Indie Bung!!: Bedanya Independen dengan Belum Mapan

indie-bung-film-pendek_highlight

Awalnya, kata ‘indie’ muncul untuk menyebut film-film yang diproduksi bukan oleh rumah produksi besar. Acuannya pada urusan kantong, alias ‘indie’ untuk biaya produksi. Semakin lama, definisi indie justru lebih identik dengan semangat yang terkandung di dalamnya. Mulai dari ide, gagasan, hingga teknik penggarapan. Film indie mulai lekat dengan karakternya yang bebas dan berani. Karena punya ruang yang lebih luas untuk bermain-main dengan gagasan, film indie seharusnya lepas dari pakem-pakem konvensional, menawarkan kebaruan dan kesegaran konsep.

Sayangnya konsepsi film indie sendiri masih terjebak dalam dua pandangan pesimis. Pertama, ia sering dianggap sebagai miniatur dari tayangan-tayangan bioskop dan televisi. Film indie diibaratkan sebagai film bioskop yang tidak mampu diproduksi dengan profesional (utamanya karena alasan dana), sehingga harus dipindahkan ke medium yang lebih sederhana. Kedua, karena ia hanya tiruan maka wajar saja bila persiapan, kematangan ide, penggarapan teknis, dan dana produksi menjadi lebih minim. Tak apa pula bila hasil akhirnya sangat ala kadarnya. Karena kualitas barang tiruan tak lebih baik dari barang aslinya, kurang lebih seperti itu. Selalu ada kata maklum untuk film indie.

Indie Bung!! mengajak penonton untuk mempertanyakan kembali esensi kata ‘indie’. Dengan menggunakan teknik metafilm, yakni film-dalam-film, penonton diajak melompat bolak-balik dari dunia nyata ke dunia film. Dunia nyata ialah dunia Imam dan Anto. Dua anak muda ini bercakap-cakap di sebuah angkringan, membicarakan film yang akan mereka produksi. Keduanya bertukar ide, menawarkan beragam opini agar film mereka nantinya menjadi luar biasa. Sementara dunia kedua adalah dunia yang dibayangkan Imam dan Anto, yakni dunia film yang nantinya akan mereka garap. Adegan ini hanya diambil dengan satu teknik, yakni long shot. Dalam dunia film itu kita akan melihat sepasang suami istri di ruang makan yang usianya barangkali menginjak separuh abad. Sang istri tengah menyiapkan makanan. Tak lama, suaminya datang dan duduk di meja makan. Saat sarapan baru saja dimulai, Suami marah pada Istri. Katanya makanannya tidak enak, tak layak dimakan oleh manusia. Cut! Satu shot dan satu scene selesai. Penonton diajak kembali ke dunia nyata bersama Imam dan Anto.

Dalam film ini Imam diceritakan sebagai calon sutradara dari film yang akan mereka garap. Sejak awal ia mencoba memperlihatkan ke-indie-annya dengan menolak aturan konvensional, walau tak jelas untuk apa. Tetapi semakin ke belakang semakin terlihat bahwa kata ‘indie’ ia gunakan hanya untuk kabur dari kompleksitas yang akan dihadapi saat produksi. Seperti tercermin dari dialog “film tidak perlu kebanyakan gambar”. Defensi atas ke-apa-ada-an ini terulang kembali ketika mereka membicarakan rencana produksi yang minim uang dan bertumpu penuh pada kerja keras. “Ini indie label bung!” begitu kilahnya. Sementara Anto mewakili kelompok penonton yang referensi tontonannya tak lain adalah film-film bioskop dan televisi. Baginya film yang hebat harus tampil dengan shot yang beragam. “Benar-benar hebat. Seperti film-film di bioskop”, itulah tanggapannya saat Imam menawarkan ide baru untuk pengambilan gambar.

Imam dan Anto mengeksplorasi film mereka. Kata Imam, “film gambarnya jangan cuma satu!” Teknik pengambilan gambar pun divariasikan, tidak jadi hanya satu shot, yang juga tidak jelas untuk apa. Hasilnya, terciptalah beberapa versi. Penonton diajak melompat lagi ke dunia film bersama Suami dan Istri. Di versi pertama kita akan melihat bagaimana ide film Imam dan Anto disajikan dengan shot-shot lebih beragam. Mulai dari close up, medium shot, long shot. Eksplorasi beralih, mereka membayangkan film mereka dipadukan dengan shot-shot slow motion dan extreme close up. Mata Ibu yang penuh amarah, mata Suami yang membelalak dihadirkan bergantian dengan tempo yang cepat, lengkap dengan backsound yang dramatis. Pertikaian Suami dan Istri didaramatisir sedemikian rupa, kurang lebih mirip sinetron. Berikutnya, Anto menawarkan ide agar filmnya sekalian saja dibuat komedi, seperti variety show asal lucu yang sering kita tonton di televisi. Penuh sisipan yang tidak berkaitan dengan jalannya cerita. Yang penting penonton tertawa. Imam dan Anto terjebak di antara ide-ide.

Anto yang bioskop-sentris itu pelan-pelan menjadi kenyataan yang menampar mimpi-mimpi Imam untuk menjadi indie. Sebab akibat dari ide film Imam ia pertanyakan. Satu tokoh penting yang masuk ke frame ia permasalahkan. Cerita lain pun mau tidak mau harus ditambahkan untuk menguatkan ide film. Eksplorasi yang awalnya hanya seputar tampilan ternyata turut mengubah bentuk film mereka yang awalnya hanya drama sederhana satu shot, kemudian menjadi drama yang dipolah-polahkan, bahkan malah jadi guyon. Mereka mulai sadar, bahwa setiap jenis film punya kebutuhan akan gaya penceritaan dan teknik tampilan visual yang berbeda.

Meskipun Indie Bung!! menyajikan dua dunia visual, tapi keduanya tak memiliki batas. Di beberapa bagian penonton akan dikejutkan dengan interaksi keduanya—dunia Imam dan Anto dan dunia dalam film yang mereka ciptakan. Tiba-tiba saja Anto bisa menyuruh Suami membenahi tempat duduknya, atau Suami yang kesal menunggu instruksi dari Imam dan Anto yang dari tadi tak henti berdebat. Interaksi-interaksi yang dibangun oleh dua dunia dalam Indie Bung!! menunjukan bahwa bagaimanapun film adalah rekaan dari pembuatnya yang berasal dari dunia nyata. Cara pengambilan gambarnya sewaktu-waktu bertambah, gaya penceritaannya bisa berubah, bahkan tiba-tiba bisa saja dibatalkan. Semuanya tergantung si pembuat film. Pembuat film adalah Tuhan yang punya kebebasan penuh dalam menentukan nasib filmnya; ide, konsep cerita, dan penggarapan teknisnya. Maka, jika pembuat film berhak untuk mengeksplorasi bahkan menciptakan konsep baru, mengapa ia harus patuh atau meniru pakem-pakem yang sudah ada?

Indie Bung!! mengajak penonton untuk menertawakan ide-ide lucu Imam dan Anto, yang artinya Juga menertawai kita-kita yang sulit untuk bebas dari ukuran umum yang sering kita jadikan kebenaran, hanya karena diterapkan secara massal dalam keseharian. Indie Bung!! ingin menyindir mereka yang selalu menambahkan embel-embel indie dalam berkarya hanya sebagai dalih untuk kabur dari kerumitan produksi. Ada batas yang jelas antara independen dan belum mapan, dan batas itu yang Indie Bung!! secara jenaka coba gariskan. Syukurnya film ini tidak mendikte kita untuk memufakatkan makna indie. Atau mungkin memang sebenarnya sudah tidak relevan lagi untuk mendebatkan apa itu film indie. Makna indie tak perlu lagi disepahamkan, sebab ia berdiri dengan definisi yang beragam, ia bisa jadi mengikat, atau justru membebaskan. Tentunya kata ‘indie’ tak bisa dijadikan alasan untuk menciptakan karya yang remeh. Indie atau bukan, setiap karya semestinya adalah hasil terbaik dari sebuah proses kreatif, sebagai bentuk tanggung jawab atas gagasan yang hendak disampaikan.

Indie Bung!! | 2014 | Durasi: 12 menit | Sutradara: Yuleo Rizky Catur Pamungkas | Kota: Yogyakarta | Negara: Indonesia | Pemain: Bagus Bacep, Kumala Ratri, Wisnu Agung Febriana, Wimba Hinu Satama, Budi Dwi Arifianto, Rosyani Kirana Desi, Rizki Pratama, Dyana Ulfach, Saptaji

Tulisan ini adalah hasil dari lokakarya Mari Menulis! edisi Festival Film Solo 2014

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (5)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend