Memetakan Kompleksitas Kajian dan Teori Film, Bagian 3

memetakan-kompleksitas-teori-film-03_highlight

David Bordwell, salah satu pelopor pendekatan film kognitif.

Munculnya Kerangka Neoformalisme dalam kajian film

Di balik kemarakan intervensi cultural studies dan psikoanalisa-Marxian ke dalam kajian sinema, jumlah ilmuwan yang mempelajari arstitektur formal sinema dan wacana fim-sebagai-seni tetaplah banyak. Buktinya, mereka muncul lagi ke permukaan di bawah bendera ‘Neoformalisme’.

Bersamaan dengan tenarnya semiotika strukturalis dalam kajian film tahun 1960-an, ketertarikan untuk mengkaji kembali formalisme Rusia muncul di Barat. Diterjemahkannya karya-karya Viktor Skhlovsky serta beredarnya kembali esai-esai Eisenstein tak pelak memicu kegiatan kritik film untuk berjalan paralel dengan tradisi new criticism di sektor sastra. Memang, formalisme klasik Rusia sudah begitu sering didaku oleh para semiolog film sebagai inspirasi yang mendasari teori mereka, namun neoformalisme melahirkan inovasi yang sama sekali lain dari karya-karya agung Eisenstein, Pudovkin, dan Arnheim tersebut. Neoformalisme sama sekali tidak keluar ‘kemana-mana’, ia hanya tertarik pada kajian artistik film itu sendiri; bahasa sinematik, aspek naratif, gaya konstruksi, dan relasi antara konstruksi formal dari film dengan pengalaman (psikologis) penonton film itu sendiri.

Orang pertama yang memperkenalkan usaha-usaha neoformalis adalah Victor F. Perkins lewat bukunya Film as Film (1972). Meskipun belum menggunakan label ‘neoformalisme’, Perkins sudah bersikeras dengan pendapat bahwa film harus dikaji tanpa ada kaitan dari disiplin ilmu dan seni yang lain. Ia mencari celah agar kita bisa menganalisa film dari sudut pandang yang paling ontologis. Label ‘neoformalisme’ baru resmi diperkenalkan oleh para ilmuwan film dari Universitas Wisconsin-Madison, seperti David Bordwell dan Kristin Thompson.

Asumsi-asumi neoformalis berkerja dengan didasarkan pada dua hal: cinematic poetics dan historical poetics. Kedua konsep ini diadopsi kedalam konteks dimana film diproduksi lewat sebuah mode praksis yang akhirnya berpengaruh pada interaksi gaya dan naratif dan berujung pada film secara keseluruhan. Pendekatan neoformalis Bordwell dan Thompson paling kentara terbaca lewat buku mereka, Film Art, yang edisinya sudah diperbaharui sebanyak sembilan kali sejak pertama terbit tahun 1977. Thompson menerbitkan Eisenstein’s Ivan the Terrible: A Neoformalist Analysis dan Breaking Glass Armor sebagai manifestasi konkret metode analisis neoformalis terhadap sebuah film atau beberapa film ‘movement’, sementara Bordwell banyak menyoroti tradisi poetic dalam karya-karya Carl Theodor Dreyer dari Denmark serta Yasujiro Ozu dari Jepang. Bersama Thompson dan Janet Steiger, Bordwell menggali historiografi sinema secara detail dalam buku Film History: An Introduction. Neoformalisme membawa Bordwell dan Thompson menjadi pasangan pemikir film paling subur sepanjang abad ke-20 bahkan hingga hari ini. Tidak berhenti di Neoformalisme, tulisan-tulisan yang dipublikasikan Bordwell khususnya pada tahun 1985 ternyata menjadi tonggak penting lahirnya pendekatan baru, yang kemudian dikenal dengan ‘pendekatan film kognitif’.

Psikologis, Empiris, dan Faktual: Pendekatan Kognitif Terhadap Teori Film

Dalam Narration in the Fiction Film (1985) Bordwell mengembangkan teori naratif formalisme Rusia ke dalam dimensi yang sama sekali baru. Dimensi ini mengintegrasikan cara memahami narasi dan narasi yang terkandung dalam sebuah film atau karakteristik dari genre atau movement film tertentu seperti Soviet Montage Cinema (Eisenstein dkk) atau French New Wave (Godard, Truffaut dan Rohmer). Teori ini berangkat dari konsep psikologi kognitif yang digagas ilmuwan blasteran Austria-Inggris E.H Gombrich. Lebih lanjut, Bordwell memperkenalkan sebuah konsep yang dinamakan schemata. Schemata adalah konsep yang diadopsi dari psikologi kognitif yang intinya adalah sebuah sistem pengorganisiran informasi kedalam kategori-kategori yang akan dipergunakan kembali ketika kita menemukan situasi baru dengan informasi baru pula agar proses pemahaman kita terhadap situasi dan informasi baru tersebut menjadi lebih mudah. Dalam konteks menonton film, schemata berfungsi sebagai sebuah mekanisme psikologis yang berusaha menjelaskan proses penarikan kesimpulan dan komprehensi cerita ketika kita menonton film-film naratif.

Menurut pendekatan kognitif Bordwell ini, menonton film bukanlah merupakan pengalaman yang komplet. Penonton tidak akan disuapi secara otomatis oleh total keseluruhan cerita (story) yang disampaikan, atau disebut fabula dalam bahasa formalis Rusia, sehingga penonton menggunakan schemata untuk mengorganisir informasi lewat plot yang diberikan dalam aransemen fillm tersebut  (disebut sebagai syuzhet) hingga menghadirkan representasi mental yang koheren. Schemata bisa diidentifikasi dari petunjuk-petunjuk yang terdapat di sekujur plot. Hadirnya petunjuk ini tak dapat lepas dari bahasa atau gaya sinematik yang digunakan untuk menemani pengalaman audiens selama menonton. Namun petunjuk bukanlah keseluruhan cerita. Petunjuk meninggalkan banyak sekali ruang kosong untuk diisi oleh penonton. Keberadaan ruang kosong ini memungkinkan penonton untuk menarik semacam kesimpulan, dan kesimpulan itu akan digunakan kembali itu mengisi ruang kosong tadi.

Seiring film bercerita, penonton akan melihat berbagai peristiwa dalam plot. Penonton merangkai ulang kejadian tersebut, merunut kembali urutan dan pola relasinya sehingga membentuk keseluruhan cerita (fabula). Namun, karena kegiatan ini berlangsung selama proses menonton, yang artinya film bisa saja berbelok arah kemanapun ia mau, maka penonton juga harus terus menarik kesimpulan. Tak jarang kesimpulan itu salah, diperbaiki kembali, lalu lahir hipotesis baru, meruntuhkan kembali hipotesis, bahkan tak jarang penonton harus membuang kesimpulan yang sudah ada sebelumnya demi mencapai pemahaman atas sebuah film.[1] Ada film yang gemar mengkhianati hipotesis penontonnya sehingga penonton harus melahirkan kesimpulan lagi dan lagi.

Sampai di sini, Bordwell telah memperkenalkan teori yang berbasis pada psikologi kognitif yang konstruktifis dalam rangka memahami bagaimana faktor intrinsik sinema bekerja merangsang pengalaman dan sensasi senang penontonnya. Bordwell masih tetap membela kepentingan-kepentingan formalisme klasik beserta teori-teorinya, hanya saja sekarang ia menyeret penonton untuk ikut serta.

Namun, seperti juga tren intelektual yang sudah-sudah, inovasi Bordwell juga tak jarang dilempari kritik, terutama dari mereka yang masih keukeuh menganut wacana psikoanalisa-Marxisme-Lacanian-Althusserian-Postrukturalis, yang secara nyata lebih memihak pada aspek interpretasi dalam menganalisa film. Sebagai respon, Bordwell berkolaborasi dengan Nöel Carroll untuk menulis semacam manifesto dengan kedok antologi. Mereka memberinya judul Post-Theory: Reconstructing Film Studies (1996), judul yang terhitung sangat provokatif. Karya terbitan tahun 1996 tersebut diilhami oleh karya-karya mereka berdua sebelumnya, seperti A Case for Cognitivism (1989) karya Bordwell dan Mystifying Movies (1988) karya Carroll. Dalam karya nan kontroversial tersebut, Bordwell dan Carroll menyebutkan bahwa kognitifisme adalah sebentuk alternatif bagi teori film kontemporer, yang mendasarkan dirinya pada eksplanasi psikologis yang bersifat kognitif atas alam pikiran, emosi, dan tindakan, yang cenderung berlawanan dengan psikoanalisa, Marxisme, dan posmodernisme dalam hal interpretasi makna.

Para pendukung tradisi terdahulu pun balik mengkritik Bordwell dan Carroll, dua orang ini dinilai terlalu reduksionis, dingin, dan tentu saja sombong. Warren Buckland contohnya, dengan penuh nafsu mempublikasikan tulisannya Critique of Poor Reason di jurnal film Inggris Screen dalam rangka mendebat Mystifying Movies-nya Nöel Carroll beserta semua karakteristik kognitif yang dipanggulnya.  Carroll menyangkal semua kritikan itu dengan Cognitivism, Contemporary Film Theory and Method: A Response to Warren Buckland yang ditolak oleh jurnal Screen untuk diterbitkan. Ada rumor bahwa penolakan Screen tersebut sebenarnya dididasari oleh ketidak-setujuan epistemologis mereka dengan teori-teori kognitif Nöel Carroll sendiri. Tulisan ini pastinya bukan tempat yang tepat untuk membahas perdebatan alot panjang lebar antara para penganut pendekatan kognitif dan ‘lawan-lawan intelektual’ mereka, tapi saya kira cukuplah dengan mengatakan bahwa pendekatan film kognitif tidak selalu diterima dengan mudah oleh banyak pakar dalam arena kajian film.

Terlepas dari segala kegaduhan teoritis ini, Bordwell dan Carroll telah berhasil memperluas jangkauan pendekatan film kognitif sehingga hari ini, pendekatan itu telah begitu familiar dipakai di berbagai universitas di Eropa dan Amerika Serikat. Gerakan intelektual ini telah mewujud dalam setiap karya yang menjadikan teori Bordwell dan Carroll sebagai kerangka berpikirnya. Secara perlahan, pendekatan kognitif ini juga sudah ramai dilibatkan dalam seminar, jurnal ilmiah, dan lain-lain. Salah satu yang paling masyhur adalah Society for Cognitive Studies of the Moving Image (SCSMI) dimana Bordwell berandil besar dalam pendiriannya. Setiap tahun, para aktifis institusi ini bertemu dan mempresentasikan karya-karya mutakhir mereka.

Secara keseluruhan, hadirnya pendekatan film kognitif telah berdampak pada banyak hal, terutama perbedaan cara dalam memandang sinema. Hal ini tentu tak terlepas dari disiplin ilmu yang melatari perkembangannya, seperti neurological science, cognitive science, evolutionary biology, evolutionary psychology, dan juga metode kritik neoformalisme sebagai poros konseptual yang paling penting. Bahkan sekarang ini, ilmuwan Uri Hasson tengah mengembangkan apa yang ia sebut ‘Neurocinematics’[2], salah satu varian generik yang paling anyar dari pendekatan film kognitif.

Tulisan ini aslinya dalam bahasa Inggris, dengan judul Film Studies and Film Theory: Mapping Out the Complex Terrain From Russian Formalism to the Cognitive Approaches. Diterjemahkan oleh Makbul Mubarak, bagian ini adalah yang kedua dari keseluruhan empat bagian yang akan disyiarkan. Bagian pertama dapat diakses di sini, bagian kedua di sini. Daftar pustaka akan disertakan dalam bagian yang terakhir.


[1] David Bordwell, Narration in the Fiction Film (Madison, Wisconsin: University of Wisconsin Press, 1986) hal. 36.

[2] Uri Hasson, Ohad Landesman, Barbara Knappmeyer, Ignacio Vallines, Nava Rubin, dan David J. Heeger, “Neurocinematics: The Neuroscience of Film.” dalam Projections: The Journal of Movies and Mind, Volume 2, edisi pertama, musim panas 2008, hal. 1-26.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (2)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend