Tontonan Favorit di Komunitas Eden

fulan-komunitas-eden_01_

Serial Ancient Aliens di History Channel

Jumat siang yang panas bukan buatan membuat kami bertanya-tanya, jangan-jangan kiamat sudah dekat sekali. Ternyata benar, kiamat memang sudah dekat, setidaknya menurut teman-teman dari komunitas Eden dalam sebuah  obrolan sejuk di siang yang panas itu. Aslinya, kami datang menyambangi Lia Aminuddin—akrab dipanggil ‘Bunda’—untuk mengobrol tentang film-film favoritnya. Namun apa daya, Bunda tak bisa diganggu sebab sedang konsentrasi menerima wahyu. Komunitas Eden punya istilah khusus untuk aktivitas mencari wahyu. Mereka menyebutnya “kedap.”

Pembaca tentunya sudah tahu, Komunitas Eden adalah kelompok spiritual yang beberapa tahun lalu sempat populer karena ketekunan mereka menyebarkan ajaran kepada para pemuka agama dan tokoh masyarakat. Mereka meyakini, ajaran tersebut adalah titipan dari Tuhan yang disampaikan lewat “Paduka Ruhul Kudus” via Lia Aminuddin, semacam “Imam Mahdi” dalam komunitas tersebut.

Sejak tahun 2005 lalu Majelis Ulama Indonesia, Departemen Agama, dan kelompok-kelompok preman bersorban macam FPI, berkomplot menganiaya Komunitas Eden, bahkan di saat tetangga sekitar tak mempermasalahkan keberadaan komunitas ini. Hasilnya, beberapa anggota didakwa pasal penistaan agama dan masuk bui.

Kembali lagi ke perjumpaan kami siang hari itu. Karena Bunda Lia berhalangan, seorang anggota komunitas Eden bernama Bu Tri mengajak kami bercengkerama menikmati sore bersama kripik pisang bikinan jamaah. Perempuan paruh baya berpakaian putih dan berambut perak itu nampaknya sedang agak sibuk. Namun ia tetap bersedia menemani dua pemuda cengegesan yang datang jauh-jauh sekadar untuk bertanya: “Apa lima film kesukaan Komunitas Eden?”

Dengan pembawaannya yang bersahabat Bu Tri bercerita, tanda-tanda kiamat sudah muncul terhitung dari banyaknya gunung meletus ditambah lagi lumpur Lapindo yang ogah berhenti muncrat sejak tahun 2006. Selidik punya selidik, lanjut Bu Tri, ternyata kiamat akan terjadi terhitung seribu bulan sejak Bunda menerima wahyu untuk pertama kalinya di tahun 1974. Di teras yang kami duduki ini, tutur Bu Tri, “Tahun 1974, Bunda menerima wahyu perdana,” lalu ditunjuk menjadi penerang bagi sesama.

fulan-komunitas-eden_02_

Salah satu adegan tersohor dalam film The Day After Tomorrow

Bu Tri menyebut dua film besutan Roland Emmerich, The Day After Tomorrow (2004) dan 2012 (2009). Katanya, dua film ini berangkat dari wahyu Tuhan bahwa kiamat akan segera tiba. Kami pun selintas berpikir: “Bila benar, celakalah kita karena ternyata sudah sejak lama manusia mendapatkan wahyu tentang kiamat, mulai dari kalender Maya Kuno hingga film-film blockbuster, tapi manusia tetap memilih untuk buta dengan menonton film-film penuh wahyu itu sembari makan popcorn. Tak paham sopan santun. Kemana saja kita selama ini?”

Kesannya memang ganjil: sebuah kepercayaan menerima wahyu lewat medium yang sama sekali modern. Kalau benar demikian, artinya siapapun hari ini bisa merasa menerima wahyu lewat linimasa di Twitter, atau ketika di-tag secara random di Facebook.  Tapi toh, jika dipikir-pikir lagi, tidak ada yang aneh dari sini. Kalau kita sedikit belajar sejarah agama-agama, yang disebut-sebut sebagai nabi dan orang suci pun menerima dan menyampaikan wahyu lewat medium yang modern di jamannya, entah itu kertas, batu, kulit hewan, daun lontar, dan banyak lagi. Maka, wajar saja jika komunitas Lia Eden yang lahir di akhir era 1990an akrab dengan media audio-visual. Seandainya mereka tumbuh sekian abad silam, mungkin wahyu akan ditangkap dan disebarkan lewat daun lontar.

“Tuhan itu maha seni,” kata Bu Tri, Dia cinta keindahan dan menurunkan wahyu lewat keindahan: sastra kata-kata, tembang melodi, tetarian dan juga video klip. Itulah yang membuat Bu Tri dan kawan-kawan komunitas Eden tak mau ketinggalan menonton film, dengan catatan, film yang ditonton harus mengajarkan hal-hal yang baik, terhindar dari kekerasan dan pornografi, dan yang paling penting: berkaitan dengan wahyu Tuhan.

Awalnya kami menunggu jawaban dari pertanyaan (yang tidak kami ajukan) seperti: wahyu seperti apakah yang turun lewat film macam 2 or 3 Things I Know About Her? Mungkinkah ia mengandung pewahyuan bahwa kaki Dajjal akan terantuk di kota Paris sehingga kapitalisme kiamat dan para buruh masuk surga sementara kaum kapitalis terjun bebas ke neraka dari jembatan siratul mustaqim yang katanya lebih tipis dari rambut dibelah tujuh itu? Tapi ternyata 2 or 3 Things I Know About Her tidak masuk dalam daftar Bu Tri.

Tapi sudahlah, itu cuma fantasi kami yang agak snob lagi kekiri-kirian.

fulan-komunitas-eden_03_

Salah satu momen dalam serial Dong-Yi

Bu Tri dan kawan-kawan sangat menikmati serial Ancient Aliens di History Channel hingga serial Korea berlatar zaman feodal Dong-Yi di KBS. Banyak yang mengatakan, Ancient Aliens adalah pseudo-sains, sekadar omong kosong. Tapi Bu Tri percaya, omongan bahwa Ancient Aliens omong kosong adalah omong kosong. “Ingat crop circle di Jogja beberapa tahun lalu, Mas? Nah, itu juga kerjaan alien,” sambung Bu Tri.

Salah seorang dari kami pun rajin menonton Ancient Aliens. Dari jawaban Bu Tri, bisa dipahami jika narasi Barry Downing yang menyatakan bahwa malaikat adalah astronot kuno agaknya bisa diapresiasi sebagai kebenaran-kebenaran yang diwahyukan oleh serial itu.

Keyakinan akan keberadaan alien ini sebetulnya tidak jauh berbeda dengan yang dipraktikkan oleh para leluhur yang paling saleh hingga remaja urban penggemar fiksi uji nyali, entah itu yang percaya dedemit, tuyul, jin ifrit, jin muslim, jin kafir, legenda-legenda seputar Nabi Khidir, dan banyak lagi yang intinya mau mengatakan, “Jangan khawatir, Dik, manusia tidak sendirian di dunia yang nelangsa, menjijikan, brutal, dan fana ini.” Sejak jaman tulang rusuk Adam masih lengkap, manusia memang takut sendirian, apalagi menjelang usia 30—seperti yang terjadi pada salah satu dari kami.

Tapi bagaimana dengan Dong-Yi? Oh iya, sebelumnya Bu Tri juga menyebutkan judul film-film Korea masuk dalam daftar tontonan favoritnya. “Kami suka nonton film-film itu karena mengajarkan sopan-santun, norma-norma klasik dan perilaku yang halus,” kata Bu Tri.

Laiknya film-film seperti Pride and Prejudice (2005) serta Elizabeth: The Golden Age (2007) yang sangat Bu Tri kenang, Dong-Yi adalah kelanjutan ilustrasi mengenai keagungan tata krama sesama umat manusia. Tata krama era Victoria adalah sebuah contoh yang harusnya diwarisi oleh generasi yang miskin tata krama seperti kita ini. Seolah-olah, yang kami tangkap, di mana pun produk kapitalisme merusak tata krama manusia, di situlah feodalisme solusinya.

Jujur saja, kami awalnya heran mengapa sebuah kepercayaan modern bisa menggemari tata-krama dari jaman mesin uap, walaupun sebatas tampilan luarnya saja. Tapi toh, mana ada ajaran agama yang lahir dari ruang kosong? Tentu ia tumbuh seiring kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang sudah mapan sebelumnya, entah itu akhirnya mengafirmasi ataupun mengubahnya. Pendeknya, kelahiran agama baru adalah sekaligius kedatangan “totem dan tabu” baru, yang setelah dikulik lebih lanjut ternyata tidak baru-baru amat, bahkan tak jarang mengambil referensi yang sama sekali asing dari tempat di mana kepercayaan itu lahir –dan mungkin keasingan itulah yang lantas dianggap wahyu).

Gilbert Seldes, seorang jurnalis Amerika, punya catatan yang menarik yang dia tulis dalam The Stammering Century: Minor Movements, Cults, Manias, Fads, Sects and Religions Excitements in The 19th Century America (1928). Seldes mengamati bagaimana kepercayaan baru, gerakan ratu adil dan sekte-sekte revivalis meledak di Amerika Serikat abad 19 antara lain sebagai respon terhadap gejolak sosial-politik di jamannya, khususnya yang disebabkan laju kapitalisme industrial. Lebih lanjut, Seldes mencatat, tidak hanya moralitas dan perilaku keseharian yang berusaha dirumuskan ulang, tapi juga kemunculan tokoh. Pasalnya sederhana saja, pempopuleran nilai-nilai baru membutuhkan teladan, panutan kharismatik, personifikasi simbolik yang gampang dicontoh dan dipahami orang lain. Tak usah jauh-jauh Komunitas Eden; kemunculan orang macam Habib Rizieq, Abu Bakar Baasyir, dan ratusan habib lain yang mengaku-ngaku punya trah Yaman adalah fenomena yang bisa diteropong dengan kacamata yang sama.

fulan-komunitas-eden_04_

Pirates of the Silicon Valley

Perkara wahyu, kiamat, dan tokoh kharismatik akhirnya membawa obrolan kami singgah di seputar mukjizat. Di era teknologi seperti sekarang ini, bentuk mukjizat yang paling terlihat adalah, well, teknologi. Fakta inilah yang membuat Bu Tri dkk di komunitas Eden rajin menonton film-film tentang teknologi. Orang-orang yang cerdas di bidang teknologi adalah orang-orang bermukjizat, dan orang-orang bermukjizat adalah rasul. Dengan demikian, lanjut Bu Tri, Steve Jobs dan Bill Gates adalah Rasul. Film-film hagiografis tentang Steve Jobs (Jobs, 2012) dan Bill Gates (Pirates of the Silicon Valley, 1999) menjadi pilihan tontonan bagi Bu Tri. “Waktu itu Bunda [Lia] yang merekomendasikan ke kami untuk nonton film-film ini.”

Jobs dan Pirates of the Silicon Valley, selain menjadi kisah suksesnya seorang rasul dalam penemuan dan pemasaran teknologi, juga menjadi inspirasi perjuangan Komunitas Eden dalam mewartakan mukjizat.

Sore hari ketika matahari Jumat melunak, kami bergantian ditemani oleh Abdul Rahman. Mas Abdul Rahman menjelaskan betapa pentingnya menonton serial Mahabharata di ANTV. Mas Abdul Rahman menjelaskan bahwa kitab Bhagavad Gita adalah kitab yang sangat keren, demikian pula dengan kisah Mahabharata yang diyakininya adalah true story. Kisah sungguhan. Perang Bharatayuda adalah kisah nyata dimana peradaban sebelumnya bereinkarnasi menjadi peradaban berikutnya. Anak panah Arjuna adalah mukjizat teknologis dimana orang bisa memanah korban hanya dengan membisikkan nama si korban ke ubun-ubun anak panah, persis seperti pesawat tak berawak milik Amerika Serikat sekarang ini.

Kiamat dan kematian sebagaimana dipercaya oleh Komunitas Eden ternyata tidak seseram komik siksa neraka terbitan Gultom Agency. Diskusi tentang akhir dunia dan manusia sore itu akhirnya menyinggung topik reinkarnasi. Menurut Mas Abdul Rahman, reinkarnasi adalah keniscayaan. Siapa saja bisa bereinkarnasi. Binatang bisa jadi manusia, manusia bisa jadi malaikat, peradaban bereinkarnasi menjadi peradaban lainnya, malaikat bisa jadi benda-benda angkasa, dan manusia bisa jadi manusia lainnya. Perang Bharatayuda adalah perang yang menandai reinkarnasi satu peradaban ke peradaban kita sekarang.

Oh iya, sebelumnya, menurut Bu Tri, Arjuna bereinkarnasi menjadi sosok yang tidak asing bagi kita semua: Soekarno. Iya, Bung Karno yang tahun lalu difilmkan Hanung. Barrack Obama adalah reinkarnasi dari Abraham Lincoln yang merupakan reinkarnasi dari Alexander Agung, lanjut Bu Tri.

Karena yang disebut Bu Tri selalu tokoh mentereng dan cemerlang dalam sejarah dunia, maka kami pun spontan mencari yang sebaliknya. Kami bertanya siapakah Prabowo di kehidupan sebelumnya. Namun sayangnya, jawab Bu Tri, “belum ada wahyu yang mampu menjelaskan.” Tapi Jokowi, lanjut Bu Tri, “adalah reinkarnasi orang baik.”

Kami menghabiskan dua toples kripik pisang bikinan komunitas yang saban harinya hidup secara swa-kelola ini. Jumat sore yang singkat itu membawa kami pada banyak topik: film, pewahyuan, hakikat crop circle, Arjuna dan Soekarno. Boleh dikata, komunitas Eden sangat melek teknologi dan melek media, bahkan sampai tataran teologisnya. Selama ini, media kita selalu memberitakan Komunitas Eden sebagai aliran sesat lagi menyesatkan, haram disentuh, layak dibui, satanis, dan banyak lagi stempel horor lainnya yang dikembangkan situs-situs macam voa-Islam.com dan nahimunkar.com. Ternyata, saudara-saudara, itu hanya kibul belaka. Kalau tidak percaya, tanya saja tetangga mereka.

Sayangnya kami tidak bisa mendapatkan foto tentang suasana di sana. Ketika kami minta untuk berfoto bersama, Mas Abdul Rahman pamit sebentar ke belakang untuk bertanya kepada Bunda Lia, apakah kami boleh memotret atau tidak. Apa daya, menurut Bunda, Tuhan belum mengijinkan. Pulanglah kami tanpa foto namun penuh ketakjuban baru akan wahyu-wahyu. Pertemuan sore itu memberikan perubahan besar dalam hidup kami, sebagaimana terilustrasikan pada foto-foto berikut.

fulan-komunitas-eden-foto-dua

Kami sebelum bertemu Komunitas Eden

fulan-komunitas-eden-foto-dua

Kami setelah bertemu Komunitas Eden

Well, fakta yang tidak berubah adalah: kami tetaplah pemuda cengengesan dan luntang-lantung. Demikian laporan singkat kami untuk Lima Film Si Fulan.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (15)
  • Boleh juga (2)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (2)
Share

Send this to a friend