Tron Legacy: Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya

tron-legacy_highlight

Francois Truffaut pernah menulis, bahwa musuh terbesar pembuat film bukanlah produser yang rakus uang, tapi penonton. Siapapun orangnya, produser akan selalu peduli dengan kesuksesan film yang ia produseri. Toh, ia mengincar penjualan tiket sebesar-besarnya.

Di sisi lain, penonton sulit ditebak apa maunya. Ganti tahun, bulan, bahkan hari sekalipun, penonton bisa berubah selera dan keinginannya. Jadi, menurut Truffaut, lebih sulit bagi sutradara untuk memuaskan penonton ketimbang produser. Pemikiran Truffaut tersebut yang bergema di kepala saya saat akan menonton Tron Legacy. Di hadapan saya adalah sebuah film yang diklaim sebagai sekuel dari Tron, sebuah film yang diproduksi 1982 silam. Bayangkan, selama 28 tahun terakhir, sudah terjadi reunifikasi Jerman, keruntuhan Uni Soviet, Perang Teluk, grunge, Spice Girls, Osama Bin Laden, Facebook, dan Keong Racun. Singkatnya, estafet generasi besar-besaran. Tron menjadi ikon pada jamannya, karena ia satu dari sedikit film yang banyak memanfaatkan teknologi digital. Ceritanya memang standar tipikal film laga Hollywood, namun permainan cahayanya begitu memukau untuk jamannya. Tidak heran kalau dulu Tron dianggap membuka kemungkinan baru dalam produksi film. Sekarang, ketika film semakin menor menggunakan kosmetik digital, apa yang bisa Tron Legacy tawarkan ke penonton?

Menilik dari sekuens pembukanya, Tron Legacy seakan-akan menawarkan dramatisasi dari isu pembajakan di internet, sebuah isu yang sangat kekinian. Di awal film, kita melihat seorang anak muda menyusup ke sebuah gedung pencakar langit. Dia adalah Sam Flynn, anak dari pendiri perusahaan Encom, sebuah korporat perangkat lunak, yang kini tidak tahu di mana rimbanya. Satu-dua kecohan kemudian, Sam sudah melewati parameter keamanan gedung. Di waktu yang sama, para eksekutif Encom sedang rapat. Mereka merayakan kesuksesan mereka di percaturan saham dunia, dan akan merilis produk terbaru mereka. Produk tersebut adalah sistem operasi macam Windows dan Linux, namun jauh lebih aman dari kedua sistem tersebut. Encom akan merilis produknya secara online dan live. Seluruh dunia tak sabar menunggu. Saya pun tak sabar menunggu kejutan yang mungkin akan terjadi. Benar saja. Sam sukses meng-hack jaringan Encom, dan merilis produk mereka secara gratis di internet. Para eksekutif Encom kelabakan. Sam kabur, walau akhirnya ditangkap polisi.

Di sekuens berikutnya, isu pembajakan di internet lenyap begitu saja. Kesannya isu tersebut diadakan hanya sebagai penanda waktu. Kalau jaman Tron dulu komputer masih jadi mainan baru, jamannya Tron Legacy komputer sudah jadi kekuatan sosial-politik tersendiri. Penanda waktu tersebut semakin kentara ketika Sam mengunjungi pusat permainan milik bapaknya. Di dalamnya banyak mesin ding-dong, artefak masa lampu yang sekarang makin sulit ditemukan. Sam pun mengotak-atik komputer jadul bapaknya, dan tahu-tahu tersedot ke dalam dunia permainan Tron. Pada titik inilah baru terungkap apa yang mau ditawarkan Tron Legacy ke penonton: visualisasi sebuah dunia digital melalui teknologi perfilman mutakhir. Bayangkan: lanskap monokrom, dengan ratusan garis biru dan merah malang melintang. Di atas lanskap tersebut tokoh-tokoh berkostum ketat dan kendaraan futuristik, yang setiap lekukannya terlihat begitu menantang. Singkatnya: sebuah dunia yang seksi mencolok mata, sebuah dunia yang tidak mungkin dibuat jaman Troy dulu.

Dalam fase seksinya, Tron Legacy mendadak berubah jadi kisah survival. Begitu masuk dunia Tron, Sam langsung diserang program-program yang selama ini hanya ia lihat di layar komputer. Ia terlibat pertempuran cakram cahaya, kejar-kejaran dengan motor bercahaya, dan aksi laga lainnya yang melibatkan cahaya. Selamat dari semua itu, Sam pun bertemu dengan bapaknya. Bapaknya ternyata masih sehat walafiat. Dia hidup di sebuah ruangan putih, yang mirip seperti kamar hotel alien di 2001: A Space Odyssey, dengan seorang murid perempuan cantik. Sam pun mengajak bapaknya untuk keluar dari Tron, dan kembali hidup normal di dunia nyata. Untuk keluar, mereka harus mengadakan perjalanan ke sebuah portal. Perjalanan tersebut tentunya tidak mudah, mengingat isi kepala bapaknya Sam sudah ada harganya. Ada orang (lebih tepatnya, program) yang siap mengunduh isi kepala bapaknya Sam, supaya juga bisa keluar ke dunia nyata dan membangun kerajaan baru di sana.

Perjalanan menuju portal tersebut yang menjadi inti dari Tron Legacy. Isinya macam-macam. Ada beberapa adegan flashback tentang asal muasal dunia Tron, drama singkat antara bapak dan anak, cameo dari Daft Punk, romansa singkat antara Sam dan murid bapaknya, dan (lagi-lagi) aksi laga yang melibatkan kilatan cahaya. Benang merah dari semua itu: visualisasi sebuah dunia digital melalui teknologi perfilman mutakhir. Tidak lebih, tidak kurang.

Saya pun jadi teringat dengan The Day After Tomorrow. Ya, film tahun 2004 itu, film yang dengan seksinya mengubah New York jadi istana es. Tron Legacy tidak ada bedanya dengan The Day After Tomorrow. Keduanya memulai ceritanya dengan isu yang sangat kontemporer pada jamannya. Keduanya kemudian melupakan isu yang ditonjolkan di awal film, dan berubah jadi cerita tentang relasi bapak-anak di tengah bencana. Keduanya sangat mengandalkan teknologi digital, dan hasilnya adalah tipikal film laga Hollywood dengan kemasan yang sangat-sangat cantik. Tron Legacy saya anggap sangat sesuai dengan judulnya. Film tersebut melanjutkan warisan Tron 28 tahun silam, dengan meng-upgrade pernak-pernak visualnya berkali-kali lipat. Saya rasa itu bukan tawaran yang buruk bagi penonton yang ingin cari senang di bioskop.

Tron Legacy | 2010 | Sutradara: Joseph Kosinski | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Jeff Bridges, Garrett Hedlund, Olivia Wilde

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend