500 Days of Summer: Tentang Hubungan Tak Impas

500-days-of-summer_hlgh

Saya pernah mendengar sebuah anekdot berjudul trilema sebuah hubungan. Entah sinis entah bercanda, anekdot tersebut memetakan susahnya menjalani sebuah hubungan romantis yang tidak impas. Ada tiga hal yang dipertaruhkan: kepintaran, kejujuran, dan dukungan yang tulus untuk hubungan tersebut. Hanya dua yang bisa dipenuhi, tidak mungkin semuanya. Kalau kamu jujur dan pintar, kamu tidak mungkin mendukung hubungan yang tak impas. Kalau kamu jujur dan mendukung hubungan itu, kamu pasti bukan orang yang pintar. Kalau kamu pintar dan mendukung secara tulus, kamu tentu sedang membohongi diri.

500 Days of Summer mengingatkanku tentang trilema itu. Jelas kalau film tersebut bercerita tentang sebuah hubungan yang tidak impas antara laki-laki dan perempuan. Ceritanya berpusat pada lima ratus hari ketika Tom Hansen dan Summer Finn jatuh cinta, berhubungan, dan berpisah secara tiba-tiba. Mereka pertama kali bertemu di sebuah rapat. Tom bekerja sebagai penulis di sebuah perusahaan kartu ucapan, di mana Summer direkrut sebagai asisten baru bosnya Tom. Seusai acara karaoke, di mana Tom dengan manisnya menyanyikan Here Comes Your Man-nya Pixies, seorang teman kerja dalam keadaan mabuk memberi tahu Summer kalau Tom tertarik dengannya. Sang perempuan secara mengejutkan mengakui kalau dia juga tertarik dengan Tom. Bisa ditebak, beberapa bulan ke depan, hubungan keduanya makin erat. Namun, di tengah perkembangan yang positif ini, Summer menegaskan ke Tom kalau dia tidak sedang dan tidak berniat mencari pacar.

Bahayanya berhubungan dengan perempuan sebebas Summer adalah tidak adanya kepastian. Setiap saat bisa jadi momen terakhir dari hubungan tersebut, karena Summer hanya melakukan apa yang dia suka. Tidak ada logika yang cukup fleksibel untuk menjelaskan perbuatan Summer. Dia melihat segalanya dari kacamatanya sendiri, oleh karenanya hanya dia yang mengerti apa yang sebenarnya dia perbuat. Sayangnya Tom tidak tahu tentang semua ini. Ralat, dia sengaja memilih untuk tidak tahu tentang semua ini. Dia terlalu terpana dengan pesona Summer. Bukan saja Summer terlihat menarik di matanya, tapi juga dia suka hal-hal yang disukai Tom. Pertemuan singkat pertama mereka terjadi di lift, ketika Summer tiba-tiba menyanyikan sebaris lagu The Smiths. Tom mulai tertarik. Pertemuan singkat kedua terjadi di ruang fotokopi, ketika Summer tiba-tiba mencium Tom. Kali ini tidak ada lagi titik balik. Tom tidak mungkin melawan pesona Summer. Bertanya terlalu banyak soal kepastian hanya akan merusak hubungan mereka, dan jelas Tom tidak ingin kehilangan Summer.

Mencintai seseorang bisa jadi sangat singkat, tapi melupakannya selalu menghabiskan waktu yang lama. Tom mengalami itu ketika Summer begitu saja meninggalkannya. Setiap hari dia bertanya: apa yang salah sebenarnya?

Sebenarnya, Tom hanya salah mengartikan keintimannya dengan Summer sebagai sebuah ikatan, padahal keintiman tersebut tidak lebih dari sebuah ilusi. Erich Fromm, dalam buku The Art of Loving, menjelaskan hubungan romantis di jaman modern ini semakin menyerupai dagangan di pasar. Sekarang ini orang baru memutuskan untuk mencoba menjalani hubungan romantis ketika dia sudah menganalisa calon pasangannya secara objektif. Memang, memahami orang lain itu penting dilakukan, terutama kalau orang lain itu adalah calon pasangan. Bahkan, fromm sendiri menempatkan pengetahuan, bersama dengan kepedulian, tanggung jawab, dan respek, sebagai empat dasar hubungan interpersonal yang sehat. Artinya: cinta adalah suatu kemampuan, suatu seni, atau suatu cara berperilaku yang bisa dipelajari lewat praktek langsung, kesabaran, dan pengambilan keputusan yang baik.

Kehidupan modern sayangnya mengacaukan konsepsi cinta sebagai sebuah kemampuan. Sejak kapitalisme naik dan mendominasi kehidupan manusia, segalanya jadi bisa dinilai dari nilai-nilai ekonomi. Jadinya, di jaman sekarang, cinta dinilai dari potensinya. Tampaknya laki-laki lebih sering mempraktekkan ini ketimbang perempuan. Ketika seorang laki-laki melihat seorang perempuan, dia menganalisa perempuan tersebut menurut interest personalnya: mana yang bagus buat si pria, mana yang tidak, dan seterusnya. Dengan kata lain, laki-laki tersebut tidak sedang melihat perempuan sebagai manusia, tapi sebagai tipe. Dalam setiap perempuan, laki-laki melihat apa saja yang ada di dirinya. Kecocokan baru terjadi ketika si laki-laki merasa si perempuan dapat memenuhi apa yang laki-laki ingin dan butuhkan. Oleh karena itu, pernyataan “aku sayang kamu” kini bermakna ganda sebagai “kamu adalah tipeku” dan “aku mau kamu jadi milikku”.

Di sisi lain, kaum perempuan semakin sadar akan potensi dirinya. Mereka tahu mereka punya semacam kekuatan di atas para pria. Namun kekuatan tersebut hanya efektif dalam hubungan interpersonal. Patriarki terlalu mengakar di masyarakat kita sehingga tidak ada cukup ruang bagi perempuan untuk mendominasi pria sepenuhnya. Akibatnya, mengutip Simone de Beauvoir, laki-laki dilihat masyarakat sebagai makhluk hidup, sementara perempuan sebagai spesies betina. Setiap kali seorang perempuan berperilaku layaknya makhluk hidup yang rasional, maka ia akan dianggap sedang meniru perbuatan laki-laki. Oleh karena itu, ketika seorang perempuan menolak memberi kepastian pada seorang laki-laki, sebenarnya ia sedang melukai ego laki-laki tersebut. Laki-laki tidak terbiasa pada posisi didominasi, dan melalui penolakan perempuan sebenarnya sedang mendominasi pria. Ketidakpastian akan status kepemilikan adalah bentuk dominasi yang bisa dilakukan perempuan atas pria.

Dengan ego maskulinnya yang terluka, seorang pria hampir pasti selalu bereaksi setelah ditolak. Dia akan berusaha menarik perhatian si perempuan kembali, dan menjadikannya hubungannya dengan si perempuan menjadi hubungan yang berlabel. Ditolak secara terus menerus pada waktu yang lama, laki-laki akan menjalani siklus penegasian dirinya. Dia akan menganggap dirinya tidak penting lagi, yang penting adalah perempuannya, dan menganggap segala usahanya selama ini sebagai pengorbanan. Namun perempuan punya pendapat lain; dia melihat aksi negasi diri si laki-laki sebagai kesuksesan, karena pada titik itu laki-laki seperti bersedia menyerahkan dirinya ke tangan perempuan, dan membiarkan nasibnya ditentukan oleh si perempuan. Fenomena seperti inilah yang saya sebut sebagai hubungan yang tidak impas. Sialnya, fenomena semakin ke sini semakin sering terjadi.

Romansa versi modern itulah yang mengutuk hubungan Tom dan Summer. Keduanya adalah anak muda, dengan latar belakang kultural yang kuat, dan bekerja di industri kreatif. Terlebih lagi, keduanya cocok. Summer adalah tipenya Tom, dan Tom adalah tipenya Summer. Tom mencari perempuan yang bisa menyamai selera musiknya, sementara Summer mencari laki-laki yang bisa menyemai selera humornya yang rusak. Ketika mereka bertemu, mereka tidak mungkin tidak berkoneksi. Masalahnya Tom menyalahartikan keterbukaan Summer sebagai tindakan menyerahkan diri. Tom tidak cukup paham kedalaman motivasi Summer. Bagi Tom keintiman adalah satu langkah menuju hubungan yang lebih stabil, sementara bagi Summer keintiman hanyalah taman bermain yang bisa ditinggalkan kapan saja. Singkatnya, Summer tidak setertarik itu dengan Tom.

Oleh karena itu pisahnya mereka berdua menjadi momen yang sangat emosional bagi Tom. Setiap hari dia sendirian menganalisa kembali apa saja yang pernah terjadi dalam hubungannya, mana yang salah, mana yang tidak, dan seterusnya. Proses penyalahan diri ini terjadi cukup lama sehingga Tom sampai lupa masalah sebenarnya dalam hubungan dia dan Summer. Dia hanya bisa mengingat kenangan-kenangan manis bersama Summer. Sampai pembicaraan hati-ke-hati dengan sobat dan saudara, Tom akhirnya sadar bahwa hubungannya dengan Summer tidak memiliki fondasi yang kuat, dan bisa selesai kapan saja Summer mau. Baru setelah itu Tom bisa melanjutkan hidupnya dengan perempuan lain, sementara Summer sudah jauh lebih dulu jalan dengan laki-laki lain.

500 Days of Summer | 2009 | Durasi: 97 menit | Sutradara: Marc Webb | Produksi: Fox Searchlight Pictures, Watermark | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Zooey Deschanel, Joseph Gordon-Levitt, Chloe Moretz, Matthew Gray Gubler, Minka Kelly

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (54)
  • Boleh juga (7)
  • Biasa saja (3)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend