Objectified: Ketika Desain Bukan Lagi Sekadar Wujud Fisik

Objectified

Kenapa pengupas buah di seluruh dunia serupa? Kenapa gagangnya selalu besar dan dilapisi oleh karet? Di bagian pembukanya, Objectified, sebuah dokumenter karya Gary Hustwit tentang desain produk, menjawab kedua pertanyaan tersebut. Usut punya usut, pengupas buah sejatinya didesain untuk para pengidap artritis. Apabila kamu mengidap artritis, sendi-sendi ototmu seringkali kaku dan meradang. Oleh karenanya, menurut seorang narasumber, gagang pengupas buah haruslah besar dan dilapisi oleh materi yang mudah dipegang. Konsekuensinya: para pengidap artritis tidak perlu mengeluarkan tenaga banyak dalam menggunakan pengupas buah, mengingat sendi-sendi tangan mereka tidaklah terlalu optimal. Narasumber tersebut kemudian beropini, “Logikanya: apabila desain ini mudah digunakan oleh pengidap artritis, berarti semua orang dapat menggunakannya.”

Dari bagian pembuka tersebut, Objectified menyodorkan sebuah kutipan bagi para penonton,  “Setiap objek punya ceritanya sendiri, asal kamu tahu cara membacanya bagaimana.” Kutipan tersebut menjadi premis yang mendasari keseluruhan Objectified. Jonathan Ive, seorang narasumber dari Apple, menjelaskan kebijakan di balik produk-produk Apple. Ive mengatakan bahwa produk perusahaannya cenderung punya fitur yang beragam dalam sebuah kemasan yang portabel. Kebiajakan yang Ive terapkan adalah menyusun beragam fitur tersebut dalam sebuah hierarki. Fitur utama ditonjolkan di fisik produk, seperti desain iPhone yang memfokuskan mata pengguna pada layar sentuhnya. Fitur-fitur pelengkap disamarkan dalam fisik produk, dan hanya akan muncul apabila dibutuhkan, seperti lampu indikator pada MacBook Air.

Ive hanyalah satu dari sejumlah desainer produk kelas dunia yang penonton saksikan sepanjang Objectified. Masih ada Dieter Rams (Braun), Chris Bangle (BMW), dan beberapa desainer independen. Mereka semua menjelaskan bagaiamana pendirian mereka sebagai desainer produk, dan bagaimana pendirian tersebut akhirnya menular ke dalam produk-produk yang mereka desain. Ada satu konsistensi yang dapat dideteksi dalam pendapat para narasumber tersebut. Mereka semua seperti sepakat bahwa desain yang baik adalah justru desain yang tidak mencolok. Sebuah produk yang baik tidak memamerkan segala fiturnya, tapi hanya memfokuskan fiturnya pada kebutuhan utama pengguna. Fitur-fitur pelengkap diadakan hanya dan hanya jika fitur-fitur tersebut tidak mengganggu penggunaan fitur utama sebuah produk. Sederhananya, bentuk produk mengikuti fungsi. Filsafat itulah yang mendasari kerja para desainer tersebut. Filsafat itu juga yang mereka pegang untuk membuat para konsumen tertarik dengan buah karya mereka.

Objectified tidak berhenti di wawancara desainer produk saja. Sepanjang 75 menit durasi film, Objectified terus menerus memperluas bahasannya. Perluasan pertama terlihat ketika film menjelaskan bagaimana kita para konsumen terhubung dengan produk-produk yang kita beli. Setiap wawancara narasumber selalu diselingi oleh adegan orang-orang memilih produk di pusat-pusat perbelanjaan. Melalui selingan tersebut, Objectified menggambarkan sebuah rantai sebab-akibat. Di satu sisi, ada sekelompok kecil desainer produk, yang secara obsesif meneliti kebutuhan para konsumen, lalu mewujudkannya menjadi sebuah produk yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Di sisi lain, ada massa besar yang menjadi pasar bagi para desainer produk tersebut, atau dalam kebanyakan kasus, perusahaan tempat para desainer tersebut bekerja. Dalam bingkai ini, desain bukan lagi sekadar wujud fisik suatu produk, tapi suatu komoditas yang dipasarkan.

Perluasan kedua terlihat di sepertiga akhir film. Sejumlah pengamat bergantian menyampaikan sejumlah isu tentang objek-objek yang kita beli sehari-hari. Ada yang bertanya bagaimana obsesi konsumen dengan barang baru akan mempengaruhi lingkungan alam. Bukankah dengan membeli barang baru, kita membuang barang lama dan berkontribusi menciptakan polusi? Apakah industri mempertimbangkan penggunaan materi ramah lingkungan dalam produk-produknya? Ada juga yang bertanya bagaimana desain mempengaruhi kebijakan negara. Mengingat desain produk terkait dengan kebutuhan massa, apakah desainer ke depannya akan memegang peranan penting dalam kebijakan negara? Apakah mungkin desainer ke depannya akan menjadi semacam intelektual baru?

Perluasan pembahasan yang terjadi dalam Objectified di satu sisi menjadikan film tersebut seperti tidak punya pendirian. Pembuat film Objectified kesannya tidak tahu sebenarnya ingin berargumen apa. Sangat disayangkan, mengingat menjelang akhir film ada tensi tersendiri antara produk yang efisien, produk yang memang tepat guna dengan kebutuhan konsumen, versus produk yang tidak efisien, produk yang tidak tepat guna atau sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan konsumen. Hal tersebut terlihat ketika di sepertiga akhir film Objectified bicara tentang polusi dari barang-barang yang kita buang. Sayangnya, hal tersebut tidak disokong oleh pertengahan awal film yang hanya mendeskripsikan produk-produk istimewa dari merk-merk kelas dunia. Pertengahan awal Objectified seperti hanya menjadi etalase dari produk-produk istimewa tersebut, dan sedikit sekali menyentuh realita lain tentang produk-produk lain yang tidak ‘istimewa’, yang sejatinya lebih banyak mengisi hidup manusia. Seperti ada keterputusan antara awal dan akhir film.

Terlepas dari dampaknya terhadap keutuhan film, pertanyaan-pertanyaan yang Objectified ajukan memang tepat dengan situasi jaman. Dirilis tahun 2009, Objectified hadir di tengah dunia yang sedang disibukkan oleh isu pemanasan global, yang salah satunya disebabkan oleh industri dan limbah material yang dihasilkannya. Di saat yang sama juga, berita tentang inovasi teknologi, yang jelas berpengaruh pada desain produk, menjadi santapan sehari-hari masyarakat dunia. Orang berlomba-lomba membeli barang baru dan mengabaikan barang lama. Sekarang, dua tahun setelah Objectified dirilis, masyarakat dunia masih menghadapi isu yang sama, dan belum juga menemukan jawaban untuk masalah-masalah yang timbul dari perkembangan peradaban tersebut. Berdasarkan situasi jaman sekarang, Objectified menjadi relevan. Melalui film tersebut, kita dapat memahami mekanisme di balik budaya konsumerisme sekarang.

Objectified | 2009 | Sutradara: Gary Hustwit | Negara: Amerika Serikat | Narasumber: Paola Antonelli, Chris Bangle, Andrew Baulvelt, Jonathan Ive, Dieter Rams

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (1)
Share

Send this to a friend