In a Better World: Potret Kekerasan Tanpa Ujung Pangkal

in-a-better-world_highlight

Anton berdiri di hadapan puing perang, tangannya tak pernah kering dari darah. Sebagai dokter, ia harus berusaha mengobati sebanyak mungkin orang meskipun peluru terus berdesing menggasak tangsinya. Anton gusar sebab kekerasan di hadapannya ini sudah sampai pada tahap bodoh namun masih saja dipelihara. Sampai suatu saat Anton sadar, bahwa ada kekerasan lain, lebih parah, yang terjadi di dalam rumahnya sejak lama, jauh di kampung halamannya di Denmark sana.

Narasi tentang kekerasan sepertinya akrab dicerap lewat bingkai kontak fisik, sejak dari peperangan antar negara sampai pada simpul terkecil rumah tangga. Susanne Bier geleng kepala melihat tradisi pencerapan yang telah luas dipakai tersebut. Dari sini kita bisa meneropong posisi In a Better World, apa yang menyebabkan ia dibuat dan argumen apa yang hendak ia sumbangkan. Apa bahayanya bila kekerasan selalu dicerap dalam terminologi fisik? Tokoh Anton harus bolak balik Denmark dan Afrika demi menjadi bahan pembanding berbagai model kekerasan dalam film ini.

Sebagai permulaan, In a Better World menembak langsung rasa bersalah kecil yang terjadi di antara para tokoh di dalamnya. Naik turunnya plot sangat bergantung pada kondisi rasa bersalah ini. Asalnya, rasa bersalah tersebut berasal dari keinginan kita untuk melindungi seseorang yang sebenarnya tak ingin dilindungi. Dan sebaliknya, orang tersebut merasa perlu melindungi kita padahal kita sama sekali tak butuh perlindungan. Disini, In a Better World terdengar seperti sensasi kekeluargaan yang beresiko. Orang-orang yang terlibat adalah Christian dan sobat karibnya, Elias, Claus ayah Christian, serta Anton dan Marianne, ayah dan ibunda Elias. Christian dan Elias adalah murid di sebuah sekolah rendah.

Ada semacam pemampatan konflik yang dilakukan oleh Bier. Kalau anda menonton The White Ribbon (Michael Haneke, 2009), disana terdapat sebuah desa yang karakternya dibentuk oleh konflik besar yang sedang mengelilinginya, yakni Perang Dunia Pertama. Dalam In a Better World, desa itu menyusut menjadi figur Christian dan Elias, dua orang anak yang karakternya dibentuk oleh sulaman kekerasan yang terjadi di sekitar mereka. Perceraian Anton dan Marianne, tingkah aneh Klaus pada almarhumah istrinya (Ibunda Christian) membentuk Elias dan Christian menjadi anak dengan tingkah polah sedemikian rupa. Susanne Bier menekan konflik global a la The White Ribbon dan memasukkannya ke dalam rumah tangga.

Mencermati In a Better World berarti mencermati ‘keragaman’ kekerasan yang terjadi di dalamnya. Saya menilai bahwa pucuk argumen film ini terletak tepat disini: Kekerasan bukan saja berupa kontak fisik yang lumrah kita indera. Dalam pada kekerasan juga terdapat kemarahan, kebohongan, kepura-puraan, dan reaksi terhadap ketiganya. Segala bentuk kekerasan ini tidak mungkin tanpa reaksi, dan segala reaksi akan selalu ditimpali oleh kekerasan kembali. Reaksi ini bermuara pada dua hal, reaksi yang dilampiaskan pada diri sendiri, dan reaksi yang ditumpahkan pada orang lain. Reaksi yang ditumpahkan para diri sendiri akan menjadikan kita manusia yang tak bahagia sementara reaksi yang dilampiaskan pada orang lain akan menjadikan kita sebagai pelaku kekerasan itu sendiri. Dalam In a Better World, manusia hanya ada dua macam: pelaku kekerasan, dan manusia tanpa kebahagiaan.

Problem ambisi-saling-melindungi ini meningkat menjadi potret spesifik Christian dan Elias dalam reaksinya dengan lingkungan sekitar. Christian tumbuh menjadi pelaku dimana kekerasan adalah bagian dari mekanisme alamiahnya, sementara Elias tumbuh menjadi anak yang tidak bahagia karena terus menerus membenturkan kekerasan jauh ke dalam hatinya. In a Better World memposisikan dirinya sebagai semacam biografi sosial yang menunjukkan bahwa, seperti Christian dan Elias-lah jadinya anak-anak yang dididik oleh kepura-puraan orang tua mereka, yang selalu dikontrol orang tua dengan kata ‘tidak’ sementara orang tua sendiri melakukan apa yang tadi ia katakan sebagai ‘tidak’ tersebut.

Bagi Christian, nasihat Klaus, ayahnya yang Wilsonian itu tak manjur untuk mengubah karakternya yang Machiavellian. Sebab dalam pandangannya, nasihat Klaus hanyalah onggok kepura-puraan dan kebohongan, dan itu sama saja dengan mendidik dirinya dengan kekerasan. Dengan maksud baik, ternyata Klaus telah menjelma menjadi pelaku kekerasan di mata anaknya. Setali tiga uang dengan Elias, keberadaan ibu sebagai ‘bantal peredam’ kemarahan anak itu membuat Elias terus-terusan menggaungkan reaksi ke dalam kalbunya sendiri. Ajaran orang tuanya agar ia menjadi pemaaf dan anti-konflik seperti angin berlalu saja. Penyebabnya jelas, Elias membaca nasihat itu sebagai kepura-puraan belaka, toh ayah dan ibunya juga betah hidup dalam konflik, ambang perceraian selalu menjadi pemandangan sehari-hari Elias dan adiknya, Morten. Christian dan Elias berpadu menjadi partner in crime yang begitu kohesif, jebakan apapun takkan menggoyahkan mereka. (Sinyal ini tersirat dalam sebuah adegan interogasi dimana polisi menerapkan mekanisme prisoner’s dilemma pada duo Christian-Elias dan gagal).

Anak-anak semacam Christian dan Elias tak mempan dididik dengan nasihat semata. Mereka butuh tauladan konkret dan sudah sepatutnya tauladan itu menjelma dalam kehadiran orang tua mereka. Alih-alih tauladan, yang mereka dapatkan hanya wejangan kosong yang justru terbaca sebagai kebohongan dan kepura-puran. Demikianlah anak-anak ini bereaksi, mereka melampiaskan kekecewaan dengan menjadi pelaku kekerasan baik kepada lingkungan maupun diri sendiri.

In a Better World sama sekali bukan film yang romantis. Ia menegaskan bahwa aksi kekerasan bukanlah pangkal, dan reaksi terhadap kekerasan bukanlah ujung, sebab sang reaksi akan mewujud kembali dalam bentuk aksi dan sang aksi akan berakibat kembali pada reaksi. Demikianlah siklus kekerasan membentuk lingkaran yang sempurna. Apakah kekerasan ini bisa selesai? Atau bila tidak, bagaimana seyogyanya kita memaknainya? In a Better World menjawabnya pelan sekali. Bila Margaret Mead menyarankan a certain amount of fear untuk terus bertahan hidup, In a Better World jelas menyarankan a certain amount of violence experience supaya kehidupan bisa terus berlangsung. Ujungnya, rasa bersalah kecil dalam keluarga beralih menjadi rasa bersalah yang melintas batas negara, sebagai pengalaman yang tak akan pernah selesai.

In a Better World | 2010 | Sutradara: Susanne Bier | Negara: Denmark |Pemeran: Mikael Persbrandt, William Jøhnk Nielsen, Markus Rygaard, Trine Dyrholm, Ulrich Thomsen.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend