Asia Tenggara Berjalan ke Eropa Tidak Pakai Celana

asia-tenggara-berjalan-ke-eropa-tidak-pakai-celana_highlight

Kinatay (Brillante Mendoza, 2009)

Tahun 2009 menjadi tahun cerah bagi sinema Filipina bila ditilik dari keberhasilan mereka mencuri perhatian internasional. Yang saya maksud disini adalah Brillante Mendoza yang diangkat habis-habisan setelah meraih penghargaan sutradara terbaik di Festival Film Cannes 2009 lewat Kinatay (The Execution of P). Di kesempatan lain, Pepe Diokno berhasil menusuk ke jantung Festival Film Venezia dan menyabet Luigi de Laurentiis Award lewat Engkwentro (Clash) pada tahun yang sama. Luigi de Laurentiis Award adalah sesi penghargaan yang dianugerahkan kepada pembuat film yang baru saja merilis film panjang (feature-length) pertama mereka. Pertama kali mendengar kabar itu, semua orang Asia Tenggara pasti akan melihat ke tanah berpijaknya. Saya sebagai orang Indonesia, otomatis bertanya “Indonesia kapan?” Pertanyaan itu semakin menampar saya menyusul dinobatkannya Uncle Boonmee Who Can Recall His Past Lives (Apichatpong Weerasethakul, 2010) sebagai film terbaik di sesi kompetisi Festival Film Cannes 2010. Film itu tentu merepresentasikan Thailand sebagai kuda hitam produsen film-film bermutu dan dihargai dunia, lalu coba sebutkan berapa banyak film Thailand yang di remake oleh Hollywood!

“Keberhasilan” Kinatay dan Engkwentro menyiratkan beberapa hal yang patut diperhatikan. Dua film ini menjumput tema yang kurang lebih sama. Orang-orang Filipina kelas bawah yang berkutat dengan kemiskinannya, sama-sama menempatkan pemerintah sebagai antagonis, dan lokasi tempat kedua film tersebut berlatar berada jauh di dasar kantung-kantung kemiskinan Filipina. Hal ini yang sedikit banyak, membuat Brillante Mendoza agak sedikit dicibir oleh penonton lokal sama seperti dulu khalayak India mencemooh Slumdog Millionaire. Cibiran dan cemoohan terhadap Brillante Mendoza, atau lebih tepatnya pada dua filmnya, Serbis (2008) dan Kinatay (2009) mencuat karena vulgarnya mereka dalam memotret kemiskinan. Kembali terdapat dua kemungkinan mengapa audiens Filipina tak menyukainya: orang Filipina mengaku miskin tapi tak mau menampakkannya sevulgar “itu” pada dunia, atau mereka menilai Mendoza terlalu mengada-ada. Filipina tak demikian sedianya.

Masalah siapa yang mengkonstruksi siapa memang selalu akut, kita sudah tahu bahwa Asia Tenggara telah dikonstruksi oleh Eropa (dan Amerika Serikat) sejak lama. Saya sering mendengar lelucon sinis bahwa Indonesia dan Malaysia terpisah hanya karena Belanda dan Inggris sekali waktu pernah menggelar arisan, lalu sekarang Indonesia dan Malaysia bertikai habis-habisan karena batas-batas yang dibangun oleh Belanda dan Inggris waktu itu: mereka arisan dan kita bunuh-bunuhan karenanya. Sakit memang, tapi tanpa disadari, rakyat dunia ketiga (dalam hal ini Asia Tenggara) menganggap Eropa adalah parameter keberhasilan berkarya, termasuk dunia sinema. Menangnya Mendoza sebagai best director dan masuknya Kinatay kedalam nominasi Palem Emas (penghargaan tertinggi di Festival Film Cannes) tentu membuat orang Asia Tenggara bangga dan bergumam “kita telah dilirik dunia”. Dunia yang mana? Eropa? Lantas Asia Tenggara apa? Bahkan arisan Belanda dan Inggris, Spanyol dan Amerika Serikat, telah mempengaruhi cara berfikir orang Asia Tenggara.

Balik lagi ke dua film tersebut, Kinatay tentu adalah dilema bagi mereka yang menjunjung harga diri sebagai orang Asia Tenggara atau Filipina.  Dalam film tersebut, diceritakan tentang oknum polisi yang melakukan mutilasi lalu menebar teror di masyarakat, tujuannya tentu agar supaya polisi tidak lowong pekerjaan. Polisi selalu sibuk menangani kasus sehingga pamornya terjaga. Meski koheren, tapi Mendoza memilih untuk syuting di wilayah kumuh dan menempatkan karakternya sebagai orang-orang dari wilayah itu. Padahal, terdapat kemungkinan yang sama besarnya ketika latar cerita dipindahkan ke pemukiman kelas menengah atau kelas atas, yang tentu saja tak akan mempengaruhi narasi cerita. Saya prediksi, apabila Kinatay diproduksi oleh Hollywood, pemukiman kumuh akan diganti dengan perumahan imut seperti dalam Edward Scissorhands (Tim Burton, 1990).

Engkwentro (Pepe Diokno, 2009)

Setali tiga uang dengan Mendoza, Diokno membuat film yang berlatar di kompleks miskin dan kotor disebuah kota tak bernama. Sebuah usaha yang sia-sia mengingat bahasa yang digunakan tetaplah bahasa Filipina. Alih-alih menyelematkan imej, Diokno justru menghancurkan Filipina dengan menggunakan sudut pandang orang-orang Core (istilah Wallerstein dan Galtung bagi Eropa dan Amerika Serikat) dalam memotret negaranya sendiri. Bukankah orang-orang Core tak pernah memusingkan nama kota di dunia ketiga? Bukankah bagi mereka Indochina dan Indonesia itu sama saja? Dengan tidak memberi nama, Diokno justru meminjam teropong Eropa dalam membuat Engkwentro. Dikisahkan, sepasang kakak-beradik Richard dan Raymond berusaha keluar dari kota kecil mereka karena Richard tengah diincar oleh City Death Squad, pasukan suruhan pemerintah yang membunuh anak-anak yang dianggap “wabah” bagi masyarakat. Kinatay dan Engkwentro melakukan kesalahan dititik yang berbeda dengan implikasi yang sama.

Tidak berlebihan bila saya ungkapkan bahwa dunia ketiga versi Kinatay dan Engkwentro yang disukai oleh penonton-penonton Eropa lewat festival film mereka. Para festival film yang terhormat ini tidak sedang memutar film Asia Tenggara dalam rangka menghargai perbedaan dan kualitas bersinema. They just used films like Kinatay and Engkwentro to help them  feel better about themselves. Dengan mengetahui bahwa Filipina ternyata “begitu” keadaannya. Mereka akan simpati dan merasa bersyukur sebagai orang Eropa, bahwa mereka lebih baik, lebih berada, dan lebih bebas mengeksploitasi.

Slumdog Millionaire, Kinatay, dan Engkwentro seringkali disebut orang sebagai poverty porn. Apakah memang pantas untuk menyebutnya begitu? Saya setuju apabila ketiga film tersebut dikategorikan sebagai film mengenai poverty (kemiskinan), tetapi apakah mereka adalah poverty porn? Nanti dulu. Pada dasarnya, poverty porn tidak hanya sekedar mengeksploitasi kemiskinan dalam media (tidak hanya film, poverty porn bahkan kadang digunakan dalam iklan-iklan UNDP), melainkan juga memanfaatkan kemiskinan tersebut untuk meminta dan mencapai sesuatu. Sampai disini, Slumdog Millionaire secara tekstual tidak bisa kita kategorikan sebagai pengendara povery porn. Dalam film tersebut, anak-anak yang menjadi karakter sentralnya tidak pernah merasa tersiksa dengan apa yang terjadi disekitarnya. Mereka berlarian gembira, menerima bahwa Mumbai adalah dunia mereka dan akan selamanya terus hidup disana. Slumdog Millionaire tidak sedang meminta simpati, meskipun kita tetap bisa mempertanyakan niat Boyle dalam memfilmkannya. Bedakan dengan Kinatay dan Engkwentro. Dalam Kinatay, si karakter utama Peping berusaha kabur dari intrik ganas yang menjebaknya. Peping jelas tak senang dengan kondisi sosial tempatnya bermukim dan berusaha keluar mencari kehidupan yang lebih tenang. Richard dan pacarnya, Jenny-Jane, berusaha kabur dari kota kecil mereka karena diincar oleh City Death Squad, Richard mati-matian membujuk Raymnond agar mau pergi bersamanya. Pola tekstual yang sama ini yang kemudian bisa disebut sebagai poverty porn. Bagaimana karakter dalam film meminta simpati kepada penonton agar “menyelamatkan” mereka dari jeruji kemiskinan yang memenjarakan.

Poverty porn adalah yang dilakukan oleh mereka yang meminta simpati lewat eksploitasi kemiskinan. Bagaimana media menyorot Madonna yang mengadopsi anak dari Malawi, bagaimana UNDP meyakinkan donatur dengan memotret anak-anak yang menderita, dan bagaimana film-film tentang kemiskinan secara tekstual memohon iba kepada penontonnya. Secara kontekstual, saat ini, siapapun bisa menaruh curiga bahwa Mendoza membuat Kinatay agar Festival Film Cannes kembali jatuh cinta padanya seperti ketika Serbis dipinang masuk ke nominasi peraih Palem Emas. Ia menghunjamkan pukulan ganda lewat manuver poverty porn-nya.

Mendoza membaca pola Festival Eropa dengan lihai serta punya keberanian khusus untuk keluar dari tradisi yang selama ini terkenal dipegang kuat oleh para pembuat film Filipina yang militan. Filipina punya Kidlat Tahimik, seorang filmmaker yang menyuarakan independensi sinema secara apapun dari embel-embel Eropa. Mahakaryanya, Perfumed Nightmare (1977), dibuat sebagai dokumenter satir yang dimulai dengan pemujaan konyol tentang Eropa dan membantingnya keras-keras ke tanah. Dalam sebuah acara, Tahimik berkisah kepada audiensnya “Filipina dijajah Spanyol lima ratus tahun, Amerika Serikat puluhan tahun, dan Hollywood hingga kini.” Bukan berarti dia membenci Hollywood, tetapi dia menyindir bahwa orang Filipina dan Asia Tenggara sendiri sudah menganggap Hollywood dan Eropa sebagai otoritas terlegitimasi atas apapun termasuk sinema. Karena ideologi kontekstualnya, Kidlat Tahimik jarang dilirik eropa: logika yang wajar. Mendoza sama sekali tak termasuk dalam generasi ideologi a la Tahimik.

Lewat tradisi, kita bisa menilik film-film terbaik Filipina dimasanya. Ambil contoh City After Dark (Ishmael Bernal, 1980). Film ini dikenali penontonnya sebagai salah satu film terbaik Filipina sepanjang masa. Tapi apakah ia dilirik Eropa? City After Dark bahkan tidak menang apa-apa kecuali Gawad Urian Awards, sebuah perhelatan film lokal dalam negeri. Tradisi ini bisa kita tarik hingga ke film representatif Filipina kekinian, seperti Segurista (Tikoy Aguilluz, 1997) yang juga jenius secara teknis namun hanya menang diajang film lokal, macam FAP, FAMAS, Star Awards for Movies, dan juga Gawad Urian. Tetapi apakah City After Dark dan Segurista bukan film yang bagus? Tentu mereka film yang sangat brilian. Hanya saja dianggap tidak mewakili Asia Tenggara menurut citarasa dan keinginan orang Eropa. Kita bisa membaca Festival Eropa sebagai Festival yang ternyata tidak lebih memperhatikan kualitas ketimbang keuntungan personal. Kenapa bukan City After Dark atau Segurista yang masuk Festival Film Cannes atau Venezia kalau mereka memang adalah festival penentu film-film yang berhasil? Penyebabnya tentu jelas, orang Eropa tidak suka melihat Filipina seperti yang terepresentasikan dalam film-film itu, di mana Filipina diceritakan lewat social-drama yang variatif dan dekat pada audiens lokal sementara Eropa lebih suka pada Filipina versi Kinatay dan Engkwentro, yang menyatakan bahwa Filipina buruk nan gamang dan Eropa jauh lebih baik.

Lewat berbagai pengkianatan tekstual, apresiasi, dan produksi yang masih menggelayuti Filipina dan Asia Tenggara hingga kini, kita belum bisa menyebut kawasan ini sebagai daerah tempat bertumbuhnya tradisi Third Cinema yang ideal. Third Cinema mewakili keberhasilan sebuah wilayah untuk keluar dari pengaruh-pengaruh eksternal, ia adalah salah sebuah pilar yang menandai bahwa suatu masyarakat sudah benar-benar “merdeka”, atau belum.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Indonesia juga tidak luput dari fenomena serupa. Di mana banyak film-film lokal yang mencuri perhatian internasional dengan memanfaatkan sisi potensial dalam negeri versi Eropa untuk mengemis belas kasihan. Sebagai contoh, saya mencurigai Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (Garin Nugroho, 2002) yang kemudian dihargai tinggi oleh Festival Film Berlin. Belakangan juga ada Laskar Pelangi (Riri Riza, 2008) yang berisi puluhan anak yang berkeras ingin meleraikan diri dari kampung tempat mereka bertumbuh, Laskar Pelangi juga bermuara di sesi Panorama Festival Film Berlin. Yang disukai Eropa adalah Asia Tenggara yang melihat diri mereka sendiri dengan cara kesukaan Eropa. Poinnya ada pada “bagaimana”, bukan “apa”. Kemiskinan dan akutnya birokrasi diangkat oleh Aria Kusumadewa dalam Identitas (2009) tetapi film itu tetap tak terdengar sampai ke Eropa, sebab ia dibuat dengan cara pandang yang tidak Eropa. mengimplikasikan bahwa bukan hanya kemiskinan, tetapi setiap hal lain yang membuat Eropa terlihat lebih baik.

Selain pada proses, terdapat kecenderungan bahwa permainan tanda juga mempengaruhi cara orang Eropa melihat Asia Tenggara dan dunia ketiga lainnya. Binyavanga Wainaina, editor majalah Kwani yang bermarkas di Nairobi, pernah menulis bahwa atribut semiotik juga kerap dipakai oleh orang Eropa yang, meskipun spesifik, tetapi eksploitatif dalam menggambarkan dunia ketiga. Kata guerillas, tribal, atau primordial, seringkali dipakai dalam berbagai tulisan tentang Afrika. Kedekatan dengan wabah penyakit atau romansa yang pahit karena menentang adat sudah menjadi cara lumrah bagai orang-orang Eropa dalam menggambarkan Afrika. Semiotika menjadi sangat penting sebab ia mewakili area sosial yang luas. Kata tribal mencakup ratusan suku di Afrika, yang tak pernah sudi dihafalkan oleh orang Eropa. Karakter suku Tutsi dan Hutu sebagaimana yang tergambar dalam film Hotel Rwanda (Terry George, 2004) telah menjadi stereotip Tutsi dan Hutu bahkan ketika mereka tidak sedang berkonflik. Akhirnya, banyak orang yang lupa bahwa mereka adalah Tutsi dan Hutu, pokoknya mereka orang Afrika, dan sepertinya semua orang Afrika seperti itu. Kata “Tutsi” dan “Hutu” kemudian mewakili suku-suku di Afrika secara keseluruhan.

Karena itu, menjadi penting bagi kita orang Indonesia untuk mewaspadai apa yang sedang terjadi di Filipina sekarang. Sebab bisa jadi lewat Kinatay dan Engkwentro, orang Filipina menjadi sama dengan orang Indonesia di mata orang Eropa dan kelak memperparah cara berfikir orang Asia Tenggara sendiri. Dan apa yang lebih berbahaya dari kesalahan cara berfikir?

.

Referensi:

Vera, Noel. (2005). Critic After Dark: A Review of Philippine Cinema. Manila: BigO Books.

Willemen, Paul & Pines, Jim. (1989). Questions of Third Cinema. London: British Film Institute.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (6)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend