Woman On Fire Looks For Water: (Bukan) Sekadar Patah Hati Lintas Generasi

 

woman-on-fire-looks-for-water_highlight

Woman On Fire Looks For Water (WOFLFW) merupakan film panjang keempat dari Woo Ming Jin, seorang sutradara Malaysia. Sebelumnya, ia pernah membuat Monday Morning Glory (2005), Salon (2005), dan The Elephant and the Sea (2007). Tahun 2010 kemarin, dia merilis film terbarunya, The Tiger Factory. Semua film panjang Woo Ming Jin tersebut tidak pernah didistribusi secara luas di Indonesia, baik sebagai film bioskop maupun kepingan VCD atau DVD orisinil. Untungnya masih ada festival film di Indonesia. WOFLFW singgah di Indonesia sebagai bagian dari ekshibisi non-kompetisi di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2010. Film tersebut aslinya dirilis di Pusan International Film Festival tahun 2009, setelah sebelumya diputar sebagai karya dalam proses di Venice International Film Festival.

WOFLFW terstruktur dalam dua cerita cinta segitiga. Kedua cerita terjadi secara bersamaan, di tengah rutinitas sebuah desa pinggir pantai. Cerita yang pertama melibatkan Ah Fei, seorang penjual kodok. Dia pacaran dengan Lily, seorang pekerja di pabrik penggaraman ikan. Lily hanya mau menikahi Ah Fei, apabila pacarnya punya cukup uang untuk menafkahi hidupnya. Di tengah usahanya mengumpulkan uang, Ah Fei ditawari kerja dengan gaji yang lebih besar oleh seorang taipan lokal. Ah Fei tentunya menyanggupi tawaran tersebut. Masalahnya, yang tak dinyana oleh Ah Fei, tawaran si taipan disusul oleh tawaran pernikahan dari anak perempuannya. Sementara Ah Fei terbelah antara dua pilihan, bapaknya, Ah Kau, mengunjungi cinta lamanya. Diramal akan meninggal dalam waktu dekat, Ah Kau menemui kembali Ai Ling, perempuan yang dulu ingin ia nikahi. Sayangnya, Ai Ling sekarang sudah mapan dengan suaminya, yang walau sudah tua tapi sukses menafkahi keluarganya selama bertahun-tahun. Ah Kau menyesal setengah mati, dan berharap bisa menebus masa lalunya dengan mengajak belahan hatinya untuk pergi bersamanya.

Kedua cerita cinta segitiga dalam WOFLFW berima secara tematik. Rima tersebut yang menjadi muatan emosional WOFLFW. Penyesalan Ah Kau menjadi cerminan kemungkinan patah hati yang anaknya akan alami, kalau-kalau Ah Fei tidak mengambil keputusan yang tepat. Konsekuensinya, di mata penonton, relasi bapak dan anak tersebut menjadi semacam garis darah yang terkutuk. Kedua protagonis terjebak dalam relasi sentimentil yang rumit. Sementara itu, di hadapan keduanya, ada perekonomian sebuah desa industri. Perekonomian macam itu jelas sangat mementingkan hasil akhir yang konkrit, karena hal tersebut yang memungkinkan datangnya uang. Dalam kasus ini, uang sama dengan kelangsungan hidup. Tidak heran kalau masyarakat di desa tersebut lebih mementingkan isi perut ketimbang isi hati. Ah Fei dan Ah Kau oleh karenanya menjadi sebuah anomali. Mereka berdua mencoba mempertahankan roman ideal dalam kepala mereka, sementara yang pasangan mereka inginkan adalah stabilitas finansial. Kesempatan Ah Kau untuk mewujudkan hal tersebut sudah lewat, mengingat dia sudah lewat usia produktifnya. Lagipula, seperti yang sudah dijelaskan, pasangannya sudah punya suami yang mapan. Ah Fei pun menjadi sarana utama WOFLFW dalam mengocok harapan penonton, terutama setelah dia mendapat tawaran menikah dengan anak bosnya. Sederhananya: cinta versus realita.

Berhadapan dengan film dengan premis cinta lebih penting dari realita, Woo Ming Jin memilih untuk menekan cinta dan mengembangkan realita. Terlihat kamera lebih condong menyorot desa lokasi cerita WOFLFW, ketimbang karakter-karakter yang ada di dalamnya. Adegan pembuka film adalah Ah Kau terkapar di perahu bersama anaknya. Dalam adegan sedramatis itu, kamera tidak menyorot wajah Ah Kau yang penuh penderitaan, melainkan lanskap alam di belakangnya. Komposisi off-center semacam itu dominan sampai akhir film, dan semuanya menyorot lanskap alam desa. Awalnya, pengutamaan gambar lanskap tersebut terkesan seperti tempelan romantis saja. Menuju ke tengah film, kesan tersebut lenyap. Pasalnya, Woo Ming Jin turut menyorot kemerosotan fisik yang terdapat dalam lanskap desa, baik yang natural maupun yang artifisial. Ada gambar ikan mati, sungai yang tercemar, dan bangunan tua yang hampir rubuh. Gambar-gambar yang terkesan romantis tadi ditubrukkan dengan gambar-gambar yang realistis. Hasilnya adalah sekuens-sekuens gambar yang memotret perkembangan suatu desa secara menyeluruh.

Di antara sekuens gambar romantis dan realistis di WOFLFW, Woo Ming Jin turut merekam rutinitas kerja masyarakat desa. Adegan Ah Fei menangkap kodok dan memotongnya jelas masuk. Tercakup juga adegan Lily menggarami ikan di tempat kerjanya. Puncaknya adalah sekuens adegan Ah Fei bekerja untuk bos barunya, yakni menangkap tiram di sungai. Drama percintaan Ah Fei terjadi di sela-sela rutinitas tersebut. Semua rutinitas tersebut direkam dalam medium shot, jarak yang netral: tidak terlalu jauh bagi penonton untuk mengamati, tidak terlalu dekat juga untuk menimbulkan kesan yang dramatis. Kombinasi gambar lanskap dan rutinitas masyarakat desa menjadikan drama dalam WOFLFW secara emosional tidak terlalu mendesak. Penonton lebih dibiasakan dengan ritme kehidupan desa, yang repetitif dan tidak dramatis. Konsekuensinya: sebagian besar perhatian penonton teralihkan, dari sentimentalitas drama Ah Fei ke realita kehidupan desa yang ia alami.

Pada titik ini, film bisa dibaca dalam dua macam interpretasi. Pertama adalah interpretasi romantis. Sekuens rutinitas masyarakat desa menjadi metafor bagi percintaan yang Ah Fei jalani. Diperlukan ketelatenan dan ketahanan tersendiri untuk menjalani pekerjaan-pekerjaan yang dijalani karakter-karakter tersebut. Ketelatenan dan ketahanan yang sama diperlukan untuk menjalani relasi romantis yang mereka jalani, yang notabene terkait erat dengan logika ekonomi yang mendasari pekerjaan mereka. Pada pembacaan ini, setiap momen rutinitas hidup mengambil makna ganda bagi Ah Fei. Pekerjaan menjadi pengubung antara Ah Fei, dengan alamnya. Pekerjaan juga menjadi determinan material dan emosional Ah Fei. Dalam jangka pendek, pekerjaannya menentukan isi kantongnya. Dalam jangka panjang, pekerjaannya menentukan kebahagiaan atau kekecewaannya di masa yang akan datang. Pekerjaan menjadi pembuktian apakah Ah Fei menjadi atau tidak menjadi seperti bapaknya: orang tua yang penuh penyesalan, jauh setelah usia produktifnya berakhir.

Interpretasi kedua lebih fatalis. Banyaknya gambar lanskap dan komposisi off-center menjadikan alam terlihat seperti semacam karakter yang hidup. Dia sudah tua dan sudah melihat segalanya berputar dalam lingkaran: mulai dari hidup matinya para pekerja, tumbuh runtuhnya bangunan, hingga rantai makanan antara manusia dan alamnya. Pada pembacaan ini, Ah Fei dan Ah Kau tidak lebih dari sekadar satu fase dalam siklus besar kehidupan yang tersirat dalam WOFLFW. Sejak awal film, Ah Kau diramal akan meninggal dalam waktu dekat. Sebagai sesama manusia, Ah Fei tinggal menunggu waktu sampai ia bernasib sama seperti bapaknya. Keduanya akan mati, dikubur, dan orang-orang baru dengan dramanya sendiri datang menggantikan tempat mereka. Begitu juga bangunan dan pekerjaan di desa yang akan timbul tenggelam seiring berjalannya waktu. Satu-satunya yang akan selalu ada adalah alam. Dia adalah saksi mata abadi dari siklus besar kehidupan yang terjadi dalam WOFLFW.

Kedua interpretasi tersebut berima satu sama lain. Interpretasi pertama merujuk pada realita yang antroposentris, di mana manusia dilihat sebagai pengendali sekaligus pemakna ekologi bumi. Interpretasi kedua menyiratkan realita yang biosentris, di mana segala yang terjadi dalam WOFLFW dilihat dari sudut pandang alam. Manusia hanya dilihat sebagai penumpang, bukan supir dari segala perkembangan yang terjadi di alam. Manusia punya pengaruh, namun layaknya penumpang, ia timbul tenggelam sesuai pesanan kematian. Kedua interpretasi tersebut sama-sama menjelaskan segala jeda dramatis dalam WOFLFW. Keringnya drama manusia dalam WOFLFW menjadi logis, karena memang sorotan film tersebut bukan manusia, tapi relasinya dengan alam dan posisinya dalam siklus besar kehidupan. Sederhananya: cinta versus realita, dari sudut pandang manusia dan alam di sekitarnya.

Woman on Fire Looks for Water | 2009 | Durasi: 100 menit Sutradara: Woo Ming Jin | Negara: Malaysia | Pemain: Foo Fei Ling, Shun Yuan Chong, Hui Yee Gan

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend