Two Days, One Night: Gelisah Pekerja Kelas Menengah

two-days-one-night_hlghBegitu peliknya masalah yang dihadapi para pekerja. Dalam banyak kesempatan kita bisa temukan berita tentang krisis dan kasus para pekerja, seperti PHK besar-besaran, kriminalisasi pekerja, upah rendah, hingga jam kerja yang tidak manusiawi. Kehadiran bulan Mei setiap tahunnya pun ditandai dengan demonstrasi pekerja besar-besaran. Ratusan ribu pekerja yang tersebar di berbagai daerah turun ke jalan, menuntut pemerintah melakukan perubahan demi mengubah nasib mereka.

Tak hanya di portal berita, buruh juga ada di medium film. Jean-Pierre Dardenne dan Luc Dardenne, duo sutradara dari Belgia, merupakan salah satu yang rajin menyuguhkan kisah pergulatan hidup para pekerja. Film-filmnya yang sukses di mata dunia, mulai dari La Promesse (1996), Rosetta (1999), The Son (2003), hingga L’Enfant (2005), menyinggung kehidupan kelas pekerja yang pelik. Pada 2014, Dardenne Bersaudara menelurkan Two Days, One Night, yang kembali membicarakan kaum pekerja.

Two Days, One Night bercerita tentang Sandra Bya yang baru saja selesai mendapat perawatan akibat depresi. Saat akan kembali bekerja, ia justru terancam kehilangan pekerjaannya. Perusahaan telah menawarkan dua pilihan bagi karyawan pada saat Sandra tidak ada: mempertahankan Sandra untuk tetap bekerja, atau menerima bonus sebesar 1.000 Euro. Hasilnya, dari 16 karyawan, hanya dua orang yang memilih Sandra untuk bertahan, sementara lainnya lebih tertarik dengan bonus yang menggiurkan.

Ditemani kawannya, JulietteSandra menemui bosnya untuk menuntut keadilan. Keduanya memohon voting ulang, sebab pada voting sebelumnya, ada penghasutan yang menyebabkan banyak karyawan memilih bonus ketimbang mempertahankan Sandra. Usaha mereka berdua tidak sia-sia; perusahaan akan melakukan voting ulang pada hari Senin. Atau dengan kata lain, Sandra punya waktu dua hari satu malam, untuk meminta dukungan rekan-rekannya di perusahaan. Meski sempat ogah-ogahan, berkat dorongan dari pasangannya, Manu, Sandra mulai mengunjungi rekan kerjanya satu persatu.

Bersama Sandra, kita mengalami setiap reaksi yang muncul dari rekan kerja yang ia kunjungi. Hampir seluruh ketegangan dalam film ini bersumber dari kunjungan yang menentukan nasibnya tersebut. Emosi diaduk melalui gambar-gambar yang diambil dari jarak dekat. Sebutlah ketika seorang lelaki di tengah permainan sepakbola dihampirinya lalu lelaki itu mengucurkan airmata. Ada pula yang harus rela mengakhiri hubungan dengan suaminya karena keputusannya mendukung Sandra. Lain lagi dengan dua orang rekannya, yang sampai adu jotos karena berbeda pendapat.

Secara bertahap kita pun melihat manis-getir ekspresi Sandra mulai dari bertemu rekannya, cipika-cipiki, bernegosiasi, hingga pamit dengan sebuah jawaban. Lihat bagaimana rapuh dirinya saat menelepon rekannya sambil menahan isak, duduk di mobil atau bus dengan tatapan kosong dan berat, serta kakinya melangkah dengan cepat tapi pundaknya begitu lunglai. Semua kekecewaan, tangis, senyum, dan rasa malu, diperlihatkan dengan gamblang dan dengan durasi panjang-panjang.

Teknik long-take yang banyak menangkap gestur protagonis saat bertemu rekan kerjanya, selain mendukung kekuatan emosi, nyatanya juga mampu menampilkan detail kondisi sosial-ekonomi para tokohnya. Rekan kerja Sandra bukanlah masyarakat kelas bawah yang melarat-melarat amat. Mereka punya tempat tinggal yang nyaman, pakaian yang bagus, bahkan ada juga yang punya kendaran pribadi. Walaupun begitu, tidak semua rekan kerjanya bernasib mujur.

Dardenne Bersaudara membeberkan secara visual bahwa ada di antara rekannya Sandra yang menjalani akhir pekan yang berat. Sebagian besar dari mereka memiliki pekerjaan lain. Ada yang memotong dan menjual ubin; ada yang mengajar anak-anak berlatih sepakbola; dan ada pula yang menjadi pesuruh di toko kecil. Sekalipun ada rekan Sandra yang tak bekerja pada akhir pekan, maka pentingnya bonus akan terjelaskan secara verbal. Entah itu untuk kebutuhan pokok, seperti listrik, ataupun kebutuhan tambahan seperti furnitur ruangan. Singkatnya, bonus penting untuk akhir pekan yang lebih menyenangkan.

Memilih bonus memang masuk akal—bahkan Sandra sendiri berpikir begitu. Kendati demikian, ada sejumlah rekan kerja yang memilih mempertahankan Sandra, daripada menikmati bonus. Mereka tidak bodoh apalagi suci seperti malaikat. Kemurahan hati mereka tidak datang dari langit, melainkan dari pertimbangan yang berat. Ada dua alasan yang kiranya membuat mereka memilih untuk mempertahankan pekerjaan Sandra. Pertama, alasan yang kasatmata, yaitu punya hutang budi pada Sandra—terjadi pada Timur, sang pelatih sepakbola anak-anak. Kedua, alasan tak kasatmata namun paling dominan, karena hati nurani ingin membantu sesama kawan.

Alhasil, film beranjak lebih jauh dari sekadar pergulatan pekerja yang mempertahankan posisinya demi urusan finansial semata. Lebih dalam lagi, ada urusan moral, yang melibatkan pertaruhan antara nurani dan ego pribadi. Ada perseteruan batin demi menguji solidaritas antarsesama pekerja. Ini menjadi penting mengingat jarang ditemukan kasus nyata di mana keputusan pencabutan status karyawan dilakukan atas pertimbangan kolektif karyawan sendiri. Yang sering kita ketahui, pemecatan dilakukan sepihak oleh perusahaan.

Hantu Pengangguran bagi Kelas Menengah

Lantas bagaimana kondisi sosial-ekonomi keluarga Sandra? Begitu pentingkah pekerjaan tersebut bagi dirinya? Jawabannya jelas terpaparkan. Sandra, bersama suami dan kedua anaknya, hidup berkecukupan. Keluarga mereka bisa makan enak, punya rumah berlantai dua, dan kendaraan pribadi lumayan mewah. Setidaknya, kita bisa melihat keluarga ini membeli pizza dan menikmatinya bersama-sama di rumah, dengan sepasang anak yang bermain laptop dan gadget. Sepanjang kunjungan pun, tanpa ragu mereka mampir ke warung untuk sekadar membeli minum, roti, bahkan eskrim.

Akan tetapi, justru karena keadaan serba-kecukupan itulah yang membuat Sandra takut kehilangan pekerjaannya. Sandra memberikan alasan saat membujuk rekan kerjanya. “Aku harus mendapatkan kembali pekerjaan itu untuk membayar kredit rumah,” katanya. Suami Sandra, pekerja di sebuah restoran, pun selalu menyemangati Sandra untuk berjuang mempertahankan pekerjaannya. Sebisa mungkin mereka tidak ingin keluar dari rumah itu dan tinggal di rumah susun seperti dulu lagi.

Ketakutan Sandra agaknya tidak asing dan kerap menghantui hampir semua pekerja. Di Belgia—dan mungkin di negara-negara lainnya—tokoh seperti Sandra dan rekan kerjanya dikenal sebagai pekerja kelas menengah.  Kaum ini memang mendapatkan standar hidup yang layak. Tapi semakin tinggi standar hidup mereka, tentu permasalahan keuangan juga semakin banyak. Cicilan rumah dan kendaraan menanti setiap bulan. Keperluan anak selalu bertambah. Makan inginnya yang unik dan enak. Keadaan ini malah membuat mereka rentan jika mengalami teror pemecatan seperti Sandra.

Latar Two Days, One Night memang Belgia, tapi konteks yang dibawanya bisa berhubungan dengan kehidupan masyarakat manapun, termasuk Indonesia. Sangat mudah membayangkan cerita yang sama terjadi di Indonesia, dengan karakter tokoh dan permasalahan yang sama. Kita bisa setuju bahwa pekerjaan Sandra dapat ditemukan, atau diasosiasikan dengan pekerjaan lain, di negeri kita. Entah yang akhir pekannya menjadi pelayan restoran, penjaga warnet, kuli toko, penjual burung, ataupun sopir ojek.

Two Days, One Night sejatinya merupakan bagian kecil dari narasi panjang globalisasi dan budaya konsumerisme. Budaya ini telah menjangkiti para pekerja, khususnya kelas menengah. Mereka bekerja tidak untuk menjadi kaya, tetapi supaya punya cukup uang untuk melengkapi kebutuhan. Gali lubang, tutup lubang.

Two Days, One Night | 2014 | Durasi: 95 menit | Sutradara: Jeanne-Pierre Dardanne. Luc Dardanne | Penulis: Jeanne-Pierre Dardanne. Luc Dardanne | Produksi: Le Films du Flevue, Archipel 35, BIM Distribuzione, Eyeworks, France 2 Cinéma, Radio Télévision Belge Francophone (RTBF), Belgacom | Negara: Belgia, Italia, Prancis | Pemeran: Marion Cotillard, Fabrizio Rongione, Catherine Saleé

Tulisan ini merupakan bagian dari ulasan film-film yang tayang selama EUROPE ON SCREEN yang diselenggarakan pada 19 April – 8 Mei 2016.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (7)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend