The Lovely Bones: Mereka Penjajah, Bukan, Mereka Tuhan

the-lovely-bones_highlight

Banyak orang menganggap kematian itu seksi. Woody Allen piawai membuat lelucon mengenai kematian, Sartre dan De Beauvoir menjadi masyhur (salah satunya) karena gemar sekali mengumbar kontemplasi tentang kematian. Dalam film, kematian telah menginspirasi banyak genre, terutama horor dan misteri. Kematian yang penting biasanya diletakkan dibagian akhir film, untuk memberitahukan bahwa dengan matinya seseorang maka film harus berakhir sebab tak mungkin lagi dilanjutkan; orang yang diceritakan telah mati. Sebaliknya, kematian seseorang di awal film bisa menjadi pemicu jalannya cerita.  Misal, karena matinya tidak tenang, maka seorang wanita bisa bangkit lagi sebagai suster keramas, menghantui pembunuhnya dengan gelembung shampo, dan seterusnya.

Meskipun terlalu cepat membocorkan rahasianya, The Lovely Bones tampil menarik karena meletakkan kematian di tengah film lalu menegaskan bahwa kematian tidak melenyapkan seseorang dari dunia melainkan memindahkannya ketempat yang lain, dan (Alhamdulillah) tempat itu masih bisa dijangkau kamera. The Lovely Bones menjadi film pertama Peter Jackson setelah melenggang lewat manuver-manuver CGI seperti King Kong (2005) dan Trilogi Lord of the Rings (1999 – 2003). Mungkin karena masih belum puas, The Lovely Bones dibalurinya dengan animasi komputer dalam jumlah yang bikin muntah. Peter Jackson tergila-gila pada CGI seperti orang mabuk cendawan. Ia percaya diri sekali menggunakan treatment ini sebab dulu pernah berhasil menggabungkan CGI dengan drama-keluarga lewat Heavenly Creatures (1994).  Orang yang pernah mengutil satu kali dan berhasil, akan mengulanginya lagi lain kali. Peter Jackson-lah sang pengutil ini.

Sulit menentukan apakah The Lovely Bones ditujukan untuk orang dewasa atau untuk anak usia muda. Motifnya berat, kisah pembunuh berantai yang mengincar anak-anak sebagai korban, diceritakan dalam mode horor. Lalu setelah anak itu mati, ia akan pindah ke alam yang penuh gula-gula. Pepohonan warna-warni mirip iklan penganan dan cokelat di televisi minggu pagi. Anak-anak berlarian di hamparan rumput hijau dan bercengkerama dengan damai. Disini ia menjelma menjadi film anak-anak.

The Lovely Bones berusaha meleburkan genre dimana bukan plot yang mempengaruhi karakter apalagi sampai mendeterminasi jenis penonton, melainkan karakter lah yang memutuskan plot tanpa memperdulikan penonton. Saat nenek datang ke rumah, lagunya Rock and Roll. Semenit kemudian, piano sendu mengalun keruang keluarga ketika kesedihan datang entah dari mana. Belum selesai piano berdenting, gesekan tegang senar biola menampar adrenalin, tempo menghentak cepat sebab sang pembunuh sudah berdiri diambang pintu, siap mengejar korban dengan kapaknya. Sang pembunuh masih berkeringat ketika kamera masuk kealam paska kematian, gula-gula berterbangan, keimutan dijual murah, flow cerita diabaikan sama sekali.  Saya sangat sering bingung dengan alur emosinya. Ternyata selain cerita, banyak hal lain yang bisa membuat penonton (seperti saya) bingung.

Dunia paska-kematian di The Lovely Bones adalah tempat yang unik. Penghuninya masih bisa berkomunikasi dengan orang-orang hidup dengan cara tertentu. The Lovely Bones menegaskan bahwa orang mati sebenarnya masih tinggal bersama kita, melihat kita seperti menonton televisi (meskipun runyam juga membayangkan orang-orang mati menonton kita sepanjang hari dan tidak bosan, wong kita saja kadang bosan dengan hidup kita sendiri). Hanya saja dunia paska-kematian adalah dunia metafora, ia mengumpamakan kejadian didunia lalu mengimbaskannya pada keadaan disana. Metafora ini terjadi sebab dunia pra-kematian dan dunia paska-kematian berkomunikasi lewat tanda yang berbeda, meskipun petandanya tetaplah sama. Dengan lembut, The Lovely Bones menampilkan argumen bahwa kematian bukanlah akhir melainkan hanya menjadi batas dua dunia berbeda penanda. Ia sama sekali tak bicara ganjaran seperti yang yang dilampiaskan dalam ceramah-ceramah agama semit.

Hal lain yang tak kalah meresahkan adalah The Lovely Bones berusaha melakukan penjajahan atas orang-orang mati, persis yang dilakukan persekongkolan negara maju terhadap sekelompok negara periferal di dunia ketiga. Orang hidup membuat orang mati memandang mereka dengan cara seperti yang diinginkan oleh orang hidup. Anak-anak kecil tanpa dendam ini dipaksa melihat keluarga mereka “membalaskan dendam” pada si pembunuh seolah dendam itu milik mereka, padahal (bisa jadi) bukan. Dendam adalah sebentuk rasionalisasi orang hidup untuk berbuat fatal dengan mengatas-namakan orang mati. Banyak orang yang merasa berjasa karena telah membunuh orang yang membunuh saudaranya, padahal bisa saja saudaranya yang mati tak ingin hal yang sama. The Lovely Bones sukses memperkenalkan argumen, bahwa bahkan dalam hal se-transenden kematian, pola relasi otoritatif tetap tak dapat dihindarkan.

Secara cerita, The Lovely Bones selalu memancing decakan kecewa karena terlalu banyak disetir oleh firasat (yang entah kenapa selalu saja benar). Lupakan deus ex-machina, ini terhadi karena jalinan plot-karakter mereka yang terbalik. Kebetulan karakter yang menguasai plot adalah manusia sehingga tak kuasa melepaskan diri dari firasat. Peter Jackson menjadikan manusia hidup sebagai tuhan dalam film-mabuk-CGI terbarunya ini.  Manusia yang adalah tuhan bebas mendeterminasi plot sesuai firasat mereka. Saya bahkan sempat berfikir, apakah begini rasanya jadi tuhan? Segala firasatmu adalah kenyataan? Enak ya. Tak heran dimana-dimana orang berlomba jadi tuhan!

The Lovely Bones | 2009 | Sutradara: Peter Jackson | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Saoirse Ronan, Mark Wahlberg, Rachel Weisz, Susan Sarandon, Stanley Tucci

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (2)
Share

Send this to a friend