Hari Untuk Amanda: Bukti Berikutnya, Bahwa Film Tak Selalu Sama dengan Festivalnya

hari-untuk-amanda_highlight

Harus kita akui, kronisnya permasalahan FFI 2010 dan Sang Pencerah membawa banyak orang pada anggapan tipikal bahwa semua yang terlibat dengan FFI 2010 itu bermasalah, termasuk film-film nominasinya. Anggapan yang harus ditanggapi secara hati-hati, sebab pada kenyataannya, yang bermasalah itu penyelenggaraan festivalnya, bukan film-film yang terseret kedalamnya. Film, pada akhirnya haruslah tetap dinilai sebagai film. Bagi saya, tetap kurang adil apabila Alangkah Lucunya (Negeri Ini) dibilang masuk nominasi karena pengaruh Haji Deddy Mizwar, film itu harus tetap dilihat sebetul mungkin, bahwa meskipun begitu menceramahi, ia tetap muncul dengan koreografi sinematis yang begitu baik. Bukti berikutnya ada pada I Know What You Did on Facebook, yang meskipun judulnya terkesan cemen dan jiplak, ia tetap membuktikan diri sebagai film yang terejawantahkan melampaui dugaan, film ini bagus. Bukti berikutnya adalah Hari untuk Amanda, yang meskipun tagline-nya klasik dan berbau-bau opportunis (mirip-miriplah dengan kasus grup vokal T2 yang suka bikin lagu pakai frase populer; lagu “Jangan Lebay” misalnya), film ini tetap muncul sebagai film yang baik. Oh, tagline-nya: “Cinta Lama Bersemi Kembali”.

Menonton Hari Untuk Amanda di lima belas menit pertama membuat saya harus memuji judulnya. Judulnya begitu klop meski dilihat dari sisi yang berbeda. Baik itu hubungan personal karakter Hari dan Amanda, maupun latar waktu seharian penuh yang mereka gunakan.  Hari Untuk Amanda menandai keberlanjutan kolaborasi lumayan panjang antara sutradara Angga Dwimas Sasongko dan penulis Ginatri S. Noer, sebelumnya mereka sudah bekerja di tiga film yakni Maya (2003), Ladies Room (2003), dan Refleksi (2005). Tak usah hiraukan panning kameranya yang begitu hiperaktif, sebab lebih menarik menilai Hari Untuk Amanda sebagai sebentuk desain khusus untuk penonton kelas menengah , dengan tokoh-tokoh kelas menengah yang hidup di Jakarta level menengah.

Saya menilai Hari Untuk Amanda berhasil menangkap problema “Jakarta” dalam teks film-film Indonesia umumnya. Coba perhatikan, dalam film yang menggunakan karakter kelas atas, ambil contoh film Arisan (2003), Jakarta juga ikut naik kelas, disitu Jakarta dipotret sebagai kota yang mewah nan elegan. Sebaliknya, film-film yang menggunakan karakter kelas bawah, seperti film Sepuluh (2009), akan menyeret Jakarta ikut turun derajat menjadi kota kumuh tak beradab. Sangat sering terjadi kasus dimana Jakarta yang menyesuaikan dengan karakter dan bukan karakter yang menyesuaikan dengan Jakarta, padahal bagaimanapun, karakterlah yang hidup di Jakarta, bukan sebaliknya. Penyesuaian milieu memang penting, tapi tak kalah pentingnya menyadari bahwa Jakarta adalah ruang yang stagnan dan cenderung sama, tak peduli anda presiden atau tukang balon.

Cukup basa-basinya, cerita singkatnya begini, sepuluh hari lagi Amanda akan menikah dengan Dodi, maka hari ini ia mau mengantarkan undangan sendiri kepada orang-orang terdekat. Naas, Dodi sangat sibuk, dan naas, pagi itu Amanda menerima kotak nostalgia dari mantan pacarnya, Hari. Rencananya, Amanda akan berangkat menyebar undangan setelah sebelumnya mengembalikan kotak itu pada Hari. Hari Untuk Amanda mengandalkan dialog dua karakter utamanya yakni Hari dan Amanda.

Hubungan Amanda-Hari-Dodi adalah segitiga sembarang di mana dua sudutnya lebih dikuasai oleh Hari dan Amanda, Dodi tak pernah hadir secara fisik diantara mereka sepanjang film, keterlibatannya hanya menjulur lewat telepon. Hari itu, Amanda terjepit diantara dua lelaki dengan wacananya masing-masing, Dodi dengan wacana rencana dan Hari dengan wacana nostalgia. Keduanya punya kekuatan yang sama besarnya bagi Amanda, Hari dengan pengaruhnya yang besar bagi masa lalu Amanda dan Dodi dengan canangan masa depannya yang sudah sedemikian matang bagi Amanda. Secara alamiah, keadaan seperti ini akan menempatkan Hari pada posisi inferior, sebab bagaimanapun, masa lalu lebih mudah dinafikan ketimbang masa depan dan hal itu sangat mudah untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih sesuatu. Dengan halus, Hari Untuk Amanda menjaga konsistensi kebimbangan penonton dengan terus-terusan menempatkan Hari dan Amanda berdua di layar, inferioritas posisi Hari sebagai komponen masa lalu berpeluang untuk bisa ditebus dengan menghadirkannya secara konstan disamping Amanda. Hari Untuk Amanda bervisik pelan sekali pada penonton: “Mana yang lebih baik, masa lalu yang masih ada atau masa depan yang tidak ada?”

Jalinan konflik terjadi karena Amanda berfungsi seperti tambang pasif yang terus-terusan diperebutkan oleh wacana Hari dan Dodi,  namun keadaan yang konstan begini terus beresiko akan membuat filmnya tak bisa berakhir, konflik harus ditingkatkan dengan cara menghapus kepasifan Amanda dan membangkitkannya menjadi manusia. Dan benar saja, konflik terbaru segera bermunculan begitu Amanda mulai angkat suara.

Dulu, banyak orang kesal setengah mati karena film 3 Hari Untuk Selamanya berusaha tampil bak Before Sunrise namun gagal, formatnya sama, yakni dengan mengandalkan percakapan antara dua karakter utama. Kegagalan 3 Hari Untuk Selamanya mungkin terletak pada dialognya yang mengawang-awang, persis Before Sunrise, dan penonton Indonesia tidak suka itu. Percayalah, terdapat banyak mimesis tekstual antara Before Sunrise, 3 Hari Untuk Selamanya, dan Hari Untuk Amanda, perhatikan bagaimana poros karakter utama, pengaturan waktu, dan penempatan karakter pembantu yang diletakkan dalam bentuk semacam garis lurus. Ibu Guru SMA dan Penjual Beha dalam Hari Untuk Amanda, Makam dan Klub Malam dalam 3 Hari Untuk Selamanya, serta Tukang Ramal dan Juru Puisi dalam Before Sunrise, berada pada konstelasi kongruen yang begitu persis.

Dengan format yang sama, Hari Untuk Amanda berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan 3 Hari Untuk Selamanya, tak ada awang-awang, tak ada dialog (yang berusaha dibuat) puitis, semuanya ada karena memang seharusnya ada di tempat itu secara realtime. Quote-quotenya dasar namun tak ada maksud lain di balik quote itu, efeknya, setiap quote akan terdengar tulus. Seperti I Know What You Did on Facebook, Hari Untuk Amanda juga menanggalkan kebiasaan dialog literal yang sudah menjadi penyakit kronis film-film Indonesia sejak lama, film ini bisa menggambarkan batas yang jelas antara dialog verbal dan literal. Dalam kasus Hari Untuk Amanda, dialog verbal jelas adalah yang paling pas, tidak usah berusaha menghindari imbuhan-imbuhan yang memang seharusnya ada disana. Penempatan dialog literal yang tidak pada tempatnya, menjadi keluhan terbesar saya atas film-film Indonesia, Hari Untuk Amanda berhasil membuat saya tidak mengulangi keluhan itu.

Hari untuk Amanda hanya satu bahayanya, perhatikan fluktuasi asmara antara Hari dan Amanda, lalu bayangkan bila semua anak muda dinegeri kita bersikeras membuat kehidupan cinta mereka seperti Hari dan Amanda! Tidak heran kegalauan semakin meraja di mana-mana.

Hari Untuk Amanda | 2010 | Sutradara: Angga Dwimas Sasongko | Negara: Indonesia | Pemain: Fanny Fabriana, Oka Antara, Reza Rahadian, Aida Nurmala, Kinaryosih

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (9)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend