10-11: Rekam Buram Nasionalisme Kekinian

10-11_highlight

Dari sudut sebuah kamar, Faisal, seorang remaja laki-laki menatap penuh perhatian ke layar komputernya. Ia tengah menonton serial film yang dibintangi sejumlah artis Korea yang berkulit putih. Sebagai sepasang kekasih yang akan berpisah, adegan di dalam film itu turut membuat Faisal terharu hingga menitikkan air mata. Sisi-sisi tembok di kamarnya ditempeli pula poster-poster grup penyanyi cewek Korea, SNSD. Adegan pertama dalam film pendek 10-11 arahan sutradara belia Tia Liztiawati ini ingin mempertanyakan pemahaman nasionalisme di tengah budaya asing yang merongrong jatidiri masyarakat bangsa Indonesia akhir-akhir ini.

Gambaran kisah dalam 10-11 lantas mengundang kita menikmati kegelisahan seorang siswi sekolah menengah atas, Sri, yang punya persepsi sendiri dalam mengekspresikan jiwa bangsa Indonesia sejati. Melalui pola pikir Sri, film ini memaparkan kondisi masyarakat Indonesia belakangan. Di tengah beragam unsur budaya asing yang merasuki anak-anak muda, belakangan ini spirit cinta Tanah Air telah mengabur. Lalai dengan isi Pancasila, tidak hapal lagu kebangsaan Indonesia Raya, dan tidak menempel gambar pahlawan di kamar merupakan beberapa unsur yang menjadi masalah bagi Sri. Hal ini ia amati menjadi poin ketidaklayakan Faisal, teman satu sekolahnya, untuk menjadi pengibar bendera saat upacara peringatan Hari Pahlawan, 10 November. Suatu kali bersama dua temannya, Sri melirik-lirik ke dalam kamar Faisal. Dengan mata kamera sebagai wakil mata Sri dan kedua temannya, dari situ tersorot poster artis-artis Korea. Ki Hadjar Dewantara, Jenderal Sudirman, bahkan Bung Karno, tak satupun terpajang di situ.

Kisah selanjutnya ialah bangunan adegan yang merupa serangkaian upaya Sri didukung dua temannya untuk membatalkan langkah Faisal menjadi pengibar bendera. Dalam satu adegan di tempat parkir kendaraan, mereka menghadang Faisal dan berdebat dengannya soal keberpihakan Faisal pada timnas sepakbola Korea, hingga pertentangan pandangan nasionalisme sebagai warga negara Indonesia yang sesungguhnya. Dituturkan dalam bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar film ini, Faisal dengan lugas menampik, “Mau hapal lagu Indonesia Raya atau tidak, ya itu urusanku.” Baginya, tidak ada hubungan selaras dan niscaya antara berbagai ukuran nasionalisme seperti dikonfrontasikan Sri dan dua temannya dengan kelayakan calon pengibar bendera pada upacara peringatan Hari Pahlawan.

Dari premis itulah penonton cukup mengerti gagasan mendasar yang dihadirkan film ini. Rumusan spirit nasionalisme tak cukup diwakili oleh ragam sikap dalam formalitas, tapi lebih dinyatakan melalui pendapat dan laku hidup konkret. Cerita film ini ternyata tidak berhenti di situ saja. Tak terduga, jalan penceritaan sutradara menuntun kita memasuki masalah dari tempat tinggal Sri yang akan segera dialihbangunkan oleh rencana Pemerintah Daerah membangun gedung olahraga. Dengan wajah lesu tokoh ayah Sri yang bernama Bapak Jarot menceritakan persoalan ini kepada putrinya. Berbeda dengan sikap tenang dan pasrah ayahnya, Sri cemas dan menumpahkan kekesalannya dengan melempar sapu, sandal, vas bunga, dan barang lain ke arah baliho yang menyarankan tulisan rencana pembangunan gedung olahraga di lahan sekitar rumahnya.

Sebagai film yang berpijak dari realitas dalam lingkup kecil masyarakat Boyolali, 10-11 lekat berkaitan dengan simpul-simpul isu sosial yang seakan tak henti mengusik ketenteraman penduduk Indonesia. Di samping mengambil pernak-pernik pemaknaan dan penyikapan atas nilai nasionalisme dari lingkungan pendidikan, penonton secara halus disentilkan dengan wacana ancaman “penggeseran—yang tetap bermakna penggusuran—wilayah tempat tinggal dari sebuah otoritas di luar kuasa wong cilik. Entah karena kepentingan pengusaha atau penguasa yang membawa-bawa atribut masyarakat sebagai selubung kepentingan kelompok atau diri mereka sendiri, pengalihan lahan warga menjadi bangunan megah bertingkat merupakan cerminan kebobrokan dan banalitas yang masih bercokol di tubuh Ibu Pertiwi.

Dari situlah kemudian ketika cerita diketengahkan melalui gambar bergerak selama hampir delapan belas menit, 10-11 menyengat. Bukan saja sebagai satire tentang keindonesiaan mutakhir, ia mengkritik generasi muda yang terlena dengan persepsi dirinya dalam memahami nilai, makna, dan penerapan nasionalisme dalam keseharian. Bahwa cinta bangsa dan negara tidak relevan lagi ditampakkan sekadar bungkus ritus berulang atau soal membanal: sekadar hapal rumusan butir dasar negara dan nyanyian kebangsaan dalam upacara bendera, atau lain bentuk penghormatan kepada pahlawan pejuang kemerdekaan. Dengan mempertautkan pergulatan pemuda akan pencarian makna nasionalisme (protes Sri terhadap Faisal di sekolah) dan persoalan di dalam keluarga (Rencana Pemerintah Daerah Boyolali menggusur rumah Sri), 10-11 mengungkapkan kegelisahan pembuat filmnya selaku pelajar guna merumuskan ulang identitas kediriannya sebagai elemen penyokong masa depan Indonesia.

Peringatan Hari Pahlawan bertanggal 10 November yang diutak-utik secara puitik menjadi judul film merupakan acuan yang mengantarkan isi pesan dalam mempersoalkan nasionalisme pada konteks mutakhir. Keindonesiaan masa kini dikomunikasikan melalui rekaman gambar yang cukup lengkap. Selain Faisal sesenggukan di kamar saat menonton serial drama Korea, kita menyimak sekilas Kepala Sekolah yang bercakap lewat telepon genggam dan mengucap sapaan khas anak muda sekarang, “Halo, Bro. Oke, Bro!”

Sebagai sebuah cara bertutur, 10-11 akan makin utuh dan kuat mengajukan gagasan apabila dibantu tata pemeranan yang baik. Sayang, citra laku yang ditampilkan kurang mengigit, selain perkara suara yang agak timpang. Seperti tampak dalam percakapan Faisal dengan Sri dan kedua temannya juga dialog antara Sri dan ayahnya. Kedua adegan ini lemah untuk menggambarkan emosi (mood) dari suasana yang dibangun dalam relasi antarkarakter tersebut. Meski pembawaan akting seolah dicitrakan natural, tapi satu-dua dialog bergulir dengan tempo lambat sehingga emosi terkesan teredam. Akibatnya, penyampaian maksud, pesan, dan perasaan tokoh-tokoh agak terlambat dan terkadang menjemukan.

Kekurangan ini pun tak tertolong karena mimik para pemain cenderung datar tanpa disesuaikan dengan maksud dialog yang berlangsung dan menyaran pada suatu kejadian. Terlebih dalam latar peristiwa segenting topik isi surat imbauan yang menghendaki agar mereka segera beralih dari rumah, Bapak Jarot menyampaikan dialog secara perlahan-lahan yang jatuh jadi seperti mengingat-ingat isi perkataan yang akan diucapkan. Begitu pula ketika perbincangan Sri dan ayahnya menjelang jam upacara peringatan Hari Pahlawan di sekolah. Tercerap jalinan dialog yang terkesan datar bahkan nyaris tak ada dinamika intonasi yang akan lebih baik bila meningkat saat ayah Sri menegur agar Sri segera menuju sekolah agar tak terlambat.

Sajian gambar hasil film pendek yang diproduksi berkat dukungan SMA Negeri 1 Karanggede Boyolali ini pun lemah kualitasnya. Tak hanya terkesan buram, kontras antarwarna juga kurang jelas. Sebaliknya secara audio, setali tiga uang, alias tidak merata sepanjang film. Meski begitu, apabila kita bisa sedikit berkompromi dengan kelemahan teknis ini, maka kita akan mendapati sebuah film pelajar yang begitu dewasa dalam menyikapi perkara kebangsaan: tak terjebak romantisme masa lampau, terbuka pada kemungkinan-kemungkinan masa kini.

Pada akhir film, pada sebuah full shot mengarah ke sebuah radio lama, terdengar suara penyiar yang sangat terang dan tanpa noise sedikitpun sebagaimana jika kita dengar dari radio dengan tombol pengatur gelombang radio yang harus diputar-putar. Kita diperdengarkan suara penyiar perempuan yang mengesankan muda—ceria, semangat, mengucap dengan intonasi lantang—berbahasa campur-aduk antara bahasa gaul sehari-hari anak muda perkotaan dan kosakata Inggris. Sambil melempar topik seputar Hari Pahlawan, penyiar mengundang pendengar—juga penonton—untuk merenungkan apa sesungguhnya nilai nasionalisme di masa sekarang. Bagi penonton yang merasa akhir cerita film ini “belum selesai”, ceracau penyiar sebagai penutup film ini barangkali akan mengganggu pikiran. Atau sebaliknya, terbuka kesempatan bagi Anda untuk merumuskan ulang ekspresi dan refleksi nasionalisme untuk masa sekarang.

10-11 | 2014 | Durasi: 18 menit | Sutradara: Tia Liztiawati | Kota: Boyolali, Jawa Tengah | Negara: Indonesia | Pemain: Rina Bumbum, Fajar Setiadi, Lutfi Ardian, Syendi Purnama, Zumar Iskandar, Gatot Widodo, Miftahul Habibi, Amat Saevudin

Tulisan ini adalah hasil dari lokakarya Mari Menulis! edisi Festival Film Solo 2014

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend