Dear to Me: Seperti Rusa, Rindu Harus Dibayar Duka

Kami trauma maka kami ada. Kurang lebih begitu gagasan kebanyakan film Indonesia yang menyinggung soal minoritas atau kelompok rentan, dari kawan-kawan LGBTQ+ hingga peranakan Tionghoa. Mereka kadang jadi sosok pendukung, kadang jadi penggerak cerita, dan penonton hampir selalu jadi pengamat yang berjarak.

Sudut pandang jadi penentu. Dalam berbagai narasi sinematik tentang minoritas, baik fiksi maupun dokumenter, kamera umumnya menempatkan penonton sebagai orang ketiga. Penonton jadi saksi bisu atas perjalanan mereka menempuh lintasan kisah yang disiapkan pembuat film, yang umumnya melibatkan suatu pertentangan biner—kami versus stigma/agama/negara—yang berpuncak pada resolusi antara penolakan atau penerimaan. Apapun penyelesaiannya, model tutur ini seringnya hanya membentuk satu lapis makna: pengakuan dan penegasan identitas minoritas sebagai korban. Mereka ada karena dianggap tidak ada.

Dear to Me sekilas seperti menapak jejak serupa, meniti pertentangan biner yang sama. Tim (Jourdy Pranata) hanya bisa memimpikan James (Jerome Kurnia). Menyepi di sebuah pantai, ia memimpikan momen-momen mesra bersama tambatan hatinya—jalan berdua menyusuri hutan, bercumbu di tepian, dan bicara tentang apa saja. Namun, yang mendampingi Tim di sana hanyalah keluarganya, dan bisa diduga dari mana pertentangan bermuara.

Ayah (Willem Bevers) dan ibu Tim (Wani Siregar) adalah Kristen yang taat. Ketika abang pengurus resort (Abbe Rahman) cerita soal legenda setempat, tentang rusa jelmaan seorang pria yang setia menanti kekasihnya hingga akhir ajal, si ibu menegaskan bahwa mereka hanya “percaya sama Tuhan Yesus”. Si ayah, dengan respons semi dad jokes, bilang ia percaya bahwa kelapa muda bisa menyegarkan suasana. Tim malah penasaran. Konon, siapapun yang melihat si rusa akan bertemu jodohnya.

Rasa ingin tahu Tim berperan kunci dalam Dear to Me. Melaluinya, Monica Vanesa Tedja selaku sutradara dan penulis naskah bisa saling menghadapkan hal-hal yang dianggap normal dengan yang menyimpang. Dari situ, relasi keduanya tersingkap.

Paling kentara tentu saja soal kepantasan pilihan hidup. Pada satu sekuens yang amat mencolok, Tim hendak pisah sejenak dari orangtuanya dengan alasan lanjut foto-foto di pantai. Pada satu shot, kita melihat ayah dan ibu Tim melarang putranya karena sebentar lagi gelap dan memaksa untuk selalu bersama. Pada shot berikutnya, Tim berdiri sendiri bersikeras dengan pilihannya yang sebenarnya tak neko-neko—ia hanya ingin sedikit waktu untuk merenung sambil merokok di pinggir pantai.

Pertentangan keduanya gamblang secara visual maupun verbal. Mereka menempati tempat dan momen yang sama, namun terpisah bingkai kamera. Keterpisahan inilah yang menjadikan momen bersama ketiganya pada klimaks cerita, ketika ayah dan ibu Tim mendoakan putranya supaya “menjadi laki-laki yang normal dan sempurna”, terasa memilukan. Mereka mengisi bingkai yang sama, namun terpisah niat yang beda.

Mitos Rusa

Relasi yang lebih abstrak terjadi antara agama orangtua Tim dengan kepercayaan setempat soal mitos rusa. Dear to Me menempatkan keduanya sebagai entitas terpisah dan saling berlawan. Nyatanya, pada level paling mendasar, keduanya sama-sama sistem nilai dan semesta simbol yang hidup dan bertahan di masyarakat melalui keyakinan sekelompok orang. Bedanya, secara umum, yang satu punya pengakuan legal, satunya lagi sebatas praktik kultural. Bagi Tim, secara khusus, yang satu menubuh sebagai dogma yang mengekang, satunya lagi mewujud sebagai fantasi pelipur lara.

Oposisi ini menarik untuk direnungkan lebih lanjut mengingat rusa sebagai simbol akrab ditemui dalam mitologi Kristen. Dalam berbagai kisah orang kudus, rusa sering hadir sebagai jelmaan Kristus yang memandu manusia. Kisah Santo Hubertus melibatkan seekor rusa jantan yang menuntunnya pada suatu pesan ilahi ketika ia memilih untuk berburu ke hutan pada Jumat Agung. Ada juga kisah Santo Eustachius yang urung memanah seekor rusa karena melihat penampakan salib di antara kedua tanduknya. Ia pulang dan jadi pengikut Kristus.

Dalam konteks yang lebih dekat dengan Dear to Me, rusa lazim dirujuk secara romantis dalam Alkitab. Syair-syair Kidung Agung menggunakan rusa sebagai ungkapan pujian bagi seorang kekasih (2:7-9, 3:5) atau sebagai seruan panggilan antara sepasang kekasih (8:14). Satu syair populer dalam kitab Mazmur mengibaratkan pelantunnya sebagai “rusa yang merindukan sungai yang berair” karena “jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup” (42:1-5). Syair ini dikenal luas di Indonesia melalui lagu rohani “Seperti Rusa Rindu SungaiMu”, yang dinyanyikan di banyak kebaktian dan sekolah minggu.

Konteks-konteks ini tidak dipertegas dalam Dear to Me. Bisa jadi saling silang soal rusa ini hanya akan dikenali penonton yang familiar dengan mitologi Kristen, yang punya bagasi serupa pengalaman Tim, dan/atau yang mengamini bahwa setiap agama hanyalah konstruk manusia yang tak jarang berkembang melalui pengadopsian simbol atau pakem cerita dari berbagai kepercayaan lain. Bisa juga kita mengabaikannya atau menganggapnya sebagai pilihan praktis oleh pembuat film—rusa sebagai simbol umum soal keanggunan, kesetiaan, dan sebagainya. Toh, di luar tradisi Kristen, simbol rusa juga lazim ditemukan di tradisi agama lain dan tentu saja di banyak produk budaya populer.

Di sisi lain, persilangan konteks rusa ini terasa relevan dan padu dengan konflik sentral Dear to Me, terlebih dengan pilihan nama tokoh cerita yang alkitabiah (Tim/Timotius, James/Yakobus). Monica sendiri sebagai sineas bukan sekali ini menjelajahi seksualitas dari perspektif religius—dalam Sleep Tight, Maria (2015), ia menyorot habit masturbasi seorang remaja perempuan sekolah Katolik.

Dari silang konteks soal rusa dalam Dear to Me, ada lapisan makna, atau setidaknya sudut pandang tambahan, selain yang gamblang terungkap dalam lintasan kisah Tim. Mungkin rusa lebih dari sekadar takhayul, simbol atas kemustahilan hubungannya dengan James. Mungkin ia adalah petunjuk atas realitas yang lebih kompleks dan lebih intim.

Pengalaman Batin

Mari kita bahasakan ulang mitos rusa dalam Dear to Me sesuai situasi batin Tim. Ia sudah kalah sejak detik pertama kisah. Momen klimaks doa keluarga sebatas mengonfirmasinya. Rusa oleh karenanya bisa kita pahami juga sebagai respons bawah sadar Tim—sebagai pribadi yang tumbuh besar di keluarga Kristen—terhadap situasinya. Dalam Dear to Me, rusa tidak sebatas menegaskan keterasingan Tim dari tambatan hatinya, tapi juga penghiburan bagi dirinya dari dunia yang tidak berpihak dan pada sampai titik tertentu menjadi pengharapan atas masa depan yang masih entah.

Singkat kata, dalam Dear to Me, agama tidak sesederhana menjadi antagonis atau halangan aspirasi protagonisnya. Ia—atau setidaknya sejumlah unsurnya—turut menjadi bagian dari cara Tim mengelola duka, trauma, dan kebuntuan yang ia hadapi. Dengan begitu, selain melampaui batasan kisah kami-versus-dunia, Dear to Me juga menjelajahi zona yang masih jarang disentuh narasi sinematik soal minoritas dan kelompok rentan di Indonesia: pengalaman batin.

Dear to Me konsisten menguraikan kisahnya melalui perspektif subjektif Tim. Film bermula dengan tatapan. Melalui sudut pandang Tim, kita mengikuti James dari belakang. “Semalam aku ingat aku lihat kamu,” tuturnya sambil menyusuri lanskap hutan pada suatu siang, “Belakangin aku, sendirian di tengah laut.” Lalu kita pun berada di pantai, melihat seorang pria yang membelakangi kita. Selang sedetik, ia menyelam masuk air dan sesaat tak terlihat di bidang pandang kamera. Tim bangun. Kita melihatnya mandi dan menjemur handuk di depan kamar. Kembali kita menempati sudut pandangnya, yang menatap ibunya yang sedang cakap-cakap di dapur dengan abang pengurus resort. Kamera sejenak berganti sudut pandang: kita melihat Tim melihat ke arah kamera, dan di sampingnya muncul sosok James.

Sekuens pembuka ini efektif memperkenalkan motif visual yang membentuk 19 menit durasi film Dear to Me. Kamera tidak pernah memisahkan penonton dengan semesta batin Tim. Ia secara harfiah menempatkan penonton pada sudut pandangnya, melihat dari matanya, menelusuri kenangannya. Ketika kamera mengambil jarak, pembuat film hampir selalu menyelipkan sesuatu atau seseorang yang secara emosional relevan dengan Tim, tanpa ambil pusing dengan ‘realisme’ adegan.

Lihat bagaimana sosok James hadir dalam sekuens pembuka. Satu momen ia menjadi bagian dari angan-angan, momen lainnya sebagai kenangan, momen berikutnya mewujud dalam kenyataan. Kerancuan ini mendefinisikan Tim sepenuhnya. Ia tak bisa seutuhnya menghidup hari ini, tak juga bisa mengulangi hari kemarin, dan tak sanggup membayangkan hari esok.

Kerancuan yang sama menjadikan momen Tim di pantai terasa magis dan memilukan. Kita turut mengalami gelapnya malam secara riil bersama Tim. Segalanya terlihat samar-sama, tak ada penerangan, kecuali dari lampu gedung di kejauhan. Lalu muncul sosok rusa yang selama ini dimitoskan mendekati tepi laut—seperti “rusa yang merindukan sungai” dari syair Mazmur. Melalui mata Tim, kita melihat si rusa dari kejauhan dan perlahan kita mendekatinya. Semakin dekat, si rusa lantas mewujud James—rusa sebagai jelmaan kekasih dari syair-syair Kidung Agung. Kenyataan, harapan, dan ketidakmungkinan saling beririsan.

Spektrum yang Terus Meluas

Dear to Me pada beberapa aspek mengingatkan akan Call Me by Your Name. Dalam artian, keduanya sama-sama mengilustrasikan anatomi psikis seorang laki-laki dalam berhasrat di suatu latar ruang yang eksotis. Pembedanya jelas adalah bagasi masing-masing. Call Me by Your Name berakar pada realitas yang memungkinkan seorang gay atau relasi homoseksual hadir tanpa konflik dari sekitarnya. Hasrat sepenuhnya perkara personal. Dear to Me berangkat dari realitas yang tidak sesteril itu, bahkan untuk relasi hetero sekalipun. Hasrat di Indonesia tidak pernah sepenuhnya perkara personal. Ia jugalah perkara sosial.

Realitas hidup membentuk cara kita bercerita. Situasi di Indonesia menjelaskan kenapa narasi sinematik LGBTQ+, baik fiksi maupun dokumenter, masih identik dengan bahasan seputar trauma, resistensi, dan alienasi. Narasi kami-versus-dunia marak muncul pada dekade pertama setelah reformasi 1998, ketika advokasi wacana HAM punya momentum publik dan ada kebutuhan untuk menyorot bentuk-bentuk diskriminasi, termasuk yang berdampak terhadap gender yang lain. Menariknya, selang satu dekade kemudian, model narasi serupa masih dominan dan minim variasinya, bahkan ketika iklim politik kembali muram untuk gerakan advokasi dan fakta bahwa LGBTQ+ diopresi sudah mapan di masyarakat.

Situasi hari ini menuntut telaah realitas yang lebih kompleks, yang lebih seirama dengan berbagai keseharian yang dialami warga. Terlepas dari upaya advokasi yang ada, empati masih begitu rendah sementara model narasi kami-versus-dunia tak selalu memberi cukup ruang bagi penonton untuk mendalami perspektif lain. Tak jarang juga malah membangun jarak yang tak perlu. Dengan menuturkan LGBTQ+ sebagai pengalaman batin, kita bisa lebih menjelajahi cara mereka memproses dunia di tengah stigma, tekanan, dan hambatan yang ada—terlebih ketika bagian lain dari identitas mereka turut beririsan dengan dunia yang menolak mereka.

Monica coba melakukannya dalam Dear to Me melalui tokoh, simbol, dan latar keluarga Kristen. Dari sesama jajaran film pendek, ada Lukhi Herwanayogi yang pada On Friday Noon (2016) mengajukan pertanyaan menarik melalui tokoh seorang transpuan yang merasa perlu menjalani salat Jumat sesuai anatomi tubuhnya. Dari jajaran film panjang, ada Paul Agusta yang menjabarkan pendewasaan seorang gay dalam Parts of the Heart (2012) melalui delapan bab cerita—dari cinta monyet, puber, hingga krisis paruh baya. Garin Nugroho menjelajahi perspektif lain lagi dalam Kucumbu Tubuh Indahku (2019) melalui perjalanan hidup seorang penari lengger, yang banyak beririsan dengan tradisi dan spiritualitas. Ada pula Tonny Trimarsanto dengan dua karya dokumenter, Mangga Golek Matang di Pohon (2012) dan Bulu Mata (2015), yang mengikuti sosok transgender asal Palu dan Aceh dari kehidupan profesional hingga interaksi keluarga.

Film-film ini tersambung atas benang merah yang sama: bahwasanya realitas internal dan sosial seringkali terhubung dengan cara-cara yang ruwet dan penuh kontradiksi. Nyaris tidak pernah hitam putih. Seorang transpuan salat Jumat tak lantas menjadi blasphemy atau menggugurkan identitas gender si tokoh, sementara seni tari lengger tak bisa disederhanakan dengan moralitas gender biner, ketika ia lahir dari tradisi yang meleburkan maskulin dan feminin sebagai bentuk penyatuan dengan Sang Pencipta. Pemaknaan agama orang tua Tim juga hanya satu bagian dari nuansa, seperti halnya makna rusa—sebagai wujud imajinasi alkitabiah—dalam situasi batin Tim. Nuansa-nuansa itu, titik-titik dalam spektrum yang terus meluas, kian penting untuk kita telusuri dalam dunia yang makin membatu.

Dear to Me | 2021 | Sutradara: Monica Vanesa Tedja | Penulis: Monica Vanesa Tedja | Produksi: Film University Babelsberg Konrad Wold | Negara: Indonesia, Jerman | Pemeran: Jourdy Pranata, Jerome Kurnia, Willem Bevers, Wani Siregar, Abbe Rahman