Working Girls: Perempuan dalam Kendali Zona Nyaman dan Bias Pilihan

working-girls-kalyana-shira_highlight

Menjadi wanita karier di era modern ini adalah pilihan. Bekerja lebih kurang delapan jam sehari, menyisihkan waktu untuk pekerjaan, keluarga dan diri sendiri terkadang tidak semudah yang dibayangkan. Belum lagi benturan sosial yang masih menganggap perempuan harus kembali pada kodratnya untuk mengurus keluarga dan tinggal di rumah. Namun, bagaimana kalau pilihan untuk menjadi wanita karier yang bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga karena tidak adanya pilihan lain? Bekerja menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa bagi mereka, perempuan yang berada di garis batas ekonomi lemah, atau tekanan kondisi sosial yang terpaksa dihadapi.

Tiga kehidupan wanita pekerja yang tangguh direkam dengan apik lewat film dokumenter Working Girls, produksi Kalyana Shira Foundation bersama Project Change. Working Girls terdiri dari tiga film hasil workshop, yang semuanya bertema kesetaraan gender. Ada 5 Menit Lagi Ah.. ah.. ah.. karya Sally Anom Sari dan Sammaria Simanjuntak, Asal Tak Ada Angin karya Anggi C. Noen, dan Ulfie Pulang Kampung karya Daud Sumolang dan Nitta Nazyra C.Noer.

Ketiga perempuan ini berada di situasi yang berbeda, namun mengambil pilihan yang sama untuk membanting tulang sampai batas kemampuan maksimalnya. Riana, gadis belia usia belasan tahun ini terjun ke dunia dangdut pasca kemenangannya di ajang cari bakat dangdut televisi. Kemenangannya berbuah manis, uang ratusan juta, popularitas dan juga tawaran menyanyi di penjuru kota. Ada lagi sekelompok pemain ketroprak yang tiap malam pentas di bawah lembaran seng, yang juga memberikan mereka tempat untuk berteduh selama sudah belasan tahun. Beberapa dari mereka bahkan sudah beranak pinak di bawah panggung ketoprak tersebut. Lain lagi dengan Ulfie, laki-laki transgender yang bekerja di salon bersama transgender lainnya. Pasca kepindahannya dari Aceh ke ibukota, Ulfie mampu menghidupi dirinya dan keluarga di Aceh, serta menemukan jati dirinya yang sebenarnya.

Lalu mengapa permasalahan mencari sesuap nasi ini menjadi begitu rumit bagi perempuan? Bukannya mengecilkan posisi perempuan sebagai pencari nafkah, film ini justru menunjukkan mengapa akhirnya perjuangan perempuan ini menjadi sangat tinggi nilai apresiasainya. Beberapa benturan sosial yang mereka hadapi terasa lebih berat dari seharusnya. Riana memang menyukai menyanyi dan menikmati setiap show yang ia lakukan, tetapi adalah Oces, ayah Riana, yang  punya peran penting di balik kesuksesan dan jerih payah Riana. Riana mungkin hanya tahu ia akan menyanyi dan menyanyi saja, sampai suatu saat ia berada pada situasi layaknya seorang anak-anak, bukan perempuan pekerja. Riana gagal mencapai kemapanan pendidikan yang seharusnya menjadi fokus utamanya sebagai anak usia sekolah. Fokusnya selama ini hanya pada karier dan menyenangkan keluarganya. Fokus tersebut mungkin bukan berasal dari pemikiran Riana sendiri karena sebagai perempuan pekerja, Riana didukung oleh keluarganya dan orang-orang terdekat. Mereka adalah sekelompok orang yang ingin melihat Riana sukses, dalam hal ini memenuhi kebutuhan finansial yang sebelumnya jauh dari batas berkecukupan.

Lain halnya dengan para pemain ketoprak. Mereka berada di zona nyaman sebagai pekerja seni. Atap yang melindungi, kawan yang layaknya keluarga, dan uang yang bisa menghidupi tiap harinya. Satu persatu kenyataan buruk muncul, mulai dari absennya para penonton, hingga lokasi yang tidak lagi memadai. Awalnya, mereka tidak gentar untuk terus mempertunjukkan kesenian tradisional Jawa yang sarat humor ini. Kenyataan miris akhirnya menghampiri mereka, ketika anak-cucu mereka yang tumbuh dan hidup di bawah paguyuban seni tersebut harus bernasib sama, dan berakhir di atas panggung ketoprak tanpa ada pilihan lain. Perempuan pekerja seni ini akhirnya justru menemui kebuntuan karier yang berdampak pada lingkungannya.

Dilema Ulfie berbeda lagi dengan perempuan pekerja lainnya. Pilihannya menjadi waria bukan tanpa risiko. Salah satunya adalah mengidap HIV/AIDS yang bisa merenggut nyawa. Kenyataan sudah bicara pada Ulfie lewat beberapa teman warianya, yang sudah terlebih dulu kalah oleh penyakit tersebut. Tentu bukan pilihan Ulfie menjadi salah satu pengidap HIV/AIDS, tetapi Ulfie memilih untuk membukakan mata mereka agar tidak berpura-pura kalau keadaan baik-baik saja. Salah satu langkah pilihan Ulfie adalah mengunjungi keluarganya di Aceh, dan secara perlahan membuka identitasnya yang sekarang pada semua anggota keluarganya.

Tampak kekagetan yang muncul dari keluarga Ulfie satu persatu saat melihat saudara laki-lakinya bertransformasi menjadi sosok menyerupai perempuan bertubuh langsing dan berambut panjang lengkap dengan baju ketat serta suara soprannya. Namun, apa yang bisa mereka lakukan? Mereka hanya bisa bungkam tanpa konfrontasi dan menerima kondisi Ulfie sekarang. Tentunya juga menerima segala penghasilan dari jerih payah Ulfie sebagai waria. Siapa yang tidak punya pilihan? Apakah keluarga Ulfie akibat keterbatasan finansial membuat mereka menerima saja kondisi Ulfie sekarang? Apakah Ulfie sendiri merasa pilihannya sebagai perempuan pekerja merupakan keinginannya sendiri tanpa desakan apapun? Bagaimana pasca kematian sahabat-sahabat Ulfie akibat penyakit yang diderita mereka semua? Apakah Ulfie berusaha membuat pilihan baru akan way of living yang selama ini sudah menghidupinya?

Perjuangan para perempuan pekerja yang penuh risiko dan pertentangan lahir batin itulah yang menjadi ujung tombak cerita dalam film ini. Bagaimana mereka menekan ego masing-masing agar kebutuhan hidup mereka dan orang sekitarnya terpenuhi. Pertarungan antara bertahan dengan pekerjaan yang menghidupi dan bertahan dengan situasi yang selalu menghimpit adalah kekuatan yang dimiliki oleh perempuan pekerja ini. Keadaan tentunya tidak selalu bisa berpihak manis pada mereka bertiga, tetapi layaknya perempuan dengan segala kemampuannya multitasking, bertahan dengan situasi sekaligus mencari cara lain agar bebannya lepas satu persatu. Perjuangan inilah yang memunculkan kekuatan perempuan sebenarnya dalam lakonnya sebagai pencari nafkah utama. Bahkan Ulfie yang merupakan transgender bisa memiliki sisi kewanitaan yang membuatnya lebih peka dan nrimo terhadap kondisi yang menimpanya.

Tiga masalah yang terekam dalam Working Girs ini juga ingin mengungkapkan bagaimana realitas mencari nafkah ini bukan lagi ada di pundak kepala keluarga, yang kebanyakan laki-laki. Padahal latar belakangnya terjadi di kota kecil dan pedesaan. Tentu akan berbeda ketika membicarakan perempuan pekerja di kota besar. Apakah benar ini merupakan kesetaraan gender atau hanyalah kebetulan dan keterpaksaan yang membuat perempuan-perempuan ini harus menjadi tulang punggung keluarga?

Ternyata tidak perlu berada di kota besar atau ibukota untuk merasakan kejamnya perjuangan untuk bertahan hidup tetapi ketiga perempuan ini sukses menampilkan kemustahilannya itu. Kemirisan yang dialami perempuan ini memang menjadi kekuatan sendiri bagi mereka dan juga film ini. Cerita kesederhanaan kehidupan keluarga dengan perempuan sebagai pusat dari segala kemungkinan yang terjadi. Mungkin bisa bertahan, mungkin juga bisa jatuh terpuruk. Bahkan perasaan para perempuan itu sendiri seperti dikesampingkan demi kebertahanan yang menjadi tujuan utama. Terlihat saat Riana harus menempuh perjalanan jauh dan dandanan yang menor demi aksi panggung yang memikat, atau Ulfie yang terpaksa menutupi sebagian dari dirinya yang suka berdandan cantik karena sang Ibu tak suka melihatnya dengan baju ketat.

Ketiga masalah perempuan pekerja tersebut akhirnya menemui titik temu sebuah pilihan, yang dihadirkan lewat konflik yang selama ini tersembunyi di balik zona nyaman. Zona nyaman yang tidak disadari oleh ketiga perempuan karena adanya dukungan dari orang-orang terdekat. Zona nyaman yang secara tidak sadar menyakiti mereka secara perlahan dengan tutupan pundi-pundi uang yang membiaskan kepuasan duniawi. Ketika pilihan untuk berubah itu diambil nantinya akan ada lagi pihak yang tersakiti tetapi kini pilihannya, siapa yang lebih baik tersakiti: diri sendiri atau orang lain? Seandainya hidup boleh tanpa pilihan, apakah semuanya jadi lebih mudah?

Working Girls | 2010 | Sutradara: Sally Anom Sari, Sammaria Simanjuntak , Anggi C. Noen , Daud Sumolang, Nitta Nazyra C.Noer | Negara: Indonesia

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend