All About Eve: Social Climber Tak Lebih Dari Seorang Figuran

all-about-eve-1950_highlight

Dalam industri hiburan ada satu istilah yang sangat notorious, yakni social climber. Istilah tersebut sering digunakan untuk menyebut orang-orang yang terlihat sangat ingin diakui, dan menaikkan derajat sosialnya dengan cara instan. Orang-orang seperti ini biasanya akan mendekati siapa saja yang bisa memuluskan mereka meraih status sosial tersebut. Beberapa dari mereka mungkin hanya modal lidah dan penampilan, dan biasanya terlihat sangat superficial. Sebagian social climber memang punya bakat, hanya saja tak ingin terlalu bersusah-susah. Mungkin social climber adalah kata yang tepat untuk menggambarkan tokoh Eve Harrington dalam film All About Eve.

Eve bukan siapa-siapa, bahkan sama sekali tak pernah bersentuhan dengan dunia teater. Dia tiba-tiba akrab dengan dunia yang sangat ia minati, hanya dengan berada di teater setiap malam di pertunjukan seorang aktris terkenal, Margo Channing. Keberadaannya dikenali oleh Karen Richard, istri seorang sutradara teater terkenal, Lyod Richard. Eve akhirnya dikenalkan kepada idolanya itu, Margo Channing aktris yang beranjak tua dan mulai kwatir dengan umurnya. Eve mendapatkan pekerjaan sebagai asisten pribadi Margo, dan dimulailah langkah-langkahnya untuk mendapatkan peran dan menjadi aktris terkenal. Dalam film ini, kalau boleh dirangkum, ada lima langkah yang Eve jalankan agar sukses tanpa harus terlalu bersusah payah.

Pertama pilih orang yang paling berpengaruh untuk dijadikan tangga meraih sukses. Eve memilih lingkaran pertemanan Margo Channing. Hingga bila Eve berdekatan dengan Margo, otomatis ia akan berkenalan dan dekat dengan para sutradara, produser, dan penulis kritik di lingkungan teater. Untuk yang satu ini, Eve sedikit bersusah payah. Ia menghabiskan waktu berminggu-minggu di depan teater agar ada yang mengenalnya.

Kedua, bersikap baik, lugu, dan serendah hati mungkin, hingga rendah diri namun juga rajin dan cekatan dan plus cerita masa lalu yang dramatis. Eve tampil seperti anak kucing tak bertuan yang ditemukan dan dibawa ke rumah hingga disayang seisi rumah karena sifat tahu dirinya. Eve awalnya tampil tak lebih sebagai seorang penggemar yang bahagia bisa bekerja melayani aktris idolanya. Hingga apapun yang Eve lakukan dianggap sebagai kekaguman berlebihan terhadap idolanya; termasuk meniru segala gerak gerik idolanya. Orang-orang di lingkaran Margo kerap memanggil Eve dengan panggilan the kid atau junior, tak lain mengaggap betapa lugunya perempuan itu. Hingga ketika Margo merasa kehidupannya terlalu terusik, orang menganggap ia yang terlalu paranoid.

Ketiga, ketika orang-orang mulai percaya, manfaatkan kepercayaan orang-orang ini untuk mencari cela meraih apa yang menjadi tujuan awal. Di sini Eve mulai terlihat licik. Penonton, layaknya Margo, mulai merasa tidak nyaman dengan kehadiran perempuan ini. Ia memanipulasi siapa saja untuk mendapatkan peran sebagai understudy Margo tanpa sepengetahuan Margo. Di sini, Eve akhirnya berhasil menunjukkan bakatnya. Para sutradara itu terkesima dan mengakuinya. Dengan sedikit keberuntungan, Eve berhasil tampil menggantikan Margo yang tak bisa sampai di teater tepat waktu.

Keempat, mulailah memilah siapa teman dan siapa lawan. Kali ini Eve tak lagi menampilkan wajah baiknya. Penonton tahu, semua orang-orang yang berjasa bagi Eve juga mulai tahu. Kali ini ia mengambil langkah tegas, mengancam dan menipu agar mendapatkan peran utama di sebuah pementasan. Eve mendapatkannya karena memang perempuan ini punya bakat tapi ia kehilangan semua teman-temannya. Ia sebenernya tak terlihat kwatir dengan itu. Eve akhirnya berkongsi dengan Addison DeWitt, kritikus teater yang ternyata lebih antagonis dari dirinya.

Keempat, ini yang paling penting. Ketika sudah di puncak kesuksesan, waspadalah, social climber bukan hanya Anda saja. Banyak Eve-Eve lain di luar sana yang siap menjalankan tips di atas untuk menggantikan Eve yang lama. Kehadiran seorang gadis antah berantah di malam Eve mendapatkan penghargaan bergengsi, Sarah Siddon Award, membuat penonton tersenyum lebar: Eve akan mendapatkan karmanya. Ketika gadis itu diam-diam mencoba mengenakan jubah Eve, menggenggam pialanya dan berkaca. Kita tahu, Eve-Eve seperti ini banyak sekali.

Namun, ada satu hal penting lainnya yang ingin diungkap sutradara. Social climber semacam Eve sebenarnya tak mendapatkan apa-apa. Sebagai penonton, kita diberi kebebasan seluas-luasnya untuk tahu tentang orang-orang di sekitar Eve. Melalui voice over Karen Richard dan Duwiit, kita mulai bersimpati satu persatu pada para tokoh ini. Orang-orang yang memang telah bertahun-tahun di teater karena bakat dan kecintaan ini solid. Tak laju hidup dan pertemanan mereka hancur karena kehadiran Eve. Mereka baik-baik saja. Namun, bagaimana dengan Eve? Si sutradara tak memberi kesempatan kita untuk sedikit bersimpati pada Eve. Kita tak bisa mengenal Eve lebih jauh. Kita hanya tahu apa tentang Eve sebanyak apa yang mereka tahu tentang dia. Eve bahkan tak pernah mendapatkan scene tunggal di mana ia sendirian. Eve tak lebih dari seorang figuran. Eve sebenarnya hanya bayang-bayang di antara mereka.  Tidak penting.

All About Eve | 1950 | Sutradara: Joseph L. Mankiewicz | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Bette Davis, Anne Baxter, George Sanders

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend