Wall Street: Money Never Sleeps, But Audience Do

wall-street-money-never-sleeps_highlight

Agak sulit jadi seorang Oliver Stone. Pertama, orang akan selalu membandingkan film-filmnya dengan karya emasnya, JFK (1991). Kedua, celakanya, memang sulit ditemui film Oliver Stone yang bisa menyamai JFK. Platoon (1986), karya lain Oliver Stone, memang baik tapi tak segarang JFK. Platoon bergerak dalam ruang yang (di)sempit(kan), para prajurit dalam perang sejatinya lebih takut pada perasaannya sendiri dibanding pada musuh. Oliver Stone kembali ditahun 2010, mencoba peruntungan lewat film-ekonomi-politik-berbalut-romansa. Kenapa ada romansa disana? Saya rasa Oliver Stone sudah bosan gagal di box office karena wacana yang terlalu serius. Jadi harus ada jack-of-all-trades di sana: romansa.

Film ini berhubungan dengan Wall Street (1987) yang digarap oleh Stone sendiri. Bedanya, Wallstreet 2: Money Never Sleeps menyembul dari balik hiruk-pikuk pialang di Wall Street New York ketika terjadi resesi politik Amerika Serikat tahun 2009 lalu. Resesi ini kabarnya lebih parah dari yang menimpa Amerika Serikat tahun 1929 (John Maynard Keynes pasti sedang tersenyum dibalik batu nisannya). Lewat karakter Gordon Gekko, kerunyaman masalah uang ini bisa dijelaskan: bahwa resesi terjadi karena spekulator tak bertanggung jawab yang berpengaruh pada jumlah investasi. Lalu menjelma menjadi kredit macet. Kredit macet menyebabkan bank investasi independen tak punya “fulus” untuk diputar. Rantai ini terjadi dalam skala besar sehingga Amerika Serikat terancam pailit, bahkan seluruh dunia.

Kekuatan film-film Oliver Stone terletak pada riset-nya yang detil. Tahun 1991, JFK tampil melawan wacana arus-utama tentang kematian presiden John. F Kennedy. Wacana arus-utama seringkali menghubungkan insiden tersebut dengan rezim Castro di Kuba. Tapi selayaknya propaganda psikologis yang masuk akal, JFK memperkenalkan analisa historis yang sangat spesifik. Lengkap dengan dokumen-dokumen resmi sebagai bukti. Latar belakang Stone yang panjang di kemiliteran membuatnya begitu lihai merancang riset dan menceritakannya. Lebih unik lagi, sebab Stone memilih untuk tetap menggunakan genre fiksi, tak seperti sineas-merangkap-aktivis-politik lain seperti (misalnya) Pino Solanas dan Michael Moore, yang bergerak dijalur dokumenter. Secara faktual, dokumenter menyediakan porsi lebih bagi riset dan footage-footage akurat dibanding genre fiksi. Tapi inilah Oliver Stone.

Balik pada pasal kebosanan Stone terhadap kegagalannya di boxoffice, Wall Street 2 menyulam kekacauan pasar saham menjadi kisah romantis antara Jake dan Winnie. Jake adalah pialang di Wall Street dan Winnie adalah aktivis sayap kiri liberal (sudah kiri, liberal lagi). Fluktuasi hubungan Jake dan Winnie yang kemudian membawa Wall Street 2 keluar dari chaos di lantai bursa, sesuatu yang sangat disayangkan karena alih-alih memelihara kedetilan riset dari awal sampai habis, Stone malah menggiring filmnya menjadi kisah asyik-masyuk pasangan muda yang sibuk meributkan harta warisan.

Kedua, kali ini Stone tidak tegas dalam menyatakan argumennya. Pertama, ia menegaskan bahwa persoalan ekonomi ini bersifat “global”, masalah ekonomi skala luas dengan korban yang lebih luas lagi. Ada indikasi bahwa resesi ekonomi terjadi karena masalah sistemik. Tak lama kemudian, muncul karakter Bretton Adams, antagonis yang menjadi kompetitor Jake dan Gekko: mulai sejak dilantai bursa sampai dilantai dansa. Keberadaan Adams mengubah  aroma masalah menjadi politis, bahwa ditengah masalah sistemik ini, ternyata banyak juga orang yang bisa mengambil untung. Ditengah kepanikan semua orang, pencucian uang, monopoli harga saham, dan perebutan klien investasi, bisa dilakukan tanpa ada kontrol hukum yang ketat. Sebab kenapa? Semua orang sedang panik! Termasuk pengadilan. Persaingan segitiga Jake-Gekko-Adams adalah permasalahan pribadi yang dibuat berdasarkan stereotip aktivis ekonomi yang terancam gantung sepatu (atau gantung kalkulator?). Segitiga ini, secara ontologis, adalah masalah pribadi, bukan masalah ekonomi.

Ketiga, Wall Street 2 tampil semirip mungkin dengan tampilan visual televisi. Dialog ekonomi serius dengan angka-angka numpang lewat dilayar, sampai pada penggunaan split-screen yang bodoh, dipilih Stone dengan tujuan mendekatkan filmnya kepada khalayak Amerika Serikat. Yang setiap harinya mendapat informasi ekonomi dari Televisi, CNN misalnya.

Kenapa begitu? Inilah upaya Stone menggaet sebanyak mungkin penonton bioskop yang sebagian besar tak mau pusing dengan argumentasi ekonomi di segala dimensi: mikro (naik turun harga saham), maupun makro (keuangan global dan pemerintah Amerika Serikat sendiri). Di lain pihak, Stone bukanlah director-for-hire yang tega melepas ciri khasnya hanya untuk box-office, sehingga isu resesi ekonomi bisa menjadi nina bobo yang manis: bagi generasi penonton yang tak mau dibilang buta ekonomi, buta politik.

Saya sih tidak begitu paham dengan alur resesi. Di sini saya hanya tertawa-tawa bersama almarhum John Maynard Keynes.

Wall Street: Money Never Sleeps | 2010 | Sutradara: Oliver Stone | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Michael Douglas, Shia LaBeouf, Carey Mulligan, Susan Sarandon, Josh Brolin

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend