Boyhood: Ketika Momen Memperkaya Kita

boyhood-2014_hlgh

Tatkala Linklater terkenal dengan kepiawaiannya memfilmkan momen satu hari, kini kekaguman jadi bertambah ketika ia bisa memfilmkan momen-momen 12 tahun. Konon, ide awalnya adalah bercerita tentang masa kecil. Akan tetapi, Linklater tidak memiliki cukup gagasan untuk satu fase hidup saja. Singkat kata singkat cerita, ide itu pun berubah menjadi mengambil beragam momen (fase-fase) untuk kemudian dijadikan satu. Rencananya semacam 10 menit untuk setiap tahun, sehingga ada 120 menit yang seimbang. Tapi setelah film selesai, dapat dilihat bahwa implementasinya tidaklah sematematis itu.

Kata boyhood, yang berarti bentuk utuh dari pengalaman masa kecil, merupakan bingkai abstrak yang dalam film diisi oleh penggalan-penggalan hidup Evans Mason Jr (berikutnya akan ditulis Mason). Penggalan-penggalan tersebut diperankan oleh cast yang sama untuk empat tokoh sentralnya, yaitu Mason (Ellar Coltrane), Mason Sr. (Ethan Hawke), Olivia (Patricia Arquette), dan Samantha (Lorei Linklater) – coming-of-age. Pemeran yang sama berarti penuaan alami dengan perbedaan tipis sulit terlacak tahun-ke-tahun-nya, atau singkatnya: kontinuitas yang tak putus. Selain itu, film juga tak menyertakan tahun, agar kita tak melihatnya sebagai kronologi. Kronologi, secara esensi masih mengandung pembagian, masih bisa dipecah, namun “masa kecil” tidak. Singkatnya, kita tak diarahkan untuk berkata, “pada usia sepuluh tahun, Mason bla bla bla,” melainkan cukup “waktu kecil, Mason bla bla bla.”

Dengan keutuhan penggambaran masa kecil tersebut, Boyhood seakan mencoba menembus jarak antara cinematic life dan real life. Jarak tersebut ditempuh oleh kendaraan bernama Mason, yang menyaksikan sekaligus berada di momen-momen kehidupan yang lalu-lalang. Ia melewati masa-masa bermain gameboy, hingga video game, dan melihat foto porno di majalah, hingga di internet. Di lingkup yang lebih personal, ia menghadapi pergantian ayah, sekolah, dan teman.

Menariknya, problema hidup Mason dijalankankan tanpa ekploitasi berlebih, namun jelas tak disederhanakan. Misal saat ibunya menikah lagi. Tidak ada adegan resepsi pernikahan, ataupun proses pendekatan sang profesor yang menjadi ayah barunya (Marco Perella); melainkan sebatas suatu hari mereka pulang dari bulan madu. Sedikit ada lompatan waktu, namun apalah artinya itu bila mengingat bingkai film adalah “masa kecil Mason”. Pernikahan Olivia hanya signifikan sebagai titik berubahnya kehidupan Mason. Sementara fokus film tidak disematkan kepada titik-titik kehidupan; tapi pada garis yang ditimbulkan antar titik-titik tersebut. Sehingga yang film tunjukkan bukanlah Mason punya ayah baru, melainkan Mason memiliki keluarga baru, dengan pola asuh dan pola hidup yang baru. Konsekuen dengan fokusnya itu, film pun menggambarkan dengan baik bagaimana perlakuan ayah barunya Mason. Aturan yang ketat, keputusan yang sepihak, pemberian tugas rumah untuk anak-anaknya, serta hiburan yang relatif high-class seperti bermain bermain golf (ketimbang bowling).

Namanya perjalanan hidup, yang berubah tentu bukan momen-momennya saja. Para pelakunya pasti juga berubah, hanya saja lebih perlahan. Begitupun yang terjadi pada tokoh-tokoh di film Boyhood. Selain perubahan fisiknya, tampak pula bagaimana setiap tokoh mengalami perubahan dalam hal proses mentalnya. Secara kasat mata terlihat bagaimana perubahan ayah kandung Mason memulai keluarga baru dan melepas mobil Pontiac GTO, atau sang ibu yang akhirnya harus melepas anak-anak dan mulai memikirkan bilamana tiba akhir hayatnya. Sementara untuk para anak, perubahan yang cukup kentara adalah ketika Mason menggunakan anting dan Samantha mengecat rambutnya, sebagai penanda masa remaja. Lalu ada pula pergeseran masa dari ketika Mason masih butuh izin orangtua untuk keluar, dan ketika ia justru bisa membantah ayah tirinya karena pulang larut. Sedangkan yang lebih subtil, misalnya ketika Samantha yang gemar mengganggu Mason, entah sejak kapan, justru berhenti mengisengi adiknya, dan bahkan memposisikannya sebagai anak-yang-sudah-besar.

Sebenarnya masih ada beberapa hal lain yang menarik. Dan rasanya memang butuh lebih banyak waktu untuk membahas betapa apiknya Boyhood memadatkan 12 tahun ke dalam 2 jam 45 menit. Misalnya bagaimana pilihan Richard Linklater menggunakan medium 35mm sampai akhir, bagaimana penghayatan (akting) para pemainnya, penyesuaian film dengan perkembangan zaman (launching Buku Harry Potter, keberadaan facebook, kampanye Obama, dan lain-lain), relevansi percakapan (yang tercetus pada 2002) yang mungkin sudah usang ketika film usai (pada 2013), dan berbagai hal lainnya. Namun ketimbang dibahas, mungkin ada baiknya hal-hal itu dinikmati sendiri saat menonton filmnya.

Satu yang kemudian baiknya dibincangkan pula adalah, apa gagasan akhir dari film ini. Sebab, berhasil menembus jarak antara cinematic life dan real life adalah satu hal. Hal lainnya, dari segala pencapaian naratif yang ada, adalah apa yang ingin pembuat film sampaikan. Sebuah film memang tak harus melulu menyuguhkan pesan, misalnya dalam hal film sebagai permainan medium, atau permainan modal saja. Akan tetapi, sebagai media yang juga berpotensi berisikan pernyataan personal, rasanya patut pula diselidiki maksud serta pesan dari sang pembuat film.

“The moment seizes us…”

 Seperti biasa, salah satu cara menafsir gagasan suatu narasi adalah dengan melihat awal (dan) atau akhirnya. Di film Boyhood, awal adalah Mason menatap langit, sambil kemudian menjelaskan polahnya di sekolah. Ia menjelaskan laporan guru yang bilang bahwasanya ia memandang jendela (hampir) seharian, dan bereksperimen dengan rautan. Sedangkan akhir film adalah perjalanan Mason ke alam bersama rekan yang baru ia kenal. Kemudian dialog terakhir terlontar, yang mana “seize the moment” dibalik menjadi “the moment seizes us. Kita tak bisa “seize those moments”, karena momen selalu konstan, selalu berjalan dalam kesekarangan (dan kesementaraan). Yang berubah adalah individu yang terus mencerap, memaknai, menyikapi, menyesuaikan diri, dan terpengaruh oleh keadaan sekitarnya.

Dari argumen penutup itu, asumsi yang kemudian muncul adalah: semua momen selama durasi 2 jam 45 menit dalam film membentuk Mason. Proses pembentukan ini pun dibahasakan dengan baik oleh film. Film jarang sekali merekam Mason sedang sendirian. Selalu ada momen; selalu ada orang lain dan interaksi sosial. Bersamaan dengan itu pula, berbagai hal terbahasakan dan kejadian-kejadian diberikan makna. Misalnya ketika di arena bowling Samantha memberitahu bahwa sang ayah merokok, atau ketika di dalam mobil saudara tiri Mason berkata bahwa minuman keras yang dibeli bukan untuk tamu. Lebih dari sekadar informasi, kedua hal itu menyuguhkan skema tertentu. Mason tidak lah sekadar tahu, tapi ia belajar dari momen itu. Dan yang perlu diingat itu hanyalah dua contoh kecil, masih banyak (yang mana hampir semuanya) hal yang Mason pelajari dari interaksi di sekitarnya.

Dengan penjabaran interaksi-interaksi di hidupnya, kita pun seakan mengenal Mason. Bila dianalogikan, momen-momen hidup Mason itu laksana air yang mengisi sebuah wadah. Kita saksikan setetes demi tetes air mengisinya. Sementara wadahnya adalah karakter Mason yang secara efisien dikenalkan di awal film. Seorang anak yang tiduran di rumput memandangi langit, dan begitu polos menjelaskan polahnya di sekolah. Mungkin terlalu gegabah bila menyimpulkan tipe kepribadian anak dari secuil trait itu saja, tapi mungkin bisa kita sepakati bahwa ia berbeda dari anak yang, misalnya, gemar pamer barang-barang bawaannya, atau anak yang selalu didampingi pengasuh ke mana-mana.

Entah bagaimana jadinya bila awal film berisi adegan Mason sedang menunjukkan mainan baru ke teman-temannya, sambil di sisinya ada seorang pengasuh siap menyuapinya sesendok nasi. Kemungkinan besar beda dengan versi aslinya. Bisa jadi setelah menghadapi pindah-lingkungan berkali-kali, dan diperlakukan keras oleh ayah barunya, Mason versi lain ini tumbuh jadi anak pembangkang, menghabiskan uang orangtuanya, pengguna narkoba; atau sebaliknya, anak yang sangat pendiam, selalu sedih, dan enggan bergaul. Yang pasti, sebelum makin ngelantur, sudah kita temui Boyhood dengan pilihan momen-momen hidup dan pengembangan karakter yang sudah dipilih oleh Richard Linklater. Mason tumbuh menjadi anak “nyeni” dengan cara pandang yang relatif tidak umum. Ini bisa dilihat dari obrolannya dengan pasangan wanitanya, ketika membahas sosial media; atau ketika ia berbincang dengan ayahnya dan berkata, “So what’s the point?” “About what?” “Everything.”

Lalu bagaimana untuk mereka yang hidupnya adem ayem saja, nyaman, dan tak ada gejolak yang berarti? Dari mana bisa didapat cara pandang yang berbeda? Film memang tak menjawabnya, dan filmnya sendiri dijalankan oleh kepelikan. Namun setidaknya ada ruang untuk pertanyaan ini. Salah satunya adalah kesuksesan tukang ledeng bernama Ernesto (Roland Ruiz) yang memilih untuk sekolah lagi karena saran Olivia. Meski begitu instan, setidaknya hal ini menjelaskan betapa besarnya impact suatu momen, apapun momen itu. Tidak perlu momen besar nan pelik, seperti perceraian orangtua, atau melarikan diri dari ayah tiri; momen sesederhana bertemu dengan orang lain pun cukup. Kalau tidak, buat apa Mason Sr rutin menemui anak-anaknya?

Boyhood | 2014 | Durasi: 166 menit | Sutradara: Richard Linklater | Negara: Amerika Serikat | Pemeran: Ellar Coltrane, Patricia Arquette, Ethan Hawke, Lorei Linklater

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (6)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend