Total Recall: Kemasan Baru Sarat Referensi

total-recall_highlight

Proyek remake film lawas selalu mengandung banyak risiko, walau dinilai cukup baik oleh kebanyakan para kritikus film sekalipun. Sebab, jika hasilnya gagal, film itu bisa-bisa menerima tuduhan sebagai proyek untuk mendulang untung semata. Guna mencegah tuduhan tersebut terlontar tentu harus ada visi baru yang diinjeksikan ke dalam film yang dibuat ulang ini. Len Wiseman memanggul beban itu ketika membuat ulang Total Recall. Tapi ternyata film ini tak banyak mengubah plot dari Total Recall yang dibikin Paul Verhoeven pada tahun 1990. Bahkan, banyak peniruan di sana-sini dari film lain demi menghadirkan tontonan dengan visual yang canggih.

Semesta cerita Total Recall berdasar pada cerita pendek Philip K Dick berjudul We Can Remember It for You Wholesale, di mana visi masa depan umat manusia untuk tinggal di planet Mars tak lagi dianggap seksi. Penulis skenario Kurt Wimmer dan Mark Bomback tetap menginjakkan kaki para tokohnya di bumi, yang dikisahkan dalam kondisi pasca apokaliptik. Perang dunia pada akhir abad 21 yang memakai senjata kimia telah merusak nyaris seluruh peradaban manusia di bumi. Akibatnya, dua populasi terbesar umat manusia kini berkumpul hanya di dua wilayah, yakni United Federation of Britain (UFB) yang berada di daratan Inggris dan The Colony yang menyesaki benua Australia.

The Colony merupakan koloni masyarakat kelas dua yang menjadi buruh masyarakat UFB yang dipimpin oleh Kanselir Coohagen (Bryan Cranston). Penindasan dalam segi ekonomi dan politik menjadi isu panas. Tuntutan untuk menciptakan kesetaraan pun menyeruak dalam wujud ledakan-ledakan bom yang menjatuhkan banyak korban jiwa di ruang publik UFB. Pemerintahan diktatorial Coohagen serta-merta menuduh para pemberontak yang diotaki oleh Matthias (Bill Nighy) sebagai dalang dari semua tindakan terorisme tersebut.

Jauh dalam apartemennya yang sempit dan suram di The Colony, Douglas Quaid (Colin Farrell) menyimak masalah keamanan nasional UFB tersebut dari siaran televisi. Di sebelahnya, ada Lori (Kate Beckinsale), sang istri cantik nan seksi. Sebagai bagian dari kelas pekerja yang diupah murah oleh pabrik Synthetics, produsen robot-robot keamanan di UFB, Douglas menyimpan asa untuk hidup yang lebih baik. Ia kerja banting-tulang dan bolak-balik tiap hari dari The Colony ke UFB dengan menggunakan moda transportasi massal super-modern, The Fall—terowongan vertikal yang menembus lapisan-lapisan dan inti bumi yang panas untuk menghubungkan dua wilayah populasi manusia tersebut. Ditambah lagi Douglas mempunyai kerisauan: tiap malam selalu dihantui oleh mimpi buruk yang sama, di mana ia bersama sosok perempuan yang tak dikenalnya, Melina (Jessica Biel), sedang diburu polisi.

Namun akibat gagal dipromosikan dalam pekerjaan, Douglas kecewa dan mencoba untuk mewujudkan asanya lewat jalan pintas yang ditawarkan oleh Rekall. Alih-alih mendapatkan ingatan-ingatan yang dapat menenteramkan hati, ia malah disergap oleh pasukan polisi. Tapi refleksnya memerintahkan lain, dan secepat kilat ia mengagalkan bekukan belasan polisi bersenjata lengkap tersebut. Seketika hidup Douglas pun berubah. Alur film pun tancap gas pol dengan kecepatan tinggi.

Kental Aksi Spektakuler

Jika dibandingkan dengan Total Recall versi aslinya, film terbaru arahan sutradara Len Wiseman ini memang lebih kental adegan aksi yang spektakuler. Lihat saja adegan baku tembak, car chase, adu kelahi di tengah pemukiman kota yang padat. Len tampak berupaya menampilkan koreografi yang menarik dan penuh perhitungan dalam adegan-adegan aksi di film ini. Sayang, tidak semuanya orisinil. Beberapa adegan aksi yang jelas-jelas bersifat referensial. Ada dua yang paling terlihat. Pertama adalah adegan car chase yang mengingatkan pada adegan serupa dalam film Minority Report (Steven Spielberg, 2002). Sedangkan yang kedua terdapat pada set lorong jalur lift yang bergerak secara vertikal dan horizontal, mirip dengan adegan dalam Harry Potter and The Deathly Hallows Part 1 (Mike Newell, 2010).

Sifat referensial bukan juga pada sinematografi film yang mengingatkan pada Star Trek (JJ Abrams, 2009). Demi menampilkan film look, penata kamera Paul Cameron memakai lensa anamorphic untuk memunculkan lens flares—yang jika diperhatikan umumnya dipakai dalam adegan-adegan ketika berdialog. Dalam beberapa adegan, lens flares itu seakan-akan memang bisa menampilkan atmosfir dan hawa yang optimis dalam peradaban dunia pasca apokaliptik, tapi gagal pada adegan yang lain. Akibat inkonsistensi ini, pemakaian lens flares seperti untuk bergaya belaka.

Kontribusi paling kentara Len Wiseman dalam remake ini jelas adalah eskalasi intensitas ketegangan melalui rentetan adegan aksi yang padat. Selebihnya, ia hanya menyajikan ulang tema standar film sains-fiksi. Sejak Georges Méliès merintis genre sains-fiksi dalam industri film dengan A Trip to The Moon atau Le Voyage dans la lune pada tahun 1902, ada tiga tema yang umumnya berulang dalam film-film sains-fiksi: penjelajahan luar angkasa, ancaman invasi alien, dan penggambaran masyarakat di masa depan. Total Recall jelas tidak memuat dua tema pertama, namun begitu menonjol pada yang terakhir. Untuk wajah pemukiman kota di The Colony yang sumpek pasca apokaliptik dan agak bergaya kubisme ini, kinerja penata artistik Patrick Tatopoulos memang harus dipuji.

Perubahan hanya itu saja. Adapun visi futuristik yang telah mendarah daging dalam film-film science-fiction, yakni soal manusia yang tidak lagi dapat mengontrol apa yang telah diciptakannya berkat sains dan teknologi, tidak hadir dalam film ini. Cukup mengecewakan memang. Sebab, tak sedikit dari kita yang merindukan visi futuristik, seperti yang pernah muncul dalam 2001: A Space Odyssey (Stanley Kubrick, 1968) dan akhirnya melegenda. Alhasil, kesempatan untuk menghadirkan visi yang lebih futuristik dalam proyek remake ini jadi terbuang percuma.

Lupa Perkembangan Karakter

Jika umumnya film-film science-fiction bersandar pada ketakutan terhadap sains dan teknologi serta ancaman makhluk asing (alien), Total Recall malah menebarkan ketakutan terhadap konstelasi politik di dunia yang berpotensi menghancurkan peradaban dan rasa kemanusiaan. Tidak salah memang jika pembuat film ingin mengaitkan cerita dengan kondisi dunia sekarang. Tujuannya jelas. Film ini ingin ikut berkomentar tentang lingkungan sosial dunia yang terbaru. Niat itu sayangnya tenggelam karena skenario film tak mengulik lebih jauh. Yang ada tampak menonjol di layar bioskop adalah sengitnya kejar-kejaran dan adu jotos antara Lori, Douglas dan Melina. Impresi yang justru muncul dari perkelahian ini adalah catfight untuk memperebutkan seorang pria. Salah satu dampaknya, Lori pun jauh dari peran femme fatale, peran yang semestinya dia jalani.

Inilah problem yang paling mengganggu. Total Recall memang unggul dalam soal teknis sampai-sampai melupakan hal paling mendasar, yakni perkembangan karakter. Dalam cerita Total Recall, Douglas punya misteri asal-usul dan sifat agen spionase, tak beda jauh dengan tokoh Jason Bourne dalam trilogi film Bourne. Dua hal itu yang sayangnya tak dikembangkan lebih mendalam oleh pembuat film.

Kita tahu bahwa dalam Total Recall buatan Paul Verhoeven menjadi kuat karena didukung oleh Arnold Schwarzenegger dan Sharon Stone. Mereka adalah aktor-aktris yang sedang berkilau pesonanya pada masa itu. Dengan pengembangan karakter yang lebih baik, performa Colin Farrell dan Kate Beckinsale paling tidak dapat menopang kualitas Total Recall. Syukur-syukur kharisma mereka di film ini dapat setara dengan dua aktor-aktris pendahulunya. Namun harapan memang tinggal harapan.

Total Recall | 2012 | Sutradara: Len Wiseman | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Collin Farrell, Kate Beckinsale, Jessica Biel, Bryan Cranston, John Cho, Bill Nighy

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend