Rocket Rain: Curhatan Banal, Dilema Personal

rocket-rain_highlight

(long take)

JANSEN

Kayaknya emang cuma manusia yang mau repot-repot mengkonsepsikan pernikahan. Padahal motifnya sama, reproduksi.

Kira-kira begitulah kalimat Jansen kepada Culapo. Mereka curhat soal kehidupan rumah tangga masing-masing. Tapi tidak seperti Culapo yang menduda, Jansen masih menikah secara sah, meski baru-baru ini ia menghadiahi bogem mentah untuk istrinya persis di muka. Indikasi awal perceraian, tentu saja. Dan menjadi lumrah bila ada di antara kita yang sempat bertanya-tanya “kenapa Jansen mau menceritakan masalah sesentimental ini ke Culapo?”, lebih dari sahabat, Culapo pernah mengalami perceraian. Jansen belum. Dalam konteks ini, Culapo tentu lebih paham. Ia lebih ‘senior’.

Adegan curhat pada bagian awal film ini begitu berkesan. Terlepas dari urusan teknis long take, yang mana sangat mempengaruhi konstruksi dialog antar dua tokoh sehingga terasa mengalir seumpama tanpa skrip, penggambaran karakter laki-laki dalam film ini ternyata lumayan kontras jika disandingkan dengan karakter laki-laki pada mayoritas film (Indonesia) lainnya. Patut diperhatikan bahwa keduanya pernah dan tengah terbentur masalah pernikahan yang kompleks. Sehingga janganlah mengharapkan sosok laki-laki yang senantiasa dicirikan sebagai subjek yang tangguh, tegas, pencari nafkah ulung, berwibawa, siap dengan solusi dalam keadaan apapun, dan lengkap dengan segala atribut kepala keluarga konvensional. Bahwasanya laki-laki juga mampu tenggelam oleh kegelisahan personal, laki-laki juga memiliki titik lemah yang mengharuskan mereka untuk bertukar cerita. Tanpa jalan keluar bukan masalah, yang penting kebutuhan untuk bercerita dan didengar, bukan malah dikhotbahi.

Dan itu cukup.

Sebagai laki-laki, posisi keduanya inferior. Namun bukan inferior seperti dalam film Berbagi Suami (2005) yang dengan gamblang menyatakan laki-laki berpoligami sebagai pecundang, setelah terbukti membalut motif syahwat dengan keinginan maha suci menunaikan ibadat. Laki-laki dianggap pecundang justru karena meletakkan posisi perempuan sebagai subordinat, sebagai fungsi komplementer, sebagai objek seksual. Singkat kata: laki-laki menjadi inferior di balik bayang semu akan superioritasnya terhadap perempuan. Berbagi Suami dengan tegas mematahkan utopia maskulinitas laki-laki SIap Antar jaGA.

Rocket Rain bertolak belakang. Inferioritas Culapo dan Jansen sebagai laki-laki justru dipicu oleh konflik batin masing-masing. Mereka dihadapkan dengan kegagalan berumah tangga, mereka mempertanyakan konsep pernikahan, jenuh dengan keluarga besar (khususnya Jansen) yang acapkali malah menambah masalah alih-alih membantu menyelesaikannya, lantas mereka butuh orang terdekat untuk bertukar cerita. Rocket Rain unik sebab menarasikan curhatan seputar masalah rumah tangga melalui perspektif laki-laki.

II

Berangkat dari premis laki-laki yang pernah (atau, dalam kasus Jansen, hampir) gagal membina rumah tangga, struktur film ini kemudian dapat ditelaah melalui kacamata psikologis. Terlebih dengan kehadiran dua karakter lain: Rain dan Pak Kancil. Dalam teori mengenai aparatus psikis paling primer yang dimiliki manusia, bapak psikologi modern Sigmun Freud mengklaim tiga elemen: id, ego, dan superego. Apa hubungannya dengan tokoh-tokoh dalam Rocket Rain? Representasi secara lugas.

Culapo dan Jansen tak lain ialah dua laki-laki dalam curhatan masing-masing yang dihimpit oleh idealisme dan realitas. Apa yang ideal menurut mereka tidak senada dengan kenyataan yang ada. Salah satu contoh paling konkret dapat dilihat kembali pada kalimat Jansen yang dikutip di bagian paling atas teks ini. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan Jansen lainnya yang kontemplatif, disambut dengan manifesto Culapo mengenai pernikahan itu sendiri. Pendek kata, dua laki-laki ini dapat diibaratkan sebagai ego. Sebagai anasir yang kerap bertanya, dilanda krisis identitas, tanpa berhasil menjawab, juga tanpa kepastian sikap.

Lalu Pak Kancil. Supir Culapo yang patuh pada norma-norma sosial. Pak Kancil digambarkan sebagai pribadi dengan segala komponen yang mewakili elemen superego. Etos kerja jempolan, mengilhami kearifan lokal dengan memohon restu dari memedi hutan di lokasi Culapo dan Jansen syuting, suami yang saklek lahir batin, serta senantiasa beriman kepada jamu kuat. Pak Kancil menjadi hasil internalisasi kultur lokal setempat. Ia menjadi bukti otentik atas produk konformitas sosial.

Dan Rain. Bocah antah berantah yang menunggangi roket. Tidak ada informasi tentang asal-usul anak ini. Kadang pulang ke hutan, kadang naik roket ke bulan. Yang jelas, Rain adalah id. Penuh dengan hasrat dan naluri spontan. Satu-satunya karakter yang impulsif. Hampir seluruh dialog Rain tercetus begitu saja tanpa terlebih dahulu diproses logika. Ketika mobil yang ditumpanginya melindas seekor tikus, Ia langsung berteriak minta berhenti. Ketika sedang melihat-lihat tanaman di toko, Ia menamai vagina untuk beberapa tanaman tertentu. “Lidah vagina, sayap vagina, ekor vagina” dan seterusnya. Rain ialah insting yang muncul sebagai stimuli, sekaligus antitesis terhadap Pak Kancil.

Sayangnya, jika merujuk pada teori psikologi barusan untuk membaca Rocket Rain, ada beberapa adegan yang agaknya inkonsisten dengan salah satu karakter, tepatnya Pak Kancil. Dalam adegan di mana mereka berempat sedang mengendarai mobil melintasi areal perkebunan yang gelap, Pak Kancil tergoda untuk mematikan lampu mobil. Ini jelas impulsif. Pak Kancil takluk oleh dorongan eksternal dan secara sadar memilih untuk mematikan lampu. Adegan ini tidak berlangsung lama, namun cukup lama untuk memperkuat pernyataan akan inkonsistensi karakter Pak Kancil. Tentunya jika kita ingin menggunakan perumpamaan tiga teori Freud pada masing-masing karakter. Atau barangkali pembuat film ingin mengutarakan bahwa dalam persona superego sekalipun, masih tersisa naluri spontanitas yang sejatinya hanya dimiliki persona id. Siapa tahu?

Namun sebaliknya, ada adegan lain ketika Jansen mencuri-curi minum sisa jamu Pak Kancil setelah sebelumnya malu-malu saat ditawari. Ini mutlak mengafirmasi persona ego dalam diri Jansen.

++

Apabila diteropong menggunakan sudut pandang yang jauh berbeda, murni melihat potongan-potongan fragmen film, Rocket Rain nampak sebagai rangkaian alusi berbalut humor. Komposisi visual yang dikombinasikan dengan rangkaian animasi pada beberapa adegan dapat dikorelasikan dengan alat kelamin dan (tentu saja) kegiatan seksual. Shot demi shot pada lubang besar di batang kayu, air terjun, pepaya, jelly, telur, semak belukar tempat Culapo berlari dari tepi ke tepi, seluruhnya dapat diterjemahkan dalam satu objek: vagina.

Penggabungan seluruh visual tadi ialah ungkapan implisit mengenai vagina berbulu: ‘belukar’ dan ‘basah’. Dan tidak hanya objek latar, posisi (blocking) para pemain pun turut mendukung upaya penggambaran organ kelamin. Ingat adegan ketika Culapo dan Jansen menggendong Rain di pinggir taman bunga sambil berteriak “ini vagina, itu vagina”? Bayangkan siluet mereka bertiga. Posisi Culapo dan Jansen akan membentuk serupa dinding vagina, sementara Rain yang digendong dengan kaki menjuntai di tengah akan menyerupai klitoris. Dan memang benar: vagina ada di mana-mana, tidak terkecuali pada tokoh.

Lalu bagaimana dengan kegiatan seksualnya? Senam. Ingat gerak-gerik tubuh Culapo yang memimpin senam? Tidak mengagetkan melihat reaksi penonton yang terpingkal karena gerakannya sama sekali tidak memenuhi standar untuk dianggap sebagai gerakan senam. Tentu saja ini bukan gerak senam dan tentu saja penonton tidak sedang mengkualifikasi gerak senam yang sahih. Gerak senam? Ini gerak sanggama. Sekuens senam pertama (di pantai) menandakan kegiatan seksual, sedangkan sekuens berikutnya (di perbukitan) menggambarkan kegiatan after-sex.

Seluruhnya dikemas begitu implisit. Dan jika yang implisit macam begini masih dirasa kurang, sedangkan animasi dildo, sex toys lain, dan vagina masih juga belum cukup vulgar, silakan menyimak adegan berasyik masyuk Pak Kancil dengan istrinya untuk cita rasa yang jauh lebih eksplisit.

Eskalasi implisit-eksplisit narasi seksual merupakan pola tersendiri di dalam Rocket Rain. Logis seandainya pola ini dimaksudkan untuk memperkuat fondasi psikologis masing-masing karakter (walaupun pada akhirnya belum cukup berhasil), atau menjadi klimaks yang memperjelas dugaan-dugaan penonton terhadap simbolisasi seks yang tersebar acak sepanjang film. Selain itu, tidak ada alasan lain yang rasanya cukup kuat. Sekadar spekulasi sederhana. Seperti misalnya adegan penutup: penyu bertelur—yang sukses membuat saya mangap sampai menjelang credit title dan menggeret saya ke kolom pencarian Google. Seandainya saya boleh berspekulasi, barangkali justru adegan penyu bertelur itulah yang paling penting, adegan itulah sintesisnya. Adegan ini menambahkan satu elemen esensial dalam sebuah keluarga ideal yang absen sepanjang film: keturunan. Memang tidak diceritakan apakah Culapo dan Jansen memiliki anak. Curhat keduanya begitu subtil. Terlalu subtil sehingga jangan-jangan bukan itulah pokok permasalahan yang sesungguhnya. Cerai hanya tuntutan formal, namun bagaimana jadinya nasib anak mereka? Lagi, ini hanya asumsi belaka.

Dan barangkali memang beginilah gaya sutradara Anggun Priambodo mengemas filmnya: kombinasi video art dan dokudrama; distorsi dan melankolia.

Maka sebagai film komedi plusplus, Rocket Rain relatif berhasil. Humor-humor ‘gelap’ timbul tenggelam secara konsisten sepanjang film. Namun tetap relatif, karena latar belakang audiens tentu memiliki pengaruh yang signifikan dalam merespon humor yang disajikan. Boleh jadi film ini begitu menghibur bagi audiens yang sudah menikah, atau pernah menikah. Lantas garing bagi audiens yang masih asing dengan pernikahan.

Dan sebagai film panjang pertama sutradara Anggun Priambodo, Rocket Rain belum cukup memberi pijakan yang kokoh. Kepastian sikap dua tokoh utama tidak diberi penekanan yang jelas, atau mungkin malah tidak ada sama sekali. Meski menjadi mafhum apabila pembuat film sengaja tidak memberi kejelasan sikap atas dasar alasan pribadi yang sentimental. Walhasil dengan absennya kejelasan sikap, sulit untuk menyikapi film ini sebagai kumpulan montase utuh yang digarap secara serius.

Rocket Rain | 2013 | Durasi: 99 menit | Sutradara: Anggun Priambodo | Negara: Indonesia | Pemain: Anggun Priambodo, Tumpal Tampubolon, Rain Chudori, Narpati Arwangga

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (1)
Share

Send this to a friend