Czechoslovak New Wave: Dongeng tentang Komunis dan Kemanusiaan

czechoslovak-new-wave_highlight

Era New Wave dalam perfilman Prancis bukan barang yang asing lagi dewasa ini. Film-filmnya sudah jadi pembahasan di mana-mana. Nama-nama sutradaranya pun sudah terpatri di kalangan penikmat film di berbagai penjuru dunia — tua dan muda. Tapi banyakkah yang tahu bahwa bukan cuma perfilman Prancis yang mengalami — atau melakukan — New Wave? Banyakkah yang akrab — atau sekedar tahu — dengan New Wave lainnya selain Prancis?

New Wave adalah produk para jurnalis. Embel-embel New Wave biasanya diartikan sebagai pembaharuan (terhadap classical cinema), atau era yang memberikan bau yang segar dalam dunia perfilman. Era New Wave Prancis umumnya dicirikan dengan pendekatan-pendekatan yang lebih realis (dipengaruhi oleh Italian neorealism), dialog yang lebih riil dan ekstensif, dan struktur narasi yang lebih elaboratif. Selain Prancis, negara lain yang Era New Wave nya cukup banyak mendapati sorotan antara lain Iran (1969–sekarang) dan Korea Selatan (1992–sekarang). New Wave Iran dimulai sejak Darius Mehruji membuat The Cow yang sampai sekarang masih sering dianggap sebagai salah satu judul penting dalam perfilman Iran. Era New Wave Iran juga seringkali dijadikan perbandingan dengan Italian neorealism. Dan sampai sekarang, Era ini berhasil membawa kesuksesan internasional — terutama dari segi festival dan penghargaan — pada perfilman Iran. Indonesia pun punya era New Wave nya sendiri, yang konon dimulai sejak munculnya film Kuldesak. Sayangnya, semakin ke sini era New Wave Indonesia bukannya semakin maju, malah terasa semakin mundur. Negara-negara kecil lainnya juga mengalami era New Wave ini, seperti Hungaria dengan gebrakan dari István Szabó, Era New Wave Romania dengan gaya yang lebih realis dan minimalis yang ditandai oleh pengakuan sebuah film pendek Trafic di tahun 2004 silam, dan Era New Wave Cekoslowakia — yang akan saya bahas secara singkat dalam tulisan ini.

Seperti di negara-negara lainnya, sinema Cekoslowakia dimulai dengan era classical (awal abad ke-20), era di mana sebuah film masih murni berwujud karya, tanpa campur tangan, politik, humanistik, ataupun seks. Cikal bakal industri film Cekoslowakia sebenarnya sudah muncul di awal-awal abad ke-20, namun baru berkembang pesat pasca Perang Dunia I dan terbentuknya Republik Cekoslowakia. Sejak itu, berbagai perusahaan-perusahan film, studio film, hingga bioskop pun berumunculan dengan pesat. Di masa ini, film-film Cekoslowakia memliki rentang genre yang luas, mulai dari historikal, sosial, hingga komedi ringan. Industri perfilman Cekoslowakia makin berkembang pesat sejak diperkenalkannya suara dalam film. Tokoh-tokoh yang dianggap berpengaruh pun mulai bermunculan, mulai dari sutradara seperti Karel Lamac (Karel Havlícek Borovský, Lucerna, dll) dan Gustav Machatý (Extase, From Saturday to Sunday, dll), hingga aktris Anny Ondra yang dikenal sebagai aktris Cekoslowakia pertama yang berhasil menjadi bintang di Eropa — di tahun 1929 Anny Ondra membintangi The Manxman dan Blackmail, dua film yang disutradarai Alfred Hitchcock.

The Firemen’s Ball (1967)

Industri perfilman Cekoslowakia mengalami kemunduruan di masa Perang Dunia II, ketika German menduduki Cekoslowakia, ditandai dengan The Munich Pact (Perjanjian Munich) pada September 1938. Pemerintah Cekoslowakia mendapat tekanan dari pihak German. Begitu juga industri perfilamannya. Film-film yang diproduksi di masa ini hanya didominasi oleh drama romantis dan komedi. Pasca Perang Dunia II dan memasuki era Komunis, perfilman Cekoslowakia ditandai dengan berakhirnya masa-masa produksi film pribadi, dan dimulainya monopoli pemerintah pada industri perfilman. Produksi film di era ini lebih diarahkan ke bentuk realisme sosialis (socialist realism). Kali ini, sinema Cekoslowakia dihadapkan pada monster besar berlabel sensor dan propaganda politik. Selain itu, era ini juga ditandai dengan berdirinya Film and TV School of the Academy of Performing Arts (FAMU) di Praha dan pertama kali digelarnya sebuah festival film, yang selanjutnya dikenal sebagai Karlovy Vary International Film Festival. Tiga hal yang perlu jadi sorotan di masa ini adalah gebrakan cerita rakyat dalam The Proud Princess, gebrakan stop-motion dan penggunaan stop-motion sebagai sepesial efek dalam film-film live action oleh Karel Zeman — salah satu pionir animasi Cekoslowakia, dan suntikan teater dan tarian yang dilakukan oleh Alfréd Radok.

Dari tahun ke tahun, ternyata siswa-siswa di FAMU tidak tahan dengan monopoli pemerintah. Mereka mempunyai misi menggunakan film sebagai media untuk menyadarkan orang-orang Cekslowakia terhadap penindasan dan inkompetensi yang merajai di masa itu. New Wave Cekoslowakia adalah wujud pemberontakan terhadap kungkungan pemerintah. Film-film di masa ini mulai berani menyentuh tema-tema yang sebelumnya tabu di negara-negara komunis, biasanya dengan memanfaatkan metode perbandingan, alegori, juktaposisi, bahkan surealis. Secara teknis, era ini ditandai dengan penggunaan dialog panjang tanpa naskah, dark humour, penggunaan pemain non-profesional, dan narasi yang kuat.

Di awal-awal era New Wave Cekoslowakia muncul sebuah film berjudul Three Wishes (1958, Elmar Klos dan Ján Kadár), yang dengan berani mengkritik kondisi sosial-politik Cekoslowakia. Film tersebut berakhir dengan larangan dari pemerintah. Tapi perjuangan Cekolowakia tidak berakhir sampai disitu, beberapa tahun selanjutnya muncul judul yang lebih berhati-hati: Romeo, Juliet, and the Darkness (1960, Jirí Weiss). Film itu memanfaatkan tragedi percintaan dan Nazi sebagai alegori untuk mengkritik kondisi masyarakat Cekoslowakia di tangan kaum komunis. Dua tahun selanjutnya muncul judul The Sun in a Net (1962, Štefan Uher), sebuah film eksperimental tentang studi karakter. Film ini dikecam oleh Partai Komunis Slowakia karena dianggap sudah melangkah terlalu jauh dari realisme sosialis. Namun berbagai pekerja film Cekoslowakia berunjuk rasa mendukung film yang akhirnya diizinkan tayang di Praha tersebut. Dan kepala Partai Komunis Slowakia juga memberikan janji untuk meliberalisasi negara. Itulah cikal bakal New Wave Cekoslowakia.

Berbagai nama pun mulai bermunculan, di antaranya bahkan dikenang sebagai tokoh berpengaruh dalam perfilman Cekoslowakia, seperti Vera Chytilová, Jirí Menzel, Jan Nemec, Miloš Forman, Juraj Jakubisko, Jaromil Jireš. Film dengan berbagai varian genre pun mulai bermunculan. Namun yang paling penting, politik anti-komunis mulai bertebaran. Politik disuntikkan di mana-mana: di dalam coming-of-age, di dalam adegan romantis, di dalam adegan ranjang, di dalam percakapan meja makan, di dalam komedi, hingga di dalam film-film yang berbau surealis tingkat tinggi.

Loves of a Blonde (1965)

Dua favorit saya dari New Wave Cekoslowakia adalah Miloš Forman dan Jirí Menzel. Miloš Forman mungkin adalah sosok yang paling dikenal dari New Wave Cekoslowakia — juga dari sinema dunia atas judul One Flew Over the Cuckoo’s Nest dan Amadeus. Miloš Forman lebih dikenal dengan film-film realitanya yang santai. Kontribusinya pada New Wave Cekoslowakia antara lain, Black Peter (1963), Loves of a Blonde (1965), dan The Firemen’s Ball (1967). Dalam Black Peter dan Loves of a Blonde, Miloš Forman memamerkan ketajaman detil dan gaya ironi kehidupan sehari-harinya. Lalu di The Firemen’s Ball — film terakhir Miloš Forman sebelum menginjakkan kaki ke Hollywood, beliau bermain-main dengan gaya naturalistik lengkap dengan aktor-aktor non profesional (petugas pemadam kebakaran yang digunakan di film itu merupakan petugas pemadam kebakaran sungguhan). Sayangnya Miloš Forman tidak dapat membuat film di Cekoslowakia lagi seusai The Firemen’s Ball. Film kedua Miloš Forman yang berhasil mendapatkan nominasi Best Foreign Language Film Academy Awards itu (setelah Loves of a Blonde dua tahun sebelumnya), dicurigai memiliki simbolisme-simbolisme tersembunyi oleh pihak pemerintah. Bahkan penyangkalan dari sang sutradara sendiri tetap saja tidak berarti. Akibatnya The Firemen’s Ball dilarang beredar di Cekoslowakia, dan Miloš Forman terpaksa harus angkat kaki dari tanah airnya.

Nama Jirí Menzel mulai terkenal di era New Wave Cekoslowakia melalui Closely Watched Trains (1966)— film kedua dari Cekoslowakia yang berhasil memenangkan Best Foreign Language Film Academy Awards dan coming-of-age yang paling saya suka. Di film itu, Jirí Menzel memamerkan kepiawaiannya dalam mengawinkan komedi dan tragedi. Jirí Menzel mengajak penontonnya bermain-main di permukaan filmnya sembari menilik makna yang lebih serius di dalamnya. Kepiawaian yang sama juga beliau terapkan dalam Larks on a String (1969), sebuah film tentang tiga tersangka “borjuis” — seorang professor, seorang pemain saksofon, dan seorang pedagang susu — yang dipekerjakan di tempat barang-barang rongsokan untuk rehabilitasi. Film yang dibuat di tahun 1969 tersebut mendapat larangan dari pihak pemerintah sampai akhirnya dirilis di tahun 1990 setelah larangan dicabut.

Diamonds of the Night (1964)

Sutradara penting lainnya dari era New Wave Cekoslowakia adalah Jan Nemec. Karir beliau sebagai sutradara dimulai pasca lulus dari FAMU. Karya-karya awalnya diisi dengan tema-tema seputar Holocaust, seperti A Loaf of Bread (1960) dan Diamonds of the Night (1964). Tidak seperti Jirí Menzel dan Miloš Forman, karya-karya Jan Nemec cenderung lebih serius dan lebih dramatik. Dalam Diamonds of the Night, Jan Nemec menampilkan berbagai elemen eksperimental seperti simulasi halusinasi, flashback, dan ending ganda. Gaya eksperimental diterapkan lagi oleh Jan Nemec dalam A Report on the Party and the Guests — karya terbaiknya. Hanya saja, kali ini lebih berupa setting antah berantah, tidak adanya tokoh sentral, dan alegori kental. Film ini juga dikenal karena cekalan berbagai pihak berwenang karena alegorinya memiliki kemiripan luar biasa dengan Lenin. Apalagi di film itu Jan Nemec menggunakan para intelektual pembangkang — anti pemerintah — sebagai aktor. Hasilnya, A Report on the Party and the Guests dianggap menentang kedaulatan komunis di Cekoslowakia. Jan Nemec pun ditangkap dan kemudian mendapat larangan untuk membuat film di tanah airnya. Jan Nemec kembali ke Cekoslowakia tahun 1989, setelah jatuhnya rezim komunis.

Suara feminisme muncul dari Vera Chytilová, satu-satunya sutradara wanita di era New Wave Cekoslowakia. Vera Chytilová lebih dikenal dengan nada avant-garde. Karyanya yang paling terkenal adalah Daisies (1966), sebuah film avant-garde feminis yang bercerita tentang usaha dua orang wanita, Marie I dan Marie II, untuk mendapati makna kehidupan. Melalui keanarkisan dan kehedonismean dua orang Marie tersebut, Vera Chytilová mencoba memberikan gambaran bagaimana tekanan nilai-nilai masyarakat yang malah menelantarkan, menekan hak-hak, bahkan menghancurkan hidup kedua wanita itu. Kedua Marie itu melakukan tindakan-tindakan buruk mereka karena menganggap dunia mereka sendiri merupakan sesuatu yang buruk. Lagi-lagi, Daisies harus menghadapi cekalan dari pemerintah karena dianggap memberikan tontonan negatif. Senasib dengan Jan Nemec, Vera Chytilová juga dilarang membuat film di Cekoslowakia. Sutradara wanita ini baru bisa bekerja lagi di tanah airnya di tahun 1975.

Daisies (1966)

Empat nama di atas adalah contoh tokoh yang dapat mewakili era New Wave Cekoslowakia. Beberapa karya penting lainnya dari era ini misalnya, The Fifth Horseman is Fear (1964, Zbynek Brynych), The Organ (1964, Štefan Uher), The Shop on Main Street (1965, Ján Kadár dan Elmar Klos), Deserters and Pilgrims (1968, Juraj Jakubisko), The Joke (1968, Jaromil Jireš), All My Compatriots (1968, Vojt?ch Jasný), Ecce Homo Homolka (1969, Jaroslav Papoušek), Our Daily Day (1969, Otakar Krivánek), The Gala in the Botanical Garden (1969, Elo Havetta), Birds, Orphans and Fools (1969, Juraj Jakubisko), Valerie and Her Week of Wonders (1970, Jaromil Jireš), Ucho (1970, Karel Kachyna) — beberapa diantaranya juga dihadapkan pada cekalan pemerintah. Melalui film-filmnya, sutradara-sutradara ini menyamarkan politik ke dalam bentuk yang menyentuh, sendu, lucu, ironis, tidak jarang absurd dan menganggu (disturbing). New Wave Cekoslowakia ini juga dianggap era keemasan industri perfilman Cekolowakia, sebelum akhirnya negara tersebut terpisah menjadi Republik Ceska dan Slovakia di tahun 1992.

Hal yang paling menarik dari New Wave Cekoslowakia adalah cara para sutradara ini menyisipkan politik dengan tidak langsung mengacungkan jari telunjuk mereka, tapi dengan menggunakan wajah manusia — kemanusiaan. Lebih lagi, pesan-pesan yang terkandung dalam film-film era New Wave Cekoslowakia tetap relevan bila diterapkan di era modern sekarang. Daisies bisa saja dianggap sebagai kritik terhadap opresi dan dominasi terhadap wanita di dalam masyarakat. Firemen’s Ball bisa dipandang sebagai kritik satir terhadap sosial dan birkorasi. A Report on the Party and the Guests bias dipandang sebagai kritik terhadap kewenangan dan sistem otritas.

Namun karya-karya dari era New Wave Cekoslowakia seakan-akan tenggelam dewasa ini. Tidak heran, film-film tersebut cenderung jauh dari standar selera penonton masa kini — atau sering disebut arus mainstream. Hal ini sangat disayangkan karena upaya film-film tersebut untuk tetap hidup di tengah tekanan pemerintah merupakan inspirasi tersendiri bagi para pekerja film — terutama yang industri perfilmannya masih dimonopoli oleh pemerintah. Semangat di dalam film-film tersebut seolah-olah berupaya mengingatkan bahwa kebebasan individual merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari eksistensi manusia.

Referensi

Cook, David (1996). A History of Narrative Film.

Macek, Václav (2005). From Czechoslovak to Slovak and Czech Film.

Votruba, Martin (2005). Historical and National Background of Slovak Filmmaking.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend