Castaway on the Moon: Sepi Itu Modern

castaway-on-the-moon_highlight

“Sepi itu modern,” ungkap Joko Pinurbo dalam salah satu puisinya. Kata-kata itu menohok atau, lebih tepatnya, tepat pada jamannya. Sepi memang sering dianggap berhubungan erat dengan modernitas, atau modernitas hanyalah bentuk kesepian yang lain. Seberapa benar ungkapan ini, mungkin setiap orang harus mengambil kaca dan mulai mematut diri, mulai mengukur seberapa besar hal-hal modern di sekitarnya yang mengasingkannya dari orang-orang lain. Hal ini yang coba diungkap oleh Castaway on the Moon (CAOTM), sebuah film Korea Selatan yang dirilis tahun 2009 silam.

Bercerita tentang orang-orang yang kesepian akibat modernitas, CAOTM dimulai dengan adegan seorang pria paruh baya yang ingin bunuh diri dengan cara lompat dari atas jembatan di sungai Han. Kim Seung Geun memang sedang dirundung malang tak berkesudahan. Ia terlilit hutang kartu kredit, kehilangan pekerjaan, dan pacar. Tapi apa mau dikatakan, Tuhan tak laju menghilangkan nyawanya dan memasukkannya ke neraka. Kim malah terjebak di tengah pulau kecil tak berpenghuni. Awalnya Kim berusaha untuk meminta pertolongan karena ia tak bisa berenang. Namun setelah beberapa lama mampu bertahan sendiri, Kim semakin betah dengan kesendiriannya dan menolak pergi. Di tengah cerita, penonton dikenalkan dengan seorang tokoh perempuan bernama Kim Jeong Yeon. Bila Kim terjebak di tengah pulau, perempuan ini menjebak dirinya di kamarnya. Baginya hidup cukup dengan satu kamar dan layar monitor, mouse, dan keyboard. Melalui internet, dia bisa berperan jadi apa dan siapa saja. Ketika sedang memotret, dia tanpa sengaja menangkap keberadaan Kim di pulaunya, dan tertarik mengabadikan apapun yang Kim lakukan. Sampai akhirnya mereka mencoba untuk berkomunikasi.

Kehadiran karakter Kim Jeong Yeon yang membedakan CAOTM dari sekadar remake murah Cast Away-nya Tom Hanks yang melegenda itu. Kim perempuan hampir sama dengan hikikomori di segmen ketiga film Tokyo (2008), yang disutradarai Joon Hoo Bong. Menurut departemen kesehatan Jepang, hikikomori adalah sebutan untuk orang-orang yang menolak keluar rumah dan benar-benar menarik diri dari lingkungan sosialnya. Karakter semacam ini bisa ditemui di film-film Asia dengan berbagai level dan motif alienasi. Hikikomori adalah tingkat yang ekstrem.

Kim yang terjebak berbulan-bulan di pulau kecil itu tak laju stress dan gila. Sebagai manusia, ia kembali ke instingnya semula: bertahan hidup dan menyesuaikan diri. Di pulau itu pula, ia dapat pelajaran berharga, bahwa yang membedakan manusia dengan hewan di sekitarnya adalah hasrat. Klimaks ditunjukkan ketika Kim menemukan bumbu mie kacang hitam instan. Kelezatan bumbu tanpa mie itu membuatnya berpikir keras hingga akhirnya mencoba mencari bibit dan bercocok tanam untuk membuat mie sendiri. Kim dengan kesendiriannya akhirnya bisa menjadi orang yang lebih berguna. Ia bisa memenuhi segala kebutuhannya dan yang terpenting, memenuhi keinginannya. Ini terbukti, ketika si perempuan yang kasihan melihat Kim berusaha terlalu keras dan mengirimkan mie delivery. Kiriman tersebut ditolak. Ketika si perempuan bertanya kepada kurir pengantar makanan kenapa Kim menolaknya, jawabannya, “Karena semangkok mie itu adalah harapannya.”

Melalui Kim kita tersedak mengetahui bahwa modernitas menawarkan segala kemudahan hingga kita tak perlu berusaha apa-apa. Kemudahan terkadang membuat orang tak lagi punya keinginan. Ini seperti istri dokter Sulivan Travis dalam film Dr. T and The Women (2000), yang didiagnosa gila karena terlalu bahagia. Dengan segala kesulitan yang ia taklukan, Kim merasa lebih berarti hingga ketika ada yang mampu memberikannya begitu saja, ia tak mau. Kim paling tidak membuktikan bahwa ungkapan yang orang anggap klise, seperti “yang penting adalah perjalanan, bukan tujuan” terkadang benar adanya.

Berbeda dengan Kim pria, Kim perempuan memperlakukan aleniasi sebagai pilihan. Ia memilih mengasingkan dirinya di kamar. Kim yang satu ini merupakan refleksi dari kehidupan urban pada umumnya dalam tingkat ekstrem. Hidupnya dipenuhi rutinitas gadget yang memudahkan diri untuk tak bicara secara langsung. Ketika ibunya bertanya butuh apa dari balik pintu kamarnya, Kim menjawab melalui SMS. Melihat Kim meng-hack blog orang lain dan menggunakan identitas orang lain, kita tahu bahwa isunya adalah kepercayaan diri. Kim merasa lebih leluasa dengan dirinya yang lain di dunia maya. Akibat buruknya adalah ia tak lagi peduli dengan kehidupan fisiknya. Kamarnya penuh sampah dan ia terlihat sangat tak terurus. “Pertemuannya” dengan Kim yang lain adalah pemecahan aleniasinya. Kim mulai keluar pada malam hari untuk mengirimkan surat dalam botol ke pulau kecil itu, dan mulai mau bicara pada ibunya.

Walau dengan kelemahan teknis di beberapa bagian, dengan segala adegan komikal ala komedi romantis Korea, CAOTM berhasil membuktikan premisnya, bahwa alienasi bukanlah sesuatu yang diciptakan untuk manusia. Kim yang terbiasa hidup di pulau tetap senang mendapat teman, sedangkan Kim yang lain mulai merasa hidupnya beriak ketika berkomunikasi dengan orang lain secara fisik. Ternyata, selain kesibukan, ada satu hal yang mutlak bagi orang-orang yang kesepian: berteman. Sepi mungkin tak harus modern, tapi yang pasti, sepi itu membosankan.

Kimssi pyoryugi (Castaway on the Moon)|2009|Sutradara: Lee Hae-jun |Negara: Korea Selatan | Pemain: Hong Min-heui, Jang So-yeon, Jeong Jae-yong

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (5)
  • Boleh juga (6)
  • Biasa saja (2)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend