The Reluctant Fundamentalist: Realita, Cinta, dan Dunia yang Sakit Jiwa

the-reluctant-fundamentalist_highlight

Apa yang akan kita rasakan jika cinta yang kita agung-agungkan terbentur realita? Barangkali akan ada kekecewaan, kemarahan, dan sederet pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban. Kita ingin marah, kita ingin bertanya, namun pada siapa? Jika keadaan semacam ini dibiarkan, maka segala kekecewaan, kemarahan, dan pertanyaan tadi akan menggumpal menjadi dendam yang tak terbalaskan. Dari sinilah muncul adagium ‘cinta ditolak, dukun bertindak’. Entah ‘dukun’ itu berguna untuk mengembalikan cintanya yang hilang, atau sekedar mengobati hatinya yang malang.

Keadaan semacam inilah yang dirasakan Changez (Riz Ahmed), tokoh utama The Reluctant Fundamentalist. Hidup di tengah keluarga bohemian-borjuis asal Lahore, Pakistan, mimpi Changez sebetulnya sangat sederhana, khas mimpi siswa cerdas dunia ketiga. Ia ingin memperbaiki kehidupan ekonomi keluarganya yang mengandalkan penghasilan ayahnya yang penyair. Bermodalkan talenta yang luar biasa, ia mampu terbang jauh hingga Princeton, kampus ternama di Amerika, tentunya dengan beasiswa. Selepas lulus, mimpi Amerika Changez nyaris sempurna ketika kariernya melesat cepat, mengantarkannya pada pergaulan kelas menengah New York, hingga berhasil menyeret seorang seniman bernama Erika (Kate Hudson) ke tempat tidur.

Kemudian terjadilah 11 September 2001. Hari itu ia sedang dalam perjalanan bisnis ke Filipina, tepat pada malam ketika atasannya, Jim Cross (Kiefer Sutherland), memberikan kepercayaan naik jabatan. Sejak saat itulah, segalanya berubah. Changez yang oportunis tiba-tiba dipaksa menjadi idealis. Ia dipaksa hidup dalam lingkungan Amerika yang traumatis.

Sekembali dari Filipina, ia ditelanjangi, secara harafiah, oleh petugas keamanan bandara. Perjalanan bisnisnya ke Filipina sempat disangkut-pautkan dengan organisasi teroris Al-Qaeda pimpinan Osama bin Ladin. Lebih menyakitkan lagi bagi Changez, relasinya dengan Erika semakin memburuk. Erika yang rapuh mengalami trauma ganda, trauma karena kekasihnya terdahulu meninggal akibat kesalahannya sendiri menyetir dalam keadaan mabuk, juga trauma sebagai warga Amerika pasca 9/11. Sedangkan Changez adalah korban lainnya dari peristiwa 9/11, ia adalah korban Islamophobia yang melanda Amerika. Puncaknya adalah ketika Changez merasa dirinya hanyalah objek bagi pameran instalasi seni Erika yang berusaha mengeksplorasi relasi mereka sedemikian rupa. Sementara Erika menganggap karyanya sebagai penghargaan atas relasi mereka yang unik, Changez justru merasa identitasnya sebagai seorang Muslim asal Pakistan telah ‘dijual’ dalam pameran tersebut. Dan hubungan mereka pun tak dapat diselamatkan.

Cinta Changez pada Erika dan Amerika telah terbentur realita. Ia merasa sudah tak ada harapan. Pekerjaan mapan yang diimpi-impikan tak lagi memberikan kenyamanan. Sementara Erika, bagaimanapun juga, tetaplah seorang warga negara Amerika. Semakin lama jarak dan perbedaan antara mereka semakin kentara. Apa mau dikata, peristiwa 9/11 telah memberikan batasan yang sangat jelas antara Pakistan dan Amerika, antara Islam dan Barat, bahkan pada level yang paling personal sekalipun. Maka, tak ada pilihan lain bagi Changez selain kembali pada ‘khittahnya’ sebagai warga Pakistan, sebagai bagian dari dunia Islam, sembari membawa kekecewaan, kemarahan, dan sederet pertanyaan yang telah menggumpal menjadi dendam yang tak terbalaskan. Dan sebagaimana pria patah hati lainnya, Changez pun berusaha untuk mencari ‘dukun’-nya sendiri. Dari sinilah perang yang sesungguhnya dimulai.

Dunia dalam Berita

Harus diakui, peristiwa 9/11 telah mengubah peta politik global sedemikian rupa, terutama jika dihubungkan dengan relasi antara Islam dan Barat. Jika ditilik dalam catatan sejarah, relasi yang kompleks ini bermula ketika tentara Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus mencaplok Andalusia di Spanyol, lalu menjadikannya bagian dari kedaulatan Islam. Pada saat itu, Islam yang tengah berjaya berambisi menaklukkan dunia. Namun, intrik politik dengan sendirinya menciptakan konflik internal, dan melemahkan kedaulatan Islam yang telah dibangun dan dibina selama berabad-abad. Kemudian buku-buku sejarah mencatatkan peristiwa Perang Salib, kemunduran dinasti-dinasti Islam, era kolonial Barat di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, hingga runtuhnya Kesultanan Ottoman di Turki sebagai simbol terakhir kedaulatan Islam. Sejarah juga mencatat kelahiran negara Israel, perang Teluk, genosida di Bosnia, dan sederet peristiwa lainnya yang semakin mempertajam relasi yang tidak sehat antara Islam dan Barat.

Namun, di balik runyamnya hubungan antara Islam dan Barat, kita tidak dapat menafikan adanya keharmonisan antara keduanya. Tak ubahnya Changez dan Erika yang kasmaran, Islam dan Barat  saling membutuhkan, juga saling tertarik satu sama lain. Bagi Changez, Erika adalah pegangan dan pedoman di tengah-tengah pergaulan kelas menengah New York yang keras. Dengan menjadikan Erika sebagai pasangan, Changez ingin menegaskan bahwa ia telah diterima di Amerika. Kapanpun ia merasa bingung tentang ‘menjadi Amerika’, Erika selalu ada untuk memberikan jawaban.

Sebagaimana Changez sang social climber, Islam juga membutuhkan Barat sebagai landasan menuju kemajuan, sekaligus pelabuhan bagi kemajuan itu sendiri. Barat adalah sarana agar dunia Islam bisa mengejar ketertinggalannya di abad 21. Dan bagi banyak negara di dunia Islam, ‘menjadi maju’ berarti harus ‘menjadi Barat’. Mereka harus ‘demokratis’ dan membangun, agar tak selamanya menjadi negara berkembang dan terbelakang.

Sebaliknya, bagi Erika, Changez adalah kekasih yang eksotis, makhluk dari Timur yang menawarkan romantisme yang anggun. Sebagaimana Islam adalah mutiara oriental yang menjadi magnet bagi Barat. Dunia Islam menjanjikan jutaan misteri yang belum terkuak, serta kekayaan alam yang seakan-akan tak akan ada habisnya, terutama minyak. Maka, Islam dan Barat menjalin asmara yang bersyarat. Asal ada minyak, abang disayang. Kalau tak ada minyak, mari kita berperang. Relasi cinta tapi benci, benci tapi cinta semacam itu kemudian bubar selepas 9/11. Peristiwa tersebut telah menyadarkan Islam dan Barat, juga Changez dan Erika, bahwa cinta beda bangsa beda agama seringkali terbentur realita.

Pasca peristiwa tersebut, sebagaimana hubungan Changez dan Erika, relasi antara Islam dan Barat memburuk. Keduanya sama-sama menyimpan kekecewaan, kemarahan, dan sederet pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban. Barat yang posesif merasa cintanya dikhianati. Sementara Islam, selepas peristiwa ini semakin memperlihatkan wajahnya yang sesungguhnya. Tragedi 9/11 semakin menegaskan bahwa Islam bukanlah sebuah istilah tunggal, ia merupakan bentuk jamak yang merangkum sedemikian banyak ideologi. Selain Islam yang pro demokrasi dan pro monarki, selepas 9/11 semakin terlihat ada begitu banyak wajah Islam yang lain yang seakan-akan tidak pernah kita kenal. Hanya saja, wajah yang paling nampak adalah Islam yang radikal, yang teroris, yang fundamentalis. Sebagaimana Changez yang dicap fundamentalis, Islam tidak pernah memiliki kesempatan untuk menjelaskan siapa dirinya yang sesungguhnya.

Seakan menafikan apa yang mereka butuhkan, Barat kemudian menjadikan Islam sebagai sasaran yang disamaratakan. Seakan-akan umat Islam di seluruh dunia, berasal dari negara manapun, bangsa apapun, berbicara dengan bahasa apapun, adalah teroris. Seakan-akan siapapun yang bernama Arab pantas untuk diinterogasi sekian lama di bandara, sebagaimana yang terjadi pada Changez. Barat, yang katanya cerdas, menjcadi sedemikian resah dan gelisah, dan mengambil keputusan cepat tanpa pertimbangan yang tepat. Padahal, teori Psikologi telah menyarankan: siapapun yang sedang sinting sebaiknya tidak mengambil keputusan penting, jika tak ingin menyebabkan kondisi yang lebih genting. Maka, lahirlah perang Irak dan Afganisthan. Mereka yang radikal menjadi semakin radikal, sembari menumbuh-suburkan bibit-bibit kebencian dalam benak mereka yang tersisihkan.

Fundamentalis Ogah-Ogahan

Perasaan tersisihkan inilah yang menyebabkan Changez berubah haluan. Hidup di Amerika pasca 9/11 yang penuh syak wasangka membuat Changez mempertanykan identitasnya yang sesungguhnya. Di tengah-tengah trauma yang dialaminya, tiba-tiba ia ditugaskan ke Istanbul, kota yang senasib sepenanggungan dengan Changez, sama-sama terjepit antara Islam dan Barat. Di Istanbul, Changez sadar bahwa dirinya adalah seorang Muslim, seorang Pakistan. Maka, Changez pun mengambil keputusan dalam keadaan sinting; ia kembali ke tanah kelahirannya, sebuah negara yang sama-sama sedang genting.

Kita pun bisa menemukan Changez-Changez lainnya dalam kehidupan nyata. Dalam konteks Indonesia pasca 9/11 misalnya, kita melihat generasi muda Muslim yang berubah. Tiba-tiba kita melihat begitu banyak siswa SMA yang taat beragama. Tiba-tiba kita melihat banyak mahasiswa kampus-kampus ternama yang rajin ke masjid sekaligus ke rental komik. Tiba-tiba kita melihat masjid-masjid kampus dijaga polisi. Tiba-tiba kita melihat lembaga pendidikan agama disangkut-pautkan dengan Osama dan Al-Qaeda. Tiba-tiba kita menemukan istilah jihad dalam tabloid dan majalah ibukota. Tiba-tiba kita menemukan istilah jihad, yang sejatinya bermakna berusaha sekuat tenaga, identik dengan angkara murka. Tiba-tiba kita menemukan, dalam kamus jurnalisme Indonesia kontemporer, istilah suspect tidak hanya bermakna tersangka, tetapi juga terduga dan teraniaya. Tiba-tiba kita melihat Indonesia, juga dunia, dengan wajah yang berbeda. Wajah inilah yang Mira Nair coba perlihatkan lewat The Reluctant Fundamentalist.

Film ini berhasil memperlihatkan kecenderungan global melalui pengalaman personal. Melalui tokoh Changez, kita bisa melihat bagaimana Islam diposisikan dalam perspektif Barat pasca 9/11. Changez yang tidak berdosa dipaksa menjadi fundamentalis oleh keadaan, sebagaimana Islam yang damai semakin hilang dari permukaan. Satu-satunya pertanyaan yang mengganjal adalah ‘segampang’ itukah seseorang bisa berubah menjadi seorang fundamentalis? Bahkan, Changez yang beriman tidak pernah sekalipun terlihat shalat atau membaca Al-Qur’an, sebuah ‘prasyarat’ untuk menjadi seorang fundamentalis. Namun, marilah kita berbaik sangka bahwa dengan absennya religiusitas sang tokoh utama, dan ini memang bukan film religi, Mira Nair ingin mengatakan bahwa Changez memang sebenar-benarnya fundamentalis yang ogah-ogahan. Karena pada akhirnya kita pun paham, cinta sejati Changez adalah Erika dan Amerika.

The Reluctant Fundamentalist | 2012 | Sutradara: Mira Nair | Negara: Amerika, Inggris, Qatar | Pemain: Riz Ahmed, Kate Hudson, Liev Schreiber, Kiefer Sutherland, Om Puri, Shabana Azmi

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (5)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend