Kado Hari Jadi: Ketika Pelaku dan Korban Setara

kado-hari-jadi-film_hlgh

Sebaik apapun film horor, mistis atau slasher, dalam soal karakterisasi ia akan selalu formulaik. Jika itu film tentang arwah penasaran dan mencari korban, pasti si hantu akan mencari korban yang memiliki ciri spesifik yang mirip dengan orang yang dulu membunuh atau memperkosanya—atau memang langsung mencari pelakunya sendiri. Jika film itu tentang sekelompok anak yang nekat memasuki rumah kosong tempat sang hantu bersemayam, pasti mereka akan mati satu-satu dengan cara yang nyeleneh, dan rekaman perjalanan mereka nantinya akan dinikmati oleh kita yang masih hidup di tempat lain.

Si korban, atau si anak-anak ingusan petualang itu agaknya tidak pernah bersalah—toh, ini hanya soal kesamaan dan kebetulan saja mereka sedang sial. Andaikata mereka bersalah di masa lalu pun, pembalasan dendam si demit terasa lebih kejam dari yang semestinya. Pendeknya, personifikasi si pembunuh—atau penyiksa—dengan gaun putih yang melayang-layang, wajah dingin, lumuran darah atau gergaji mesin tidak pernah membuat kita, sebagai penonton, simpatik. Saat ia muncul sebagai pembunuh yang haus darah, kita kehilangan kesempatan untuk mengetahui motif mengapa ia membunuh. Terkadang pula, sang korban tidak tahu mengapa ia pantas diburu. Hanya penonton yang tahu, namun sayangnya, si monster tetap tampil impersonal dan melampai manusia sehingga kita tetap bersimpati pada si korban.

Tapi tidak ada hantu di Kado Hari Jadi. Balas dendam itu tidak pula dilakukan oleh seorang psikopatik, yang aksi pembunuhannya merupakan kompensasi atas cara ia dibesarkan atau trauma masa lalu. Memang ada penyiksaan luar biasa yang juga bisa didapat dalam film-film kriminal. Namun, jika penyiksaan di film itu niatnya adalah ancaman belaka atau eksekusi, di film ini cara dan objek (baca: bagian tubuh) yang disiksa sangat personal, dan setimpal dengan apa yang terjadi pada orang terdekat si pelaku. Seiring film berjalan, masa lalu pun terungkap dan kita semakin berempati dengan para karakternya.

Cerita dibuka dengan deskripsi ruang penyiksaan. Seorang laki-laki bernama Yoga (Rifnu Wikana) terduduk di kursi besi. Tangannya terikat di belakang sementara di depan matanya terdapat sebuah pensil tajam dan silet di atas kepalanya. Seluruh proses penyiksaan tersebut terlihat direncanakan dengan matang; rumah kosong, kursi besi berborgol, dinding kayu yang bisa dibor, sampai video yang merekam seluruh proses penyiksaan itu. Hingga kira-kira seperempat film kita masih menebak-nebak apa alasan ia diseret dari kamar kosnya dan menjadi bulan-bulanan Tika (Kartika Jahja), karakter perempuan haus darah di film ini.

Cerita pun beralih pada pesta ulang tahun pernikahan yang pertama. Pesta itu berjalan sampai Adam (Jeffrey Sirie), suami Tika, dan Luki (Yoggie Richard) mengalami kecelakaan dalam perjalanan membeli minuman. Keduanya masing-masing lumpuh dan meninggal, sementara Yoga, si pelaku tabrak lari, kabur. Suatu ketika Adam yang tiba-tiba bangun dari koma, menuliskan nomor mobil yang menabraknya, dan perburuan pun dimulai.

Ketika film dimulai dan berjalan beberapa lama, Kado Hari Jadi terkesan seperti film eksploitasi biasa. Ruang penyiksaan, ekspresi korban yang duduk di kursi pesakitan yang disiksa dengan cara yang melampaui nalar, darah dan alat penyiksaan disorot secara detail, dan wajah dingin si penyiksa memberi petunjuk yang mengarah ke sana. Aspek yang paling penting bagi praduga ini adalah bagaimana adegan-adegan awal itu membentuk persepsi atas penyiksaan yang seakan-akan tanpa motif. Namun, setelah film berkembang sampai sekian menit, praduga tersebut hilang. Ruangan itu berubah menjadi ruang yang amat personal dan traumatik; televisi diseret ke situ dan menampilkan rekaman video pesta ulang tahun pertama pernikahan Tika dan Adam. Seketika itu pula, Yoga, si korban, mengetahui alasan di balik seluruh peristiwa ini, dan tangis Tika pun pecah, mengingat apa yang ia lakukan pada Yoga tidak akan bisa membuat suaminya kembali normal.

Toh, walaupun tak tampak, Tika agaknya melakukan kompromi dengan Elly yang betul-betul kehilangan Luki: Yoga harus dibuat betul-betul tak berdaya, dibuang ke hutan, dan memutuskan nasibnya (baca: diberi pilihan) sendiri dengan silet yang sudah mereka sediakan. Saat Irma menemukan tempat itu dan hanya mendapati darah yang masih menetes, rasa kehilangannya sama dengan Tika dan Elly.

Struktur narasi film ini pun tidak menampilkan peristiwa langsung berdasarkan kausalitas secara telanjang—misalnya melalui skema pesta-kecelakaan-kematian-balas dendam—melainkan lewat plot non-linear dimana urutan peristiwa ditempatkan secara kronologis berdasarkan perkembangan emosi para karakternya. Pada titik ini pula kita bisa membaca motif penyiksaan itu. Kita pun tahu akhirnya bahwa seluruh kekerasan dalam film ini tidak berdasarkan kesenangan psikotis belaka.

Departemen kamera film ini bekerja dengan baik. Seluruh gambar dalam ruang pesakitan yang diambil dengan gaya dokumenter memberi kesan riil dan efek tidak nyaman bagi penonton. Pesta ulang tahun pernikahan Tika juga disorot dengan cara yang kurang lebih mirip dengan home video. Begitu pula dengan beberapa pengadeganan yang menceritakan pencarian Irma terhadap Yoga, meskipun dengan kualitas gambar yang lebih halus. Penyejajaran dua peristiwa pertama dalam rangkaian cerita itu berefek ironis karena di situ keriangan pesta berdampingan dengan momentum yang menyedihkan, yaitu kematian.

Tatkala Tika menyeret TV yang menampilkan rekaman video pesta tersebut ke hadapan Yoga yang muncul adalah perasaan bersalah yang dalam bagi Yoga. Penyiksaan itu tidak hanya sangat nyata bagi Yoga, tapi juga bagi Tika dan teman-temannya. Yoga pun lantas menyadari jika ia akan bernasib sama dengan suami Tika—lumpuh tak berdaya dan sekadar menunggu mati saja—dan Irma, kekasihnya, akan mengalami kehilangan yang serupa dengan Tika. Seluruh urutan gambar dalam film ini bermuara pada satu kesimpulan bahwa kegembiraan hari jadi, penyiksaan, dan kehilangan berdiri sendiri-sendiri tanpa bisa saling menggantikan karena semuanya sama-sama riil. Ketidaknyamanan penonton yang dipicu oleh gaya kamera itu pun serta-merta beralih pada satu hal lain, yang (seharusnya) sama riilnya dengan eksploitasi darah dan kekerasan di film horor pada umumnya: kedalaman karakter itu sendiri.

Kesan riil dalam film horor bukanlah hal baru. Tantangan bagi horor untuk mengelabui penontonnya sebetulnya sudah dimulai saat penonton tahu bahwa segala macam demit, pembunuhan, penyiksaan, dan kematian adalah semata akal-akalan efek gore, permainan canggih kamera, dan teror suara. Tantangan itu dijawab dengan melampaui batas-batas antara film dan kehidupan nyata, misalnya dengan pendekatan dokumenter. Film snuff, atau film-film seperti Cannibal Holocaust (1980) dan Blair Witch Project (1999) selalu menempatkan karakter utamanya sebagai dalam posisi diburu, disiksa, dan akhirnya dibunuh dengan kejam, berharap seakan-akan penonton akan mengalami teror yang sama.

Namun, pemberian kesan riil itu tidak pernah menyentuh riwayat karakter antagonisnya. Yang direproduksi melalui kesan riil itu adalah imaji mistisnya, kekejamannya, pendek kata, mitos ketidaktersentuhannya. Imaji inilah yang terus diolah sebagai spectacle yang seru dan selalu memberikan kejutan sepanjang film. Sebaliknya, Kado Hari Jadi justru mengambil posisi yang sebenarnya sangat tidak aman dengan menghancurkan mitos subjek antagonis itu (atau adakah antagonis yang tetap dalam film ini?), karena ceritanya beresiko menjadi drama tearjerker biasa tentang cinta dan kehilangan. Saat sang penyiksa digambarkan sebagai subjek yang rapuh (misalnya dengan menangis di hadapan korban), sementara pihak yang disiksa menyadari hal itu dan tetap diberi pilihan untuk menghabisi dirinya sendiri, film ini berhasil membawa penonton pada kesakitan dan (potensi) kehilangan yang ditanggung oleh para karakternya. Kekerasan terhadap tubuh, pada akhirnya hanya menjadi katarsis bagi diri mereka sendiri, termasuk Yoga, sejak kekerasan itu adalah hal yang paling logis untuk melepaskan penderitaan, walaupun tidak akan pernah menggantikan kehilangan. Yoga pun memilih mati karena sudah sangat tak berdaya, namun jika seandainya pun ia bisa keluar dari pembuangannya di hutan, sepertinya ia tidak mau membuat Irma menanggung penderitaan seperti Tika, dengan kembali sebagai orang lumpuh dan cacat.

Walaupun dengan resiko yang telah saya sebut seperti di atas, pemahaman mendalam antar karakter inilah yang dimunculkan oleh Kado Hari Jadi dan sayangnya tidak ada (atau dikorbankan demi spectacle?) dalam film horor lainnya, termasuk horor Indonesia. Dikotomi pelaku-korban pun semakin kabur.

Dengan akhir yang dramatis seperti itu, Kado Hari Jadi ingin mengajak penontonnya berempati dengan karakter-karakter di dalamnya, terutama para karakter perempuannya. Seluruh peristiwa di dalamnya digerakkan oleh insting manusia normal ketika berhadapan dengan kehilangan orang terdekat, jika bukan insting yang destruktif dan nihilistik. Ketika penyiksaan itu usai, dendam dan kesakitan itu mungkin masih ada di sana, bersama kehilangan itu. Pesta ulang tahun pernikahan, kematian orang terdekat, dan penyiksaan dan darah yang bermuncratan di sana-sini menjadi metafor bagi kehilangan tapi tak bisa menebus kehilangan itu sendiri.

Kado Hari Jadi | 2008 | Sutradara: Paul Agusta | Produksi: Houseofwaves Productions | Negara: Indonesia | Pemeran: Kartika Jahja, Yoggie Richard, Jeffrey Sirie, Hukla Turangan, T Rifnu Wikana

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (2)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend