Transformers – Dark of the Moon: Kehampaan Di Balik Kemegahan

transformers-dark-of-the-moon_hlgh

Sebetulnya apa yang hendak dicari oleh Michael Bay? Bahkan seorang sutradara kawakan dengan prestasi tidak impresif seperti dirinya setidaknya punya semacam harga diri, dan idealisme yang tidak sekadar dibantu oleh kecanggihan teknologi atau modal besar. Michael Bay yang jelas tidak belajar dari pengalaman. Justru dia tahu bahwa memang dia didesain khusus untuk film-film corny, yang berpotensi menghasilkan pemasukan banyak dan masuk jajaran box office sebagaimana membosankannya itu.

Naskah yang dihasilkan tentu saja tidak perlu berepot-repot mendalam dan sulit dicerna. Cukup hanya sekelas sinetron saja dan sisanya tinggalkan saja pada tim efek visual. Kali ini Dark of the Moon justru mengulang penonjolan kekerasan dan aksi pertempuran seperti pendahulunya, Revenge of the Fallen, yang jelas-jelas lebih berhati dingin dibandingkan yang sekarang. Setidaknya para penulis naskah cukup pusing-pusing di awal saja dengan fondasi cerita Transformers empat tahun silam, yang sayangnya semakin lama semakin bobrok.

Untuk sebuah alasan yang tidak jelas, Sam Witwicky (Shia LaBeouf) tidak rela untuk kembali dengan pacarnya yang seksi nan aduhai Mikaela (Megan Fox dari dua seri sebelumnya), dan bahkan lupa dengan puja pujinya kepada sang dewi. Sebaliknya kita dihadirkan oleh pesona baru seorang model muda asal Inggris bernama Rosie Huthington-Whiteley, yang tentunya menarik secara fisik. Cukup mengejutkan mengingat ini adalah peran perdana Rosie dalam film layar lebar. Dia memerankan Carly Miller yang menjadi pacar baru Sam.

Ceritanya bermula dari kesepian dan ketidakberdayaan seorang Sam. Dia sebetulnya merasa harga dirinya tercabik-cabik karena menjadi pengangguran, ditinggal Bumblebee dan kawan-kawan dengan tugas barunya bersama pemerintah, serta pacar barunya yang jelas tengah sukses berkarir. Ekspektasinya tentu film ini diarahkan untuk kawula remaja, dan sungguh banyak anak kecil berkeliaran serta main-main tempur-tempuran dengan kawan atau saudaranya ketika film tengah berlangsung! Meski demikian, demi kepuasan mata semata¸ Transformers tidak pernah jenuh menampilkan baju terbuka-buka di samping aksi-aksi yang sarat kreasi digital. Setidaknya hanya sedikit adegan ciuman yang diperagakan di sini ketimbang postur seksi Carly Miller.

Kembali ke film, para Autobots kini dipekerjakan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk ‘menjaga perdamaian dunia’. Bahkan terang-terangan di satu adegan para Transformers menyerbu situs nuklir illegal dengan bendera Iran, seolah mengisyaratkan itulah yang diinginkan Amerika agar dunia memahami persepsinya yang agung. Selain itu tidak sedikit parade mobil mewah, persenjataan modern, serta teknologi yang menjadi nilai jual Hollywood kepada dunia akan selalu muncul dari awal hingga akhir film.

Tentunya dunia belum sepenuhnya aman dimana bahaya Decepticons menjadi topik yang lebih penting dari terorisme. Transformers kali ini mengetengahkan sebuah teknologi yang hilang yang konon diyakini dapat memenangkan pihak Autobots. Reruntuhan spaceship ditemukan di bulan pada saat manusia pertama dari Amerika Serikat menginjakkan kaki di sana pada tahun 1969. Makna ekspedisi luar angkasa tersebut diturunkan derajatnya menjadi penemuan makhluk asing, ketimbang sebuah giant leap for humanity, apalagi kalau humanity tersebut adalah definisi perdamaian ala negara adidaya.

Akhirnya ditemukanlah sang penjaga sekaligus pencipta teknologi hilang tersebut yang tengah terlelap di reruntuhan kapal tersebut. Adalah Sentinel Prime yang merupakan pemimpin pendahulu sebelum Optimus Prime. Dengan Matrix of Leadership, Optimus Prime membangunkan Sentinel Prime dari tidurnya. Hanya dia yang mampu menjalankan pilar-pilar teleportasi yang mampu memindahkan materi menembus ruang dan waktu tersebut.

Sam mampu mendeteksi fakta amis bahwa para Decepticons telah mendahului mereka semua dengan mengambil pilar yang berjumlah ratusan, dan sengaja meninggalkan Sentinel Prime hanya dengan lima pilar saja. Ketika semuanya tersadar, maka terlambatlah sudah. Sentinel Prime pergi dengan meninggalkan kerusakan, dan mengaku bahwa ada cara untuk kembali membangun Cybertron, planet para Transformers, yang telah rusak parah sejak perang yang terdahulu. Sementara Carly juga diculik oleh majikannya yang ternyata adalah budak dari Decepticons.

Titik akhirnya adalah kota Chicago yang diluluhlantakkan dengan mudah oleh para Decepticons dan menjadikannya markas mereka. Sam dan para Autobots kini melakukan misi bunuh diri untuk menyelamatkan Carly serta dunia. Terjadilah pertempuran demi pertempuran yang melelahkan, menyita waktu, dan entah kenapa justru tidak memberikan desir-desir ketegangan di balik segala tabir bujet fantastis untuk film ini. Namun ada kalanya juga saat-saat seru dimana ketika Sam menyelamatkan Carly, dan bertempur dengan rekan-rekan lainnya di sebuah gedung yang tengah dihancurkan, hingga miring serta dikejar-kejar oleh ular penghancur milik Shockwave. Pertempuran terakhir antara Optimus Prime dan Sentinel Prime juga terbukti cukup menarik dan berdarah dingin ,dimana tidak ada lagi kata ampun apalagi ketika Megatron juga turut campur di antara mereka.

Sekali lagi ditegaskan bahwa tidak ada yang namanya kepuasan serta nilai-nilai yang bisa dikaji di dalam film ini, selain sebuah parade teknologi film dan 3D. Coba saja kembali kita renungkan film setipe seperti District 9 (2009) yang dengan budget rendah mampu menyajikan kegetiran, kebahagiaan, sekaligus gaung kemanusiaan yang masih saya rasakan hingga saat ini. Bahwasanya para alien tersebut adalah layaknya para Autobots ini. Namun, saya tidak merasakan adanya simpati pada perjuangan mereka. Di balik postur kekar dan kecanggihan senjatanya tidak berhasil saya temukan hati dan cinta pada hingga tiga episode ini. Bahkan cinta antara Sam dengan pacar-pacarnyapun terbilang kelewat gombal, tanpa ada chemistry yang meyakinkan.

Apa yang salah padahal sama-sama film tentang alien, robot, perdamaian, kemanusiaan, dan unsur-unsur lainnya yang kerap diketengahkan manusia dalam film-film masa kini? Walhasil dua setengah jam terbuang agak percuma kalau bukan oleh sajian spektakuler CG dan 3D atau apapun namanya itu. Tetap saya harus akui penampilan singkat John Malkovich sangat menyenangkan! Emosi serta pembawaannya yang unik tersebut selalu memberikan nuansa berbeda pada setiap film yang ia mainkan, meski perannya kerapkali minor.

Harry Potter memang jauh lebih panjang dan bertahun-tahun serta hampir saja saya menulis “Thank God it’s over” untuk perjuangan murid-murid Hogwarts tersebut. Justru kalimat itu lebih tepat untuk Transformers.

Transformers: Dark of The Moon | 2011 | Durasi: 157 menit Sutradara: Michael Bay | Produksi: di Bonaventura Pictures, Hasbro | Negara: Amerika SerikatPemeran: Shia LaBeouf, Rosie Huntington-Whiteley, Tyrese Gibson, Josh Duhamel, John Turturro, Patrick Dempsey, John Malkovich, Frances McDormand

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (3)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (4)
Share

Send this to a friend