Worked Club: Yang Menonton dan Yang Ditonton

worked-club_hlghSeorang menggendong lukisan kodian naik motor. Tak tampak kepayahan, ia berhenti di pinggir sawah yang terhimpit bangunan, membuka bungkusan es krim pada siang yang terik. Tiba-tiba sesosok laki-laki berpayung datang tanpa sebab. Yudi membeli lukisan murahan untuk teman kerjanya. Belum jelas juga apa pekerjaannya, sama tidak jelasnya dengan logika yang menghubungkan satu adegan ke adegan lainnya dalam Worked Club.

Begitulah lazimnya film-film Tunggul Banjaransari. Dari pembuka hingga akhir, jangan harap bisa temukan sebab-akibat yang jelas dalam film ini. Informasi disampaikan sedikit demi sedikit saja, tak pernah jelas apa duduk perkaranya, tak pernah kentara juga apa kaitannya dengan adegan sebelum atau sesudahnya.

Tunggul adalah pembuat film yang senantiasa menabrak logika narasi konvensional. Dalam Liburan Keluarga, tak ada relasi makna yang menghubungkan antara anak naik kereta mainan, keluarga di tanah lapang, dan pasangan bercinta di alam terbuka. Begitu juga Udhar. Tidak ada konflik antara tokoh ibu, romo, bahkan Tunggul—yang memerankan dirinya sendiri. Film-film Tunggul juga kerap menampilkan perpindahan latar cerita yang tanpa sebab. Dalam Malin Kundang, cerita film tamasya dari kamar pindah ke kebun—keduanya dengan peristiwa yang berbeda. Sensasi yang terbangun setelah menonton film-film Tunggul: geleng-geleng, garuk-garuk kepala walau tak gatal, lalu tersenyum sambil mencari di mana lucunya. Unsur-unsur naratif seperti plot, setting, hubungan sebab-akibat apalagi tangga dramatik tidak populer dipakai Tunggul Banjaransari.

Ketiadaan prinsip-prinsip naratif dalam Worked Club tentunya menuntut pembacaan yang berlapis. Menurut David Bordwell, film selalu memiliki bentuk (form)—keseluruhan sistem dari relasi yang dapat ditangkap di antara elemen pada keseluruhan film. Naratif atau dunia cerita dalam film seringkali merupakan elemen yang paling mudah ditangkap—dan, faktanya, paling lazim juga diterapkan pembuat film. Namun, apabila hubungan sebab-akibat, relasi antartokoh, dan antar-setting tak bisa terurai, maka sejak itu pula elemen lain dalam film ini perlu lebih jeli dilihat. Tentunya ini tidak mudah. Worked Club menuntut kepekaan indera yang mampu melihat dan mendengar secara detil frame by frame, antardialog, bahkan mimik dan perliaku para tokoh.

Satu hal yang menggelitik pada awal Worked Club adalah bergeraknya layar saat lukisan yang disandarkan di samping motor jatuh. Rasanya seperti kaget dan bingung. Penjelasan logisnya: lukisan jatuh menyenggol kamera sehingga bergoyang. Pertanyaannya: kenapa adegan dengan cacat teknis seperti ini dibiarkan masuk dalam versi final film?

Bagi penonton dengan bekal pengalaman produksi film, shot itu mungkin mengganggu. Kenapa kamera harus diletakkan dekat dengan lukisan? Belum lagi ada sejumlah adegan yang secara gamblang menampilkan headphone, microphone, dan tascamperangkat perekam suara yang biasa dipakai dalam produksi film. Pada salah satu adegan, seorang tokoh cerita bahkan tak sengaja menyenggol kamera dan minta maaf karenanya. Sempat terbersit, apa jangan-jangan film ini belum selesai diedit? Apa jangan-jangan penyunting gambar belum sempat memilih adegan mana yang layak untuk ditampilkan?

Adegan-adegan dalam Worked Club seolah sengaja dibuat untuk mengaburkan batas antara realitas dalam film dan realitas kejadian. Batas paling jelas antara penonton dengan tontonan adalah adanya frame atau bingkai gambar.  Bingkai merupakan ruang yang memungkinkan pembuat film untuk menghadirkan realitas yang lain dari apa yang penonton alami sehari-hari. Berbeda dengan realitas keseharian yang tak berbatas, bingkai dalam film membatasi penonton dalam membangun persepsinya.

Framing berperan penting dalam Worked Club. Dalam adegan pembuka, bingkai gambar membatasi asumsi penonton hanya pada Yudi yang membawa lukisan dengan motornya. Namun saat lukisan yang ditaruh di sisi motor jatuh, bingkai yang bergerak telah ‘mengganggu’ batas tersebut. Persepsi pun berubah. Dari adegan pembukanya saja, Tunggul sudah bermain dengan impresi sinematik yang mengganggu persepsi penonton. Ia mencoba memasukkan realitas produksi film dalam filmnya sendiri.

Worked Club pada dasarnya adalah sebuah analogi tentang produksi film. Hal itu menjadi semakin terang saat Yudi diminta bicara ke microphone yang sengaja diperlihatkan sedikit di dalam bingai, seolah ‘bocor’—istilah untuk alat shooting yang tak sengaja in-frame.

Lawan main Yudi adalah seorang editor, pembuat film yang sedang menyambung gambar di depan laptopnya dan meminta Yudi mengisi suara dengan dialog aneh. Yudi sendiri seringkali berakting sendirian, seperti senam, tidur di dalam mobil, memukul, karoke, hingga mendorong mobil. Sedangkan si editor hanya muncul di beberapa adegan yang melibatkan interupsi bingkai gambar. Dominasi Yudi, bukan si editor, memberikan petunjuk bahwa jika realitas yang dibangun dalam film ini adalah realitas produksi film.

Pasalnya, Yudi dan si editor punya relasi yang tidak setara. Walau keduanya sama-sama pekerja, yang satu bekerja mengarahkan, satunya lagi bertingkah aneh sesuai arahan. Si editor cekikikan saat Yudi mengisi suara. Ia juga yang menyuruh Yudi berteriak-teriak norak dari dalam mobil. Yudi, si aktor, digambarkan sebagai orang kecil yang lugu, sedangkan editor menggunakan keluguan si aktor untuk filmnya, entah demi kepentingan sensasi atau dramatisasi. Para tokoh dalam Worked Club sepertinya memang sengaja dibangun untuk membentuk persepsi yang sudah dibangun sebelumnya lewat bingkai—sarat manipulasi, sarat pengarahan.

Worked Club menawarkan suatu cara pandang terhadap realitas dalam film. Tanpa secara gamblang membuat film tentang produksi film, Tunggul bermain-main dengan bentuk sinematik dan penokohan dalam film. Shot-shot panjang berdurasi lebih dari satu menit tanpa potongan telah membangun persepsi akan realitas baru pada benak penonton. Alih-alih menuntun penonton untuk mencari apa makna dari potongan adegan per adegan, Tunggul mengajak penonton untuk memperhatikan Yudi berakting dengan membiarkan kamera merekam. Interupsi bingkai juga semakin memperjelas bahwa film ini punya niatan lain selain menyajikan rangkaian adegan yang tak berkesinambungan.

Lewat kacamata para pekerja film dalam Worked Club, ada usaha auto-kritik terhadap praktek produksi film. Film selalu dianggap menyajikan realitas filmis yang berjarak. Di film ini, ada ajakan untuk mendekatkan jarak tersebut dengan hadirnya kamera sebagai perekam gambar dan microphone perekam suara. Faktanya, selain durasi, film sebagai sebuah medium memang dibuat dari rekaman gambar dan suara. Interupsi gambar bergerak saat benda di depan kamera jatuh, tanggapan tokoh saat ia menyenggol kamera, bahkan dialog isi suara dimaksudkan untuk memutus jarak antara realitas filmis dan realitas di luar film. Dalam Worked Club, Tunggul mengajak penonton untuk sadar bahwa mereka sedang menonton proses pengambilan gambar.

Itu juga sebabnya film ini tidak menjelaskan siapa tokoh-tokoh di dalamnya.Dalam Worked Club, penonton tidak sedang disajikan sebuah cerita—penonton adalah partisipan aktif yang menjadi bagian dalam film. Ini tercermin dari laku para tokoh dalam Worked Club—pembuat film bisa menyuruh si aktor untuk melakukan apapun, tak peduli seberapa janggalnya. Dalam film, kebebasan aktor hanyalah sebatas kendali pembuat film.

Jika penonton sudah begitu tak berjarak dengan produksi film, maka penonton akan lebih cerdas melihat film sebagai bentuk realitas lain yang berjarak dengannya. Seolah Tunggul ingin berkata kepada penonton, “Jangan biarkan dirimu terjebak dalam ketidaknyataan yang memang sengaja diciptakan dalam dunia film.” Bukankah selama ini dalam menonton, seringkali apa yang dilihat diyakini begitu saja? Worked Club mencoba bermain dengan persepsi. Jika penonton dapat hadir dalam pembuatan film, mereka akan sadar ada jarak antara realitas dan film.

Worked Club penuh dengan lapisan-lapisan makna yang dapat menjebak persepsi, namun tetap hadir dalam bentuk film, dikemas dalam ruang persegi panjang dengan rasio 16:9. Menonton Worked Club tidak berkelindan dengan cerita tertentu, karena setiap gambar dan suara dalam film ini merupakan upaya untuk menggariskan batas antara realitas film dengan realitas di luar sana. Konsepnya tidak mudah diterima atau langsung kentara dalam sekali tonton. Apalagi dengan penyajian yang multitafsir.

Worked Club | 2015 | Durasi: 22 menit | Sutradara: Tunggul Banjaransari | Penulis: Tunggul Banjaransari | Produksi: Hail the Cube | Negara: Indonesia | Pemeran: Muhammad Yusuf Wahyudi, Arie Surastio, Ade Nuriadin, Yulius Pramana Jati

Tulisan ini merupakan hasil lokakarya KLUB DIY MENULIS, 19-31 Mei 2016, di Loop Station Yogyakarta.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (11)
  • Boleh juga (2)
  • Biasa saja (3)
  • Lupakan (1)
Share

Send this to a friend