British New Wave: Menakar Realita via Sinema

Poster Look Back in Anger, film Tony Richardson tahun 1959

Annus mirabilis, begitu para kritikus kerap menyebut kebangkitan sinema Inggris di dekade 1960-an. Istilah annus mirabilis pertama kali dipakai pada tahun 1666 oleh John Dryden, seorang pujangga Inggris, untuk mensyukuri keutuhan negerinya pasca bencana besar. Waktu itu London baru dilanda kebakaran besar, dan banyak orang Inggris mengira angka 666 dalam tahun 1666 sebagai pertanda kiamat. Tiga abad kemudian, gantian perfilman Inggris yang selamat dari satu ancaman besar: Hollywood. Begitu kencangnya dominasi film Hollywood, baik secara finansial maupun kultural, Inggris terancam tak memiliki sinema nasional yang otentik. Perkembangan sinema nasional jadi tersendat, karena film-film negeri sendiri tak berdaya merebut massa dari produk impor Hollywood.

Untunglah, ada sekelompok anak muda yang risau dengan perfilman di negerinya. Mereka turun ke jalan dan mengambil sejumlah tindakan. Dalam banyak bahasan sejarah film, mereka sering dirujuk sebagai gerakan sinema baru Inggris atau British New Wave. Pembahasan British New Wave kerap disertai oleh banyak label, mulai dari Sequence, Free Cinema, hingga Angry Young Men. Penyertaan banyak label tersebut merupakan konsekuensi yang wajar, mengingat British New Wave sendiri memang tidak terpusat pada satu kelompok yang dominan. Banyak pihak yang terlibat di dalamnya. Masing-masing punya kontribusinya sendiri, hingga tercipta suatu pembaharuan dalam tubuh sinema Inggris. Tulisan ini bertujuan mengkronologikan bagaimana label-label tersebut bisa terbentuk, dan mendapat tempatnya dalam gerakan sinema baru Inggris. Selain itu, tulisan ini ingin mengangkat kembali British New Wave, sebuah fenomena yang banyak memberi kontribusi pada khazanah sinema dunia.

Tiga edisi jurnal film Sequence

Sebermula adalah Kata

Gerakan sinema baru Inggris kerap dikaitkan dengan gerakan serupa di Prancis. Faktanya, revolusi sinema di kedua negara awalnya berkembang dalam pola yang serupa. Keduanya sama-sama dipantik oleh sekelompok anak muda, yang menyalurkan pemikirannya melalui sebuah jurnal film. Di Prancis, ada nama-nama tenar seperti Francois Truffaut, Jean-Luc Godard, Eric Rohmer, Claude Chabrol, dan Jacques Rivette. Dari tahun 1951 sampai pertengahan 60-an, mereka tergabung dalam Cahiers du Cinema, sebuah jurnal film yang dipimpin oleh Andre Bazin. Melalui Cahiers, mereka banyak menulis tentang perfilman Prancis, yang didominasi oleh film-film yang mereka anggap ketinggalan jaman. Menurut mereka, film seharusnya mengekspresikan apa yang ada dalam diri sutradara, baik pengalamannya maupun pengetahuannya. Mereka gerah dengan sinema Prancis yang seperti ingin meninabobokan penonton melalui penuturan yang linear nan lamban, dan tema cerita yang biasa ditemukan dalam sastra klasik Prancis. Tercetuslah semangat gerakan sinema baru di Prancis, yakni eksplorasi medium film secara personal. Ketika akhirnya ganti peran jadi sutradara, sekumpulan anak muda tersebut tetap mengusung semangat yang sama.

Untuk kasus Inggris, ganti Cahiers du Cinema dengan Sequence, sebuah jurnal film yang didirikan oleh Lindsay Anderson, Gavin Lambert, dan Karel Reisz pada tahun 1947. Seperti kompatriot mereka di Prancis, Sequence turut mengambil sikap kritis terhadap perfilman di negaranya. Bedanya: mereka tidak ambil pusing dengan ekspresi personal. Mereka lebih khawatir dengan representasi masyarakat dalam sinema nasional. Mayoritas film Inggris di tahun 40-an dan 50-an adalah melodrama kelas menengah, yang diproduksi oleh studio-studio film di London dan sekitarnya. Konsekuensinya: sinema nasional Inggris hanya mewakili sekelompok borjuis, yang berlokasi di sekitar ibukota saja. Kelas sosial lainnya, terutama kelas pekerja, dianggap sebagai orang asing.

Ada dua jenis penggambaran kelas pekerja dalam dalam cerita kebanyakan film Inggris waktu itu. Pertama: sebagai objek lelucon, dimana kelas pekerja dilihat sebagai massa yang naif, tidak terdidik, dan mudah ditipu. Kedua: sebagai gangguan bagi para borjuis. Penggambaran yang satu ini seringnya memposisikan kelas pekerja pada peran-peran antagonis, di mana kelas pekerja dibingkai sebagai sekelompok orang tak dikenal, yang punya agenda tersembunyi dan siap merampas kebahagiaan kaum berpunya.

Anderson, Lambert, dan Reisz tidak terima. Menurut mereka, tanpa adanya keberagaman relasi kelas dalam masyarakat, Inggris tak akan pernah berkembang sebagai sebuah bangsa, baik sebelum maupun sesudah kiprah Inggris sebagai negara imperialis. Hal tersebut yang tak tercermin dalam sinema nasional Inggris waktu itu. Belum lagi, film-film impor Hollywood yang beredar di Inggris hanya menawarkan hiburan eskapis, yang berfungsi sebagai etalase aksi laga dan bintang glamor belaka, ketimbang sebagai potret tentang kenyataan di luar sana. Atas dasar pemikiran tersebut, trio pendiri Sequence menuntut adanya representasi masyarakat yang layak dalam sinema nasional. Dalam kasus ini, “layak” dimaknai sebagai kedekatan dengan kehidupan sehari-hari, atau yang dibahasakan Anderson sebagai poetry of everyday life. Hanya melalui representasi masyarakat yang layak, sinema Inggris dapat memperoleh jati dirinya kembali, dan berkembang baik secara estetis maupun politis. Jadilah, mereka menyiarkan ide mereka melalui empat belas edisi Sequence, yang diterbitkan secara berkala dari tahun 1947 sampai 1952. Sepanjang eksistensinya tersebut, Sequence menjadi alternatif bagi Sight and Sound, majalah film bulanan terbitan British Film Institute, yang lebih banyak meliput perkembangan di arus utama perfilman Inggris.

Dalam konteks yang lebih luas, Sequence menjadi genangan oase di tengah sebuah gurun bernama perfilman Inggris. Selama tiga dekade terakhir, sineas Inggris seperti tak berdaya menghadapi serbuan film impor Hollywood, bahkan setelah mereka mendapat dukungan pemerintah via sejumlah regulasi. Pada tahun 1937, pemerintah menetapkan adanya kuota film asing, yang kemudian ditindaklanjuti dengan pengenaan pajak tinggi terhadap film Hollywood di tahun 1947, dan pendirian badan subsidi film nasional di tahun 1949.

Kenyataan bicara lain. Masyarakat Inggris mendatangi bioskop untuk menonton film Hollywood, bukan film produksi anak negeri sendiri. Para sineas Inggris pun berlomba-lomba mengimitasi Hollywood, dengan harapan dapat menarik penonton. Sayangnya, kondisi tersebut malah berbalik menghantui Inggris. Di satu sisi, Hollywood mencatat adanya potensi tenaga kerja baru di Inggris, lalu memboyong beberapa dari mereka, salah satunya Alfred Hitchcock, untuk bekerja di Amerika Serikat. Di sisi lain, perfilman Inggris kian digenangi oleh film-film imitasi Hollywood, yang secara lantang dianggap tidak relevan dan merugikan oleh para punggawa Sequence.

Pada saat yang bersamaan, pendidikan film di Inggris baru sebatas wacana. Pasca perang Dunia II, Inggris hampir tidak punya sumber daya yang memungkinkan masyarakatnya untuk melihat sinema dunia. National Film Theater, yang berfungsi sebagai ruang pemutaran fim lokal maupun internasional, baru beroperasi secara permanen sejak tahun 1957. National Film School, yang berfungsi sebagai sarana pendidikan formal untuk pekerja film, baru ada pada tahun 1971. Praktis, referensi belajar film di Inggris akhir 1940-an hingga tahun 1950-an terbatas pada Sight and Sound, yang seperti sudah dijelaskan lebih akrab dengan arus utama industri film Inggris. Publikasi lainnya tentang film di Inggris, yakni Penguin Film Review, tidak lebih baik dari Sight and Sound: sama cakupannya dalam membahas sinema, tapi dalam oplah yang jauh lebih kecil. Di tengah segala kondisi tersebut, para punggawa Sequence menawarkan jendela alternatif untuk melihat sinema dunia. Secara berkala, Sequence mengkaji sejumlah pembuat film favorit mereka, mulai dari John Ford, Humphrey Jennings, Jean Vigo, Vittorio de Sica hingga Roberto Rossellini. Mayoritas adalah pembuat film beraliran realis. Melalui kajian-kajian tersebut, para punggawa Sequence dapat menegaskan pendiriannya, kalau sinema Inggris perlu kembali pada kenyataan, atau mati tenggelam dalam keseragaman.

Mimpi revolusi yang diusung Sequence pada akhirnya terbentur kenyataan. Setelah menerbitkan empat belas edisi, Sequence berhenti beraktivitas pada tahun 1952. Alasannya: keterbatasan dana. Sepanjang karier mereka sebgai penulis, para punggawa Sequence tidak membangun sebuah sistem, yang memungkinkan jurnal tersebut untuk bertahan lama. Untuk operasi sehari-hari, mereka mengandalkan pinjaman uang dari rekan-rekan sejawat, yang beberapa tak terbayar bahkan setelah Sequence bubar. Publikasi mereka lakukan secara independen, mulai dari penataan desain halaman, penjilidan kertas, hingga distribusi. Untuk pengadaan gambar dalam jurnal, mereka mengusahakannya lewat cara halal maupun haram. Awalnya mereka meminta izin pada pihak pembuat film. Kalau tidak dapat, mereka akan menyusup ke sejumlah perusahaan distributor film, lalu menyelundupkan keluar beberapa foto adegan film. Taktik gerilya tersebut ternyata sulit dipterapkan terus menerus, sampai akhirnya trio pendiri Sequence memutuskan untuk menghentikan publikasi mereka.

Every Day Except Christmas, karya Lindsay Anderson tahun 1957

Bebas di Luar Batas

Untungnya, para punggawa Sequence tidak ikut-ikutan berhenti begitu saja. Mereka berganti peran, dari penulis menjadi pembuat film. Fase baru hidup mereka ditandai oleh Free Cinema. Awalnya, Free Cinema adalah sebuah program pemutaran di National Film Theater, London, pada tahun 1956. Penggagas program tersebut adalah dua dari trio pendiri Sequence, Lindsay Anderson dan Karel Reisz, serta dua sutradara muda Inggris, Tony Richardson dan Lorenza Mazzetti. Melalui Free Cinema, mereka memutar tiga film pendek karya mereka, yang menjadi perwujudan dari visi mereka tentang bagaimana sinema Inggris seharusnya. Film pertama adalah O Dreamland, sebuah dokumenter karya Anderson tahun 1953, tentang aktivitas sehari-hari para pekerja sebuah taman hiburan. Berikutnya adalah Momma Don’t Allow, sebuah dokumenter karya Reisz dan Richardon tahun 1956, tentang relasi sehari-hari dalam suatu bar jazz di London. Film terakhir adalah Together, sebuah fiksi karya Mazzetti tahun 1956, tentang kehidupan sepasang orang tuli di ibukota Inggris.

Seusai pemutaran, keempat sutradara mengumumkan manifesto mereka. Isinya adalah penjelasan kalau ketiga film yang baru saja diputar tidak diproduksi bersamaan, tidak juga diproduksi dengan niat untuk diputar barengan. Mereka berkata begitu karena ketiga film yang diputar punya kesamaan gaya tutur, yakni fokus pada gambar, di mana suara hanya difungsikan untuk narasi suara dan pembangun atmosfer. Selain itu, ketiga film tersebut juga tak ambil pusing soal pencapaian teknis, terlihat dari adegan-adegan film mereka banyak yang goyang dan kurang pencahayaan. Mereka beranggapan, dengan teknik pengambilan gambar yang paling kasar sekalipun, penonton akan tetap dapat memahami isi filmnya, asalkan kosa gambar dan penyusunannya sesuai dengan tujuan yang dimaksud. Oleh karenanya, bagi mereka, yang paling penting adalah subyek yang diangkat dalam film. Pemilihan subyek menjadi penting, karena subyek menentukan gaya tutur film. Dalam penuturan tersebut, seorang pembuat film menyiarkan ideologinya. Dengan mengangkat orang-orang di margin masyarakat, mereka ingin menegaskan posisi dan tujuan mereka sebagai pembuat film, yakni sebagai corong suara untuk mereka yang berada di pinggiran.

Program Free Cinema ternyata menarik banyak perhatian dan menuai sejumlah respons positif. Jadilah, keempat penggagasnya mengadakan lima pemutaran lagi, di tempat yang sama, sampai tahun 1959. Dalam pemutaran-pemutaran lanjutan tersebut, para penggagas Free Cinema mulai memasukkan sejumlah film dari luar Inggris. Pemutaran kedua, misalnya, menampilkan film-film karya Lionel Rogosin, Norman McLaren, dan Georges Franju. Pemutaran keempat memutar film-film dari Polandia, salah satunya Two Men and a Wardrobe karya Roman Polanski, sementara pemutaran kelima menampilkan film-film dari Prancis, salah satunya Les mistons karya Francois Truffaut. Mereka juga menayangkan sejumlah film produksi Inggris, yang mereka anggap berideologi serupa dengan mereka. Salah satu di antaranya adalah Nice Time, karya Alain Tanner dan Claude Goretta, yang diputar di pemutaran kedua.

Free Cinema pada akhirnya menjadi label tersendiri untuk suatu metode produksi. Kata free dalam kasus ini dimaknai sebagai produksi di luar batas arus utama industri film. Alhasil, semua film yang diproduksi dengan label Free Cinema cenderung murah, hanya butuh beberapa ratus poundsterling saja, yang itu juga didapat melalui hibah dari berbagai sumber. Dengan dana yang minim tersebut, keempat punggawa Free Cinema menghasilkan sejumlah dokumenter, yang diproduksi di atas pita 16mm, melalui satu atau dua kamera handheld. Suara biasanya ditambahkan di meja editing, dan seringnya tidak sinkron dengan gambar-gambar yang ada. Hasilnya adalah sejumlah film tentang kehidupan orang biasa dan kelas pekerja. Mayoritas adalah film dokumenter, yang tak banyak berkutat di narasi informasi, tapi lebih pada penyampaian rasa simpati dengan cara yang puitis.

Satu karya Free Cinema yang cukup banyak mendapat perhatian adalah Every Day Except Christmas, karya Lindsay Anderson tahun 1957. Diproduksi dengan bantuan dana dari Ford, film tersebut bercerita tentang sebuah pasar di daerah Covent Garden, London. Bagian pembuka film diisi oleh montase sejumlah pekerja, yang menyiapkan pasar sebelum matahari terbit. Seiring dengan meningkatnya aktivitas di pasar, karena hari sudah pagi dan orang mulai ramai berdatangan, ritme film pun makin cepat. Pergantian satu adegan ke adegan lainnya semakin cepat. Melalui pergantian adegan tersebut, Anderson menyorot sejumlah wajah pekerja, yang nantinya akan berulang terus sepanjang film. Secara visual, mulai terpetakan bagaiamana pekerja-pekerja tersebut tersusun dalam suatu hierarki peran dan sekuens jam kerja. Ketika akhirnya pasar tutup di sore hari, pergantian adegan ikut melambat. Kamera kembali menyorot wajah-wajah pekerja, plus narasi suara yang merangkum kerja keras mereka hari itu.

Karya Free Cinema lainnya yang cukup terkenal adalah We Are the Lambeth Boys, karya Karel Reisz tahun 1959. Sama seperti Every Day Except Christmas, filmnya Reisz turut disokong oleh dana dari Ford. Film tersebut bercerita tentang sekelompok anak muda, yang tergabung dalam semacam karang taruna di London bagian selatan. Sepanjang 52 menit durasi film, kamera bergerak mengikuti tindak tanduk subyek dari dekat. Jarak paling jauh penonton dari subyek adalah medium shot, yang jumlahnya tak seberapa dibanding close-up yang mendominasi film. Sembari film menampilkan aktivitas para anak muda, kadang menyorot emosi yang tersirat di wajah mereka, terdengar narasi suara yang menjelaskan siapa mereka sebenarnya, dan bagaimana mereka sering disalahartikan oleh masyarakat sebagai anak nakal. Melalui filmnya, Reisz sejatinya tak ingin menyiarkan fakta tentang anak-anak muda tersebut, tapi berusaha memberikan mereka tempat yang setara di masyarakat via sinema.

Nada realis begitu kental dalam karya-karya Free Cinema. Seiring dengan makin populernya Free Cinema, media mulai mengaitkan label tersebut ke sejumlah pembuat film Inggris lainnya. Beberapa di antaranya adalah John Schlesinger (A Kind of Loving, 1962; Billy Liar, 1963; Darling, 1965), Jack Clayton (Room at the Top, 1959; The Pumpkin Eater, 1964), Sidney J. Furie (The Leather Boys, 1964), dan Bryan Forbes (The League of Gentlemen, 1959; The Angry Silence, 1960; The L-Shaped Room, 1964). Mereka sendiri tidak pernah terlibat dalam Free Cinema, tidak juga mengasosiasikan diri dengan label tersebut. Kebetulan saja nada realis dalam karya-karya mereka sama kentalnya dengan karya-karya Free Cinema. Beberapa dari mereka juga punya latar belakang dokumenter. Jadilah, media-media Inggris mengkotakkan mereka dalam label yang sama.

A Taste of Honey, karya Tony Richardson tahun 1961

Gelombang Baru

Puncak dari gerakan sinema baru Inggris adalah ketika media-media Inggris mulai memakai istilah British New Wave. Ada pengakuan terhadap sejumlah talenta yang menjadi penerus perfilman Inggris. Di sinilah letak keunikan dari generasi sinema baru Inggris: tidak ada satu kelompok yang dominan. Kelompok-kelompok yang ada dalam prakteknya tidak selalu bersama, walau ideologi yang mendasari mereka serupa. Berbeda halnya dengan gerakan sinema baru Prancis, misalnya, yang hanya diasosiasikan dengan alumni Cahiers du Cinema. Gerakan sinema baru Inggris sejatinya adalah suatu perubahan yang terdiri dari sejumlah kelompok. Free Cinema hanyalah satu pemantik, walau pengaruhnya besar. Ada beberapa pembuat film lainnya, yang tidak tergabung dalam kelompok apapun, dan baru mendapat perhatian media setelah Free Cinema naik daun. Mereka adalah John Schlesinger, Jack Clayton, Sidney J. Furie, dan Bryan Forbes. Ada juga sekelompok novelis dan dramawan, yang nantinya bergabung kekuatan dengan para pembuat film, baik dengan alumni Free Cinema maupun pembuat film Inggris lainnya. Mereka lazimnya dikenal dengan nama Angry Young Men.

Kemunculan Angry Young Men dilatari oleh perubahan dalam tradisi literer Inggris. Sebelumnya, sastra Inggris lebih erat dengan prosa Virginia Woolf dan James Joyce, yang lebih mengedepankan eksperimen bahasa dan ekspresi psikologis. Sejak tahun 1950, ada sejumlah sastrawan Inggris yang karya-karyanya mengangkat masalah sosial, dalam bahasa yang lugas dan tidak berbelit-belit. Beberapa di antaranya adalah Angus Wilson, J.B. Priestley, dan C.P. Snow. Kemunculan mereka mendapat perhatian nasional, ketika BBC mengangkat mereka dalam salah satu program radionya, First Reading. Kesuksesan acara tersebut menular ke sejumlah sastrawan, yang juga mengusung pendekatan realis dalam karya-karyanya. Beberapa di antaranya adalah Donald Davie, Thom Gunn, Philip Larkin, Kingsley Amis, dan Iris Murdoch. Mereka semua mengkritik nilai-nilai tradisional dalam masyarakat Inggris, dan menggambarkan realita yang ada dengan segala kebobrokannya. Realisme sosial pun menjadi darah baru dunia literer Inggris.

Realisme sosial kemudian mulai diusung oleh sejumah dramawan. Salah satunya adalah John Osborne. Pada tanggal 8 Mei 1956, Osborne mementaskan sebuah drama berjudul Look Back in Anger di Royal Court Theatre, London. Dalam selebaran promosinya, Osborne menggunakan istilah Angry Young Man untuk mendeskripsikan protagonis ceritanya. Lakon teaternya sendiri bercerita tentang seorang pekerja pasar, yang tidak puas dengan kondisi hidupnya, dan akhirnya melampiaskan kemarahannya pada istrinya, yang kebetulan berasal dari kalangan atas. Look Back in Anger di luar dugaan laris, dan istilah Angry Young Man mulai populer di kalangan media. Osborne pun menggunakan pendekatan serupa dalam karyanya selanjutnya, The Entertainer. Ceritanya tentang seorang pemain sandiwara di sebuah teater tua, yang tak lagi laris di hadapan masyarakat Inggris yang kian modern. Dalam rasa frustasinya, pemain sandiwara tersebut mencoba menjaga citranya sebagai mantan bintang, sembari mempertahankan hubungan personal yang kian rapuh dengan orang-orang terdekatnya.

Dramawan Inggris lainnya yang waktu itu menggunakan pendekatan realis, dan turut mendapat label Angry Young Men, adalah Shelagh Delaney. Pada tanggal 27 Mei 1958, dia mementaskan A Taste of Honey di Theatre Royal Stratford East, London. Drama tersebut bercerita tentang seorang gadis berusia tujuh belas tahun, yang berasal dari sebuah keluarga miskin. Ia terlibat asmara dengan seorang pelaut, tapi pada akhirnya ditinggal hamil. Di saat yang bersamaan, ibu gadis tersebut mengabaikan anaknya, dan memilih untuk menghabiskan waktu dengan pacarnya yang kaya. Sepanjang lakon teater, relasi kelas dan gender intens dipertanyakan, yang kemudian dikaitkan dengan masyarakat Inggris di jamannya. Drama Delaney tersebut diadaptasi ke layar lebar oleh Tony Richardson pada tahun 1961. Para kritikus menganggap karya Richardson yang satu ini sebagai film yang paling representatif dari British New Wave.

Dalam mengadaptasi A Taste of Honey, Richardson menjadikan konflik protagonis bukan sebagai masalah yang harus diselesaikan para institusi sosial, tapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang akan selalu muncul. Secara visual, ide tersebut diterjemahkan ke dalam sejumlah shot yang menyorot lingkungan protagonis. Richardson pertama-tama menyajikan sebuah montase, yang bergantian menyorot lanskap ruangan. Baru kemudian ia memperkenalkan karakternya ke dalam cerita. Dari penggambaran tersebut, Richardson memberikan prioritas kepada ruang yang melingkupi karakter. Para karakter kelas pekerja tersebut tak akan pernah bisa selesai masalahnya, karena lingkungan yang melingkupi mereka pada dasarnya sudah bobrok. Hal tersebut semakin dipertegas Richardson di akhir film, di mana kamera membingkai protagonis menyalakan kembang api. Masalah memang belum dan tidak akan selesai, namun setidaknya semangat protagonis belumlah mati.

Pertemuan Richardson dan Delaney di A Taste of Honey hanyalah satu dari sekian banyak titik sentuh British New Wave dengan dunia literer Inggris. Pasalnya, ketika label Angry Young Men kian meluas ke sejumlah novelis, para pembuat film turut mengadaptasi karya mereka. Pada tahun 1959, Jack Clayton mengadaptasi Room at the Top, sebuah novel karya John Braine ke layar lebar. Setahun kemudian, gantian Karel Reisz mengadaptasi Saturday Night and Sunday Morning, novel pertamanya Alan Silitoe. Ada John Schlesinger yang menyutradarai A Kind of Loving, diadaptasi dari novel berjudul sama karya Stan Barstow. Ada Bryan Forbes yang mengangkat novel karya Lynne Reid Banks, The L-Shaped Room, ke layar perak pada tahun 1962. Ada juga Lindsay Anderson yang menggarap film The Sporting Life, sebuah novel karya David Storey, pada tahun 1963. Richardson sendiri tidak berhenti di A Taste of Honey saja. Dia turut mengangkat dua drama karya Osborne, Look Back in Anger pada tahun 1959 dan The Entertainer setahun kemudian, serta sebuah cerita pendek karya Alan Sillitoe, The Loneliness of Long Distance Runner pada tahun 1962.

Sepanjang periode 1959 sampai tahun 1963, British New Wave menjadi wajah perfilman Inggris, baik di kancah nasional maupun internasional. Pada tahun 1959, Room at the Top menjadi film Inggris terbaik di BAFTA Award, penghargaan tertinggi di belantika perfilman Inggris. Di tahun yang sama, Room at The Top memenangi dua penghargaan di Golden Globe Award, sementara Look Back in Anger memperoleh satu nominasi untuk pemeran pria terbaik. Pada tahun 1962 dan 1963, gantian Saturday Night and Sunday Morning dan A Taste of Honey yang meraup titel film Inggris terbaik di BAFTA Award. Serentetan penghargaan ini menjadi semacam pengakuan dari industri film, bahwa masyarakat Inggris sejatinya terdiri dari relasi kelas yang beragam. Apabila produk budaya, macam film dan novel, mencerminkan karakteristik suatu bangsa, berarti representasi masyarakat yang layak memang diperlukan dalam sinema nasional.

Sebagai suatu fenomena, British New Wave mulai kembang kempis menjelang pertengahan 1960-an. Dalam tubuh industri film Inggris, berhembus angin perubahan ke film-film hiburan massal, yang terwujud dalam banyak film komedi dan petualangan. Film-film sadar kelas ala British New Wave dianggap tidak relevan, dan mulai kehilangan tempat. Tanda-tandanya terlihat ketika A Hard Day’s Night dirilis pada tahun 1964, dan memperoleh respons yang positif di daftar penjualan tiket. Belum lagi, di periode yang sama, dunia mulai berkenalan dengan tokoh James Bond, yang terwujud dalam sejumlah film, dari Dr. No di tahun 1962 sampai You Only Live Twice di tahun 1967. Tidak perlu dijelaskan bagaimana penonton di Inggris dan seluruh dunia terpukau dengan James Bond. Sampai sekarang, tercatat ada dua puluh lebih film James Bond, dan masih ada rencana produksi film selanjutnya.

Poster Tom Jones, film Tony Richardson tahun 1963

Epilog

Sejumlah punggawa British New Wave akhirnya membuat film-film jenis lain. Pada tahun 1968, Karel Reisz menyutradarai Isadora, sebuah film tentang Isadora Duncan, seorang penari kelas dunia. Di tahun yang sama, Lindsay Anderson merilis If…, sebuah film tentang kehidupan sekolah asrama pria. Protagonis film tersebut lebih mewakili anak muda, ketimbang kelas pekerja layaknya film-film Anderson sebelumnya. Pendekatan visual filmnya juga lebih ke arah surrealis, dan jauh dari kesan realis. Tiga tahun kemudian, Anderson memproduksi O Lucky Man, sebuah film tentang naik turunnya seorang pengusaha kopi. Film tersebut lebih dekat dengan nilai-nilai kelas menengah, dan jauh dari karakter orang-orang pinggiran yang sebelumnya Anderson angkat.

Beberapa punggawa British New Wave lainnya turut mengikuti trend perfilman Inggris. Salah satunya adalah Tony Richardson. Pada tahun 1963, ia merilis Tom Jones, sebuah film adaptasi novel klasik karya Henry Fielding. Naskahnya ditulis oleh John Osborne, dramawan yang dulunya mempopulerkan label Angry Young Men. Film tersebut adalah film komedi, yang banyak bermain dengan konvensi film, seperti karakter yang tiba-tiba bicara langsung ke kamera. Sebagai sebuah film, Tom Jones adalah film komedi yang unik. Sebagai sebuah film karya Richardson, Tom Jones jelas jauh dari karya-karyanya sebelumnya, yang secara frontal mengusung panji realisme sosial. Pada titik ini, menurut para kritikus, momentum British New Wave sebagai sebuah gerakan sudah habis.

Sebagai sebuah komitmen terhadap realita, British New Wave masih terasa pengaruhnya, setidaknya di Inggris. Pada tahun 1980-an, muncul sejumlah pembuat film di Inggris, yang dilabeli media dengan nama Brit Grit. Dua nama tenar dari kelompok tersebut adalah Mike Leigh dan Ken Loach. Sama seperti para punggawa British New Wave, mereka mengabdikan diri pada proyeksi realita via sinema, walau dengan cara yang berbeda.

Referensi

Geoffrey Nowell-Smith (ed.). The Oxford History of World Cinema. Oxford: Oxford University Press, 1997.

Jim Leach. British Film. Cambridge: Cambridge University Press, 2004.

Kevin MacDonald. Interviews: Free Cinema. British Film Institute, diakses 3 Juni 2011. (http://www.bfi.org.uk/features/interviews/freecinema.html)

Linda Badley, R. Barton Palmer & Steven Jay Schneider (ed.) Traditions in World Cinema. Cambridge: Edinburgh University Press, 2006.

Lindsay Anderson. Sequence: Introduction to a Reprint. University of Stirlin, diakses 2 Juni 2011. (http://www.is.stir.ac.uk/libraries/collections/anderson/onSequence.php)

Sue Harper & Vincent Porter. British Cinema of the 1950s: The Decline of Deference. Oxford: Oxford University Press, 2007.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (2)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend