Undangan Menulis: Suara dalam Sinema

kinology_undangan-menulis-suara-dalam-sinemaSeperti bayi cacat, film terlahir bisu. Tanpa suara, ia hadir dalam wujud gambar bergerak. Elemen suara, dalam perkembangannya, perlahan mulai hadir dalam bentuk komposisi musik sebagai pengiring pemutaran film. Pengiringnya bisa dalam bentuk orkestrasi besar dengan belasan musisi, bisa juga hanya seorang pianis—tergantung seberapa besar anggaran si empunya ruang putar.

Lambat laun, perpaduan antar gambar dan suara semakin intens dan semakin lumrah ditemukan dalam pemutaran-pemutaran film reguler di berbagai tempat. Muncul istilah Vitaphone Movies, yang secara harfiah diartikan sebagai “suara kehidupan”, karena dengan demikian film lebih terasa hidup di mata penonton. Tak pelak, transformasi film dari format visual ke audiovisual tak hanya mengubah skema produksi. Alih-alih, terjadi perubahan yang sama signifikan terhadap skema apresiasi. Pembuat film harus memutar otak menyiasati penggunaan suara dalam film-film garapan mereka, sedangkan para penonton film juga harus mengubah cara menonton mereka. Sederhananya, ketika pembuat film mulai berusaha membuat gambar dan suara sinkron, penonton juga berusaha untuk tidak lagi berisik saat pemutaran berlangsung.

Pada perkembangannya, muncul inisiatif untuk memetakan transformasi format tersebut secara kronologis. Mulai dari peralihan tren film bisu ke Vitaphone Movies, kemudian akan terbaca bagaimana perubahan-perubahan proporsi suara yang secara perlahan juga memiliki fungsi naratif. Suara tidak lagi hadir sebagai pengiring maupun pelengkap gambar, melainkan hadir sebagai komponen cerita itu sendiri. Bahkan dalam kasus-kasus tertentu, seringkali suara hadir dengan membawa konteks baru yang kemudian menawarkan pembacaan lain terhadap keseluruhan cerita. Yang selanjutnya bisa dibawa ke arah teknis, seperti seberapa penting kompatibilitas antar suara dengan gambar; koherensi-dekoherensi suara dengan gambar sebagai satu rangkaian narasi yang utuh; atau bagaimana suara dan gambar cenderung dikomposisikan.

Pada saat bersamaan, suara diperlakukan bak anak tiri dalam kajian sinema, seakan-akan yang paling penting adalah visual. Lupakan film musikal yang jelas-jelas bertumpu pada suara. Kita tahu bahwa film horror modern tidak akan menakutkan tanpa suara; film laga tidak akan memukai penonton tanpa suara ledakan; dan  sulit membayangkan film propaganda seperti Pengkhianatan G30S/PKI akan sukses membohongi jutaan penonton apabila musik latarnya adalah pop Swedia.

Adopsi suara pun memiliki dampak yang tidak remeh terhadap pemasaran film, yang juga mengisi ceruk ekonomi di ranah kebudayaan populer lainnya, misalnya musik pop. Di Hollywood, sekurang-kurangnya sejak Snow White and the Seven Dwarf (1937), musik dan lagu pengiring film (soundtrack) mulai dijual sebagai produk sampingan. Meski demikian, rilisan original soundtrack baru menjadi tradisi yang bertahan hingga kini semenjak American Grafitti (1972). Di Indonesia sendiri, restorasi Tiga Dara (1953) baru-baru ini menunjukkan bahwa original soundtrack sudah jauh-jauh hari dijual sebagai produk terpisah dari filmnya. Tarung antar musisi turut pula mewarnai hubungan antara musik dan film di Indonesia, misalnya dalam duel panggung antara Rhoma Irama vs Ikang Fawzi dalam Menggapai Matahari (1986). Pada 2005, dua film Indonesia, Catatan Akhir Sekolah dan Janji Joni turut mempromosikan komunitas musik independen—Catatan Akhir Sekolah memajang lagu dari para musisi Bandung, sementara Janji Joni mengangkat musisi Jakarta.

Cinema Poetica mengundang Anda berkontribusi mengirimkan artikel riset, laporan jurnalistik, wawancara, atau esai foto untuk penerbitan Kinology edisi V dengan tema-tema berikut ini:

  • Kajian teoretis tentang suara dalam sinema
  • Suara dan bahasa sinema Indonesia
  • Original soundtrack dalam film-film Indonesia
  • Hubungan antara film dan komunitas/industri musik di Indonesia
  • Pengajaran musik dan suara dalam pendidikan produksi film

Kinology edisi V akan terbit pada Desember 2016. Bagi yang berminat untuk berkontribusi bisa mengirimkan draft awal berisi rencana penulisan/pengerjaan karya sebelum 5 Oktober 2016 ke windu@cinemapoetica.com dan pandji@cinemapoetica.com.

X