilih dokumenter kreatif seperti Last Train Home, Searching for Sugarman, dan Planet of Snail—film yang mendapat penghargaan tertinggi di IDFA 2011.

Suasana roundtable pitch di IDFA

Suasana roundtable pitch di IDFA

Strategi Kerjasama

Patut dicatat juga kalau kerjasama dengan stasiun TV memang sering membuat pembuat film terpaksa membuat berbagai versi sesuai kebutuhan stasiun televisi terkait. Ada juga versi theatrical yang biasanya ditujukan untuk festival film atau bioskop.

Sumber dana dari stasiun televisi sering disebut hard money, sebab ada tanggungjawab yang besar dan perjanjian kerjasama yang kompleks bila dibandingkan dengan dana dari lembaga donor. Tanggungjawab ini bukan semata membuat laporan keuangan, tapi juga tanggungjawab untuk membuat film sesuai yang direncanakan. Pihak stasiun televisi kadang terlibat langsung dalam merencakan film ini sejak awal, tergantung jumlah dana yang mereka berikan. Treatment biasanya disetujui bersama (setelah ditulis berulang kali), tapi mereka juga bisa meminta hal-hal baru dimasukkan ke film, yang seringkali untuk kepentingan menarik target penonton mereka. Campur tangan ini memang bisa jadi persoalan tersendiri: bisa berujung pada sebuah karya yang bagus, atau justru sebaliknya, jadi karya yang tidak dikenali lagi oleh pembuat filmnya.

Dalam kasus yang ekstrem, bisa saja stasiun televisi meminta syuting ulang, mengganti kru, bahkan mengganti sutradara bila menurut mereka hasil yang dibuat tidak sesuai dengan perjanjian. Karena itu proses co-production sering memakan waktu yang lama dan melelahkan. Kadang setelah berbulan-bulan dana baru turun dari stasiun televisi yang menjadi rekanan.

Kunci dalam co-production adalah komunikasi dan negosiasi. Peran produser jadi penting di sini untuk melakukan negosiasi bisnis. Dalam konteks ini, sangat tidak disarankan sutradara merangkap produser sebab energi bisa terkuras hanya untuk mengurus kontrak, perjanjian, dan sebagainya. Selain itu, stasiun televisi juga lebih memilih melakukan perjanjian kerjasama dengan produser ketimbang dengan sutradara.

Sialnya, kelemahan dunia dokumenter Indonesia justru adalah kelangkaan produser yang punya pengalaman international co-production. Seringnya sutradara dipaksa berjibaku antara sisi kreatif dan bisnis, yang pastinya harus mengorbankan salah satunya. Di sini juga bisa dilihat bagaimana produser mempertahankan visi sutradaranya, sekaligus melakukan negosiasi dengan penyandang dana.

Reputasi adalah salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh para pengambil keputusan di stasiun televisi. Nama Shalahuddin Siregar tidak semenjual nama Joshua Oppenhaimer, misalnya. Atau nama Shanty Harmayn sebagai produser lebih dipercayai ketimbang produser baru yang belum punya reputasi internasional. Kalau sutradara atau produsernya baru, sebaiknya tandem dengan produser yang sudah punya reputasi internasional. Mentor saya di Berlinale Talent, seorang produser dari Finlandia pernah mengatakan hal ini, bahkan dia membolehkan saya memakai namanya dan rumah produksinya sebagai garansi kalau suatu saat nanti saya mau mengajukan dana ke lembaga donor. Mette Hoffmann Meyer, kepala bagian dokumenter dan co-production DR (stasiun televisi Denmark), mengatakan hal yang sama dalam lokakarya yang saya ikuti di Amsterdam.

Saat bekerjasama dengan stasiun televisi atau penyandang dana lain, perlu diperhatikan perjanjian kerjasama dengan seksama. Perhatikan siapa pemilik hak cipta, hak distribusi, hak atas footage, hak atas hadiah bila menang di festival, screening fee dari festival, dan sebagainya. Ada stasiun televisi yang bisa memberikan jumlah dana yang besar, tapi sebagai kompensasinya mereka mengambil seluruh hak atas film yang kita buat. Kalau kita merasa perjanjian itu adil, tidak ada salahnya diambil. Kuncinya adalah negosiasi.

Memilih pitching forum juga perlu strategi. Pembuat film pemula misalnya bisa daftar pitching yang gratis, lalu mencoba pitching di wilayah Asia seperti Asian Side of The Doc atau Docedge di Kolkata. Forum pendanaan di Asia membutuhkan biaya perjalanan yang lebih terjangkau. Forum-forum itu juga biasanya ditujukan untuk pembuat film dari Asia, juga diisi oleh penyandang dana yang memang sedang mencari proyek film dari Asia.

Satu catatan tambahan: international co-production tidaklah cocok untuk pembuat film yang mengartikan ‘independen’ sebagai ‘tidak ada yang boleh ikut campur dalam proses kreatif’. Kolaborator tidak punya hak apa-apa atas isi film, cukup memberi uang saja. Kenyataannya tidak seperti itu, sayangnya. Co-production adalah kerja kolaboratif dengan ruang untuk bernegosiasi secara kreatif.

Pelatihan pitching di Asian Side of the Docs

Pelatihan pitching di Asian Side of the Doc

Lembaga Donor

Ada berbagai lembaga donor untuk produksi film dokumenter. Beberapa yang terkenal adalah IDFA Bertha Fund, Asian Network of Documentary, Sundance Documentary Fund. World Cinema Fund juga menerima proyek film dokumenter, serta ada berbagai program pendanaan dari Tribeca Film Institute.

Dana dari lembaga donor ini sering disebut soft money, sebab tanggungjawabnya tidak seperti co-production dengan stasiun televisi atau sebuah rumah produksi. Lembaga donor biasanya tidak terlibat dalam produksi, tidak terlibat dalam menentukan siapa yang menjadi kru, dan tidak berhak menentukan arah cerita dan sebagainya.

Setiap lembaga donor punya agenda serta kriteria film yang mereka inginkan. Perhatikan dengan seksama kriteria film yang ingin mereka danai. Tribeca Film Institute saja menyediakan enam kategori pendanaan untuk film dokumenter, masing-masing karakteristiknya berbeda. Pilih lembaga donor yang sesuai dengan film yang akan kita buat. Perhatikan juga peraturannya. Sama seperti perjanjian dengan stasiun televisi, perhatikan siapa pemilik hak cipta, hak distribusi, dan sebagainya.

Lembaga donor ini biasanya menyediakan dana untuk tiga tahapan produksi: pengembangan cerita, produksi, dan pasca produksi. Beberapa turut memberi dana untuk distribusi. Dalam setahun, ada lembaga donor yang memberikan bantuan sebanyak dua musim, ada yang setahun satu kali saja. Jumlah dana yang diberikan bervariasi antara $5.000 sampai $25.000, sementara dana pengembangan cerita biasanya maksimal $5.000. Biasanya kita bisa daftar untuk satu kategori pada setiap musimnya. Kalau mendapat dana pengembangan, kita bisa daftar untuk dana produksi pada musim berikutnya, dan dana pasca produksi musim berikutnya lagi.

Ketika mendaftar untuk dana pengembangan cerita, bukan artinya kita mulai dari nol. Proyek film yang kita ajukan harus sudah punya bentuk—sudah ada cerita atau paling tidak karakter. Kita harus sudah punya izin dari narasumber dan atau lokasi film. Dana pengembangan biasanya dipakai untuk mematangkan riset, membuat proposal, membuat trailer, dan contoh adegan untuk dibawa ke forum pendanaan. Trailer dan contoh adegan mempunyai peranan penting dalam sebuah proposal. Sering terjadi konsep suatu film tidak menarik ketika di atas kertas, tapi malah jadi terihat menarik bagi penyandang dana ketika sudah dalam bentuk adegan atau trailer.

Membuat proposal untuk diajukan ke lembaga donor tidak semudah yang kita bayangkan, tapi juga tidak sulit. Kebutuhan dasarnya adalah keterampilan, pengalaman, dan kesabaran. Menulis proposal juga butuh strategi. Bisa saja kita menulis proposal yang berbeda untuk masing-masing lembaga donor untuk film yang sama. Tujuannya adalah mencari kecocokan antara film dengan kriteria atau agenda lembaga donor yang disasar. Hampir semua lembaga donor punya format proposal yang sama. Biasanya lembaga donor menyediakan checklist di laman mereka, seperti Sundance Documentary Fund ini (cek bagian Proposal Checklist).

Banyak faktor yang menentukan sebuah lembaga donor memberikan dana kepada sebuah proyek film. Rencana pendanaan adalah salah satunya. Lembaga donor biasanya mempertimbangkan siapa saja yang terlibat memberikan dana, bisa saja lembaga donor lain, stasiun televisi, atau rumah produksi. Mereka tentu memperhatikan logika anggaran dengan treatment film yang diajukan.

Sama seperti stasiun televisi, kredibilitas pembuat film juga menjadi pertimbangan. Reputasi ini penting. Berbeda dari co-production dengan stasiun televisi, lembaga donor harus mendapat jaminan bahwa film yang mereka danai akan selesai, karena mereka tidak punya kuasa untuk terlibat langsung pada tahapan produksi. Beberapa pembuat film Indonesia kabarnya masuk dalam daftar hitam IDFA Bertha Fund, karena pernah mendapat dana dari JiFFest Script Development yang didanai oleh mereka (pada saat itu masih Jan Vrijman Fund) tapi filmnya tidak pernah jadi.

Dari amatan saya terhadap pola kerja yang selama ini berlangsung, ada strategi yang bisa dipakai sutradara pemula untuk mendapatkan dana dari IDFA Bertha Fund. Cobalah untuk mendaftar pada Summer School IDFA, dengan begitu mereka sudah mengenal kita sebagai emerging filmmaker. Setiap musim pendaftaran, mereka selalu mengambil satu atau beberapa proyek dari Summer School ini. Keuntungannya tidak berhenti sampai di situ, sebab selalu ada kemungkinan besar filmnya juga akan terpilih pada seksi kompetisi di festival filmnya. Layu Sebelum Berkembang yang disutradari oleh Ariani Djalal, yang sebelumnya mengikuti Summer School, pernah menerima dana dari IDFA Bertha Fund.

Untuk mendapat kesempatan yang lebih besar, cobalah lembaga donor yang fokus pada Asia. Asian Network of Documentary, misalnya. Selain dana, pembuat film yang terseleksi biasanya diundang ke Busan untuk mengikuti program lokakarya, berbarengan dengan Busan International Film Festival. Daniel Ziv dan Daniel Rudi Haryanto pernah menerima dana dari AND, yang biasanya memberi $5.000-$10.000 untuk dana produksi.

Perbadanan Kemajuan Filem Nasional Malaysia atau FINAS mempunyai anggaran untuk mendukung film dokumenter dari tahap pengembangan sampai produksi. Lembaga ini bisa memberikan $5.000 untuk dana pengembangan. Dana ini bisa digunakan untuk biaya pergi ke pitching forum.

Sialnya, di Indonesia, belum ada program yang jelas untuk membantu perkembangan film Indonesia dari lembaga yang menggunakan uang negara. Program Fasilitasi Produksi Film Pendek dan Dokumenter seyogyanya bisa menjadi program bagus, apabila dikelola dengan benar. Lembaga pengelola juga harus punya visi yang jelas terhadap perkembangan film pendek dan dokumenter di Indonesia, dengan regulasi yang lebih beres, yang akhirnya bisa menciptakan kondisi untuk keberkaryaan yang lebih baik.. Singkatnya, program yang dilakoni bukan sekadar ajang menghabiskan sisa anggaran akhir tahun, sebagaimana yang selama ini terjadi.

Lokakarya dokumenter (dokumentasi In-Docs)

Lokakarya dokumenter di Kupang (dokumentasi In-Docs)

Lokakarya

Sumber dana lain adalah lokakarya, yang banyak diadakan di penjuru Indonesia. Meski begitu, perlu diketahui bahwa tidak semua lokakarya berniat untuk membuat film sebagai film. Ada juga lokakarya yang dibuat untuk kepentingan institusi tertentu dengan mengendepankan isu, dan tidak bisa dipungkiri banyak lokakarya yang berorientasi pada produk, bukan proses. Hal ini yang membuat pembuat film sulit berkembang dan melanjutkan karir sebagai pembuat film dokumenter.

In-Docs, melalui program KickStart, adalah salah satu lembaga yang terhitung konsisten mengadakan lokakarya untuk pembuat film dokumenter pemula. In-Docs sempat juga bekerjasama dengan Metro TV mengadakan program kompetisi dokumenter paling populer se-Indonesia, yakni Eagle Award.

Tahun lalu In-Docs mulai merambah ke kalangan sutradara yang sudah cukup berpengalaman lewat lokakarya Dissapearing Sound. Inilah lokakarya pertama di Indonesia yang bertujuan mendorong pembuat film Indonesia untuk membuat film untuk pasar internasional. Lokakarya ini memberikan bantuan dana pengembangan cerita sebesar 50 juta untuk masing-masing proyek, angka yang ideal untuk pengembangan cerita. Hasil akhirnya adalah treatment dan trailer untuk kemudian dibawa ke pitching forum.

Tahun 2015 ini, In-Docs bekerjasama dengan STEPS, DocNet Southeast Asia, dan Ford Foundation untuk mengadakan lokakarya bagi pembuat film se–Asia, dengan tema Anak Muda di Asia. Program ini adalah jalan pintas untuk mendapatkan dana produksi, distribusi, sekaligus reputasi internasional. Di atas itu semua, program ini menawarkan kesempatan untuk belajar mengembangkan film dengan pakar dokumenter dunia.

Di Eropa, para pakar ini bekerja profesional, misalnya sebagai konsultan dramaturgi. Pembuat film yang memakai jasa mereka biasanya membayar mahal. Program ini mengundang pembuat film dari Asia Tenggara untuk belajar dari mereka, tanpa perlu membayar serupiahpun. Meski begitu, konon perkara hak cipta dan hak distribusi menjadi momok bagi para pembuat film, sebagaimana yang dicatat oleh pihak penyelenggara. Padahal, kalau terpilih didanai oleh lokakarya ini, pembuat film bisa berkonsentrasi pada sisi kreatif tanpa perlu pusing mencari uang yang luar biasa sulit. Film bisa diproduksi dengan kualitas teknis yang baik dan kru tidak harus sampai kelalaparan. Tidak ada gunanya juga filmmaker memegang hak cipta filmnya, tetapi dia tidak bisa menggunakan karyanya untuk menghasilkan uang.

Pada 2008, Dewan Kesenian Jakarta dan Goethe-Institut sempat mengadakan lokakarya Indonesia-10 Years After Reformasi: Documentary Cinema Capacity Building Programme, yang kelak menghasilkan tiga film yang memberi warna baru dalam khazanah film dokumenter Indonesia: Layu Sebelum Berkembang, Denok & Gareng, dan Negeri di Bawah Kabut. Dua film pertama berkompetisi IDFA untuk kategori First Appearance, sementara film terakhir berkompetisi di Dok-Leipzig untuk kategori Young Cinema. IDFA dan Dok-Leipzig adalah dua dari sedikit festival film dokumenter yang berpengaruh di dunia.

Lokakarya, sebagaimana co-production, memang tidak untuk semua pembuat film. Keduanya sama-sama sulit, sebab ada pihak yang terlibat dalam proses pengembangan sampai pasca produksi film. Dalam sebuah lokakarya, pembuat film selalu harus selalu siap terhadap masukan dan kritik. Kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi jadi vital karenanya. Negeri di Bawah Kabut tidak akan pernah ada tanpa peran Sebastian Winkels, sutradara Jerman yang sekolah film dengan konsentrasi kamera, sebagai tutor. Dari dia, saya belajar logika merekam gambar dalam dokumenter. Hubungan kami tidak selalu mulus—istilahnya no pain, no gain. Tapi memang begitulah proses membuat film—seperti naik gunung, sering mengaku kapok ketika sedang menuju puncak, tetapi kangen ketika sudah kembali di rumah.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (25)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend